Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Bab 217


__ADS_3

Ana mengemudi kencang mobilnya, bahkan ia hampir menyebabkan kecelakaan bagi pengemudi lain. Mobilnya juga di kejar mobil patroli karena melanggar lalu lintas berkali-kali. namun, ia tak mempedulikannya. Ia terus melaju kencang. Pikirannya hanya terfokus pada perusahaan ayahnya. Ia harus melindungi perusahaan itu apapun yang terjadi.


Tak jauh dari perusahaan, ia melihat van hitam berbaris terparkir asal di depan lobi perusahaan. Ana sengaja mengintai sesaat dari jauh. Pandangannya terhalang jajaran mobil tersebut. Ia kemudian segera menghubungi Neo. Ia meminta akses cctv di perusahaan. Tak butuh waktu lama, Neo segera mengirimkan sebuah link yang langsung tersambung ke cctv perusahaan. Ana tertegun. Lobi berisi pria bertubuh besar dengan senjata lengkap. Kemudian ia memeriksa ke lantai berikutnya. Ia tak menemukan siapapun di sana. Ia kemudian memeriksa aula perusahaan. Dan benar saja, semua karyawannya berada di sana. Mereka di sandera di aula itu. Mulut mereka di tutup, tangan mereka di ikat satu sama lain secara berkelompok.


Ana tertegun. Ia kemudian meng-zoom setiap wajah penjahat di sana. Tak satupun ia kenali. Ia kemudian memeriksa setiap wajah di antara karyawannya. Ia tak menemukan Mr. Lee. Ia kemudian segera memeriksa cctv di ruangan Pimpinan.


Deggg !!!


Matanya membelalak kaget. Darahnya seakan mendidih seketika. Ia melihat dengan jelas Layla duduk di kursi pimpinan. Kakinya tepat berada di atas kepala Mr. Lee yang tersujud di atas lantai menghadapnya.


Tangan Ana bergetar hebat. Emosinya semakin memuncak saat mengingat wajah semua orang terkasihnya.


"Sialllll !!!" pekik Ana mengumpat memukul-mukul keras stir mobilnya.


Ia menarik nafas dalam. Mengatur nafasnya yang memburu dan terasa menyesakkan. Bahkan amunisinya tak akan cukup untuk menyapu bersih anak buah Layla di lobi. Wajah Pak Kim terbayang di benaknya. Bahkan wajah kedua orang tua angkatnya. Tom dan Naira.


Ana mencengkram stir mobilnya erat. Menginjak gas sekuat tenaga. Ia mengarahkan mobilnya ke arah pintu kaca lobi.


Pranggggg !!!!


Citttttttt !!!


Ana menabrakkan mobilnya menerobos masuk ke lobi kencang. Bahkan ia menabrak setengah dari anak buah Layla yang tengah berkumpul di sana. Sontak tindakan nekat Ana mengundang hujan tembakan. Mobilnya di hujani peluru senjata anak buah Layla. Ana kembali memutar stirnya. Menginjak pedal gasnya seraya menarik rem tangannya dan menunduk. Ia mengarahkan stir mobilnya mengelilingi lobi hingga menghantam tubuh penjahat di sana.


Ia bahkan tak bisa melihat dengan baik. Bahkan peluru senapan mereka mulai menembus sisi mobil. Ia segera menghindar. Mengarahkan mobilnya menuju pintu darurat di ujung lobi. semua pria bertubuh besar itu mengejar mobil Ana. Ana mengintip dari balik spion, ada tersisa 5 orang lagi saja. Ia segera meloncat keluar dari mobilnya. Menembaki peluru panasnya tepat bersarang di kepala kelimanya.


Ana menghela nafas panjang, "Ternyata aku masih hebat dalam menembak..." gumamnya bangga.


Ia berjalan mendekati kelima pria itu. Ia memeriksa setiap saku mereka. Mengalungi senjata mereka ke pundak Ana. Ia mendapat banyak pasokan senjata dan amunisinya.

