
Louis menemui ayah dan ibunya di rumah mereka selepas ia bekerja. Mereka makan malam dengan canggung. Orang tua Louis enggan mengomentari berita mengenai kekasih putra sulung mereka. Bagaimana pun mereka tetap mendukung Louis dan mempercayai Ana. Namun Irene sang adik justru membahas perihal itu saat makan malam.
"Apa mereka benar-benar menahan kak Ana??" ujar Irene lirih.
"Irene.." seru ibunya berusaha menghentikan putrinya.
"Walaupun dia melakukannya, itu pasti hanya sebagai tindakan bela diri.. Ana tidak punya alasan apapun menyakiti orang lain.." imbuh Louis tenang.
"Hmm.. Tentu saja.. Dia pasti akan segera di bebaskan.." timpal Ayahnya menyemangati.
"Banyak rumor aneh beredar di hotel.. Mereka mengatakan jika kak Ana seorang mafia.. Dia bahkan sudah sering membunuh sebelumnya.." Irene kini tampak benar-benar sedih.
"Kau percaya siapa? Ana atau mereka?" tanya Louis tegas.
"Tentu saja, kak Ana.." jawab Irene yakin.
"Maka tetaplah pada keyakinanmu.. Dan teruslah percaya padanya.." ujar Louis penuh penekanan. "Besok aku akan menemuinya bersama kakaknya.."
"Ah.. Polisi itu??" tanya Ibunya mengingat sosok Lucas.
"Iya.. Mereka akan membawa seorang pengacara handal.. Jadi.. Aku mohon kalian semua terus mendukungnya.. Dan abaikan saja semua rumor buruk tentangnya.. Aku yakin kalian juga sudah mengenal dia dengan baik.." pinta Louis.
"Tentu saja kami akan selalu mendukungnya, Lou.." tutur ibunya tulus. "Dan kami semua mempercayainya.."
"Aku tidak tau apa yang sedang dia pikirkan saat ini.. Tapi yang pasti.. Dia pasti sedang sangat kesulitan sekarang.. bahkan dia sendirian di sana menghadapi semua ini.. Dia bahkan tak pernah mengeluh soal apapun padaku.." bibir Louis bergetar hebat menahan kesedihannya. Ia berusaha menahan tangisnya.
"Aku sangat ingin membantunya.."
"Semua akan segera baik-baik saja, Lou.. dia akan baik-baik saja.."
Louis menghela nafas panjang. Bahkan ia tak sanggup menelan makan malamnya.
"Jadi.. Ingatanmu benar-benar sudah pulih??" tanya ibunya khawatir pada Louis.
"Tentu saja.." angguk Louis yakin.
"Syukurlah.. dan kau.. Tidak pernah merasa pusing lagi kan??"
__ADS_1
"Hmm.. sekarang aku benar-benar sudah pulih, Bu.." angguk Louis yakin.
...----------------...
Louis duduk di taman seraya melihat berita tentang Ana dari ponselnya. Ia me-report semua komentar jahat dan buruk tentang Ana. Ia juga telah meng-capture semuanya, lalu segera mengirmkan bukti-bukti itu ke email pengacaranya. Ia tampak berusaha keras menjauhi Ana dari rumor buruk. CEO nya bahkan telah di beri serangan oleh para fans untuk melepaskan kemitraan mereka dengan Grey World akibat skandal ini. Namun mereka tidak akan pernah melakukannya karena Grey World alias Ana adalah satu-satunya orang yang membuat mereka bangkit dan besar seperti saat ini.
Drrttt.. Drrtt..
Ponsel Louis bergetar. Nama Lucas muncul di sana. Ia segera menerima panggilan itu.
"Halo.."
"Lou, aku tidak jadi menemui Ana besok.. Ada sesuatu hal terjadi.. Sekarang aku sedang menuju kerumah sakit.."
"Apa maksudmu?? Ada apa??"
"Sepertinya ada yang sengaja meracuni makanan Ana.. Dia di larikan ke rumah sakit setelah makan malam.."
"Apa????" Louis shock. "Dimana dia sekarang? Aku akan susul kesana.." ujar Louis panik.
"Tenanglah.. Itu tidak akan mudah jika kau muncul di sana.. Aku lihat berita tentang agensi mu.. Masalah ini akan semakin serius jika kau terlihat di rumah sakit saat ini.."
"Baiklah.. Aku akan segera kirim alamatnya.. Aku harap kau berhati-hati.." ujar Lucas segera mengakhiri panggilan itu.
