
Pukul 11 siang Ana masih di dalam ruang ICU, tubuhnya di pasang banyak alat pendeteksi detak jantung, tekanan darah, oksigen, selang infus, selang transfusi darah, karena Ana baru saja habis melakukan proses pencucian darah. Mulutnya juga terpasang selang untuk membantunya mencerna makanan dan minuman.
Kondisinya benar benar tampak sangat miris. Pak Kim terus berdiri melihat dan mengawasi Ana dari balik kaca.
Dokter menghampiri Ana membawa hasil pemeriksaan Ana.
"Ini hasil pemeriksaannya, lihat ini.. ia harus menjalani operasi secepatnya, sebagian usus besar nya sudah mengalami pembusukan akibat infeksi.. itu yang membuat sel darah putihnya meningkat drastis.."
"Apa itu benar benar bisa berpengaruh untuk kesembuhannya dokter??"
"Setidaknya kita harus mencobanya, dan seharusnya ini bisa membantu.. kita harus segera membuang bagian organnya yang sudah terinfeksi dan membusuk.."
"Baik dokter.. lakukan secepatnya.."
Pak Kim menunduk lemas. Ia mengusap wajahnya kasar. Ia bingung harus bagaimana. Bahkan perusahaan tidak lagi terpikir olehnya. Ia hanya memikirkan bagaimana caranya agar Ana bisa lekas sadar dan sembuh.
Karena kini baginya Ana adalah satu satunya keluarganya.
Tak lama seorang perawat menghampiri Pak Kim.
"Permisi Pak.. apa anda wali Ms.Grey??"
"Iya.." angguknya cepat.
"Mohon anda untuk segera mendaftarkan administrasi untuk perawatan Ms.Grey.."
"Apa?? Apa kau tidak tau siapa kami??? Di kondisi genting seperti ini kau masih memintaku mengurus hal tidak penting !!!" Bentak Pak Kim naik pitam memarahi perawat itu, karena ia mengira jika administrasi yang di maksud adalah mendaftarkan diri sebagai wali dan pasien yang baru pertama kali ke rumah sakit. Padahal Ana tidak butuh itu. Karena rumah sakit itu bisa dibilang setengah dari sahamnya milik Ayah Ana.
"Maa..maaf Pak.. ini administrasi untuk persetujuan semua tindakan operasi Ms.Grey yang akan segera di lakukan Pak.. kami butuh beberapa persetujuan dari wali demi kelancaran proses penangan Ms.Grey.." jelas gadis itu gugup ketakutan.
Pak Kim tertegun, ia tidak pernah naik pitam seperti itu. Ia lagi lagi mengusap kasar wajahnya.
"Maafkan aku.. aku benar benar sedang kalut sekarang.. aku akan segera mengurusnya.."
"Baik Pak.. saya akan bantu membawakan semua berkasnya kemari.." ujar perawat itu segera pergi.
Pak Kim terus tertunduk lesu. Saat ia kembali melihat ke arah ruang ICU ia tertegun melihat Ana yang menatapnya dengan tatapan sendu. Pak Kim segera berteriak memanggil dokter dan perawat, tak lama mereka segera masuk setelah memakai pakaian steril yang lengkap. Ana menatapnya dengan senyuman manis nya. Mata Pak Kim berkaca kaca, ada sedikit rasa lega di hatinya.
__ADS_1
Dokter keluar menghampiri Pak Kim.
"Ms.Grey ingin menemui anda.." serunya.
Pak Kim segera mengikuti perawat yang mengiringinya, ia mengenakan stelan pakaian steril sebelum masuk ke dalam.
"Ms.Grey.." ujar Pak Kim dengan suara bergetar.
"Kau pasti takut sekali.." ujar Ana tertawa kecil.
"Tentu saja.. aku benar benar ketakutan sekarang.."
"Tolong jangan beritahu siapapun.." ujarnya setengah berbisik.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh beritahu Tuan Louis dan Nyonya Jane??"
"Tidak satupun dari mereka.. katakan saja aku dinas keluar negeri untuk waktu yang lama.."
"Anda pasti akan segera baik baik saja.. dan harus segera pulih.." ujar Pak Kim terisak pelan, ia mengusap air matanya dengan lengan baju piyamanya.
Ia saat ini hanya mengenakan stelan piyama biru tua dan sweater tebal, serta sendal jepit santainya.
