
Louis menatap Ana lekat lekat, sementara Ana terus memasang wajah datar tanpa ekspresi pada Jane.
Jane menyodorkan ponselnya pada Louis.
"Lihatlah itu.. semua foto itu adalah perbuatan gadis sial*n ini.. apa kau yakin akan sanggup menghadapinya??" Ketus Jane sinis.
Louis ternganga melihat foto foto yang ada di ponsel Jane. Ada foto mayat Franz yang mengenaskan, kondisinya babak belur dengan kondisi kaki sebelahnya telah di mutilasi, sementara foto Dominic yang mengenaskan, luka menganga pada lehernya, serta sebagian tubuhnya hangus terbakar, lalu foto terakhir ada foto Fillipe polisi yang di tembak mati oleh Ana. Louis mengembalikan ponsel itu pada Jane dengan tangan gemetar. Ia menelan saliva nya dengan sulit.
"Apa sebenarnya yang kau rencanakan Ana?? Apa kau ingin menyingkirkan semua orang yang menyiksamu di masa lalu dulu?? Apa ini tentang balas dendammu?? Atau hanya untuk kesenangan jiwa psikopat sial*n mu itu hah???!!!" Bentak Jane tepat di depan wajah Ana.
Ana tetap hanya diam membatu tanpa ekspresi apapun.
"Nyonya Jane.. aku mohon hentikan.. mari kita bicarakan baik baik.." pinta Louis memohon dengan suara gemetar.
"Atau jangan jangan kau juga sedang berencana akan membunuhku??" Tanya Jane lirih mengabaikan permohonan Louis.
"Jika memang harus.." timpal Ana lirih.
Jane dan Louis ternganga mendengar jawaban mengejutkan Ana.
"Ana.." ujar Louis lirih.
"Kau bahkan tidak menanyakan alasanku.. kau bahkan tidak bertanya setakut apa aku saat itu.. dan kau tidak pernah sekalipun bertanya apa aku pernah menyesali semua perbuatanku atau tidak.. kau.. kau hanya menilaiku dengan pikiran munafikmu itu.." tukas Ana setengah berteriak.
"Dan kinipun jika harus ku jelaskan semua alasannya padamu itu akan percuma.. karena kau akan lebih memilih untuk mengikuti kata hati munafikmu daripada mendengar semuanya dengan pikiran sehatmu.." tambah Ana lirih.
Pipinya tampak semakin merah setelah di tampar Jane.
Jane kini berdiri membatu di depan Ana dan Louis.
Ana melangkah pelan menabrakkan bahunya dengan bahu Jane ketika melewatinya menuju pintu apartment miliknya.
__ADS_1
Ana menghela nafas panjang.
"Awalnya aku merasa aku sangat menyesal atas semua yang sudah aku lakukan setelah memikirkanmu dan berpikir betapa kecewanya kau jika mengetahuinya.. tapi melihat reaksimu saat ini yang langsung menghakimiku benar benar membuat semua rasa penyesalanku hilang seketika.." Ana membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Jane dan Louis.
"Kini aku merasa sangat menikmatinya.. menyiksa seseorang lalu membunuhnya.. benar benar menyenangkan dan bukan hal yang sulit bagiku.." gumam Ana menyunggingkan senyum tipis nan sinisnya.
Louis seketika bergidik ngeri mendengar ucapan mengerikan Ana.
Ana segera masuk ke dalam apartmentnya mengabaikan Jane dan Louis di luar sana.
****
Ana menutup rapat pintu lalu menguncinya. Ia melempar tas jinjingnya ke sembarang arah,lalu melangkah cepat menuju meja makan yang terbuat dari kaca, Ana mengangkat sisi pinggirnya lalu membalikkan meja itu dengan cara menghempaskannya ke lantai sehingga kaca meja pecah berhamburan, lalu Ana memporak porandakan semua isi rumahnya hingga berantakan. Tanpa ia sadar ia juga telah melukai telapak tangannya hingga darahnya mengalir deras. Ana melihat tangannya yang berdarah, darah itu lalu mengalir melumuri gelang couplenya dengan darah segar.
