Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 115 : Demi Kebaikan Jane


__ADS_3

Pagi itu, Ana duduk tersandar di atas tempat tidurnya. Jane tampak menghampirinya.


"Sudah aku bilang, aku tidak ingin bertemu denganmu.." celetuk Ana sinis.


"Bukankah kau membutuhkanku?? Kondisimu saat ini tidak menguntungkan sama sekali.. sebaiknya biarkan aku membantumu.." dia tidak menyangka jika Ana masih menolaknya.


"Aku tidak ingin berhutang budi atau berhutang apapun padamu.."


"Aku yang ingin membayar hutang budiku padamu.. aku telah bersalah padamu.. terutama atas ucapan dan perbuatanku padamu di masa lalu.."


"Aku benci membahas masa lalu.."


"Bukankah kau masih menyimpan amarah dari masa lalumu?"


"Kalau begitu, kau termasuk salah satu di antaranya.." gumam Ana sinis.


"Aku tidak keberatan jika aku salah satu di antara orang yang harus menerima dendammu.."


"Apa yang terjadi pada ayahku??" Celetuk Ana tiba-tiba.


"Apa maksudmu?" Tanya Jane kaget, tiba-tiba Ana membahasnya.


"Kau tau persis apa maksudku.." geram Ana lirih.


"Kau pikir aku membunuh putraku sendiri?"


Ana mengangkat kedua bahunya, seakan tidak percaya.


"Apa kau sudah gila?? Aku tidak pernah sekalipun terfikir untuk menyingkirkan anakku sendiri.."


"Apa menurutmu orang-orang akan mempercayai ucapanmu itu?? Jika mereka tau siapa kau sebenarnya?"


"Apa maksudmu Ana?" Tanya Jane atas tuduhan Ana.

__ADS_1


"Seseorang mengirimkan aku video sesaat sebelum kecelakaan terjadi.. kau berbicara dengan supir yang mengemudikan mobil ayahku.."


"Apa?"


"Apa yang kau katakan padanya?" Ana sedikitpun tidak goyah.


"Bahkan aku juga mendapat kiriman video apa yang terjadi antara kau, Dominic dan Franz.. video itu dari sudut yang berbeda, seseorang seakan sengaja merekamnya.."


"Sekarang kau ingin mengalihkan pertanyaanku.."


"Aku tidak melakukan apapun !! Aku menegurnya karena memakai pakaian yang tidak rapi di hari pertama kerjanya.. bahkan aku mengatakan padanya untuk terus berhati-hati mengendarai mobil itu.." jelas Jane tegas.


"Kau berharap aku mempercayaimu??" Celetuk Ana sinis.


"Aku berusaha menahannya untuk diriku sendiri.. tapi aku sudah tidak tahan lagi.. melihatmu.. menghadapi kepura-puraanmu padaku !!" Gumam Ana sinis.


"Aku akan mengurus diriku sendiri mulai sekarang.. jadi tolong.. berhenti melakukan apapun untukku.." tambahnya lirih.


"Ana.."


Bibir Jane bergetar hebat, ia tidak menyangka kesalahpahaman itu berujung panjang. Ana bahkan sudah tidak mempercayainya lagi.


Jane mundur perlahan lalu segera pergi meninggalkan Ana.


Air mata Ana menetes deras dari pelupuk matanya yang sayu. Ia meremas selimut di hadapannya dengan kedua tangan mungil itu. Ia berusaha menahan isak tangisnya yang semakin membuatnya sesak.


Hanya itu yang bisa ia lakukan agar Jane aman. Semua ini demi kebaikan Jane. Ia harus membuat hubungan mereka terputus agar Jane menjauh darinya, kemudian Layla tidak bisa menyakitinya.


Ana menangkup wajah pucatnya dengan kedua tangan, isak tangisnya pecah, ia tak lagi bisa menahan isak tangisnya. Dadanya terasa benar-benar sesak. Ia bahkan merasa jika perkataannya sangat keterlaluan, tapi ia tidak punya pilihan lain.


****


Di malam setelah perkelahian dirinya dengan Jane, ia mendapat kiriman video dari pengirim anonim, dalam video itu memperlihatkan jika Jane tengah berbicara dengan supir itu cukup lama, kejadian itu tepat di acara peresmian hotel baru milik Ana, mereka bertemu di parkiran khusus VIP hotel.

