
Baru masuk ke dalam ruangannya Ana di kagetkan oleh kehadiran Louis yang membawa sebuket buah buahan segar.
"Lou.. bukankah jadwal meeting mu siang nanti??" Tanya Ana heran ia datang pagi pagi ke kantornya.
"Aku ingin menyapamu lebih dulu.." jawabnya seraya menyodorkan buket buah buahan itu.
"Kalau aku membawa bunga, kau pasti tidak akan senang kan??" Sahutnya lagi dengan nada yang aneh.
"Bukan masalah jika itu dari kau.. terima kasih untuk ini.." jawab Ana meletakkan buah buahan itu ke mejanya.
"Bagaimana shooting mu kemarin? Aku belum sempat melihatnya.."
"Cukup lancar.. hmm.. tentu saja.. kau tampak sangat sibuk akhir akhir ini.. apa karena kau sibuk berkencan?" Tukas Louis tampak kesal.
"Kau bicara apa?" Celetuk Ana bingung.
Tok..tok..tok..
Pintu ruang Ana terbuka dan sosok yang tidak ia harapkan hadir disana.
Jane muncul dari sana.
"Ohh.. maaf kau tampaknya sedang ada tamu.." seru Grandma Jane dengan nada menyindir.
"Halo Nyonya.. selamat pagi.." sapa Louis ramah. Ia teringat ucapan Ana tentang sosok Jane, ia bingung harus memberi respon seperti apa pada Jane.
Grandma Jane hanya tersenyum ketus mengabaikannya.
"Ada apa datang kemari?" Tanya Ana dingin.
"Aku hanya ingin memperingatkanmu Ana..soal.." ucapan Grandma Jane terputus ketika Ana segera menimpalinya.
"Mari bicara di luar.."
"Tidak.. aku tidak akan lama.. kita bicara disini saja.." gelengnya cepat. "Aku minta sebaiknya kau menjaga tingkah lakumu pada Franz.. aku tidak ingin kau mengecewakannya.. dan aku minta kau bersikap baiklah padanya.. dan perlakuanmu tadi malam sangat kekanak kanakan, aku akan membiarkanmu kali ini, dan ini yang terakhir kali aku peringatkan kau Ana.."
Louis yang mendengar itu hanya tertegun, ia merasa seperti tidak di anggap di situasi itu.
"Aku tau apa yang harus aku lakukan, jangan ajari aku tentang itu.."
"Aku selalu mengawasimu Ana.. kau ingat itu.. kita punya perjanjian yang masih berlaku Ana.."
"Bisakah kau berhenti menggangguku dengan perjanjian itu? Aku tidak melupakannya.. jadi sekarang kau bisa pergi dari sini.."
Grandma Jane tersungging sinis di ujung bibirnya dan segera berlalu.
"Dan satu hal lagi.. berhenti mengancamku seperti ini.. aku tidak akan tinggal diam.." ucap Ana dingin menghentikan langkah Jane.
Jane yang mendengar itu hanya segera menghilang dari balik pintu ruang kerja Ana tanpa pamitan pada Louis atau bahkan berkomentar sepatah katapun.
"Dasar wanita sial*n.." umpat Ana kesal.
"Kau selalu saja berkata buruk dengan mulutmu itu.." sahut Louis kaget mendengar Ana mengumpat dengan keras.
"Aku tidak tahan lagi dengan sikapnya.." celetuk Ana kesal membanting tubuhnya ke atas sofa di sebrang Louis duduk.
"Apa aku mengganggumu?"Louis masih sedikit terganggu dengan pembicaraan antara Ana dan Jane.
"Tentu saja tidak.." geleng Ana cepat.
"Lou.. kau percaya padaku kan?" Seru Ana tiba tiba.
__ADS_1
"Hmm.. tentu saja.." angguk Louis yakin.
"Baguslah.." angguk Ana santai.
"Memangnya kenapa?" Tanya Louis penasaran.
"Tidak.. aku hanya ingin tau saja.." geleng Ana santai.
"Kau ini.."
"Memangnya apa yang kau ingin dengar dariku??"
"Tidak ada.." geleng Louis salah tingkah.
"Lalu apa kau ingin menceritakan sesuatu padaku? Kau datang dengan wajah yang penasaran.."
"..." Louis tertegun. "Hmm.. tidak.. aku hanya ingin menyapa saja.. memangnya tidak boleh?" Timpal Louis berdalih.
