Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Bab 155 : Jangan Berharap


__ADS_3

Pria tua itu duduk di pojok selnya, ia meringkuk gemetar ketakutan, bahkan ia tak berani melirik ke arah Ana. Ana kini tengah tidur meringkuk di atas lantai sel, ia berbaring tanpa alas apapun menghadap dinding. Seorang petugas tampak mendekati ke arah sel tempat Ana di tempatkan.


"Ms.Grey.. Ada kunjungan untukmu.." seru sipir itu membangunkan Ana dari tidurnya.


"Kau tampak nyaman di dalam sana.." seru seseorang kemudian.


Ana segera bangkit dari tidurnya. Melemparkan tatapan malasnya pada Jane.


"Setidaknya aku harus berlatih dan membiasakan diri, kalau-kalau suatu saat nanti aku mendekam di dalam sini.." gumam Ana lirih.


"Cih.. Kau benar-benar berpikir akan masuk penjara?? Kau tau?? Kita tidak bisa di sentuh siapapun.. kau jangan khawatir.. Aku memegang kendali penuh di negeri ini.."


"Apa kau menyuap banyak aparatur negara?? Kau terdengar sangat percaya diri.."


"Aku berteman baik dengan banyak petinggi-petinggi negeri ini.." bisiknya pelan.


"Berteman bukan berarti kita aman.. Bisa saja mereka mengkhianatimu.."


"Manusia memang bisa mengkhianati manusia.. Tapi manusia tidak bisa mengkhianati uang.. Aku selalu mengandalakn uangku untuk menguasai manusia-manusia serakah di muka bumi ini.."


"Wah.. Kau benar-benar membuatku bangga.." sindir Ana sambil menepuk kedua tangannya pura-pura salut.


"Kau akan segera keluar, jaksa sedang memproses pencabutan semua tuduhan atas dirimu.. Jangan khawatir.." ujar Jane menyemangati.


"Aku tidak khawatir sama sekali.. Aku yakin kau akan menolongku keluar dari sini meski aku tidak memintanya.."


"Jadi.. Aku harus mengeluarkanmu dari sini atau tidak??"


"Tentu saja aku harus keluar dari sini kalau tidak mau merusak image keluarga kita.."


Cih.. Bahkan sekarang kau menyebutkan kata keluarga.. Itu tidak seperti dirimu.. Apa sesuatu hal baik terjadi padamu dan Lou??" goda Jane penasaran.

__ADS_1


"Aku tidak ingin membahasnya.." gumam Ana mengambil posisi duduk pose yoga, ia memejamkan matanya berusaha konsentrasi untuk menenangkan pikirannya.


"Sepertinya hal baik benar-benar terjadi.. Bahkan sejak tadi dia tidak berhenti mengirimiku pesan.. Apa dia pacar yang posesif? Atau pacar yang romantis.."


"Pergilah.. Aku ingin berkonsetrasi.." gumam Ana menghela nafas kesal.


"Apa aku sudah bisa bertemu kedua orang tuanya secara resmi??" sambung Jane lagi tak menggubris keluhan Ana.


"Fiuhhh..." Ana menghela nafas keras.


"Orang tuanya sangat baik dan ramah, mereka tidak akan menolakmu sebagai menantunya.. Kau cantik, pintar dan kaya raya.."


"Tapi aku seorang mafia, dan seorang pembunuh dingin.. menurutmu bagaimana respon mereka??"


Jane terdiam, bahkan ia tak sanggup berkata-kata.


"Bahkan kau tak sanggup berkata-kata.. Jangan berharap banyak.. Hubungan ini tidak akan bertahan lama.. Louis akan segera meninggalkanku.. Bahkan orang tuanya akan segera mengusirku jika tau siapa aku sebenarnya.." gumam Ana membuka matanya, ia menatap ke arah lantai dengan tatapan sendu.


Ana terus menatap lantai sel itu dengan tatapan sendu.


"Jangan berharap apapun.. Kau akan kecewa.. Aku tidak akan punya masa depan apapun dalam hubungan percintaan.. Bahkan aku tidak pantas mendapat kebahagiaan bersama pria seperti Lou.." ujar Ana lagi kembali memejamkan matanya, ia masih dalam posisi meditasi yoga-nya.


"Kenapa kau bicara seperti itu?? Aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal buruk lagi.. Aku akan menjagamu dengan baik.. Agar suatu saat kau bisa memiliki keluarga yang utuh dan bahagia.."


"Pulanglah dan istirahat.. Aku baik-baik saja disini.." timpal Ana lagi.


"Aku akan menunggu sampai kau di bebaskan.. Tidak akan lama.." jelas Jane tak menghiraukan seruan Ana.


...----------------...


Louis memutuskan untuk makan malam bersama dengan keluarganya, pulang shooting ia segera kembali ke rumah orang tuanya, karena ada beberapa barang yang harus ia bawa ke apartmentnya, karena mulai malam itu ia akan kembali ke apartmentnya.

__ADS_1


Saat baru tiba di halaman rumah, Irene pun tampak baru saja pulang bekerja.


"Kak Lou.. Kau makan malam disini??" sapa Irene girang.


"Iya.. Aku juga mau mengambil beberapa barang disini.."


"Apa kak Ana juga tinggal di apartment nya??"


"Katanya mungkin dia juga akan segera pindah kesana.."


"Wah.. Benar-benar kabar baik.." seru Irene semangat.


"Kau bahkan tampak lebih bahagia daripada aku.." timpal Louis.


"Tentu saja.. Aku sangat menyukainya.. Apa kakak masih belum mengingat apapun sepenuhnya??" tanya Irene penasaran. Mereka berdiri di halaman rumah cukup lama untuk saling bercerita.


"Belum.. Tapi perlahan ingatan itu akan segera pulih.." harap Louis.


"Percayalah.. Kak Ana satu-satunya wanita yang paling kau cintai setelah Ibu.. jadi.. Meskipun ingatanmu tidak kembali lagi.. Aku harap ingatan kecilmu tentangnya cukup membuktikan jika dia adalah wanita yang sangat kakak cintai.."


Louis mengangguk pelan, ia tersenyum hangat pada adiknya.


"Ternyata kau sudah tumbuh dewasa.. Kau bahkan terdengar lebih baik dan bijak soal hubungan daripada aku.." puji Louis mengusap hangat rambut Irene.


"Benarkah?? Zain juga mengatakan hal yang sama.." imbuh Irene salah tingkah.


"Zain?? Siapa dia??" tanya Louis ketika ia telah menyadari sesuatu dari ucapan adiknya.


"Sepertinya ibu dan ayah sudah menunggu kita.. Ayo cepat masuk.." seru Irene segera berlalu, ia mengalihkan pertanyaan dari kakaknya, bahkan ia tampak melangkah cepat meninggalkan Louis.


...----------------...

__ADS_1


Jangan pernah bosan.. aku tidak akan berhenti menghasilkan yang terbaik untuk kalian semua.. saran dan masukkan dari kalian sangat berarti untukku.. (ig : tttaaa13)


__ADS_2