
Pak Kim telah menunggu di depan pagar rumah Louis dengan pakaian lengkap musim dinginnya, ia tampak datang menggunakan taksi.
Ana segera keluar diikuti dengan Louis dan Ibu serta Ayahnya, Irene sudah tertidur karena besok ia harus bekerja.
Ia tidak menceritakan bahwa ia bekerja di GC hotel karena ia tidak mau diperlakukan istimewa ditambah kini ia semakin akrab dengan Ana sang pemilik hotel mewah itu.
"Maaf aku sudah sangat merepotkan.." imbuh Ana pamit pulang.
"Kau bisa menginap disana.. tidak perlu sungkan.." ujar Ibu Louis hangat.
"Terima kasih atas tawarannya.." angguk Ana sopan.
"Kabari aku jika kau sudah sampai.." timpal Louis lirih.
"Tentu.." angguk Ana cepat, lalu ia segera masuk ke dalam mobil. Diikuti Pak Kim yang duduk di kursi kemudi, sementara Ana duduk di kursi penumpang. Ana tampak melambaikan tangannya hingga mobil sudah dijalankan.
"Maaf aku mengganggu waktu liburmu Pak Kim.." gusar Ana sungkan.
"Tidak Ms.Grey.. saya justru merasa tidak bosan.." jawabnya santai.
Selama perjalanan Ana tertidur di mobilnya, karena masih dibawah pengaruh alkohol, ditambah jarak mansion ke rumah orang tua Louis memang sangat jauh.
Setibanya di mansion, Ana mencari Bibi Layla yang ternyata berada di kamarnya.
Tok..tok..tok..
Ana mengetuk pintu yang sedikit terbuka, Ana mendapati Bibi Layla yang tengah duduk di sofa melamun menghadap ke jendela.
"Kau sudah pulang?" Tanya nya kaget.
"Hmm.. Bibi sudah makan?" Tanya Ana hanya berdiri di depan daun pintu.
"Tentu.." angguknya cepat sambil terus menutupi pipinya. "Kau sudah makan? Mau Bibi siapkan makan malam?" Tanyanya segera bangkit dari duduknya.
"Ah..tidak perlu Bi.. aku sudah makan kok.." Ana yang merasa curiga dengan tangan Bibi Layla yang selalu menutupi pipi kirinya segera di dekati Ana.
"Kenapa dengan pipimu?"
"Ah.. tidak ada apa apa kok.." elak Bibi Layla gusar.
Ana segera menarik keras tangan Bibi Layla yang terus menerus memegangi pipinya sejak tadi.
Tentu saja, ada lebam merah di pipinya.
"Siapa yang melakukan ini??" Tanya Ana naik pitam.
__ADS_1
"Bukan siapa siapa Ana.. jangan khawatir.." geleng Bibi Layla menenangkan Ana.
"Wanita tua itu??" Imbuh Ana dengan suara bergetar menahan amarahnya.
"Ana.. aku tidak apa apa..sungguh.." Bibi Layla menggenggam tangan Ana hangat.
"Katakan !! Wanita tua itu kan???" Bentak Ana habis kesabaran.
Layla hanya menatap Ana dengan penuh ketakutan.
Ana segera menepis kedua tangan Bibi Layla dan segera pergi meninggalkan kamar Layla, Layla berusaha menahan Ana namun usahanya sia sia.
Ana segera keluar mansion, mengendarai mobilnya sangat kencang tak peduli jalanan licin karena musim salju.
Ia berkali kali mencoba menghubungi nomor Jane, namun lagi lagi tak ada jawaban. Ana tau kemana ia harus pergi.
Sesampainya di GC Hotel, Ana segera menuju lift dan menekan tombol 25 menuju kamar president suite yang di tempati Jane.
Ana menekan bel kamar berkali kali, lalu menggedor gedor pintu dengan sangat keras.
Lalu wajah yang sangat ingin di terkam Ana muncul di balik pintu.
"Ana? Tumben sekali kau mengunjungiku?" Tanya Jane basa basi.
"Sudah ku peringatkan kau jangan ganggu Bibi Layla.." geram Ana dengan wajah memerah penuh amarah.
"Apa dia berkata bahwa aku mengganggunya??" Tanya Jane justru tertawa tanpa rasa takut di matanya. Wajahnya sudah memerah karena cengkraman tangan Ana di lehernya semakin kuat.
"Diam kau wanita sial*n !! Aku akan membunuhmu !!" Geram Ana semakin marah.
Pranggg !!!
