Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 35 : Ingin Tinggal Bersamaku..


__ADS_3

Louis berjalan lesu menuju meja makan. Ana sudah duduk disana bersama Bibi Layla.


"Duduklah disini Nak.." seru Bibi Layla semangat melihat idolanya di pagi hari.


"Bahkan kau terlihat sangat tampan neski baru bangun tidur.." ujar Bibi Layla terpesona.


"Te..terima kasih Bi.." Louis mencuri pandang pada Ana yang fokus pada sarapannya. "Ma..maaf.. tapi apa yang terjadi tadi malam? Apa aku membuat masalah besar Ms.Grey??" tanya Louis ketakutan.


"Bahkan kau memanggilku Ms.Grey saat kau tau sudah membuat kesalahan.." celetuk Ana datar.


"Sebaiknya kau tidak mengingatnya sama sekali.." jawab Ana singkat menunjuk Louis dengan garpu di tangan kanannya, itu terdengar sebagai ancaman, lalu ia menancapkan garpu itu ke atas omlete dan segera melahapnya di campur salad sayur.


Louis kesulitan menelan salivanya. Habislah dia. Ana pasti sudah sangat murka.


"Ana membawamu pulang tadi malam..kau sangat mabuk.." jelas Bibi Layla mencoba mencairkan suasana. "Ayo habiskan sarapanmu..aku juga sudah membuatkan sup anti pengar untukmu.." Bibi Layla mendekatkan mangkuk sup ke arah Louis.


Ia tak berani mengangkat kepalanya. Ia hanya mencuri pandang sesekali pada Ana yang tampak enjoy dengan sarapannya. Ana bahkan tidak tampak sedang marah, karena ekspresinya tampak tenang.


Hari ini Ana ke kantor lebih lama. Karena ia setelah ini harus ke kantor polisi dulu menyelesaikan masalah penyusup itu. Ia meminta Albert tidak memberitahu Louis mengingat ia juga dalam kondisi mabuk saat itu. Pagi itu Ana hanya memberitahu Pak Dong. Dan berharap Pak Dong tidak memberitahunya..


Selesai sarapan Ana segera menuju kamarnya untuk bersiap ke kantor. Sementara Louis masih berpikir keras mengingat kejadian tadi malam.


"Bagaimana pengarmu??" tanya Ana membuyarkan lamunannya.


"Sudah jauh membaik.. kau mau berangkat bekerja?" tanya Louis melihat Ana sudah berpakaian rapi.


"Hmm.." angguk Ana singkat. "Istirahatlah jika kau masih merasa pengar.."


"Ti..tidak.. aku akan segera pergi.." timpal Louis canggung.


"Kau mau kemana?" tanya Ana bingung.


"Pulang.." jawab Louis singkat.


"Ke apartment mu?"


"Tidak.. aku akan pulang kerumah ibuku.. pintu apartment ku sedang di perbaiki.. sebenarnya aku sedang cuti sejak kemarin dan pulang kerumah ibuku.." jelas Louis lagi.


Ana hanya mengingat kejadian tadi malam.


"Pantas saja mudah di bobol pintu itu, ternyata sedang di perbaiki.." pikir Ana dalam hati.

__ADS_1


"Kenapa kau ingin pulang? Bukankah kau minta aku tinggal bersamamu?" celetuk Ana dengan tatapan menggoda.


Louis terbelalak kaget. "A..apa maksudmu??" ia tergagap grogi.


"Baiklah.. sepertinya kau benar benar tidak ingat.. dan sebaiknya kau jangan coba-coba mengingat apapun.. bersiaplah.. aku akan mengantarmu pulang.." tukas Ana lagi merubah ekspresinya seketika.


"Aku bawa mobil.." timpal Louis mencoba mengingat-ingat.


"Pak Kim sudah mengantar mobilmu pagi ini ke kantor agensimu.. jadi bersiaplah.. aku yang akan mengantarmu.." Ana segera berlalu meninggalakn Louis yang masih terbengong.


Ia masih berusaha keras mengingat apa yang terjadi tadi malam. Bagaimana mobilnya bisa di bawa Pak Kim dan sementara dia tidur di mansion Ana.


***


Sepanjang jalan mereka tidak berbicara satu sama lain. Ana mengendarai mobilnya dengan santai dan keren. Louis tak henti hentinya mengagumi Ana yang duduk di kursi kemudi.


Louis memutuskan turun di pinggir jalan yang tak jauh dari rumahnya. Karena ia ingin singgah ke swalayan untuk membeli beberapa minuman penyegar.


"Kau yakin turun disini??" tanya Ana meyakinkan.


"Tentu.. aku ingin sambil berolahraga.. rumah ibuku satu blok lagi saja.." jelas Louis segera melepas safety-belt nya.


"Ingat !! Jangan berusaha keras untuk mengingat apapun.." seru Ana tiba tiba sedikit menggodanya lagi sambil mengusap rambut Louis lembut.


"Ba..baiklah" angguk Louis cepat segera turun dari mobil Ana dan berlari kecil menjauhi mobil Ana.


Ana tertawa geli melihat tingkah Louis. Ia sengaja melakukan itu untuk mengerjai Louis yang sudah membuatnya kesal dan kelelahan karena harus membopongnya kesana kemari karena ia mabuk berat.


