Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 118 : Ketulusan Ms.Grey pada Albert (Lucas)


__ADS_3

Ana memutuskan untuk membeli laptop dan ponsel baru, tapi ia tidak bisa mengakses akun bank rahasia miliknya agar bisa ia gunakan, akhirnya mau tidak mau ia meminta bantuan Jane.


"Tolong aku.." ujarnya lirih merasa malu.


"Tentu saja.. dengan senang hati Ana.. apapun yang kau butuhkan akan aku penuhi.." ujar Jane senang.


"Belikan aku laptop dan ponsel baru.. aku akan menggantinya nanti.."


"Apa yang ingin kau lakukan? kenapa kau bertingkah seperti orang asing denganku?" tanya Jane lirih.


"Bukankah kita memang hanya dua orang asing?" timpal Ana dingin.


"Apa hanya itu yang kau butuhkan? aku akan membelikannya.."


"Terima kasih.."


"Memangnya untuk apa? kondisimu saat ini sedang tidak untuk bekerja.."


"Ada hal penting yang harus aku kerjakan.."


"Ahh.. Layla.." gumamnya lirih menebak.


"Baiklah.. aku akan segera membelinya.." ujar Jane segera berlalu.


Ana yang tengah bosan menunggu Jane memutuskan untuk menonton film hollywood. Dan ternyata film itu bercerita tentang hubungan seorang pria konglomerat yang lumpuh akibat kecelakaan, dengan seorang wanita periang yang mau menerima apa adanya, baru setengah jalan, potongan film dimana ada adegan dari pemeran wanita yang selalu susah payah berusaha meluluhkan hati sang pria yang dingin dan sinis tampak mengingatkannya pada sosok Louis. Bedanya Louis lah yang memiliki sifat periang dan selalu berusaha meluluhkan hatinya.


"Kenapa masih ada film seperti ini.." gumamnya kesal mematikan layar tv nya. Kemudian karena masih bosan, Ana kembali menyalakan tv nya, lalu memilih siaran internasional di negara K. Baru saja membuka siaran, drama baru Louis yang sedang tayang pun terlihat olehnya, ia tertegun melihat paras tampan Louis yang tengah akting itu. Wajah yang sangat ia rindukan.


"Mereka sangat merepotkan sekali !!" gerutu Jane tiba-tiba nyelonong masuk.


Ana yang kaget dan panik segera mematikan layar tvnya.


"Kau kenapa kaget begitu? Apa yang kau lihat?" tanya Jane ikut kaget melihat gelagat Ana yang tampak kalang kabut segera mematikan tv nya.


"Tidak ada.." gelengnya cepat.


Jane segera meletakkan totebag belanjaan itu di atas tempat tidur Ana.


"Aku membelikan ponsel terbaru dan laptop paling baru di negara ini.." ujarnya mengeluarkan box laptop dan ponsel itu.


"Kenapa kau menggerutu?" tanya Ana mengalihkan suasana.


"Aku membayar mereka dengan uang cash, dan mereka tampak tidak senang dengan itu, karena harus di repotkan menghitung uang cash sebanyak itu !! Andai saja mereka ada di negara L, sudah aku gulung toko mereka.." gerutu Jane emosi.


"Berapa banyak uang yang kau habiskan untuk dua benda ini?" tanya Ana heran.

__ADS_1


"70 juta.." jawabnya santai.


"Aku pikir kita tidak dalam kondisi kebanjiran uang saat ini.." gumam Ana merasa sayang pada Jane yang menghambur-hamburkan uang di kondisi mereka sekarang ini.


"Apa kau lupa? Aku tidak kehilangan apapun saat ini, bahkan aku bertambah kaya dengan semua bisnisku yang berjalan lancar.. aku rasa kau lah yang saat ini sudah jatuh miskin.." gerutunya mengejek.


Ana menatap sinis pada Jane. "Maka bersiaplah untuk aku habiskan semua hartamu.." balas Ana tak kalah sinis.


"Tentu saja.. siapa lagi yang akan menghabiskan semua hartaku kalau bukan untuk kuberikan pada cucu kesayanganku.." timpalnya bergumam.


"Kau membuatku merinding.. kata-kata itu tidak cocok untukmu.." celetuk Ana mengusap kedua tangannya yang merinding.


"Tapi aku bersungguh-sungguh.. kau sangat berarti untukku Ana.. itu sebabnya aku ingin memperbaiki semuanya sekarang.." ujarnya bersungguh-sungguh.


