
Ana merintih kesakitan, ia membuka matanya perlahan. Ia melihat sekeliling. Dua pasang mata mentapanya sendu dan khawatir. Ana berusaha bangkit dari tidurnya, namun ibu Louis segera menahan lengan kirinya.
"Istirahatlah.. kau mengalami cedera bahu kanan dan kaki kananmu.." seru Ibunya lirih.
Ana menahan rasa sakit tubuhnya. Tentu ini bukan apa-apa di banding penyakitnya sebelumnya. Dokter tambah tengah memasang perban khusus pada pergelangan kakinya.
"Apa kakiku patah??" Tanya Ana lirih.
"Untungnya hanya cedera ringan.. anda butuh waktu istirahat selama dua minggu ini agar dapat pulih lebih cepat.." saran dokter menyelesaikan pengobatannya
"Terlalu lama.." gumam Ana lirih.
Mereka menunggu dokter itu segera keluar sebelum melanjutkan percakapan mereka bertiga. Irene yang sejak tadi berdiri dengan khawatir di sisi ibunya segera mengantar keluar dokter itu pulang.
"Apa yang terjadi??" Tanya ibu Louis kemudian.
"Ini hanya kecelakaan.." jawab Ana lirih beralasan.
"Tapi aku lihat mobilmu baik-baik saja.." timpalnya curiga.
"Bagaimana ibu menemukanku??" Tanya Ana mengalihkan.
"Aku baru saja pulang dari pasar bersama Irene.. irene melihat mobilmu terparkir di simpang jalan.. bahkan posisi mobilmu timpang dan tidak terparkir rapi.. pengawas lingkungan menggedor-gedor jendela mobilmu.. untung saja Irene mengenali mobil itu.. saat kami hampiri, kau sudah tak sadarkan diri disana.. akhirnya kami meminta bantuan mereka untuk mengeluarkanmu dari sana.."
Ana tertegun. Ia bahkan tak ingat kejadian itu dan mengapa ia bisa ada disitu.
"Terima kasih bu, kalian sudah menyelamatkanku.. aku akan membalas kebaikan kalian.." imbuh Ana tulus.
"Kau tak perlu membalas apapun.. kau sudah seperti putriku sendiri dan kau sudah seperti keluarga di rumah ini.." tukas Ibu Louis hangat.
Brakkkk..
Suara pintu terbanting keras terdengar keras dari arah luar.
"Ana !!!" Seru seseorang berteriak memanggil namanya.
Ana tertegun, ia mengenal suara itu dengan baik. Ibu Louis tampak khawatir. Ia mencengkram tangan Ana erat.
Ana melepas cengkraman itu pelan. Ia berusaha bangkit dari tidurnya. Dan segera jalan terpincang keluar kamar seraya di rangkul Ibu Louis.
"Kenapa buat keributan disini??" Tukas Ana tenang pada Jane yang tampak kebakaran jenggot. Ana melepas rangkulan Ibu Louis pelan. Ia jalan pincang mendekati Jane.
"Kau ingin membuatku gila??!!!" Seru Jane keras.
Ana meraih lengan Jane.
"Ayo kita bicara di rumah.."
Jane menepis keras tangan itu.
"Kau ingin menghancurkan keluarga kita??"
__ADS_1
"Bahkan tak ada yang tersisa di keluarga ini selain kita berdua.." gumam Ana menatap Jane tenang. Jane menyeringai kehabisan kata-kata.
"Aku berusaha keras mati-matian melindungimu !! Dan kau bersifat gegabah seperti ini !! Apa kau benar-benar sangat ingin mati??!" Geram Jane.
Ana kembali menarik lengan Jane keras.
"Mari kita bicara di rumah.." imbuh Ana kini menggeram.
Jane melihat ke arah Irene dan Ibu Louis yang tampak takut.
Jane menghela nafas keras. Ana segera jalan terpincang menuju keluar rumah Louis. Jane segera merangkul Ana membantunya berjalan dengan hati-hati. Namun kini Ana yang menepis tangan Jane keras.
"Enyahlah !!" Geram Ana lirih.
****
Di perjalanan mereka saling membisu. Jane menerima panggilan dari rekannya.
J : Halo.. hmm.. benarkah?? Maaf aku sudah merepotkanmu.. aku akan membayarmu dengan sangat pantas.. baiklah.. terima kasih..
Jane tampak segera mengakhiri panggilan itu.
"Kau benar-benar membuat kekacauan.. apa kau tidak sadar kalau sekarang keadaan sedang sangat kacau??? Reporter bahkan mencarimu.. bahkan banyak orang berusaha mencari kesalahanmu untuk menjatuhkan kita.." jelas Jane khawatir.
Ana menghela nafas berat.
"Aku akan segera menghabisi mereka semua.." geram Ana lirih memejamkan matanya.