Vas bunga melayang ke kepala Ana, Jane menghantam keras kepala Ana dengan vas bunga yang ada di atas meja di dekatnya hingga pecah berserakan. Cengkraman Ana terlepas sesaat, namun itu tak menghentikannya, Ana kembali menyerang Jane meski ada darah yang mengalir ke pelipisnya, Jane yang ingin berlari masuk ke kamar berhasil di hentikan Ana, Ana menjambak rambut belakang Jane hingga ia jatuh terjungkal ke lantai.
Ana segera menduduki Jane dan lagi lagi mencekiknya keras.
"Aku akan membunuhmu !!!" Geram Ana semakin memanas.
"Ana !! Apa yang kau lakukan???" Pekik seseorang kaget melihat situasi itu.
Dan tentu mengalihkan pandangan Ana padanya.
"Louis??" Gumam Ana ternganga.
Louis segera menarik Ana menjauhi Jane, Jane tampak terbatuk batuk sesak nafas, wajahnya memerah.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?? Kau bisa membunuhnya.." seru Louis panik masih memegang tangan Ana.
"Apa yang kau lakukan disini??" Tanya Ana lirih.
"Nyonya Jane ingin berbicara denganku.." Louis tampak gugup.
"Apa dia ingin mempengaruhimu juga?" Timpal Ana masih dibaluti dengan rasa emosi.
"Tidak.. ini tidak seperti yang kau pikirkan.."
"Lalu apa? Kau tau aku sangat membencinya.." gerutu Ana lirih.
"Ana.." Louis mencoba meraih tangan Ana yang lalu di tepis Ana keras.
"Kau tidak perlu mengatakan apapun.." Ana melirik ke arah Jane yang sudah berdiri tak jauh dari Louis dengan senyum kemenangan di wajahnya.
Ana segera pergi dengan kesal.
Louis berusaha mengejar Ana dan menahan tangannya, lalu dengan keras Ana mendorong tubuh tinggi Louis hingga terhempas ke dinding lorong hotel dengan sangat keras.
"Apa kau tau?? Dia berhasil menjauhi Albert dariku, bahkan dia sudah melukai Bibi Layla.. dan sekarang aku justru mendapati kau ada disini.. menurutmu apa yang ada dipikiranku???" Ana menggeram menahan amarahnya sambil menekan dada Louis keras dengan tangannya. Ana benar benar tidak sadar jika sudah banyak darah mengalir dari atas kepala, ke pelipis dan mengalir ke pipi Ana.
"Ana.." Louis tak sanggup berkata kata, matanya berkaca kaca. Ia ingin sekali menyeka darah yang mengalir di wajah Ana. Namun ia yakin Ana sudah salah paham dan sedang terbakar emosi.
"Jangan lagu sebut namaku dengan mulut kotormu itu brengs*k !!!" Ana segera pergi meninggalkan Louis yang terdiam membatu.
Rasa sesak menekan dada Ana, kepalanya terasa berat dan sakit. Amarahnya benar benar sudah memuncak, dan dia pasti akan membalas Jane bagaimanapun caranya.
***
Ana memutuskan untuk menghadiri acara ulang tahunnya di ballroom GC Hotel yang telah di siapkan Jane, meski dua hari yang lalu ia hampir saja membunuh Jane, namun ia tetap akan hadir karena ia punya rencana yang bagus untuk membalas Jane. Rencana yang akan membuat Jane kalah. Ia mengenakan dress pesanannya, berwarna merah menyala dan sexy meski di tengah cuaca dingin ini, dress tanpa lengan dan bagian punggung yang terbuka lebar membuat Ana memperlihatkan tato yang ada di sekujur tubuhnya terlihat dengan jelas, yang mana selama ini tak ada satupun yang tau tentang tato itu kecuali Louis.
Ia berencana akan membongkar semua fakta di balik tato di tubuhnya, dan membongkar fakta tentang Jane dengan bukti bukti yang sudah ia siapkan di flasdisk dalam tasnya.
Pak Kim mengendarai mobil dengan tenang dan masih terkejut dengan fakta yang baru ia lihat bahwa Ana memiliki banyak tato di tubuhnya.
Karena selama ini Ana memang selalu memakai pakaian tertutup.
"Aku tidak heran jika kau sangat terkejut Pak Kim, bahkan ayahku tidak tau soal ini.." gumam Ana yang sadar bahwa Pak Kim tampak terperangah dan penasaran sejak melihat tatonya tadi.
"Nanti kau akan tau alasan dari semua tatoku ini.."
"Aku hanya khawatir anda akan melakukan hal gegabah Ms.Grey.. aku sangat mengkhawatirkanmu.."
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa apa Pak Kim.." Ana menyandarkan kepalanya, mencoba tenang mengatur nafasnya yang memburu setiap mengingat Jane.
__ADS_1