
Ana terjebak cukup lama di ruang interogasi tanpa di temani siapapun. Ia duduk dengan tenang sambil terus berpikir apa yang terjadi pada Leo.
Brakkkk..
Pintu ruang interogasi itu terbuka. Jane muncul disana bersama seseorang yang tak ia sangka-sangka yaitu Lucas, kakaknya. Ana tercengang melihat pemandangan itu.
"Apa yang kau lakukan disini?? Cepat keluar.." seru Jane menerobos masuk ruang interogasi.
"Aku sedang dalam pemeriksaan.." jawab Ana santai.
"Kau punya alibi kuat saat kejadian Ana.. Keluarlah.. Kau bisa menunggu di luar.. Aku akan membantumu menyelesaikan masalah disini.. kau tenang saja.." timpal Lucas.
Ana bangkit dari duduknya. Ia segera keluar dari ruang interogasi di ikuti Jane dan Lucas di sisinya.
"Maaf.. Ms.Grey.. Kami sudah memeriksa riwayat pesanmu dan mencocokkan dengan rekaman cctv dan camera dashboar mobilmu.. Kau punya alibi yang cukup kuat.. Terima kasih atas kerja sama mu.." seru seorang detektif menyodorkan kembali ponsel Ana.
"Sama-sama.." angguk Ana pelan. "Tolong kabari aku hasil autopsi dan pemeriksaan Leo lebih lanjut.." imbuh Ana memohon.
"Untuk apa??" celetuk Jane heran.
"Aku ingin tau sesuatu.."
"Terima kasih detektif atas kerja kerasmu.." ujar Jane segera menarik tangan Ana pergi.
"Maaf Nyonya kami merepotkan kalian dalam penyelidikan ini.." ujar detektif itu sungkan.
"Aku harap kalian segera menemukan jawabannya.." jawab Jane sinis.
"Kalau begitu kami pamit dulu Luc.." ujar Jane tampak akrab pada Lucas.
"Luc??" tanya detektif itu bingung saat mendapati Jane memanggil nama Albert dengan panggilan Luc.
"Ah.. Nama kecilku Lucas.." jawab Lucas menjelaskan.
Rekan detektifnya tampak mengangguk mengerti sambil tertawa kecil. Lalu segera pamiit pergi.
"Ana.." panggil Lucas lirih.
"Ya??" sahut Ana menatap Lucas hangat.
"Senang melihatmu kembali.. Aku dan istriku selalu berterima kasih padamu selama ini untuk semuanya.." ujar Lucas.
"Aku senang melakukannya.. Karena bagiku.. kalian adalah keluargaku.." ujar Ana canggung segera berlalu.
Jane mengikuti langkah Ana tepat di belakangnya menuju parkiran.
"Bagaimana kau menemukanku??" tanya Ana tiba tiba berbalik ke arah Jane, membuat Jane terkejut mundur.
__ADS_1
"A..aku melacak nomor ponselmu.." jawabnya ragu.
"Bagaimana kau menemukan nomor ponselku??"
"Itu bukan hal yang sulit.."
"Berhenti melakukan ini.. Kau membuatku ingin selalu mencurigaimu.." tukas Ana sinis.
"Curigai aku sesukamu.." celetuk Jane melangkah menuju mobilnya.
"Kau mau kemana?" tanya Ana tiba tiba membuat Jane berlari kembali mendekat ke arah Ana.
"Kenapa? Kau mau ajak aku minum?" ujarnya bersemangat.
"Cih.. Kau yang traktir.." ujar Ana menggerakkan kepalanya memberi sinyal jika Jane harus menaiki mobilnya.
Lalu Jane memerintahkan supirnya untuk pergi menģikuti mereka dari belakang.
Selama perjalanan mereka saling bungkam.
"Apa Louis sudah pulang?" tanya Ana lirih seraya fokus mengendarai mobilnya.
"Tentu saja.. Dia pria yang tangguh.." ujar Jane.
"Kenapa kalian makan malam bersama?" tanya Ana lagi.
"Seharusnya dia menanyakan langsung padaku.."
"Benarkah?? Aku akan memberitahunya nanti.."
Ana menatap Jane tercengang.
"Kau terlihat bersemangat kali tentang itu.."
"Aku sangat senang jika kau kembali bersamanya.."
"Bahkan kami belum memulai apapun.."
"Karena kau terlalu bertele-tele.. Kau harus tegas.. Kau selalu tegas untuk urusan pekerjaan.. Tapi kau selalu bertele-tele soal percintaan.."
"Kau ingin turun dimana? Di halte ini? Apa yang disana?" ancam Ana sinis.
"Cih.. Kau bahkan mengancamku.." gumam Jane.
"Apa perlu kita ke club??" usul Ana santai.
"Club? Kau ingin membawaku ke club?" timpal Jane kaget.
__ADS_1
"Kenapa? bukankah kau masih sangat muda untuk pergi ke club??" ejek Ana dengan wajah polos
"Wah.. aku rasa aku akan turun di halte itu.." timpal Jane menunjuk ke arah halte yang ada di depan mereka.
Ana hanya tertawa kecil mengabaikan.
"Ayo ke club.. Aku tau tempat yang bagus.. Tapi aku belum pernah mencobanya.."
"Ah.. Apa tempat itu yang pernah mau kau beli waktu baru pindah kesini pertama kali.."
"Wah.. Kau bahkan tau soal itu.. padahal tidak ada satupun yang tau selain.." Ana terdiam tidak melanjutkan kata-katanya lagi.
Ciiiittttt..
Ia segera menginjak keras rem nya.
"Hei !! Apa yang kau lakukan???" pekik Jane kaget. suara klakson besar dari pengendara lain terdengar nyaring menegur mereka.
"Darimana kau tau soal itu??"
"..." Jane terdiam. Ia tampak gelisah.
"Jawab !!" bentaknya keras.
"Pak Kim.." jawab Jane lirih.
Ana tercengang. Ia terdiam dan tampak berpikir keras.
"Memangnya kenapa? bukankah kau memberi tahunya??"
"Aku tidak memberi tahu siapapun soal membeli club itu.. Aku hanya menulis semua rencana rencana besarku di buku besarku yang ada di brankas.." jawab Ana kembali tertegun.
"Apa maksudmu Pak Kim membuka brankasmu??"
"Apa kau yakin tau dari Pak Kim??"
"Tentu saja.. Dia satu satunya sumber informasiku paling akurat.."
Ana terdiam dan tertegun.
"Aku rasa kau harus turun disini.. Aku ingin memeriksa sesuatu.." ujar Ana lirih.
"Kau benar-benar akan menurunkan aku disini??"
"Turunlah.. Supirmu ada di belakang kita.." jawab Ana dengan tatapan dingin.
"Baiklah.. Kabari aku jika kau butuh sesuatu.." ujar Jane segera turun dari mobil Ana.
__ADS_1
Dan Ana pun tampak segera melaju meninggalkan Jane disana.