"Kau tidak bisa membodohiku dengan wajah polosmu itu.." ejek Ana terkekeh.
Tok..tok..tok..
Pak Kim hadir membawa beberapa lembar map di tangannya. Lalu menyodorkan file itu pada Ana.
"Ini Ms.Grey.. file yang anda minta.."
"Terima kasih Pak Kim.."
"Ms.Grey.. soal tadi malam.."
"Mari kita bicarakan itu nanti Pak Kim.." potong Ana yang menghentikan ucapan Pak Kim. Pak Kim yang menangkap sinyal dari Ana ketika ia melihat ke arah Louis, lalu segera pamit keluar ruangannya.
"Ada apa tadi malam?" Tanya Louis penasaran karena Ana tampak menyembunyikan sesuatu darinya.
"Tentu saja.. kau membuatku penasaran.."
"Maka aku harap kau menutup mata dan telingamu.."
"Kenapa kau bicara seperti itu?" Louis benar benar dibuat bingung oleh Ana.
"Karena aku berharap kau benar benar percaya padaku.." jawab Ana menatapnya hangat.
"Baiklah.." angguk Louis mengerti tak lagi bertanya.
Layar ponsel Louis yang ia letak di atas meja menyala, karena ada pesan masuk dari ibunya. Ana melirik ke arah layar ponsel yang menyala itu.
"Kau memasang fotoku menjadi wallpapermu?" Tanya Ana memiringkan kepalanya agar dapat melihat layar ponsel Louis dengan jelas.
Louis yang panik segera mengambil ponselnya dan menyimpannya ke dalam saku.
"Ti..tidak.. ini foto ibuku.." elaknya salah tingkah.
"Sejak kapan aku menjadi ibumu??" Tukas Ana sinis. Ana segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Louis.
"Berikan ponselmu.." Ana menarik tangan Louis yang menutupi sakunya. Ama menarik tangannya keras, lalu memasukkan tangan kirinya merogoh saku Louis untuk merampas ponsel Louis.
Louis berusaha keras menahan Ana yang terus menariknya, hingga Ana tersungkur menimpa Louis di atas sofa. Mereka hanya terdiam sesaat.
Ana bisa merasakan detak jantung Louis yang berdetak cepat. Lalu segera merampas ponsel itu dengan sigap saat Louis lengah. Ana segera bangkit setengah berlari menjauh dari Louis.
Dan benar saja ia dapat melihat fotonya menjadi wallpaper ponsel Louis.
__ADS_1
"Wahh..ibumu benar benar cantik.." sindir Ana mengejek memperlihatkan layar ponsel Louis.
"Aku bisa jelaskan.." elak Louis tak sanggup berkata kata.
"Foto ini kurang bagus.. aku akan mengirimkan foto yang lebih bagus lagi nanti.." celetuk Ana lalu segera melemparkan ponsel Louis ke atas sofa.
Louis segera mengambil ponselnya.
"Sekarang pergilah.. aku ada meeting pagi ini.." seru Ana segera keluar ruangannya meninggalkan Louis yang kebingungan.
Louis kebingungan dengan perkataan Ana tadi. Ia terdengar marah, namun justru mengatakan akan mengirimkan foto yang bagus untuknya. Ia terus menduga duga apa makna ucapan Ana. Namun segera tersadar untuk segera keluar dari ruangan Ana.
***
Setelah meeting Ana tampak berada di dalam ruang meeting yang tertutup rapat seorang diri sambil menelepon seseorang.
Pak Kim tengah berdiri menjaga pintu ruang meeting itu, sedangkan Louis, Pak Dong dan anggota tim lain juga sedang menunggu di persilahkan masuk. Dari balik jendela Louis dapat melihat ekspresi Ana yang tampak sedang menelepon sambil marah marah, ia tampak sangat galak sekali saat itu. Hingga tak lama kemudian ia mengakhiri panggilan itu, lalu segera mempersilahkan semua orang masuk ke ruang meeting.
Ana tampak menenggak air mineralnya dengan gusar.
"Kau baik baik saja?" Louis bertanya dengan menggerakkan bibirnya tanpa bersuara, saat Ana menoleh ke arahnya.
Ana hanya mengangguk pelan. Lalu kembali menenggak air minumnya.
