Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 33 : Api Cemburu


__ADS_3

Tak terasa mereka sudah berada disana selama 3 jam lamanya. Ana menerima telepon dari Pak Kim. Dan ia mau tidak mau harus segera kembali ke kantor karena ada client mereka yang ingin bertemu karena ada keperluan yang mendesak. Albert (Lucas) akan mengantar Bibi Layla pulang ke mansion. Sementara Ana akan segera kembali ke kantor. Saat hendak keluar dari restaurant Ana tertegun melihat sosok yang ia kenal berdiri di dekat pintu keluar bersama wanita pemilik restaurant. Mata mereka bertemu. Louis yakin saat ini suasana hati Ana sangat baik. Dapat dilihat dari raut wajahnya yang ceria dan tenang.


"Kita bertemu disini.." sapa Louis canggung.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Ana ramah, membuat Louis terpesona dengan senyum hangat Ana.


"Aku baik.." angguknya cepat. Louis beralih pandangannya pada Albert cukup lama dengan tatapan sinisnya, lalu ke arah Bibi Layla yang melambaikan tangannya terpukau dengan ketampanan Louis.


"Hai Bibi.." sapa Louis ramah pada Bibi Layla.


"Kau semakin tampan saja.." puji Bibi Layla salah tingkah.


"Tentu saja Bi.. aku harus bisa menjaga kesempurnaanku sebaik mungkin.." celetuknya sombong.


Mereka tertawa geli melihat tingkah Louis.


"Terima kasih sudah berkunjung kesini Ms.Grey.. suatu kehormatan untuk saya.." seru wanita pemilik restaurant bangga.


"Terima kasih kembali Bi.. makanan disini sangat enak.. aku akan kembali lain waktu.." senyum Ana hangat.


"Baiklah kalau begitu.. aku akan segera mengantar Bibi pulang.. cuaca semakin dingin.. telepon aku jika kau merindukanku.." goda Albert genit mengedipkan sebelah matanya pada Ana.


"Tentu saja.. aku akan mengirim banyak pesan untukmu.." sahut Ana terkekeh.


Seketika hal itu membuat Louis bergidik ngeri.


"Ana.." seru Louis tiba-tiba meraih pergelangan tangan Ana, mengegetkan semua orang yang melihatnya.


"Hmm..apa kau punya waktu?" Tambahnya lagi kali ini tanpa ragu.


"Aku harus segera kembali ke kantor sekarang.. Pak Kim meneleponku karena ada hal yang mendesak.." jelas Ana bingung melirik ke arah tangannya yang di cengkram Louis.


Louis segera melepas cengkraman itu dengan wajah yang tampak kecewa, ia hanya terdiam.


"Bagaimana kalau kita bertemu malam ini.. ada yang ingin aku katakan padamu.." imbuh Ana lagi.


Sontak Louis kaget dengan ajakan Ana. Ia ingat sekali beberapa waktu lalu Ana sangat dingin padanya.


"Baiklah..mari kita bertemu malam ini.. aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu.." jawabnya bersemangat.


"Baiklah.. aku pamit dulu.. sampai jumpa semua.." Ana berpamitan dengan semua lalu ia segera memeluk hangat Albert dan mengecup hangat pipinya. "Sampai jumpa.." Ana lagi-lagi memberikan senyum terbaiknya pada Albert.


Seakan terbakar api cemburu Louis bergidik ngeri melihat ke arah Albert dengan tatapan kesal. Wanita pemilik restaurant yang ternyata adalah ibu Louis tampak tersenyum geli melihat tingkah putranya.

__ADS_1


***


"Jadi.. Ms.Grey wanita yang kau bicarakan itu??" Timpal ibu Louis menggoda.


"Ha? Apanya??" Celetuk Louis canggung. Ia tau ibunya pasti sadar dengan tingkahnya.


"Ms.Grey.. deskripsimu tadi malam memang sangat mirip dengannya.." imbuh ibunya tersenyum.


"Ah.. entahlah.. aku bingung dengan perasaanku.." jawab Louis ragu-ragu. "Apa menurut ibu aku boleh menginginkannya?"


"Tentu saja.. kau putraku paling sempurna dan baik hati.. tentu saja kau boleh menginginkan dan memilikinya.." seru ibunya memberi semangat.


"Tapi pria tadi membuatku cemburu.. siapa kira-kira dia?" Gumam Louis berpikir keras.


"Yang aku tau dia sering datang kesini.. dia seorang detektif.. dan dia baru saja pindah kemari.. dia juga tinggal tidak jauh dari sini.." jelas ibunya mengingat-ingat.


"Ahh.. polisi? Bukankah Ana anti sekali dengan polisi.. tapi dia malah berkencan dengan polisi itu.." gerutunya dalam hati.


