
Ana tiba di bandara negara K. Ia bahkan meninggalkan pengawal Jane di negara C.
Ia segera menaiki taksi menuju pasar gelap. Disana ia menemui rekan lamanya. Ia membeli banyak senjata api beserta peredam dan stok amunisinya. Ia segera menyiapkan diri, menyembunyikan 6 buah pistol di tubuhnya. 2 di paha kiri kanan, 2 di pinggang kiri kanan, 1 di pinggang belakang, dan 1 lagi di saku jaketnya. Ia menyimpan stok amunisi di saku longcoatnya yang banyak dan luas.
Setelah membeli banyak senapan, ia segera pergi menuju grey hospital. Ia akan memulai perburuannya disana.
Ana segera menerobos masuk menuju lantai VIP. Ia segera menodongkan pistolnya ke perawat yang tengah berjaga. Mereka berlari dan berteriak ketakutan. Ana menyuruh semua perawat masuk ke ruang kebersihan, menyuruh mereka saling mengikat kaki dan tangan mereka satu sama lain. Setelah itu ia merampas salah satu id card perawat itu, kemudian ia menuju ruang rahasia yang pernah ia datangi.
Ia segera masuk kesana tanpa takut, di pintu pertama ia di hentikan 3 orang pengawal. Tanpa ampun dengan gerakan cepat ia melumpuhkan pengawal itu, ia menembaki masing-masing kaki mereka.
Saat mereka terjatuh terjerembab Ana menendang keras kepala mereka hingga mereka pingsan tak sadarkan diri.
Ana terus berjalan menelusuri setiap kamar disana. Namun kamar itu telah kosong. Ia mengecek satu persatu, namun ia tak menemukan satu orang pun di dalam sana. Ana tertegun. Ia kemudian menuju ruang rahasia tempat ia menemukan adik Leo sebelumnya. Disana ia menemukan salah seorang pria tengah terikat dan di pasangi alat medis di sekujur tubuhnya. Ana mendekati pria itu perlahan.
Deg !!
Ia tercekat. Ia bahkan tak bisa menelan salivanya. Pria itu ternyata adalah B1. Ia terbaring tak sadarkan diri disana.
"Angkat tangan !!!" Suara lantang terdengar keras dari arah belakangnya. Ia mendengar banyak suara langkah kaki. Ana mematung, ia mengangkat tangannya perlahan. Sesaat sebelum akhirnya ia menghujani orang orang tersebut dengan peluru panasnya. Ia menembaki orang-orang itu lalu segera berguling di lantai menuju pojokan ruangan. Ia mendorong keras lemari besi itu dan berlindung di baliknya.
Dorrr..dorrr...dorrr..
Ana di hujani tembakan-tembakan dari orang yang masih selamat. Ia berhasil mengenai 4 orang di antara 6 orang yang datang. Ia mengenai dada, bahu bahkan kepala mereka.
Serangan itu berhenti. Ana mengatur nafasnya perlahan. Ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Ia menghitung perlahan suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arahnya itu.
Dorrr..dorrr..
Ana meluncur di atas lantai ke sisi kiri seraya menembaki dua orang tersebut tepat mengenai jantung mereka hanya dengan dua kali tembakan. Ana terengah. Ia segera bangkit. Ia kembali mendekati B1. Ia mengambil foto dan video kondisi B1.
__ADS_1
Kemudian ia mendengar suara riuh dari arah luar ruangan itu. Suara langkah kaki yang ramai terdengar berlari mendekat ke arah ruangan itu. Ana segera mengendap mengintip ke jendela ruangan itu. Ana mengecek isi amunisinya yang tersisa 2 peluru lagi. Ia segera mengganti isi amunisinya dengan yang penuh. Ana bersembunyi di balik tirai dekat jendela tersebut.
Kriekkk..
Pintu terbuka lebar. Ana mendengar mereka masuk bergerombolan mencari keberadaannya. Ana mengintip perlahan, saat melihat sela di arah pintu. Ia segera menembakkan pistolnya asal ke arah gerombolan itu, lalu segera berlari keluar dari ruangan tersebut. Mereka mengejar Ana sambil mengayunkan kapak di tangan mereka. Untungnya mereka tidak membawa pistol seperti pengawal sebelumnya. Ana berlari sekuat tenaga sambil menuju pintu keluar. Ia segera menghalau pintu itu dengan meja dan kursi yang ada disana. Lalu segera berlari menuju lift. Sebelum sampai di lift, Ana di cegat 2 orang pengawal lainnya yang bertubuh besar dan kekar.
"Kau mau kemana gadis manis??" Tanyanya menyeringai sambil menodongkan pistol ke arah Ana.
"Buang senjatamu.." perintah pria yang satunya. Mereka ternyata kembar identik.
Ana terengah, di arah berlawanan ia mendengar segerombolan pria tadi berhasil membebaskan diri dan berusaha berlari ke arah Ana.
Ana melihat jendela di ujung koridor di belakang 2 pria kembar itu berdiri. Ana menunduk pelan ingin meletakkan pistolnya, namun dengan gerakan cepat Ana justru mengeluarkan pistol yang lain dari paha kirinya dan melayangkan serangan peluru panas ke kepala pria yang satunya, sementara saudar kembarnya berusaha menembaki Ana. Namun Ana keburu segera menerjangnya, Ana menepis keras tangan pria itu hingga ia menjatuhkan pistolnya. Ana mendorong keras tubuh itu berlari menuju ujung koridor, melayangkan pukulan keras dengan senjatanya tepat mengenai rahang pria itu, lalu memberi hadiah peluru panas di dahinya, kemudian mendorong tubuh itu dengan keras hingga menghancurkan jendela tersebut.