Louis bergegas menuju kamarnya. Ia berganti pakaian, mengenakan sweater hitam, topi dan masker. Ia berusaha menutupi dirinya dengan baik. Bahkan ia sengaja mengenakan celana selutut yang jarang sekali ia kenakan. Agar ia penampilannya sedikit berbeda. ia juga memilih sweater dan topi dari brand lokal. Ia tak ingin datang dengan pakaian mewah yang mencolok.
Setelah mendapat pesan dari Lucas. Ia pun bergegas menuju rumah sakit yang tak jauh dari penjara Utara.
Louis mengendarai mobil milik ibunya. Sedan lama yang masih sangat tangguh. Selama perjalanan Louis terus merasa kalut.
...----------------...
Satu jam sebelumnya..
Ana bergegas menuju kamar mandi setelah makan malam. Ia meminta pada sipir untuk mandi saat malam hari. Di tengah jalan perutnya terasa mulai nyeri. Namun ia hanya berpikir jika itu hanya efek ingin buang air besar. Namun rasanya kini terasa jauh berbeda. Ana melanjutkan niatannya. Ia segera mandi dan bersih-bersih meski perutnya terasa sangat sakit.
Ana meringkuk dengan tubuh telanjang bulat. Ia berjongkok seraya meremas perutnya.
__ADS_1
"Lihatlah.. Bahkan obat itu bereaksi cukup lama padanya.." seru seseorang mengagetkannya dari arah belakang.
Ana berusaha menoleh. di sana ia melihat wanita gemuk itu lagi. Wanita menyebalkan yang menyerangnya di ruang cuci. Ana menyeringai sinis.
"Kau yakin itu obat yang bagus??" tanya wanita itu kebingungan. Seharusnya Ana sudah sekarat sejak tadi.
"Seharusnya kau mempekerjakan orang yang becus untuk menyerangku.." gumam Ana terkekeh seraya menahan sakit pada perutnya.
"Cih.. Bahkan kau masih bisa menyombongkan dirimu.. Dasar ****** menyebalkan !!" gerutunya kesal.
"Hahaha.. Apa sesusah itu untuk menyingkirkanku??" gelak Ana berusaha bangkit seraya meremas perutnya yang sangat sakit dan terasa seperti terbakar.
"Diam kau.." hardiknya lirih. Bahkan kau tak sanggup berdiri dengan benar.
"Seharusnya kau melawanku dengan adil.. Melakukan hal seperti ini hanya membuatmu terlihat seperti pengecut.. Ternyata kau tong besar yang hanya berisi sampah.." ledek Ana keringat dingin.
Plakkk..
Wanita itu menampar Ana keras, hingga ia sempoyongan.
"Kau punya cukup banyak tato.. Seharusnya kau juga mentato wajah cantikmu ini.. Apa kau sengaja menyisakannya untuk menggoda laki-laki di luar sana??" gumamnya lagi cekikikan. "Ah.. Benar.. Idol itu.. Kau sengaja menjaga kecantikanmu untuk merayunya kan?? Bukankah tubuhmu saja sudah cukup?? Tiduri saja dia.. Maka semua akan beres.." ejeknya lagi membuat Ana naik darah.
Bukkk..
Ana meninju rahang wanita itu lemah. Kini ia telah kehilangan kekuatannya.
"Siapa yang menyuruhmu??" gumam Ana mencengkram kerah baju wanita itu. Namun para anak buahnya segera melerai Ana. Mereka segera mencengkram kedua lengan Ana keras.
Wanita itu balik menyerang ia mencekik Ana keras hingga meninggalkan bekas merah dan memar seperti tadi pagi. Ana yang mulai kehilangan kesadaran bahkan sudah tak sanggup membuka matanya dengan baik.
"Kenapa kau berusaha sangat keras Ana? Bukankah pada Akhirnya kau akan kalah dan bertekuk lutut padaku?? Menyerahlah.. Maka aku akan mengampunimu.. Pikirkan semua orang yang kau sayangi itu.." ujar wanita itu tersenyum dingin. Ia mendekati wajahnya ke arah Ana.
"Dia menyuruhku mengatakan itu padamu.." bisiknya seraya tertawa terbahak-bahak.
Ana berusaha terus sadar, namun rasa sakit di perutnya semakin menggerogotinya. Namun Ana mendengar jelas semua ucapan wanita itu. Ia dengan sangat yakin mendengar semua ucapan wanita itu. Hingga akhirnya ia jatuh terjerembab tak sadarkan diri.
...****************...
__ADS_1
Hai aku kembali !!!!!!!!!!!! aku akan segera menyelesaikan novel ini dengan tuntas !! maafkan aku !!