"Sekarang aku benar benar benci mendengar anda berkata seperti itu.. aku tau anda sedang tidak baik baik saja Ms.Grey.." ujar Pak Kim semakin terisak.
"Bahkan kau menangis seperti aku ini akan mati.." ledek Ana lirih.
"Jangan katakan apapun.. simpan tenagamu untuk segera pulih.."
"Pak Kim.." seru Ana pelan.
"Apa? Anda membutuhkan sesuatu??"
"Temukan brankas milikku yang ada di balik lukisan dinding dalam ruang kerjaku yang di apartment.. kata sandinya sangat sederhana.."
"Apa 123456 juga??" Tanya Pak Kim meledek.
"Tentu saja tidak.. tapi 000123.." geleng Ana tertawa kecil.
__ADS_1
"Sial.. apa anda tidak pernah memikirkan kata sandi yang sulit untuk di tebak??"
"Percayalah.. bahkan orang tidak akan ada yang menyangka jika orang sepertiku menggunakan kata sandi yang sangat mudah.." gumam Ana membela diri.
"Lalu.. apa yang harus aku lakukan dengan brankas itu??"
"Ada map berwarna abu-abu.. berikan itu pada Mr.Lee.. sebelumnya aku sudah pernah membahas perihal isi dalam map itu bersamanya.. namun aku katakan bahwa aku sedang menunggu waktu yang tepat.. aku rasa sekarang waktu yang tepat.. tolong berikan itu padanya secepat mungkin.."
"Baiklah Ms.Grey.. aku akan mampir ke apartment anda sore ini.." ujar Pak Kim mengangguk.
Pak Kim adalah tipe orang yang tidak pernah mau ikut campur hal apapun, jika memang dia tidak di libatkan untuk mengetahui hal hal tersebut. Dia benar benar bisa di percaya.
"Apa kau sudah memberi tahu orang lain perihal kondisiku??"
"Tidak.. aku belum memberitahu siapapun.. bahkan aku meninggalkan ponselku di mobil.. pasti banyak sekali panggilan masuk saat ini.." ujarnya santai.
"Pulanglah.. bantu aku menghandle perusahaan.. bahkan kau lebih baik dari aku dalam mengurus perusahaan.."
"Aku hanya melakukan pekerjaanku sebaik mungkin Ms.Grey.." gumamnya sungkan.
"Pulanglah.. dokter bilang aku harus banyak istirahat.. malam ini aku akan menjalani operasi.."
"Baiklah.. aku akan segera kembali kemari setelah menyampaikan pesan anda pada Mr.Lee.."
"Hmm.." angguk Ana pelan.
Ia benar benar tak berdaya, bahkan ia tidak menggerakkan anggota tubuhnya yang lain, hanya menggeleng dan sedikit mengangguk. Ia benar benar berusaha tampak tegar di depan Pak Kim.
****
Pak Kim memeriksa ponselnya yang berisi puluhan panggilan tak terjawab dan belasan pesan singkat.
Salah satunya ada pesan dari Louis, Jane, sekretaris Pak Kim, Mr.Lee dan Pak Dong.
Pertama-tama Pak Kim sedang mengatur rencana untuk membuat jawaban di semua kemungkinan pertanyaan yang akan di lontarkan padanya seputar informasi tentang kondisi Ana. Ia benar benar menata setiap katanya dengan baik dan tenang agar tidak mencurigakan.
Pak Kim segera menyalakan mobilnya dan menuju apartment Ana. Saat masuk ke dalam apartment ia terkejut melihat kondisi apartment itu sudah sangat bersih. Padahal, seingatnya apartment itu sangat berantakan saat ia tinggalkan.
__ADS_1
Namun ia segera masuk ke ruang kerja Ana untuk mencari brankas yang di maksud Ana. Setelah ia menemukannya, Pak Kim segera memasukkan pinnya, setelah terbuka terlihata ada 3 bagian rak, rak paling atas terdapat uang cash yang bertumpuk berupa pecahan $100 dan pecahan ₩50.000, lalu di bagian paling bawah ada tumpukan emas batangan. Nah di rak kedualah banyak tumpukan map map Ana yang berbeda beda warna. Pak Kim hanya fokus pada 1 map berwarna abu-abu. Ia segera mengambil map itu dan kembali menutup rapat brankas Ana.
Saat hendak menutup kembali pintu ruang kerja Ana ia di kagetkan dengan kehadiran Louis yang baru masuk ke dalam apartment dengan memegang alat pel di tangannya.