Ana hanya tertegun. Lalu segera berdehem mencairkan suasana canggung.


"Aku akan bekerja sekarang.. ada yang harus aku lakukan.." ujarnya canggung.


"Ba..baiklah.. aku pulang dulu.. telepon aku apapun yang kau butuhkan.. nomor ponselku sudah ada disana.." tunjuknya pada ponsel baru Ana itu.


"Hmm.. terima kasih.." imbuh Ana cuek segera membuka laptop barunya.


Laptop itu benar-benar tampak canggih. Jane tau menilai mana barang-barang bagus, meski ia terkadang tidak tau fungsi utama dari barang-barang itu, baginya semakin mahal harga suatu barang, maka semakin bagus mutunya. Setiap ingin membeli barang Jane hanya akan mengatakan :


"Mana yang paling baru, paling bagus dan paling mahal?" pada pelayan toko.


****


Albert kini menemui Pak Kim di ruang kerjanya.


"Ini sangat tiba-tiba sekali.." ujar Albert canggung.


"Bahkan anda tidak merubah apapun di ruangan ini.." ujar Albert melihat-lihat ke sekeliling.


"Tidak ada alasan untukku mengubahnya.." ujar Pak Kim hangat.


"Apa dia akan kembali?" tanya Albert lirih.


"Saya tidak yakin soal itu.." geleng Pak Kim ragu.


"Aku masih merasa bersalah padanya.. aku justru memusuhinya.."


"Tidak ada satupun di antara kita yang tidak bersalah padanya.. bahkan saya masih tidak cukup baik menjaga dan melindunginya.."


"Dia pasti sangat mempercayaimu Pak Kim.. dia bukan tipikal wanita yang mudah percaya untuk urusan pekerjaan.."

__ADS_1


"Entahlah.. saya hanya berharap tidak pernah mengecewakannya.." gumam Pak Kim membayangkan sosok Ana.


"Jadi.. bagaimana perkembangan kasusu itu Tuan?"


"Ada orang dalam yang membantu penyerang malam itu.." ujarnya yakin.


"Benarkah? polisi membantu mereka?" seru Pak Kim kaget.


"Hmm.. mereka menghancurkan semua titik cctv, bahkan cctv tersembunyi sekalipun.. tidak ada yang bisa menyelidiki mereka lebih jauh.."


"Apa tidak ada petunjuk lain?"


"Aku tidak yakin soal itu.. atasan kami meminta untuk menutup kasus itu.. mereka menutupnya sebagai kasus balas dendam.."


"Lalu bagaimana kasus pembobolan di rumah Ms.Grey?"


"Mereka mengatakan jika tidak ada yang bisa di lakukan karena pelakunya telah mati.."


"Bukankah ini sangat aneh?" duga Pak Kim menerka-nerka.


"Tentu saja sangat aneh.." angguknya setuju.


"Lalu selanjutnya bagaimana?"


"Tidak ada yang bisa aku lakukan Pak Kim.." gelengnya tampak kecewa.


"Hanya itu saja? Bagaimana mereka bisa menghentikan kasus serius seperti ini?" Pak Kim tampak sangat kesal.


Sekarang ia mengerti kenapa Ana tidak pernah mempercayai apapun pada polisi.


Saat Albert akan pamit, Pak Kim teringat sesuatu.


"Tunggu sebentar.." ujarnya segera bangkit menuju lemari besi di pojok ruangan. Ia tampak menyodorkan sesuatu pada Albert.


"Apa ini?" tanyanya bingung melihat totebag itu.


"Ini beberapa oleh-oleh yang dibeli Ms.Grey saat dinas keluar negeri sebelumnya.. ini untuk anda dan istri anda.." jelas Pak Kim.


Albert tampak tertegun.


"Terima kasih banyak Pak Kim.."


"Dia selalu mengkhawatirkan anda dan keluarga anda Tuan.." tambah Pak Kim lagi.


Mata Albert berkaca-kaca, bahkan saat mereka sudah tak saling bicarapun, Ana masih selalu mengingatnya. Ia merasa bersalah pada Ana. Meski mereka bukan saudara kandung, tapi Ana selalu tulus terhadapnya.

__ADS_1


Ia segera menuju mobilnya di parkiran basement perusahaan Ana. Dia melihat totebag itu penuh rasa bersalah. Ia pun segera mengemudikan mobilnya pergi menjauh, pulang menuju rumahnya.


__ADS_2