"Mungkin mereka terlihat seperti pasangan yang serasi.. tapi aku melihat itu hanya seperti hubungan antara kerabat atau keluarga.." tukas ibunya menerka-nerka.


"Tapi apa ibu lihat bagaimana ekspresi Ana?? Ia tampak sangat bahagia dan ceria.. dan membuatnya tampak sangat cantik.." mata Louis berbinar ketika membahas tentang Ana.


"Kau begitu menyukainya? Lihatlah matamu itu.. kau seperti seekor kucing yang menggemaskan.." goda ibunya terkekeh.


***


"Aku tidak menyangka kau akan datang malam ini.." seru Louis semangat setelah mereka memesan menu makan malamnya.


"Aku sudah berjanji.. dan aku akan selalu menepati janjiku.." jawab Ana tersenyum hangat. Pakaiannya saat ini memang masih formal karena ia baru saja selesai lembur dari kantor. "Aku tidak tau ada tempat sebagus ini di tengah kota.." puji Ana memandang ke luar, pemandangan kota malam itu sangat indah karena mereka berada di lantai 25.


"Lain kali aku akan mengajakmu ke tempat bagus lainnya.." timpal Louis tersipu.


"Baiklah.." angguk Ana setuju.


"Aku.."


"Aku ingin minta maaf soal tempo lalu.. seharusnya aku tidak berkata buruk padamu.. tapi aku punya alasan tentang itu.." celetuk Ana memotong perkataan Louis terlebih dahulu.


"Ti..tidak.. kau tidak perlu minta maaf untuk itu.. aku seharusnya yang mengerti batasan-batasan itu.. aku yakin alasanmu pasti tepat.." geleng Louis cepat.


"..." Ana hanya menatapnya diam dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Tatapanmu padaku..selalu saja sulit untuk ku artikan.." gumam Louis lirih menatap Ana lekat-lekat.

__ADS_1


"Memangnya bagaimana tatapanku padamu?" tanya Ana pelan.


"Entahlah, terkadang kau menatapku hangat.. terkadang hanya tatapan kosong.. dan terkadang juga sendu.. apa aku menyulitkanmu??" tanya Louis ragu.


"Tidak.." jawab Ana singkat tidak melepaskan tatapannya sedikitpun dari Louis.


"Lalu??" jantung Louis lagi lagi berdegup kencang.


"Aku selalu ingin tau apa yang kau pikirkan tentang aku.. kau juga sudah tau semua rahasiaku.." kali ini tatapan Ana tampak hangat.


"Kau ingin tau pikiranku tentangmu??" tanya Louis bingung.


Ana hanya mengangguk pelan.


"Kau membuatku tidak berhenti memikirkanmu.. kau membuatku gugup dengan semua tatapan anehmu.. kau.." Louis menghentikan kata-katanya. Ia kesulitan menelan salivanya. Kali ini dia benar-benar bertambah gugup. Ia takut Ana akan kembali marah padanya. "Kau juga sangat galak.. membuatku selalu ketakutan.." timpalnya lagi berusaha mengalihkan kata-kata awalnya.


Ana terkekeh geli. "Kau tau.. sulit untukku terlihat akrab dengan orang lain.."


"Tapi kau tampak sangat akrab dan mesra dengan polisi sial*n itu.." gumam Louis dalam hati sambil menatap Ana tajam.


"Jangan bergumam dalam hati.." celetuk Ana dapat melihat wajah kesal Louis.


Louis tersadar dengan sindiran Ana yang tersenyum simpul.


Pesanan mereka lalu datang bersama sebotol wine mahal pesanan Louis.


"Sini ku tuangkan.." pinta Louis menyodorkan botol wine.


"Aku mengendarai mobil kesini.. aku tidak akan malam ini.." geleng Ana enggan.


"Ahh baiklah.. kalau begitu.. aku saja yang akan meminum ini.. ini sudah dipesan dan tidak dapat di kembalikan.."


"Jangan minum berlebihan.. kau tampak aneh saat mabuk.." goda Ana meneguk segelas air mineral di meja.


Louis hanya tertawa kecil. "Sebenarnya aku tidak mudah mabuk.. hanya saja sàat itu aku sangat lelah.. jadi mudah terpengaruh alkohol.." lukasnya ngeles.


"Benarkah?? Aku tidak yakin soal itu.." angguk Ana dengan nada sedikit meledek.


"Kau meragukanku??" timpal Louis kesal.


"Karena aku sudah melihatnya langsung.. jadi aku yakin akan hal itu.."


"Kau benar benar menyebalkan.." gerutu Louis menenggak wine nya.

__ADS_1


__ADS_2