Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Bab 161 : Sergap


__ADS_3

Malam selanjutnya, tanpa ragu Ana mengemas semua barang-barang di apartment nya. Barang-barangnya sebelumnya masih ada disana, di tutupi dengan pembungkus khusus agar tidak kotor dan rusak. Ana berdiri di depan pintu masuk, ia mematikan skring semua lampu apartmentnya. Kemudian ia tampak mengeluarkan sebuah alat kecil berwarna hitam dari sakunya. Ternyata itu adalah alat pelacak kamera tersembunyi. Ia menelusuri setiap sudut ruang keluarga, hingga ke bawah kolong kursi, meja dan lemari.


Benar saja, di ruangan itu saja ia menemukan 3 kamera tersembunyi, dan 2 buat alat sadap suara. Kemudian ia menuju kamar tidurnya, ruang kerja, kamar tamu, dapur, bahkan di kamar mandi ia mendapatkan 1 buah alat sadap suara. Ia mengumpulkan semuanya dan merendam alat-alat itu ke dalam ember berisi air agar rusak. Setelah itu, memasukkannya ke dalam kantong plastik.


Ana termenung menemukan apa yang ia dapati. Ia berdiri mematung cukup lama memperhatikan benda itu. Ia terus menebak-nebak siapa pelakunya. Ia benar-benar mencurigai banyak orang.


Tok..tok..tok..


Ting..nung..ting..nung..


Suara ketukan pintu dan bel apartment nya berbunyi nyaring. Ana berjalan pelan menuju layar kontrol di sisi dinding menuju pintu. Ia melihat seorang pria berdiri disana. Ia bahkan tak mengenali pria itu. Lampu yang sejak tadi belum ia nyalakan, ia biarkan terus padam. Pria itu tampak kembali mengetuk pintu itu, sebelum akhirnya ia tampak mengeluarkan sebuah kartu kunci yang sama seperti yang di miliki Ana.


Ana segera berlari menuju sofa di ruang keluraga, ia segera mengambil pistolnya yang berada di dalam tas disana. Lalu berlari untuk sembunyi di kamar tidurnya. Ia masuk ke bawah kolong tempat tidurnya.. Ia mengangkat sedikit sisi tempat tidur agar ia bisa masuk ke bawah sana. Ia berdiam diri, mencengkram erat pistolnya. Ia sengaja bersembunyi disana untuk dapat mengetahui siapa penguntit itu. Dan apa yang ingin dia lakukan disana.


Tak lama, Ana mendengar suara pintu yang tengah terbuka. Ia juga mendengar suara langkah kaki seseorang yang samar-samar terdengar dari kolong sana.

__ADS_1


Ia kemudian melihat cahaya senter dari sela daun pintu kamarnya yang tertutup. Cahaya itu tampak mengarah menuju kamar Ana. Pintu kamar itu terbuka pelan, ia dapat mendengar suara orang itu yang terdengar terengah. ia terdengar ketakutan dan panik. Ia tampak menyinari semua sisi ruangan di kamar. Ia bahkan belum menyalakan lampu di apartment Ana.


Kemudian, sosok itu keluar dari kamar, ia berjalan pelan keluar kamar Ana. Setelah mendengar langkah kaki yang telah menjauh, Ana segera keluar dari kolong tempat tidurnya. Ia sudah menarik pelatuk pistolnya perlahan. Ana mengendap-endap keluar kamarnya. Ia melihat sekeliling mencari keberadaan sosok tadi. Ia tampak tengah berada di ruang kerja Ana.


Ana mengatur nafasnya perlahan sesaat sebelum akhirnya menyergap sosok itu. Ana membuka keras pintu ruang kerjanya. Ia segera menodongkan pistolnya ke arah pria yang tampak kebjngungan disana.


"Siapa kau??!!!" bentak Ana menodongkan pistolnya.


Sosok itu ternyata seorang pria, pria itu terkejut saat Ana menerobos masuk. Ia menjatuhkan senternya ke lantai. Bahkan ia tak sanggup melawan.


Lalu entah darimana datangnya, sebuah pisau berhasil ia cengkram di tangannya. Ia menodongkan pisau lipat di tangannya.


"Kau tau kan? Sebelum kau sempat mengayunkan pisau itu padaku, aku sudah bisa melubangi kepalamu dengan gerakan dari telunjukku.." seru Ana mengancam.


Pria itu tampak tak gentar, ia terus mengayun-ayunkan pisaunya tanpa rasa takut. "Kau tidak akan menembakku.. Polisi akan datang kemari karena suara bisingnya.. Bahkan kau akan penasaran denganku.. Kau akan bertanya-tanya kenapa aku ada disini.."

__ADS_1


Ana menyadari jika pistolnya tidak menggunakan pelindung kedap suara. Jika ia menembak pria itu, ia akan langsung di tahan polisi.


"Letakkan senjatamu !! Aku akan memberitahumu hal penting.." bujuk pria itu.


"Siapa kau??" tanya Ana lagi.


"Bukankah seseorang tengah membutuhkan cap milikmu??" serunya.


"Cap?? Cap persetujuanku?? Kau kemari ingin mencuri cap itu??" tanya Ana kaget mendengar pernyataan pria itu.


"Seseorang sangaf membutuhkan cap itu.. Bagaimana kalau kita berpisah baik-baik.. Kau berikan cap itu lalu biarkan aku pergi.. Atau kau tetap menyembunyikan cap itu dan aku akan menghabisimu.."


"Cih.. Kau mengancamku??" tukas Ana sinis. "kau tau?? Kau masuk ke rumah yang salah.." Ana sontak melemparkan pistolnya keras dan mengenai kepala pria itu.


Saat pria itu lengah dan kesakitan, Ana segera menyerangnya. Ana segera memukul wajah pria itu dengan tinjuan kerasnya. Ia memukul pria itu berkali kali.

__ADS_1


__ADS_2