
Hari H telah tiba. Peresmian dan jumpa pers terkait pengangkatan Ana sebagai presdir dan pemilik sah Franz.Co, serta acara peresmian pengalihan nama dari Franz.Co menjadi Grey World.Co.
Acara itu di siarkan eksklusif di siaran internasional. Bahkan di siarkan di siaran khusus di negara K.
Ana tampak menghadiri acara itu dengan stelan jumpsuit elegan berwarna putih, serta di padukan dengan blazer hitam dengan list putih di pinggirannya.
Ana selalu berpakaian tertutup saat bekerja, selain untuk menutupi seluruh tatonya, ia juga sangat tidak nyaman berpakaian terbuka.
Meski ia sempat membuat heboh jagat raya karena pakaian seksinya serta memamerkan tato yang ada di sekujur tubuhnya saat acara ulang tahunnya waktu itu. Hanya saat itulah yang pertama dan terakhir baginya.
Louis yang tengah shooting mencuri curi waktu untuk menyempatkan diri menonton siaran ekslusif Ana di ponselnya. Ia sangat bangga dan terpesona dengan keanggunan Ana. Bahkan ia berpidato singkat dengan sangat berkelas.
"Kau sedang lihat apa??" Seru Wendy mengagetkan Louis.
"Ah.. ini.. siaran eksklusif Ms.Grey di negara E.."
"Oh.. presdir cantik itu?? Ayah dan ibuku sering membicarakannya saat makan malam.. mereka bilang bahwa proposal kerja sama mereka di setujuinya tanpa banyak presentasi.. dia hanya tampak terus membaca setiap rinci proposal dari perusahaan ayahku.. lalu memotong di tengah tengah presentasi dan mengatakan dia akan berinvestasi di proyek pekerjaan ayahku.. dia benar benar keren.." puji Wendy kagum.
"Benarkah?? Dia benar benar keren kan??" Tanya Louis dengan bangga hati.
"Hmm.. tentu saja.. aku pernah melihat fotonya di beberapa halaman media massa.. dia tampak sangat cantik meski tampak dingin.."
"Benar sekali.. terkadang dia suka berbicara kasar dan mengumpat.." sahut Louis setuju tak sadar dengan yang ia katakan.
"Apa?? Kau kenal dekat dengannya??" Tanya Wendy penasaran.
"Ah.. anu.. tidak begitu dekat.. management kami di bawah naungan perusahaannya.. kami bertemu saat meeting tertentu saja.. dan saat dia kesal dia akan berkata kasar dan mengumpat pada karyawan yang tidak tertib.." sela Louis berbohong merahasiakan hubungan mereka.
"Aku rasa itu wajar saja, karena ia menanggung banyak beban pekerjaan.. jadi ketika ada hal yang tidak memuaskannya, tentu pasti ia akan marah besar.. aku penasaran bagaimana dia menjalani hidupnya? Bukankah pasti sangat berat?? Aku rasa itu sebabnya dia kini memilih untuk tetap melajang.. bukankah punya hubungan percintaan justru akan menambah beban hidupnya?"
"Apa kau berpikir begitu??"
"Tentu saja.. lihat saja bagaimana akhir hubungannya dengan tunangannya itu.. dia pasti tersiksa sekali.."
"Entahlah.." ujar Louis kepikiran setiap kata kata Wendy.
"Terkadang kita harus memendam banyak hal untuk terlihat tegar dan baik baik saja.. karena kita tidak bisa hidup bebas seperti orang lain di luar sana.. orang orang pekerja keras sepertinya pasti butuh ketenangan untuk dirinya sendiri.. karena aku terkadang juga sering merasa begitu.." Wendy lawan akting Louis di drama barunya memang gadis yang ramah dan baik.
Ia selalu tampak ceria dan hangat, namun ia ternyata juga gadis yang rapuh. Sementara Louis tidak begitu mendengar lagi setiap kata Wendy karena ia kepikiran dengan Ana.
Ia sangat penasaran bagaimana perasaan Ana, apa yang di pikirkannya, apa yang di inginkannya untuk hidupnya, dan keinginan sesungguhnya.
Ia teringat bagaimana Ana selalu mengkhawatirkannya tanpa sadar bahwa dirinya sendiri tengah terluka. Ana selalu tampak kuat dan tegar di depan banyak orang, namun ia selalu menangis saat mabuk maupun tertidur.
Louis teringat saat mereka pertama kali minum bersama, Ana menangis tersedu sedu dan merangkulnya erat lengannya, memintanya untuk membuatnya merasakan hidup bahagia. Itu sebabnya Louis semakin bertekad untuk mendekati Ana dan membuatnya bahagia.
Drrrt...drrtt..
__ADS_1
Tiba tiba ponselnya bergetar, ternyata pesan singkat dari Ana.
"Apa dia sadar kalau aku sedang memikirkannya??" Batin Louis kaget.
"Kau dimana?" Tulis Ana singkat.
Louis segera menelepon Ana, namun panggilan itu di tolaknya.
Lalu masuk pesan baru.
"Aku sedang meeting, kirim pesan saja.." pesan baru Ana.
"Cih.. bahkan saat meeting dia sedang memikirkanku.." gumam Louis kepedean.
"Kau bilang apa??" Sahut Wendy mendengar gumaman Louis.
