
"Aku sangat menyukai Ana, Bu.."
"Aku tau.. kau jatuh cinta lagi pada wanita yang sama sejak awal.. ibu dan ayah sengaja merahasiakan hal ini.. kami ingin kau menyadari sendiri kehadiran Ana di hidupmu.. bahkan seperti yang aku katakan sebelumnya, aku pernah salah paham padanya karena dia menghilang begitu saja, namun ternyata dia justru tengah menghadapi maut karena penyakitnya.. aku merasa bersalah telah menilainya buruk dan berusaha membuat kalian berjauhan.."
"Setidaknya sekarang aku sudah bersama dengannya Bu.." ujar Louis tersenyum hangat.
"Ajaklah dia makan malam bersama dengan kita, aku ingin berbicara empat mata dengannya.."
"Baiklah.. Aku akan mengundangnya lain waktu.."
...----------------...
Benar saja, tak butuh waktu lama, Ana segera di bebaskan dari selnya. Setelah keluar dari sana, Ana meminta petugas sipir itu membuka kan pintu sel pria mabuk yang ada di sebelahnya. Ana berjalan perlahan mendekati pria yang tengah meringkuk duduk di lantai. Ia tampak mati ketakutan dan berusaha menghindari tatapan dingin Ana.
Ia berjongkok ke hadapan pria itu. "Sampai jumpa di luar.. " seru Ana lirih. "Berdoa lah agar kita tidak bertemu lagi.." ancam Ana setengah berbisik.
Sementara pria itu menunduk ketakutan.
"Apa yang kau lakukan??" seru Jane yang segera menyusul Ana karena ia tak kunjung menghampirinya.
Ana segera bangkit, "aku sedang menyapa fans ku.." seru Ana menyeringai. Ia lalu segera keluar sel menyusul Jane. Ia hanya menggelengkan kepalanya melihat pria di dalam sel itu. Entah apa yang Ana katakan padanya sehingga ia mati ketakutan.
"Aku ingin kau mengambil alih perusahaan lagi.." seru Jane mengimbangi langkah cepat Ana.
"Biarkan saja, banyak hal yang harus aku lakukan sekarang.. Aku tidak ingin perusahaan berdampak karena ulahku.."
"Apa yang ingin kau lakukan??" tanya Jane penasaran.
"Aku ingin berkencan.."
Sretttt..
Jane langsung menahan lengan Ana dengan menariknya keras.
"Apa katamu??"
"Aku ingin berkencan.. Aku ingin merasa hidup normal.. Sekarang aku sangat luang, aku bisa melakukan apa saja tanpa harus jadi sorotan.."
"Siapa bilang?? Bahkan kau keluar di artikel pebisnis karena di selidiki jaksa pagi ini.."
"****.. Bahkan aku belum melakukan apapun.." keluh Ana berdecak.
"Kau akan berkencan dengan Louis??" tebak Jane.
"Tidak.." geleng Ana cepat.
"Hah?? Bukankah tadi malam kalian bermalam bersama??"
"Lalu? Memangnya kenapa?? Aku ingin kencan buta dengan orang lain.." imbuh Ana santai.
"Louis akan kecewa jika tau kau bertingkah seperti ini.."
__ADS_1
"Aku bahkan tidak mengajaknya berkencan, kenapa dia harus kecewa padaku??"
"Kau pasti bercanda.." timpal Jane tidak habis pikir.
"Berpikirlah sesukamu.. yang jelas, aku akan pergi kencan buta saat makan siang besok.." ujar Ana segera masuk ke dalam mobil Jane, kemudian di susul oleh Jane yang duduk di sampingnya.
Jane menatapnya khawatir, ia takut jika Ana melakukan hal aneh-aneh lagi.
"Kau pulang kemana??"
"Ke apartment ku.." jawab Ana singkat sambil sibuk dengan ponselnya.
"Baiklah.." angguk Jane mengerti segera memerintahkan supirnya untuk menuju ke apartment Ana.
...----------------...
Tok..tok..tok..
Ting..nung..ting..nung..
Ana menekan bel apartment Louis. Tak lama Louis membuka pintu apartment nya, ia tampak mengenakan piyama tidurnya.
"A..apa yang kau lakukan disini??" tanya Louis canggung.
"Minggir.. Aku mau masuk.." seru Ana segera menerobos masuk ke dalam apartment Louis. Louis yang kebingungan melihat sekeliling di luar, lalu segera menutup pintu dan menguncinya.
Ia segera menyusul ana yang tampak tengah berbaring di atas sofa
"A..ada apa?? kenapa tiba-tiba kau bersikap santai begini??" Louis tampak gugup menghadapi Ana.
Ana segera bangkit dari tidurnya, ia duduk sambil menatap Louis dingin.
"Apa kau punya makanan? Aku sangat lapar.. Mereka memeriksaku berjam-jam tanpa memberi makanan.." keluh Ana mengabaikan keluhan Louis.
