
Selama meeting Pak Kim tampak canggung menghadapi Louis yang menatapnya dengan tatapan aneh, hingga di penghujung meeting, Pak Dong lebih dulu pergi untuk membawa mobil ke depan lobi. Kini Pak Kim dan Louis duduk bersebrangan dengan canggung.
"Terima kasih perusahaan anda sudah sangat membantu agensi kami.." ujar Louis membuka pembicaraan.
"Ah.. iya.. sudah seharusnya kami mensponsori seniman berbakat seperti anda.. saya harap promosi kali ini juga akan berjalan dengan lancar.." doa Pak Kim.
"Aku harap juga begitu.." angguk Louis tersenyum.
"Bagaimana kondisi anda? Apa anda belum mengingat apapun?" tanya Pak Kim hati-hati.
"Hmm.. aku masih belum bisa mengingat apapun selain keluargaku.." geleng Louis tampak kecewa.
Ia menoleh ke arah pojok restaurant. Ia tertegun, tiba-tiba terlintas kenangan memperlihatkan ia tengah berada di sana dengan seorang wanita. Wanita yang sudah menghantuinya semenjak ia mengalami kecelakaan. Louis merasakan nyeri hebat di kepalanya. Ia mencengkram kepalanya keras, merintih dan tertunduk.
"Tuan Louis? Anda baik-baik saja?" seru Pak Kim menghampiri dengan cemas.
"Siapa dia?" gumamnya lirih masih terus merintih menahan nyeri hebat di kepalanya.
"Siapa maksud anda Tuan?" Pak Kim tampak panik, ia memerintahkan staff restaurant untuk mencari Pak Dong di parkiran.
"Siapa wanita itu?" tanya Louis lugas menunjuk ke arah pojok restaurant.
Pak Kim tertegun, tubuhnya membatu, ia melihat ke arah tangan Louis menunjuk.
"Wa..wanita?"
"Kenapa dia selalu ada di pikiranku.." kicaunya lirih.
Pak Dong tampak segera berlari menghampiri Louis, ia mengeluarkan obat Louis, meminumkannya, mendudukkan Louis di sofa, dan mengelus pundaknya berusaha menenangkan Louis, tak lama Louis justru jatuh pingsan tak sadarkan diri.
****
Ana memutuskan untuk keluar dari rumah sakit, ia tidak betah berlama-lama di rumah sakit, rumah minimalis nan klasik itu tampak sangat memukau. Pemandangan pusat kota di balkon depan, dan pemandangan pegunungan di halaman belakang, benar-benar membuat Ana takjub.
Jane meminta perawat datang dua kali sehari yaitu pagi dan malam hari untuk memeriksa kondisi Ana. Jane ternyata juga menggunakan nama samaran untuk semua data diri Ana selama di rumah sakit, hanya dokter dan perawat khusus yang langsung menangani Ana yang tau nama aslinya.
Jane sengaja memilih kamar di lantai 1 yang menghadap ke halaman belakang untuk Ana, sementara ia menempati kamar di lantai 2. Ia menata kamar itu dengan sangat mewah, tentu seperti selera mahalnya. Ana bahkan dapat menghirup wangi parfum nya, Jane benar-benar menyiapkan semua dengan baik.
Ana tengah menata meja kerjanya yang tepat di depan jendela kaca besar. Pemandangan yang menyegarkan, aroma parfum khasnya, serta cuaca yang sejuk sangat menenangkannya. Meski ia harus mengenakan kursi roda untuk beraktifitas, namun ia masih tetap bersemangat.
Pranggg !!
Ana segera mengayuh kursi rodanya cepat menuju suara bising dari dapur.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Ana kaget.
__ADS_1
"Maaf.. aku menjatuhkan panci dan piring ini.. kau tau kan.. aku sangat bermusuhan dengan dapur.." kekehnya memungut panci dan piring di lantai.
"Lalu apa yang mau kau lakukan disini ?"
"Aku ingin memasak untuk makan malam.." gumamnya lirih.
"Gunakan saja uangmu untuk membelinya.. jangan membakar rumah ini.." timpal Ana sinis segera mengayuh ban kursi rodanya.
Jane tertegun, ia akhirnya memutuskan untuk segera pergi keluar untuk membeli makan malam dari restoran terdekat. Sebelumnya, ia menemui Ana dan meninggalkan sebuah senjata api laras pendek untuk dia berjaga-jaga selama sendiri dirumah.
"Apa aku juga harus khawatir saat ini?" tanya Ana melihat ke arah pistol di atas mejanya itu.
"Kita harus selalu siaga.." ujarnya tegas lalu segera pergi.
Ucapan Ana memang tidak bisa di pungkiri. Ia memang jago dalam semua hal, namun sangat tidak berpengalaman sebagai ibu rumah tangga, bahkan ia tidak tau bagaimana cara memasak telor dadar.
