Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 101 : Penyerangan di Kantor Polisi


__ADS_3

Setibanya di kantor polisi, suasana tampak gaduh. Ada ambulance dan pintu masuk di jaga ketat. Louis segera mengenakan masker dan topi hitam, ia segera keluar dari mobil sambil membantu Pak Kim yang kesulitan. Ternyata disana ada Albert, ia segera mengenali Pak Kim, lalu menghampiri mereka.


"Apa apartment itu milik Ana??" Tanyanya khawatir.


"Iya.." angguk Pak Kim segera di papah masuk ke dalam.


Di dalam banyak polisi yang mengalami luka tembak, darah pun berceceran di lantai bahkan menyiprat di dinding. Untungnya tidak ada polisi yang tewas, penyusup memang hanya melumpuhkan polisi polisi itu, mereka menembak polisi di bagian paha dan lengan.


Hiruk pikuk terjadi membuat Louis semakin mengkhawatirkan Ana.


Reporter juga banyak berada di luar kantor polisi itu, namun Albert berhasil membawa Pak Kim dan Louis masuk tanpa hambatan.


"Mayatnya masih di dalam ruang interogasi.. mari ikut aku.." ujar Albert membimbing Louis dan Pak Kim masuk ke ruang interogasi yang di jaga ketat.


"Siapa yang menembaknya??" Tanya Louis ngeri melihat mayat penjahat itu, ternyata ia ditembak di bagian kepala, kepala bagian kanannya terdapat lubang cukup besar akibat peluru yang menembus kepalanya dan menancap ke dinding di belakangnya.


"Yang pasti mereka sangat profesional.. bahkan senjata yang mereka gunakan bukan berasal dari negara ini.."


Pak Kim hanya memandangi dengan seksama mayat itu.


"Apa anda mengenalnya Pak Kim??" Tanya Albert penasaran.


"Aku tidak yakin.." gelengnya tampak ragu.


Louis yang ikut melihat pria itu tersadar akan sesuatu. Namun ia tak bisa mengatakannya disana, itu pasti akan sedikit menyulitkan jika ia harus menjadi saksi. Pak Dong dan Pak Kim sudah mengingatkannya untuk tidak mengatakan apapun saat disana meski ia tau sesuatu.


Pak Kim yang menangkap ekspresi Louis segera mengajaknya keluar.


"Anda tampak tidak nyaman.. mari kita keluar Tuan Louis.." ujar Pak Kim serambi memberi kode pada gerakan kepalanya.


"Ah.. i.. iya.. aku merasa sedikit mual melihatnya.." ujar Louis paham dengan kode itu.


Mereka segera keluar di ikuti Albert di belakangnya.


"Reporter sedang menunggu di luar sana untuk berita ini.. apa Ana baik baik saja?" Tanya Albert cemas.


"Tentu.. dia sedang dalam perjalanan bisnis keluar negeri.."


"Benarkah?? Syukurlah jika dia baik-baik saja.." ujar Albert lega.


"Tolong bantu saya untuk tidak mempublish nya ke media dulu.. karena.. Ms.Grey belum tau soal ini.."

__ADS_1


"Kenapa anda belum memberitahunya??"


"Dia.. sedang mengalami masa sulit saat ini.. dia sedang banyak pikiran karena beberapa proyek.. jadi saya berencana untuk tidak memberitahunya terlebih dahulu.." jelas Pak Kim gugup.


"Benarkah?? Apa perusahaannya sedang bermasalah??" Tanya Albert khawatir.


"Tidak juga.. maksudku.. hanya ada beberapa proyek yang perlu ia selesaikan segera agar tidak menimbulkan masalah.."


Louis mendengar ucapan itu tampak curiga dengan Pak Kim yang berbicara dengan sangat hati-hati. Dia seakan-akan berusaha agar tidak salah ucap.


"Semoga masalahnya segera selesai.. aku akan memberi tahu atasanku untuk merahasiakan siapa korbannya terlebih dahulu.. serahkan saja masalah ini padaku Pak Kim.. aku akan menanganinya.. tapi.. aku akan memerlukanmu lagi nanti jika ada butuh keterangan tambahan lainnya dari saksi.." seru Albert meyakinkan.


"Tentu saja.. hubungi saya kapan saja.." Pak Kim tampak mengeluarkan kartu namanya.


"Ini kartu nama saya.. saya sudah menyimpan nomor ponsel anda sebelumnya Tuan.. tapi mungkin anda yang belum memiliki nomor ponsel saya.." ujar Pak Kim ramah.


"Kalau begitu kalian harus segera pergi, sebelum ada reporter yang mengenali kalian berdua.. terutama kau Louis.. jangan sampai kau terkena masalah seperti ini.."