__ADS_1


Ia segera bersiap. Ia mengintip ke arah tangga atas. Di lantai atas terdengar sangat senyap. Di luar ia mendengar suara sirine mobil polisi yang mengikutinya tadi. Polisi juga terdengar meminta bantuan setelah melihat kondisi lobi gedung megah itu porak poranda.


Ana melangkah perlahan menaiki anak tangga seraya terus berjaga-jaga. Ia terus berjalan menaiki setiap anak tangga menuju lantai teratas. Ia tak akan menuju meeting room. Ia tahu harus kemana untuk menyelamatkan semuanya.


Butuh perjuangan untuk menuju lantai atas. Bahkan dalam kondisinya yang tengah hamil muda seperti saat ini. Perutnya bahkan terasa nyeri. Ia memegangi perutnya.


"Aku mohon bertahanlah.." imbuh Ana terengah. Tubuhnya telah kuyup oleh keringatnya. Ia menyeka wajahnya asal dengan lengan bajunya.


Setelah beristirahat sejenak, mengatur nafas, ia kembali naik ke lantai teratas. Ana kembali memeriksa ponselnya. Ia melihat cctv di lorong menuju ruang pimpinan. Lorong itu kosong melompong. Ia sempat ragu, mengingat betapa licik dan mengerikannya Layla. Ia yakin Layla juga pasti sudah tau dengan kehadirannya.


Ana memberanikan diri untuk keluar dari sana.


Degggg !!!


Ia tercekat. Saat pintu darurat terbuka ia ternyata telah di kepung di sana. Ada sekitar 10 orang bersenjata lengkap menodongkan senjata ke arah kepalanya.


Ana terkekeh. Ia tak menyangka jika rekaman cctv itu telah di manipulasi. Ia tak menyangka jika rekaman cctv yang ia lihat ternyata palsu, kecuali di lobi tadi.


Ana tak punya pilihan lain. Ia menjatuhkan semua senjatanya. Dua di antaranya segera menggeledah tubuh Ana secara paksa. Bahkan mereka mengeluarkan pisau lipat yang Ana sembunyikan tadi di balik ****** ********. Ana menunjang ******** pria itu dengan lututnya keras, karena pria itu dengan sengaja menyentuh daerah sensitifnya.


"Perhatikan tanganmu, bajingan !!" geram Ana membuat pria itu menyeringai kesakitan.


Setelah mereka mengeluarkan semua senjata Ana.


Bukkk !!


Satu di antara pria itu memukul keras kepala belakang Ana dengan senjatanya hingga Ana jatuh terjerembab ke atas lantai tak sadarkan diri.


****

__ADS_1


Drrttt.. drrttt..


Ponsel Louis bergetar. Ia memeriksa layar ponslenya. Nama ibunya muncul di sana. Louis segera permisi keluar dari ruang meeting untuk segera menerima panggilan dari ibunya.


"Halo, Bu?"


"Lou, kau dimana?"


"Aku sedang keluar sebentar... Ada apa, Bu? Ibu dimana?"


"Aku sudah tiba di apartmenmu... tapi, aku tidak menemukan Ana di sini.." ujar ibunya kebingungan.


"Dia ada di kamarku, Bu..." jawab louis lirih.


"Tidak ada siapa-siapa di sini, Lou... aku sudah memeriksa semua ruangan..."


"...." Louis tertegun. "Ibu, aku telepon lagi nanti... aku ingin menelepon seseorang..." ujar Louis segera mengakhiri panggilannya.


Louis dengan cemas segera menghubungi nomor ponsel Ana. Namun ponsel itu tidak aktif. Ia merasa semakin gelisah. Kemudian, ia segera menghubungi Jane.


"Jane... apa kau tau dimana, Ana?"


"Hmm... aku tau dimana dia..." jawab Jane dengan nada lirih.


"Dimana dia? aku ingin bicara dengannya...' pinta Louis khawatir.


"Aku telepon lagi nanti..."


Tutt..tut...tuttt..

__ADS_1


Jane justru segera mengakhiri panggilan itu. Louis semakin di buat khawatir. Bahkan suara Jane terdengar semakin mengkhawatirkan.


__ADS_2