Kini ia tengah sibuk mengantri, ia tidak menyangka akan mengantri selama itu hanya untuk memesan makan malam mereka.
Sementara Ana tengah fokus di depan laptop di dalam kamarnya seorang diri, jam sudah menunjukkan pukul 6.30 sore. Ia telah membuat email samaran, mengirimkannya pada pak Kim beserta nomor ponselnya yang baru dengan idientitas palsu.
"Pak Kim, ini aku.. +2134567890 hubungi aku jika sesuatu terjadi.." tulisnya singkat.
Ia mengirimkan pesan itu ke alamat email yang terakhir kali di kirim Pak Kim ke ponsel dokter Ana sesaat sebelum ia pulang.
Kriek..
"Kau sudah kembali??" seru Ana dari dalam kamar.
Ia terdiam sesaat, tak terdengar sahutan dari Jane, merasa curiga Ana mengayuh perlahan kursi rodanya menuju pintu kamarnya yang tertutup, tak lupa ia memegang pistol di tangannya yang ia sembunyikan di bawah meja kerjanya.
"Grandma.." serunya lagi meyakinkan.
Ana meraih gagang pintu kamar dengan tangan kirinya perlahan, ia membuka pintu dengan sangat hati-hati, sementara tangan kanannya tengah menodongkan pistol ke arah depan.
Deg !!!
Pria itu telah berdiri kini tepat di depan Ana. Ia menatap Ana intens, dengan senyuman ramah di wajahnya. Ana hampir saja menembak pria itu.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya kaget segera menurunkan pistolnya.
"Wooo !!" seru pria itu kaget melihat pistol yang di todongkan Ana saat pintu kamarnya terbuka.
"I..ini aku.." pria itu tergagap ketakutan.
"Kau mengagetkanku.." gerutu Ana menghela nafas lega.
__ADS_1
"Maaf aku mengejutkanmu.. aku sudah mencarimu kemana-mana.." ujar Tyo turut tampak lega.
"Bagaimana kau bisa menemukan aku??" tanya Ana bergidik ngeri.
Tyo melayangkan ponselnya pada Ana, layarnya menampakkan tampilan gps yang menunjukkan arah lokasi keberadaan Ana.
"Pistol mainanmu tampak sangat meyakinkan.." puji Tyo yang memang masih tidak sadar dan tidak percaya jika Ana memang mahir menggunakan senjata api.
Ana masih terfokus pada layar ponsel Tyo, lalu segera menuju meja riasnya, ia mencari-cari keberadaan jam tangan milik Thommas yang selalu ia kenakan.
Jam itu ternyata berada dalam kotak khusus di dalam tasnya. Ia melihat dengan seksama jam tangan itu, Ana segera merogoh pisau lipat yang juga ada di dalam saku kecil tasnya, Ana mencungkil keras sisi belakang jam tangan itu hingga tutupnya terlepas.
Alangkah terkejutnya Ana saat mendapati alat pelacak micro di mesin jam tangan itu, Ana menatap sinis pada Tyo.
"Siapa yang memberitahumu ini??' tanya penasaran menunjukkan layar ponsel itu.
"Seseorang mengirimkan ponsel ini lewat pos, beserta surat ini.." jelasnya menyodorkan sepucuk surat dari saku jaket kulitnya pada Ana.
"Tolong temui Ms.Grey.. dia dalam bahaya !!"
Pesan singkat itu tertulis disana, namun Ana mengenali tulisan tangan siapa yang tertera disana.
"Apa yang dia rencanakan? Bukankah dia mengkhianatiku?" batin Ana berpikir keras.
"Siapa yang tau kau ada disini?"
"Tentu saja istriku.. dan hanya istriku.. apa kau baik-baik saja? kenaa kau mengenakan kursi roda ini?" tanya Tyo bertubi.
"Aku baru saja habis operasi.."
"Kau terluka? apa yang terjadi?" tanyanya khawatir.
Ana segera keluar dari kamarnya, mengintip ke sebalik tirai jendela, memperhatikan suasana luar rumah mereka.
"Kau harus segera pergi dari sini.." usir Ana tegas.
"Aku baru saja tiba, bagaimana mungkin kau setega itu mengusirku.."
"Kau akan terlibat masalah jika bersamaku sekarang.. sebaiknya kau segera kembali, bawa istri dan anakmu bersembunyi untuk sementara waktu.." pinta Ana terengah, ia mulau khawatir pada keselamatan Tyo.
"Apa maksudmu?"
Dorr !!!
Ana menembakkan pistol itu ke arah dinding rumah, hingga membolongi dinding rumah mereka.
__ADS_1
Tyo ternganga kaget, sambil menutupi kedua telinganya.
"Ini bukan pistol mainan.. dan aku tidak seperti yang kau kira.." ujar Ana lirih.