Saat meeting tiap sebentar Ana melirik ke arah jam tangannya. Ia tampak gelisah. Tak lama kemudian Ana menyela sesi diskusi itu.
"Maaf, aku masih ada urusan lain.. silahkan kalian lanjutkan meeting ini.." Ana segera bangkit dari kursinya dan pergi meninggalkan ruang meeting.
Pak Kim yang mengerti situasi tersebut segera mengambil alih meeting siang itu menggantikan Ana. Louis hanya menatap Ana yang pergi tergesa gesa.
***
Ana menemui Albert di sebuah taman. Ia menelepon Ana untuk memintanya segera datang karena ada hal yang sangat mendesak. Ternyata..
Ada seseorang yang melaporkan tentang tempat persembunyian Ana yang sudah terbakar waktu itu. Disana polisi menemukan banyak barang bukti yang rata rata terdapat sidik jari Ana disana. Albert yang shock tentang itu mau tidak mau harus menemui Ana terlebih dahulu, karena ialah yang menangani kasus itu. Ia terlebih dahulu menerima laporan tentang sidik jari pelaku, dan saat ia selidiki ternyata itu milik Ana. Alangkah terkejutnya dia soal itu.
"Apa itu benar benar kau Ana??" Tanya Albert mencoba meyakinkan dirinya yang saat itu sangat terkejut mengingat tempat yang ia datangi itu dan mendapatkan hasil temuan temuan sidik jari pelaku di tkp yang ternyata milik adiknya.
Dimana disana juga ditemukan beberapa mayat yang mulai hancur dan bahkan ada yang sudah hancur lebur. Ia awalnya mencoba untuk tidak tidak mempercayainya jika Ana terlibat, itu sebabnya ia ingin memastikan hal itu terlebih dahulu.
Ana hanya diam tak menjawab Albert. Ia menatap Albert dengan tatapan sendu.
"Aku mohon..jawab aku Ana.. katakan padaku jika itu bukan ulahmu.." mohon Albert dengan nada putus asa.
Ana lagi lagi tidak menjawab, matanya tampak berkaca kaca.
"Apa yang mereka lakukan padamu hingga kau menjadi seperti ini Ana??" Albert terdengar mulai terisak.
"Aku tidak percaya kau bisa menjadi seperti ini.. Aku pikir kau benar benar hidup dengan tenang dan baik baik saja Ana.. Apa yang sudah kau lakukan??" Albert merasa bersalah atas apa yang menimpa Ana. Ia tidak percaya adiknya ternyata telah berubah menjadi monster yang mengerikan.
"Maafkan aku kak.." hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Ana, Ana berusaha keras menahan tangisnya.
"Tidak Ana.. kau tidak boleh mengakuinya.." seru Albert mencengkram kuat kedua lengan Ana.
"Lihat aku!!" Serunya keras, hingga membuat Ana kembali menatapnya dengan mata berair.
"Aku akan melakukan apa saja untukmu.. saat ini hasil penyelidikan belum sampai ke jaksa penyidik.. aku akan memusnahkan semua bukti bukti asli yang mereka temukan itu.. aku tidak akan membiarkan mereka menangkapmu Ana.."
"Kak.." suara Ana terdengar bergetar.
"Jangan katakan apapun.. kau dengarkan saja aku.. aku akan melakukan apapun untukmu Ana.. aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu lagi.. percayalah padaku.. Ana ini pasti ulah Nyonya Jane.. aku mohon berhentilah melawannya.. aku mohon jangan lawan dia lagi.. mari kita berhenti sekarang.. jika kau tertangkap karena ini Ana.. habislah sudah.. aku mohon pikirkan matang matang tentang ini.. ini demi kebaikanmu Ana.. di kali ini benar benar ingin menghancurkanmu.." Albert terus memohon pada Ana yang hanya diam membisu.
__ADS_1
"Sekarang kau pergilah.. aku harus segera pergi.. aku akan melakukan semua yang aku bisa Ana.." Albert menolak pelan tubuh Ana. Dan Albert yang panik segera pergi melajukan mobilnya menjauh meninggalkan Ana yang mulai menangis sendirian.
Ana masih terperanjat membatu. Ia tidak tau kenapa masalah selalu datang bertubi tubi menimpanya. Ia yakin ini pasti ulah Jane. Ia tidak menyangka akan serumit ini melawan Jane.