__ADS_1


Tak lama kemudian, supir itu membawa mobil Thommas dan tak lama mobil itupun mengalami kecelakaan. Namun ada hal yang mengganjal, saat Jane tengah berbicara dengan supir baru itu, Ana teralihkan saat tengan memperhatikan dengan seksama ke dalam video itu, tak jauh dari posisi Jane, tampak sosok pria yang tampak tengah mengutak-atik bagian bawah mobil, Ana dapat melihatnya dari pantulan kaca mobil lain yang terparkir disana. Bahkan ternyata Ana sempat mengirimkan video itu ke hacker kenalannya waktu itu dari Pak Kim, namun ia tidak yakin jika video itu telah terkirim apa tidak. Hal yang pasti, ia harus bisa segera menggunakan ponsel untuk memastikan siapa pria dalam video itu, dan siapa yang mengirimkan video itu.


Kondisinya saat ini menghentikannya, jika ia menggunakan ponsel, lokasinya akan mudah di lacak, meski telah menggunakan ponsel sekali pakai sekalipun. Ia benar-benar terdesak namun terhalang oleh kondisinya yang menyedihkan.


****


Louis sore ini sudah di perbolehkan pulang. Ia sering di kunjungi oleh Wendy saat ia tengah luang. Louis perlahan mulai mengingat kenangan dengan keluarganya. Namun ia masih belum bisa mengingat kerabat-kerabatnya. Pak Kim seperti biasa, datang saat malam hari, membawakan buku bacaan, makanan, atau sekedar datang untuk menyapanya disana. Kini ternyata sudah genap 4 minggu Louis di rumah sakit, meski tangannya masih mengenakan kruk, tapi ia sudah bisa beraktivitas seperti biasa.


Saat tengah berbenah, ibunya menjatuhkan gelang milik Louis ke lantai, yang ternyata ia lupakam beberapa hari itu. Ia mencari-cari dimana gelang itu, ternyata ada di sela-sela pakaiannya di dalam tas. Louis yang melihat itu hanya tertegun.


"Itu apa Bu??" Tanya Louis penasaran.


"Ah.. i..ini.. milik teman Irene.. dia meninggalkannya di tempat kerja, Irene menemukannya, kemarin menitipkan ini pada Ibu.. tapi ternyata ibu lupa sudah menyimpannya di antara lipatan baju ini.." ujarnya berbohong dengan sangat gugup.


Bahkan ia tidak pernah membohongi Louis perihal apapun.


"Oh.." angguknya percaya.


Ibunya cepat-cepat menyimpan gelang itu ke dalam dompetnya. Wendy kini tengah di sibukkan dengan membantu ayah Louis melipat pakaian ganti Louis selama di rumah sakit ke dalam tasnya.


"Kita akan pulang hari ini.. tapi sebaiknya istirahat saja di rumah hingga tanganmu membaik.. jika kau di apartment sendirian, kau akan kesulitan.." ujar ayahnya mengalihkan kegelisahan istrinya.


"Baiklah.." angguk Louis setuju.


"Apa kau tidak sibuk hari ini?" Tanya Louis pada Irene.


"Ah.. aku sudah menyelesaikan shooting ku.. aku akan luang hingga besok.."


"Aku tidak tau jika kita sedekat ini.. maaf jika aku tidak mengingat apa-apa.." ujar Louis sungkan.


Ibu dan Ayah Louis saling bertatapan satu sama lain, bahkan mereka tidak pernah sekalipun mendengar nama Irene, apalagi bertemu dengannya, bagaimana bisa Irene sangat dekat dengan Louis.


"Tidak apa-apa.. kau akan segera mengingatku jika kau sudah pulih.. tapi jika kau masih tidak mengingatku.. aku akan membuat kenangan baru di memorimu.." ujarnya terkekeh.

__ADS_1


Entah kenapa tidak sedetikpun Louis merasa nyaman berada di dekat Irene, ia merasa benar-benar asing berada di dekatnya. Meski Irene tampak sangat lengket padanya dan bertingkah seolah mereka memiliki hubungan spesial.


__ADS_2