"Kau menembak Mr.Zhou??" Sahut Jane.
Lagi-lagi Ana menghela nafas.
"Apa kau tidak dengar puncak keseruannya?? Aku bahkan menendang luka tembaknya.. aku harap kaki itu akan membusuk.." geramnya dingin.
"Ternyata dia sudah menjadi 'mainanmu'.." angguk Jane paham dengan maksud Ana.
"Seharusnya mereka tidak meragukanmu.. mereka berulah seakan-akan kau seorang pengkhianat.."
"Mereka seakan menginginkan hal itu dariku.."
"Huh.. Aku rasa kita punya persamaan yang signifikan.. kita sama-sama selalu di khianati oleh orang-orang kepercayaan kita, sehingga itu menjadi sebuah takdir yang akhirnya membuat kita menjadi keluarga.." keluh Jane tersenyum.
"Aku bahkan sudah sangat sial sejak lahir.. itu artinya kita tidak punya kesamaan apapun.." timpal Ana membantah lirih.
"Cih.. setidaknya keluarga ini satu-satunya yang tidak akan pernah mengkhianatimu.." timpal Jane tak mau kalah.
"Hmm.. semoga saja.." angguk Ana setuju.
Jane hanya menyeringai mendengar ucapan Ana yang menggelikan.
"Jadi.. kau melihat B1 disana??" Tanya Jane penasaran dengan video yang ia terima dari Ana.
__ADS_1
"Hmm.. kau sudah melihat foto dan videonya kan?? Bahkan aku tidak tau apa yang terjadi.. entah itu jebakan atau memang hukuman untuknya dari Layla.."
"Hukuman?? Bahkan hal itu tak cukup untuk menghukum pengkhianat sepertinya !!" Tukas Jane kesal.
"Apa kak Lucas sudah mengamankan rumah sakit??" Tanya Ana kemudian.
"Hmm.. tapi mereka tidak menemukan B1.. jadi.. aku rasa itu jebakan.. mereka pasti tau kalau kau akan kesana.. itu sebabnya mereka meletakkan B1 sebagai umpan.."
"Aku akan menghabisi mereka tanpa ampun.." gumam Ana menggeram.
"Biar Lucas menanganinya dulu.. mereka akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.. Pak Kim akan di periksa untuk itu sementara waktu.. sebaiknya awasi dia terus.." ujar Jane hati-hati.
Jane menatap ke arah Ana intens. Ia tau jika Ana kini telah di bakar api amarah yang sangat membara.
Drrttt..ddrrtt..
Ponsel Ana bergetar. Ia merogoh sakunya. Tampak ada retakan di layarnya akibat kejadian itu. Layarnya menampilkan nomor panggilan yang tak di kenal. Ia segera menerima panggilan itu.
"Ana.. ini aku.." ujar Pak Kim di seberang.
"Ah.. Pak Kim? Nomor ponsel siapa ini??" Tanya Ana tak mengenali nomor ponsel itu.
"Ah.. ini nomor ponsel Dita.. aku menghilangkan ponselku.."
"Ah.. baiklah.. ada apa??"
"Aku dapat telepon dari reporter dan kepolisian tentang Grey Hospital.. apa anda baik-baik saja??"
"Aku.." Ana tertegun. Ia tak melanjutkan ucapannya ketika ia sadar akan pertanyaan Pak Kim. Darimana Pak Kim tau jika keributan itu tentangnya. Padahal kasus itu telah di rahasiakan sedemikian rupa. Bahkan bukti cctv telah di amankan Lucas agar tidak tersebar. Dan idientitasnya tak tersebar.
"Aku baik-baik saja.. memangnya ada apa di rumah sakit?? Kenapa kau menanyakan kabarku??"
"Ah.. bukan.. maksudku.. aku takut dan khawatir jika itu melibatkanmu.." jelasnya terdengar gugup.
Ana semakin curiga.
"Tidak.. aku baik-baik saja.. bahkan aku sedang di jalan dari bandara.. aku baru kembali dari negara C.." jawab Ana berbohong.
"Anda dari negara C?? Aku bahkan tidak tau tentang itu.."
"Lagipula kau tidak perlu tau Pak Kim.."
"Bagaimanapun kau masih atasanku.. meski kau tidak bekerja disini.. tapi perusahaan ini masih milikmu.." tukas Pak Kim lirih.
"Baiklah.. aku mengerti.."
"Kalau begitu.. besok aku akan segera mengadakan konferensi pers dan datang ke kantor polisi untuk di mintai keterangan.."
"Baiklah.." Ana segera memutus panggilan itu. Ia tampak gelisah. Bahkan gelagat Pak Kim kini semakin mencurigakan.
"Ada apa??" Tanya Jane penasaran.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa.." geleng Ana enggan membahasnya.