"Aku ada banyak lauk di kulkas.. Aku akan menyiapkannya.. Apa kau membawa baju ganti?? Pergilah bersih-bersih dahulu.. Lalu makan.." perintah Louis segera menuju dapurnya.
Untung saja ia membawa banyak lauk dari rumah ibunya. Setidaknya ia bisa menyiapkan makan malam yang sangat lezat untuk Ana. Sementara Ana tampak tengah mandi dan bersih-bersih.
...----------------...
Ana keluar dari kamar dengan memakai stelan piyama Louis yang tampak kebesaran di tubuh rampingnya yang kecil.
"Baju ini kebesaran sekali.." gumam Ana mengembang-kembangkan sisi kiri kanan baju yang ia kenakan.
"Semua ukuran bajuku sama saja.. Tidak ada yang kecil.."
"Apa aku harus meninggalkan beberapa pasang baju disini??" gumam Ana bicara sendiri.
"A..apa??" tanya Louis kaget.
"Kita cukup dekat untuk tinggal bersama, hal seperti ini bisa saja terjadi kan? Misalnya aku kehilangan kunciku.. Atau aku dalam keadaan mabuk.. kau satu-satunya tetangga yang bisa aku andalkan.." jelas Ana santai.
__ADS_1
Louis yang terperangah tak sanggup berkata-kata. Di satu sisi ia sangat gugup dan canggung. Di sisi lain ia sangat senang dengan respon santai Ana padanya
"Kemarilah.. Cepat makan.. Lalu pergilah istirahat.."
Ana segera duduk di meja makan, ia memperhatikan 4 macam lauk yang terlihat sangat lezat di atas meja.
"Apa kita akan tidur bersama?" tanya Ana tiba-tiba membuat Louis tersedak saat hendak menelan air mineral yang tengah ia tenggak.
Matanya membelalak kaget.
"Kau ingin kita tidur bersama??"
"Hmm.." angguk Ana cepat. "Kau bilang kamar tamumu belum ada tempat tidurnya.. Dan tidak bisa tidur disana.." jelas Ana meluruskan kesalahpahaman Louis.
"Lagi pula kau sudah melihat semuanya, kau sudah melihat semua bagian tubuhku tanpa terkecuali.. Jadi tidak perlu bersikap canggung.." tambah Ana santai sambil menyantap makananannya.
"Bagaimana bisa kau bicara seperti ini dengan santai?? Ini pertama kalinya bagiku.." gerutu Louis.
"Lalu aku?? Kau pikir aku sering melakukannya??" celetuk Ana sinis.
"Ma..maksudku.. tentu saja aku merasa sangat canggung.. Duduk seperti ini saja membuatku deg-degan.." bantah Louis malu-malu.
"Lalu.. Apa sebaiknya aku ke hotel saja?? Agar kau merasa nyaman?"
"Jangan !! Tinggallah disini.. Di luar sangat berbahaya.." tukas Louis cepat. "Aku akan merapikan tempat tidur.. Cepat habiskan makananmu.." serunya segera kabur menuju kamar.
Ia terus memegangi dadanya, jantungnya berdegup tak karuan. Ia sangat senang karena Ana seakan memberinya isyarat lampu hijau untuk hubungan mereka. Ia bergegas merapikan kamarnya yang sebenarnya sudah rapi sejak awal, ia juga menyemprotkan pewangi ruangan agar lebih wangi lagi.
...----------------...
Setelah merapikan tempat tidur, ia mendapati Ana tengah asik dengan ponselnya, sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Kau sedang apa?" tanya Louis penasaran setelah selesai merapikan kamarnya.
"Aku kira kau sudah tidur.. Karena kau cukup lama di dalam sana.." ujar Ana.
"Tidak.. Aku tadi sedang membersihkan kamar.." jawab Louis berbohong, padahal daritadi ia membersihkan wajahnya, menyikat gigi dan menyisir rambutnya dengan rapi.
"Kau sedang apa?"
"Oh.. Aku sedang mencoba aplikasi kencan buta.." jawab Ana santai seraya terus memperhatikan ponselnya.
"A..apa? Kencan buta? Siapa yang mau kencan buta?" seru Louis kaget.
"Tentu saja aku.. Aku belum pernah berkencan sebelumnya, jadi aku akan berkencan besok.." imbuh Ana girang.
Louis merampas ponsel milik Ana dengan kesal.
"Apa yang kau lakukan?? Kembalikan ponselku.." seru Ana kesal meminta ponselnya di kembalikan.
Louis melihat ke arah telapak tangan Ana yang meminta ponselnya, ia dapat melihat jelas bekas luka di telapak tangan Ana. Ia memperhatikan guratan bekas luka di tangan Ana dengan seksama.
__ADS_1
Tiba-tiba saja ia mendengar suara nyaring di kepalanya, ia mencengkram keras kepalanya, ia merasakan sakit yang tak tertahan di kepalanya, hingga tanpa sadar ia jatuh terjerembab ke lantai, membuat Ana kalang kabut.