Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 57 : Mudah Cemburu


__ADS_3

Pagi itu Ana berencana pergi lebih awal, saat keluar dari kamarnya ia mendapati Bibi Layla sudah menunggunya di depan pintu dengan wajah penuh harap. Ana menatapnya dengan canggung, ia hanya berusaha tersenyum manis pada Bibi Layla.


"Ana.. kau mau berangkat kerja?" Tanyanya dengan nada lirih.


"Hmm.. ada pekerjaan yang harus aku kerjakan pagi ini.." angguk Ana cepat. Saat ia akan melangkah Bibi Layla menggeser tubuhnya berdiri tepat di depan Ana sehingga menghentikan langkahnya.


"Aku ingin bicara denganmu Ana.."


Ana yang pagi itu sedang tidak dalam kondisi mood yang baik berusaha dengan tenang menghindari Bibi Layla.


"Mari kita bicara nanti Bi.. aku buru-buru.." Ana segera berlalu menghindari perdebatan dengan Bibi Layla.


"Aku ingin keluar siang ini.. maukah kau menemaniku?" Serunya lagi menghentikan langkah Ana lagi..


"Maaf Bi.. aku sangat sibuk hari ini.." geleng Ana lirih.


Bibi Layla sadar bahwa Ana kini benar benar menjauhinya dan selalu menghindarinya. Ia bingung dengan hal itu, apa Ana tau tentang hubungannya dengan Jane atau Jane sudah mengancamnya untuk menjauhi Ana.


Ana bingung harus bersikap seperti apa pada Bibi Layla, ia masih berusaha untuk berpikir positif pada Bibi Layla, di sisi lain ia tidak ingin bertengkar dengan Bibi Layla atau membuat hubungan mereka memburuk. Ia sangat menyayangi Bibi Layla, makanya ia berusaha untuk tidak bertengkar dengannya, apalagi jika kesalahpahaman itu disebabkan oleh Jane. Itu akan membuatnya gila.


Seperti biasa Ana menjalani aktivitasnya di kantor seperti biasa, perusahannya semakin sukses, pekerjaannya semakin banyak dan tanggung jawabnya tentu semakin besar. Sudah lama ia tidak bertemu dengan Franz, meski Franz selalu mengirim pesan pada Ana, ia termasuk tipe pria yang sangat posesif, meski ia tidak pernah setia pada Ana bahkan sejak dari awal. Namun tentu saja Ana selalu mendapat laporan tentang Franz setiap harinya dari mata-mata Ana, ia tak melakukan apapun pada Franz, karena ia sedang menunggu moment yang tepat.


Ponselnya berdering, dan ia tau siapa yang memanggil meski itu nomor asing.


"Ms.Grey.." suara yang sudah tak asing lagi menyapanya dari sebrang.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Ana akrab.


"Aku sudah jauh lebih baik Ms.Grey.. aku siap untuk kembali padamu.." jawabnya yakin penuh semangat.


"Nikmati saja waktumu saat ini.. anggap saja ini liburan untukmu.." imbuh Ana tenang.


"Aku mendengar banyak hal tentang anda.. aku yakin anda sedang kesulitan saat ini.."


"Percaya saja padaku.. aku pasti bisa mengatasinya.."


Tok..tok..tok..


Di tengah tengah perbincangannya, sosok Louis muncul disana. Ana tampak mengangguk memberi tanda masuk padanya.


"Jaga diri kalian disana, selamat menikmati liburan kalian, sampaikan salamku pada Mr.Zhou.." Ana tampak segera mengakhiri obrolan singkatnya.


"Apa aku mengganggu?" Tanya Louis sungkan.


"Tidak.. B1 baru saja menghubungiku.." geleng Ana bangkit dari duduknya menuju sofa tamu di depan meja kerjanya.


"Ah.. pria tinggi besar itu? Sudah lama sekali ia tidak tampak.." Tebak Louis mengingat.

__ADS_1


"Hmm.. mereka sedang berlibur.." angguk Ana singkat sambil memeriksa pesan masuk pada ponselnya.


Wajahnya tampak biasa saja.


"Benarkah?? Apa semua baik-baik saja?" Tanya Louis merasa aneh, karena biasanya Ana selalu bertemu dan bersama B1.


"Tentu saja.." angguk Ana lagi.


"Apa kau masih sering ke bukit itu?" Tanya Louis penasaran.


"Tidak.. tempat itu sudah habis terbakar.."


"Apa? Kapan itu terjadi??" Tanya Louis lagi kaget.


"Kejadiannya sudah lama.." jawab Ana singkat dengan santai dan tenang.


Drrt..drrt..drrt..