Pak Kim juga tidak lupa menyogok beberapa karyawan restauran yang menyaksikan kejadian tadi malam dengan memberikan mereka masing masing 10 juta, agar tidak menyebar berita yang bukan bukan tentangnya dan Louis tadi malam.


Setelah membeli beberapa minuman penyegar ia segera berlari kecil menuju rumah ibunya. Mobilnya sudah terparkir disana. Ia segera masuk dan mendapati semua orang di rumah sudah menyambutnya dengan wajah terperangah bahagia.


"A..ada apa Bu?" tanya Louis bingung melihat ekspresi keluarganya. "Kenapa ekspresi kalian aneh seperti itu??"


"Kau sudah mengungkapkannya Lou??" tanya Ibunya penasaran.


"Apanya??" tanya Louis kebingungan.


"Ms.Grey.. bukankah kau bermalam dengannya??" tambah ibunya lagi. Seketika semua kejadian tadi malam terlintas utuh di benaknya, kecuali kejadian di apartmentnya.


"Arghhh !!!" pekiknya shock tiba tiba. Matanya terbelalak kaget, mulutnya ternganga lebar membuat semua orang terkaget mendengar teriakannya.

__ADS_1


"Ada apa kak??" tanya adiknya kaget.


"Habislah akuuu !!!" pekik Louis menjambak rambutnya keras. "Dia akan membunuhku.." gumamnya lagi.


"Pantas saja dia memintaku untuk tidak mengingatnya.." gerutunya tidak karuan.


"Ada apa Louu???" tanya ibunya penasaran.


"Bodohnya akuuuu !!!" pekiknya lagi tidak menghiraukan keluarganya. Ia segera berlari ke dalam kamarnya. Ia segera mengeluarkan ponselnya dari saku dan menghubungi Pak Dong, dan tak lama Pak Dong segera menerima panggilan itu.


"Pak Dong.. kau dimana??" tanya nya gugup.


"Aku sedang di jalan mau bertemu dengan Ms.Grey.. Kau sudah pulang? Aku sudah mengantarkan mobilmu.."


"A..apa?? Apa kau bisa tidak menemuinya saat ini??" pinta Louis ragu.


"Tidak bisa.. ini hal yang mendesak.. aku harus menemuinya sekarang.. sudah dulu ya..aku sudah mau sampai.. nanti aku telepon lagi.." Pak Dong segera mengakhiri panggilannya.


Louis terkulai lemas ke atas tempat tidurnya. "Aku benar-benar sudah berakhir.. Arggghhh !!!" Bagaimana jika ia memutus kontrak kerjaku? Apa dia akan membunuhku? Tangan bodoh !! kenapa kau menunjuk nunjuk jidatnya.." maki Louis pada jari telunjuknya..


Suara pekiknya mengagetkan ayah,ibu dan adiknya yang mendengar teriakan itu dari luar kamar.


"Apa dia sesenang itu sampai terus terusan berteriak begitu??" tanya Ayahnya bingung melihat tingkah putranya.


Ternyata tadi malam saat baru tiba di mansion, ibu Louis menelepon ke ponsel Louis hingga 3 kali, namun pada panggilan ke empat akhirnya Ana memutuskan mengangkat telepon itu agar ibu Louis tidak khawatir. Ana mengatakan bahwa Louis sedang bersamanya dan meminta izin pada ibunya kalau Louis mungkin tidak akan pulang malam itu. Tentu saja hal itu membuat keluarganya senang, di tambah ibunya sudah bercerita pada ayah dan adiknya bahwa Louis menyukai Ana.


***


Setiba di kantor polisi Ana dan Pak Dong segera menemui Albert. Penyusup itu tampak sudah berada di dalam sel kurungan sementara.


"Bagaimana kak??" tanya Ana tanpa basa-basi pada Albert yang membuat Pak Dong bingung dengan panggilan Ana yang akrab pada Albert.


"Semua alibinya sudah di akuinya di tambah buktinya sudah sangat kuat kalau dia memang penguntit dan sengaja mencuri barang-barang pribadi Louis untuk di perjual belikan.. Ia mengaku sudah melakukan aksi ini bersama teman yang lain.. timku sedang mencari temannya yang lain.." jelas Albert ringkas.


"Bagaimana dengan ponselnya?" tanya Ana lagi.


"Aku sudah membersihkan semuanya.. dan memasang penyadap pada ponselnya.. jika ada pesan atau panggilan masuk dari orang lain yang bersangkutan dengan Louis akan segera kami ketahui dan akan segera kami selidiki idientitasnya.."


"Terima kasih bantuannya kak.." Ana kini sudah sedikit lega. Pak Dong yang daritadi hanya menyimak kini juga sudah sedikit merasa lega.


"Serahkan saja kasus ini padaku.. nanti aku akan mengirim tim untuk mengawasi apartmentnya sementara serta memperbaiki apartmentnya untuk beberapa hari ke depan."

__ADS_1


"Mohon jangan sampai diketahui oleh Lou.. dia belum tau akan hal ini.." timpal Ana menambahkan. "Aku tidak ingin dia khawatir.."


"Tentu saja.. dia tidak akan sadar itu.." angguk Albert mengerti


__ADS_2