Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Bab 173


__ADS_3

Louis bermimpi sangat panjang. Ia memimpikan semuanya tentang dirinya dan Ana. Ia bermimpi sejak awal mula mereka bertemu, hingga bagaimana akhirnya mereka berpisah. Ingatannya telah pulih seutuhnya. Ingatan itu pulih ketika ia melihat luka bekas tusukan pisau di tangan Ana saat mereka berusaha menghentikan operasi perdagangan manusia. Ana melindungi Louis bahkan dengan mengorbankan nyawanya. Luka itu membuktikan betapa besar perasaan Ana padanya tanpa ia sadari. Ana yang tak pernah mengakui apapun tentang perasaannya demi menjaga Louis.


Ia membuka matanya perlahan, ia merasa hangat pada tangannya. Ia melirik ke arah tangannya yang ternyata tengah di genggam oleh Ana. Ana tertidur seraya terduduk di lantai, tepat di sisi tempat tidur Louis. Ia tampak sangat pulas, namun raut wajahnya tampak seperti tengah marah.


Louis menitikkan air matanya. Tangan gadis yang tengah menggenggamnya erat, adalah tangan satu-satunya gadis yang sangat ia cintai. Ia kini telah ingat seberapa besar rasa cinta dan sayangnya pada Ana. Ia terisak tertahan. Tangan satunya membelai lembut kepala Ana.


Deg !!


Ana mencengkram tangan itu keras dengan tangan kirinya. Ia membuka matanya perlahan dan terbangun. Sadar tengah mencengkram keras tangan Louis, ia segera melepaskannya.


"Kau mimpi buruk??" tanya Louis khawatir.


"Bagaimana kepalamu?? Apa masih sakit?? Dokter sudah memeriksamu.. Dia bilang kau sedang sangat stres dan tertekan.. Apa yang terjadi??" tanya Ana bertubi-tubi mengabaikan pertanyaan Louis.


Louis menarik tubuh Ana keras, memeluknya erat, mendekap tubuh itu sangat erat. Ia membenamkan wajahnya ke sisi pundak Ana. Menghirup aroma tubuh Ana yang sangat wangi alami.


"Apa kau kesakitan??" tanya Ana khawatir.


Louis menggeleng cepat. Tangisnya pecah.


"Ada apa?? Kau membuatku khawatir.." gerutu Ana berusaha melepas pelukan itu.


"Biarkan aku memelukmu seperti ini.. Diamlah.." gumam Louis lirih.


Ana tak lagi berontak. Ia membalas pelukan itu hangat, mengusap punggung bidang Louis.


"Aku ingat semuanya.. Aku ingat betapa berartinya kau di hidupku.. Betapa besarnya aku mencintaimu.." gumam Louis lagi. Ana tertegun mendengarnya.


"Seharusnya kau tak mengingatnya.." imbuh Ana lirih. Louis melepas pelukan itu pelan.

__ADS_1


"Apa maksudmu??'


"Aku.. Hanya ingin kau mengingat kenangan baik antara kita mulai sekarang.." jelas Ana.


"Semuanya kenangan baik.. luka ini.. adalah sah satu bukti bahwa kau sangat memperdulikan aku.. Bukti bahwa kau juga mencintaiku.." ujar Louis membuka telapak tangan Ana, melihat bekas luka disana.


Ana menepis tangannya pelan. Ia melihat bekas luka di tangannya. Meningat kembali kejadian waktu itu.


"Aku akan memanggil orang tuamu, lalu memanggil dokter.." ujar Ana segera bangkit dari duduknya. Ia segera keluar dari kamar Louis dengan ekspresi yang sulit di artikan.


Tak lama kedua orang tua Louis serta adiknya Irene segera masuk ke kamarnya, namun Ana tak lagi masuk kesana.


"Bagaimana keadaanmu Louis??" tanya Ibunya khawatir.


"Aku baik-baik saja Bu.. Mana Ana??"


"Pulang??"


"Hmm.. Dia bahkan tidak tidur semalaman, dia baru tidur 15 menit yang lalu setelah dokter pastikan kalau kau benar-benar sudah baik-baik saja.. setelah itu doktermu baru di izinkannya pulang.. Ia bahkan menahan dokter agar tetap disini hingga pagi ini.. Ia sangat khawatir Lou.." jelas ibunya.


Louis tertegun. Ia tidak tau apa yang sedang Ana pikirkan. Bahkan saat tidur tadi ekspresinya tampak sedang marah.


"Kau baik-baik saja?? Apa mau ke rumah sakit??"


"Tidak perlu Bu, aku baik-baik saja.. Aku harus bersiap-siap.. Aku akan keluar kota hari ini.."


"Apa?? Apa kau tidak bisa istirahat dulu?? Dokter menyuruhmua untuk istirahat.."


"Tidak bisa bu.. Semua tim sudah tiba di lokasi.. Aku harus berangkat pagi ini.. Lagipula aku bisa istirahat di jalan.."

__ADS_1


"Kau kemana..?"


"Ke kota Zianghu.."


"Zianghu?? Itu cukup jauh dari sini.. 6 jam perjalanan kan?? Apa kau yakin??"


"Tentu saja Bu.. tidak mungkin aku membatalkannya begitu saja.. Aku harus menghargai kerja keras semua orang.. Lagipula ini sudah menjadi resiko pekerjaanku Bu.." jelas Louis tenang.


"Apa Ana tau?? Dia memintaku untuk mengawasimu.."


"Aku sudah memberitahunya tadi malam.. Nanti akan aku beritahu lagi saat di jalan.."


Ibunya menatap Louis dengan sangat sedih.


"Maaf ibu membuatmu bekerja sekeras ini Lou.."


"Apa yang ibu katakan?? Ini impianku.. ini keinginanku.. Kenapa ibu yang minta maaf?? Ini bukan salah siapapun.. Dan tidak ada yang salah.. Ini keputusan dan keinginanku Bu.. Apapun yang terjadi adalah tanggung jawabku.."


Ibunya memeluk Louis erat. Matanya tampak berkaca-kaca.


...----------------...


Ana merebahkan tubuhnya di sofa setibanya di apartmentnya. Ia menatap langit-langit dengan gusar.


Drrtt..drttt..


Ponselnya bergetar, ia menerima pesan dari Pak Ryu. Pesan itu berisi semua data yang Ana minta perihal project yang di tawarkan Pak Kim. Ana segera bangkit memeriksa semua dokumen itu dengan seksama. Ia tak melewatkan satu patah katapun. Ia benar-benar membaca semuanya dengan teliti dan hati-hati.


Setelah membaca 40 lembar berkas, Ana segera menghubungi Pak Kim. Mereka berjanji akan makan siang bersama di kantor. Ana pun segera bergegas bersiap sebelum pergi.

__ADS_1


__ADS_2