"Iya.. kami akan segera pergi.." jawab Louis cepat.


"Aku yakin kau keluar secara paksa dari rumah sakit Pak Kim.. jadi sekarang, kembalilah ke rumah sakit.. istirahatlah Pak Kim.. kondisimu masih sangat buruk.. lagipula ini sudah sangat larut.."


"Baik Tuan.."


"Terima kasih Tuan Albert.."


****


Selama di perjalanan kembali ke rumah sakit, Pak Kim maupun Louis hanya saling terdiam.


"Apa anda sudah mengingat siapa pelaku itu Tuan??" Tanya Pak Kim memecahkan kesunyian, ketika ia ingat bahwa saat di kantor polisi tadi Louis tampak mengingat sesuatu.


"Aku sudah mengingatnya.. aku.. pernah melihatnya.." ujar Louis yakin.


"Benarkah?? Dimana??"


"Apa anda ingat bodyguard Ana yang bernama B1???"


"Ah.. iya saya ingat.. sudah lama saya tidak pernah melihatnya.."


"Itu salah satu anak buahnya.. aku pernah melihatnya.." Louis pernah melihat pria itu di basecamp Ana waktu pertama kali ia kesana dulu.

__ADS_1


"Apa mereka mengkhianati Ms.Grey??" Tebak Pak Kim.


Lalu Louis teringat pesan yang ia baca di ponsel Ana. Lalu ia menepikan mobilnya dan berhenti disana.


"Aku ingat sekarang.. apa anda membawa ponsel Ms.Grey???" Tanya Louis segera.


"Tidak.. itu ada di mobilku.. ada apa Tuan??"


"Aku.. tidak sengaja membaca pesan di ponsel Ana dari seseorang.. aku lupa namanya.. namun ia memang mengatakan hal semacam mereka membunuh anak buahnya dan B1 mengkhianati Ana.." jelas Louis mencoba mengingat ingat isi pesan itu.


"Apa??" Pak Kim terdiam mencoba berpikir.


"Jadi benar kalau dia memang mengkhianati Ms.Grey.."


"Ana benar-benar dalam bahaya Pak Kim.. bagaimana jika mereka mencari Ana dan menyakitinya.." Louis semakin khawatir.


"Mereka tidak akan bisa menemukannya.." gumam Pak Kim lirih.


"Kenapa anda begitu yakin??" Tanya Louis penasaran.


"Ah.. karena dia kan sedang tidak ada disini.. mereka pasti tidak bisa menemukannya.." jelas Pak Kim mencoba meyakinkan Louis yang tampak curiga padanya.


"Baiklah.. aku akan mengantarmu kembali ke rumah sakit.."


"Bisakah mengantarku ke apartment Ms.Grey dulu?? Saya ingin mengambil barang barang yang ada di mobil.." pinta Pak Kim.


"Baiklah Pak Kim.." Louis kembali menyetir.


Tak lama ponsel Pak Kim bergetar.


Ia lama menatap layar ponsel itu. Panggilan pertama ia mengabaikannya. Hingga panggilan kedua ia mulai merasa panik, sesekali mencuri pandang pada Louis. Ia tampak ragu untuk mengangkatnya.


Ia bahkan berpikir kalau kalau Ana sudah tau kejadian itu. Ia segera mengangkat panggilan itu.


"Pak Kim.. ini aku.." seru Ana dari seberang. Ternyata ia sedang menelepon Pak Kim dengan ponsel Dokter nya yaitu Dokter Nam.


"Ah.. iya Ms.Grey.. sa..saya masih ada sedikit pekerjaan.." ujar Pak Kim bohong.


"Benarkah?? Kau masih di kantor?? Tapi ini sudah sangat larut.. Aku tidak bisa tidur dan merasa sangat bosan.. kapan kau akan datang kemari??" Tanya Ana merengek.


Louis yang mendengar obrolan Pak Kim menatap ke arah depan pura-pura acuh sambil berusaha menguping. Ia berpikir bagaimana Ana menghubungi Pak Kim, padahal ponselnya masih ada dengan Pak Kim.

__ADS_1


'Ah.. pasti dia sudah beli ponsel baru..' gumam Louis membatin.


"Saya mungkin akan bermalam di kantor Ms.Grey.. maaf mungkin saya.." Pak Kim tidak lagi melanjutkan ucapannya. Ia awalnya ingin mengatakan bahwa ia tidak bisa ke rumah sakit malam itu karena kondisinya, namun ia mengingat jika saat itu ia sedang bersama Louis.


__ADS_2