"Ah.. bukan apa apa.." geleng Louis cepat pada Wendy.
Ia segera membalas pesan Ana.
"Aku sedang shooting.." balas Louis.
Tak lama kemudian masuk balasan dari Ana.
"Pastikan kau selalu bersama managermu.. selalu berhati hati dimanapun kau berada.. katakan padaku jika kau butuh pengawalan khusus.." tulisnya lagi.
"Baiklah.. jaga juga dirimu disana.. miss you.." balas Louis tersenyum.
Sementara Ana yang telah selesai dengan acara peresmian, langsung melanjutkan meeting bersama pemegang saham, saat tengah berada dalam meeting tiba tiba ia tersedak dan terbatuk batuk saat membaca pesan dari Louis. Seketika semua orang dalam ruang meeting terdiam dalam keheningan.
Ana berdehem beberapa kali lalu segera menenggak air mineralnya yang ada di atas meja sambil segera menyimpan ponselnya ke saku jas nya.
"Maaf.. silahkan lanjutkan.." ujar Ana salah tingkah.
Ia bahkan tidak pernah tidak fokus saat bekerja, bahkan saat ia sedang tidak enak badan sekalipun, ia benar benar telah berubah sejak ia mulai jatuh hati pada Louis.
Louis menunggu cukup lama balasan pesan dari Ana, namun tak kunjung di balas sampai akhirnya waktu istirahatnya berakhir.
"Ah.. dia mengabaikan point penting dariku lagi.." gerutu Louis menyimpan ponselnya dalam tas.
****
Setelah 3 hari melakukan banyak meeting penting, kini Ana bisa sedikit bernafas lega dan sedikit bersantai, dia melewatkan banyak telepon dan pesan dari Louis. Dia benar benar di abaikan oleh Ana.
Pagi ini Ana berencana membeli beberapa oleh oleh untuk Louis, Pak Kim, keluarga Albert, dan keluarga Louis.
Berpikir cukup lama akhirnya ia memutuskan untuk membeli pakaian di sebuah toko fashion merk ternama.
__ADS_1
Ana di sambut hangat oleh para staff.
Style Ana terlihat sangat santai.
Ia mengenakan kaos slim fit warna abu abu, celana joger hitam, dan sendal jepit karet berwarna hitam.
Meski terlihat sangat santai, jam tangan yang ia gunakan menandakan bahwa ia seorang billioner. Karena jam yang ia kenakan adalah Louis Monet Meterois, seharga 65,3 miliar, jauh lebih mahal dari mobil sport yang baru dibelinya.
Louis Monet menambahkan batuan yang didapat dari luar angkasa ke dalam konstruksi arloji Meteoris. Gerakan mesin jam itu dapat dilihat melalui skeletonised dial atau dial yang terbuka. Di bagian itu pula, tertulis "Rosetta Stone Meteorit", yang merujuk pada nama dari batu luar angkasa tersebut. Itu sebabnya Meteoris menjadi arloji yang mahal, apalagi jam itu hanya ada empat buah di dunia.
Sebenarnya itu jam peninggalan Thommas, itu adalah jam favorit Thommas, itu sebabnya jam itu kini juga menjadi jam favorite Ana, Ana selalu memakai jam itu, meski ia memiliki 1 jam mahal lagi.
Ana tidak begitu suka gonta ganti aksesoris seperti jam dan pakaian hariannya.
Ia hanya bergonta ganti pakaian dan sepatu untuk bekerja, karena ia harus menemui banyak orang orang penting.
Dan dress yang biasa ia gunakan untuk menghadiri acara pesta atau penyambutan khusus, ia biasanya lebih memilih menyewa beberapa dress merk ternama, meski biasanya para pemilik lebih memilih untuk menghadiahi dress dress itu, Ana justru tetap memilih untuk mengembalikannya, karena ia kurang suka mengenakan dress saat menghadiri pesta.
Ana melihat banyak jenis pakaian, seketika ia menjadi bingung. Biasanya ia selalu asal memilih pakaian saja yang menurutnya nyaman. Itu sebabnya ia banyak memiliki kaos oblong santai untuk di pakai hari hari dengan warna itu itu saja.
Ana memulai dari pakaian pria dewasa, disana ia dibantu para staff.
"Tolong pilihkan aku beberapa buah kemeja pria dengan beda beda model dan beda warna.."
"Kalau boleh tau, untuk pria berusia berapa Nona? Agar bisa kami rekomendasikan model terbaik.."
"Satunya untuk usia sekitar 30an dan yang satunya untuk usia seorang ayah yang cukup berumur.." jelas Ana menerka dengan ragu.
"Sekitar 40an? 50an??"
"Entahlah.. tunggu sebentar.. aku akan menanyakannya.." segera mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.
"Baiklah Nona, kami akan mengambilkan untuk pria dewasa usia 30an lebih dahulu.."
"Tolong dengan dasi nya sekalian yang senada.." pinta Ana lagi.
"Baik Nona.." angguk karyawan itu mengerti.
Ana tampak tengah mencoba menghubungi Louis, panggilan pertama belum di angkat, lalu Ana mencoba lagi panggilan kedua, saat hendak terputus ternyata Louis segera mengangkatnya.
--->>
Wendy
__ADS_1