Ponselnya kembali bergetar. Dengan malas ia mengangkat panggilan itu.


"Ada apa?"


"Kau sedang apa?" Tanya seorang pria dari sebrang.


"Bekerja.." jawab Ana singkat.


"Kenapa tiba-tiba sekali??" Celetuk Ana kaget.


"Memangnya kenapa? Kau itu tunanganku.. bukankah aku boleh menemuimu kapan saja??" Timpalnya dengan nada menuntut.


Tak lama, dengar suara ketukan pintu, dan benar saja, Franz muncul dari balik pintu, ia tampak membawa sebuket besar bunga mawar merah. Ia tampak langsung melirik ke arah Louis yang duduk di sofa sebrang Ana.


"Kau ada tamu?" Tanyanya dengan nada tidak senang.


"Hmm.." angguk Ana tanpa berkomentar.


Franz tampak menyodorkan bunga itu dan duduk tepat di samping Ana. Ana hanya menerima bunga itu dengan wajah malas dan meletakkannya di meja.


"Ah.. bukankah kau si artis itu? Kau datang ke acara ulang tahun Ana kan??" Tukas Franz memulai percakapan.


"Iya.." angguk Louis canggung.


"Akhirnya kita bisa bertemu seperti ini.. kalian tampak akrab.." imbuhnya lagi.


"Kami hanya rekan kerja biasa.. tidak lebih.." sela Ana dingin. "Ada apa kau kemari? Aku akan ada meeting sebentar lagi.." tambah Ana ketus.


Louis dapat menangkap sinyal bahwa ia ingin mengusir Franz.

__ADS_1


"Aku sangat suka jika kau bersikap dingin seperti ini.. sejujurnya itu yang membuatku sangat menyukainya.. dia sangat berbeda bukan?" Franz tampak ingin membuat Louis cemburu.


Louis menatap Ana yang tampak risih dan biasa saja sambil tersenyum jijik.


"Hei.. mana cincinmu?" Tanya Franz mengejutkan Ana yang baru sadar bahwa ia meninggalkan cincinnya di atas meja kamarnya.


Karena Ana memang selalu melepasnya.


"Sepertinya tertinggal di kamar mandi.." jawab Ana bohong.


"Kenapa kau melepasnya?" Tanya nya dengan nada menuntut.


"Aku takut menghilangkannya.." jawab Ana enggan.


"Jika kau menghilangkannya 10 kali pun.. aku masih sanggup menggantikannya.. yang penting selalu kau kenakan.." timpalnya dengan nada kesal.


"Baiklah.. sekarang pergilah.. aku ada meeting.." usir Ana sambil melirik jam tangannya.


Franz tampak ingin pamit. Namun ia menoleh ke arah Louis yang masih tampak duduk santai disana.


"Bukankah kau juga harus pergi?" Tanya Franz dengan nada dingin.


"Dia akan tetap disini, kami ada meeting dengan tim yang lain.." timpal Ana sebelum Louis sempat menjawab.


"Oh.." angguk Franz pelan. "Kau tau aku sangat mudah cemburu bukan?" Tambah Franz lagi menatap Ana sinis sambil membelai rambut Ana, turun ke pundak dan menghentikan  tangannya di pundak Ana, Franz tampak memberikan sedikit cengkraman pada pundak Ana dengan tatapan mengancan, membuat Ana meliriknya sinis dan dingin.


"Kau tau aku tidak suka ada pria lain yang menatapmu dengan tatapan penuh harap.." celetuknya setengah berbisik sambil melirik ke arah Louis yang menatapnya sinis karena melihat tangan Franz mencengkram pundak Ana.


Ana menangkup tangan Franz dan meremasnya lalu memelintir tangan itu hingga Franz tampak cukup kesakitan.


"Jangan pernah mengancamku.." tukas Ana lirih tersenyum dingin.


Franz yang tampak kesakitan justru tampak menikmatinya. "Itu kenapa aku sangat menyukaimu Ana.. karena kita sama punya kepribadian yang sama.." timpalnya terkekeh.


"Pergilah.." seru Ana menghempaskan tangan Franz.


Franz hanya tersenyum sinis sambil memegangi pergelangan tangannya lalu segera pergi.


Ana segera menelepon Pak Kim untuk masuk ke ruangannya.


"Ada apa Ms.Grey??" Tanya Pak Kim yang segera datang ke ruangan Ana.


"Tolong buang ini.." tukas Ana menyodorkan bunga dari Franz.


Pak Kim tampak melirik sekilas ke arah Louis yang terpaku menatap Ana dengan tatapan kosong.


"Baik Ms.Grey.." angguk Pak Kim segera membawa bunga itu keluar.

__ADS_1


__ADS_2