Ana dan pria itu terlempar keluar jendela, mereka jatuh dari lantai 7. Terjun bebas dan terjatuh tepat ke atas sebuah ambulance yang terparkir disana. Di bawah sana terdapat ruang UGD. Sehingga banyak ambulance terparkir disana.
Bunyi alarm ambulance itu menyaring keras. Bahkan suara jatuh keduanya terdengar sangat mengerikan. Ana mendarat tepat di atas tubuh pria kekar itu, sehingga tubuh mungilnya cukup terlindungi, namun tak elak benturan keras tetap membuat sekujur tubuhnya terasa sangat sakit bahkan terasa mengalami patah tulang di sekujur tubuhnya.
Ana berusaha bangkit meski tubuhnya terasa remuk. Semua orang yang melihatnya tampak takjub dan histeris kaget.
"Anda baik-baik saja??" Tanya seorang dokter berusaha mendekati Ana.
Ana mengangguk. Ia segera bangkit, segera turun dari atas ambulance itu. Ia meloncat kebawah, namun kakinya tak cukup kuat menopang tubuhnya. Ia jatuh terjerembab ke atas aspal.
Perawat dan dokter berusaha menolongnya, namun dengan sigap ia segera bangkit dan menepis tangan mereka.
"Kau butuh pertolongan !!" Seru dokter itu panik.
"Tidak.. aku baik-baik saja.." geleng Ana cepat segera pergi. Ia melangkah cepat dengan kaki pincangnya. Sementara perawat dan dokter lainnya berusaha menurunkan jasad pria yang tergeletak di atas ambulance tersebut.
__ADS_1
Beberapa orang dan penjaga keamanan rumah sakit sempat berusaha menghalau Ana untuk di mintai keterangan, namun Ana segera menodongkan pistolnya.
"Enyahlah.. jangan ada yang berani menghentikanku.." ancam Ana lemas.
Semua orang terpekik kaget lalu menunduk dan meringkuk ketakutan. Ana segera berusaha berlari kecil menjauhi keramaian itu, ia segera menuju pintu keluar untuk mencari taksi.
Di dalam taksi, Ana segera menelpon Jane.
"Tolong aku.." ujarnya terengah.
"Apa yang terjadi? Kau dimana??" Seru Jane cemas.
"Cepat datang ke grey hospital.. bereskan semua kekacauan disana.." ujar Ana merintih.
"Apa yang terjadi??? Kau di negara K?? Kapan kau kembali??" Tanya Jane kaget.
"Cepat datang kesana.. atau keadaan akan semakin kacau.." perintah Ana segera mengakhiri panggilannya. Ia segera mengirim pesan berisi foto dan video B1 yang tadi ia ambil disana.
Jane termenung ia sangat shock saat melihat pesan dari Ana yang ia terima, ia segera menghubungi Lucas dan para rekannya untuk memeriksa situasi di grey hospital. Sementara itu Ana segera menuju apartmentnya.
******
Setibanya di lobi apartment Ana justru segera menuju basement, ia segera mengambil mobilnya. Ia tak bisa masuk ke apartmentnya, ia khawatir ada penyadap yang terpasang disana, bahkan ia menemui orang yang mencurigakan ada di bagian keamanan gedung apartment nya. Ia segera mengendarai mobilnya dengan lemas. Ia bahkan tak punya tempat tujuan. Ia tak bisa menemui Jane sekarang karena Jane harus segera membereskan kekacauan yang ia buat.
Ia mengendari asal mobilnya, dan justru berakhir di depan rumah orang tua Louis. Ia memarkirkan mobilnya disana. Ia mulai merasa kram dan tak bisa lagi merasakan kaki kiri dan pinggangnya. Ia yakin jika ia mengalami dislokasi tulang atau bahkan mengalami patah tulang akibat kejadian tadi. Bahkan ia tak sadar jika wajah dan tubuhnya penuh memar yang cukup parah.
*****
Jane panik dan shock saat mengecek cctv rumah sakit yang tersambung di laptopnya. Ia ternganga melihat rekaman aksi mengerikan Ana. Ia tidak tau apa yang Ana pikirkan saat itu. Namun apa yang ia lakukan sangat gegabah dan membahayakan dirinya sendiri. Jane segera melobi semua pejabat dan petinggi untuk membantunya mengatasi kekacauan itu. Bahkan ia mengutus Lucas untuk mengamankan lokasi kejadian terlebih dahulu. Ia juga memerintahkan beberapa hacker handal untuk stand by agar dapat segera menghapus semua artikel maupun rekaman amatir yang terbit di media sosial mengenai kejadian mengerikan itu.
__ADS_1
Jane semakin risau. Ia sadar jika Ana saat ini berada dalam mode 'killer'. Ia akan membinasakan siapa saja yang menghalanginya. Ia segera mencari tahu kejadian yang terjadi di negara C. Ia harus tau apa pemicu kegilaan Ana tersebut.