Sementara di luar apartment Ana.
Setelah pintu apartment Ana tertutup. Terdengar samar samar suara dentuman keras berkali kali dari dalam apartment Ana.
Louis ingin segera membuka pintu Ana, namun Jane menahannya.
"Dia tidak akan pernah melukaiku.." tukas Louis menepis tangan Jane.
"Kau tidak tau bagaimana Ana sebenarnya kan.."
"Aku tau dia dengan baik.. dia wanita yang baik.. aku yakin itu.."
"Setidaknya tidak untuk sekarang.. biarkan dia begini untuk saat ini.. aku rasa kau tidak ingin menambah luka di hatinya kan?? Karena jika kau menghampirinya sekarang.. itu akan membuatnya menjadi lebih tertekan karena harus menahan amarahnya di depanmu.. biarkan saja dia.. dia patut merenungkan perbuatannya.." ujar Jane pelan.
"Aku senang anda sudah berbaikan dengannya karena aku melihat kini dia menjadi lebih hidup bahagia.. tapi sekarang.. bukankah anda sudah menghancurkannya?? Anda menyudutkannya tanpa bertanya terlebih dahulu.. kali ini aku setuju dengan Ana.. seharusnya anda juga mendengar alasannya.. bukan menyudutkannya.. aku tau membunuh itu sangat salah.. tapi dia bukan orang yang akan membunuh tanpa alasan.." Louis segera kembali masuk ke dalam apartment nya meninggalkan Jane.
****
__ADS_1
Pukul 3 dini hari Ana masih terduduk di atas lantai yang di dingin di sudut ruangan apartmentanya. Tatapannya kosong memandang ke luar. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kering serta pucat. Dia terus merutuk dirinya sendiri dalam hati. Dia terus menyalahkan dirinya sendiri. Dan hal yang buruk pun lagi lagi terjadi, kram dan nyeri perutnya melanda dan kali ini benar benar menyiksanya, Ana terkulai ke lantai, terus meringkuk mencengkram perutnya yang terasa sangat menyakitkan. Ia berusaha merangkan meraih tas kerjanya, ia meraih bungkus obat yang diberikan Pak Kim sebelumnya, ia berusaha membuka bungkusan itu namun tak lagi berdaya, Ana mengerang kesakitan, berusaha meraih ponselnya di dalam sakunya, ia menekan lama tombol angka 2 lalu otomatis panggilan tersambung ke Pak Kim. Cukup lama panggilan itu di jawab oleh Pak Kim, hingga di dering terakhir.
"Mr.Grey.." ujarnya lirih dengar suara beratnya.
"Pak.." nafas Ana terengah.
"Ms.Grey.. ada apa??"
"To..long aku.." suara Ana terdengar parau dan nafasnya terengah.
"Ms.Grey.. Ana !!!" Seru Pak Kim di telepon yang tak lagi di jawab.
Pak Kim lantas segera bangkit dari tidurnya, tanpa pikir panjang, ia langsung mengambil sweater tebalnya lalu berlari keluar dari apartment mewahnya menuju parkiran di basement menggunakan lift.
Pak Kim mengendarai mobilnya dengan kencang. Ia terus berusaha tenang dan kembali mencoba menghubungi ponsel Ana namun tak kunjung di angkat.
Jarak apartment Ana dan Pak Kim tidak terlalu jauh, karena sama sama berada di pusat kota dan dekat dengan perusahaan. Setibanya di lobi Pak Kim segera berlari masuk ke dalam menuju lift, meski sempat mengagetkan security yang tengah berjaga, namun ia tetap tak di hentikan, karena penjaga lobi apartment Ana sudah mengenali Pak Kim. Saat lift terbuka Pak Kim segera berlari dan membuka kunci pintu otomatis apartment Ana.
Ia terbelalak kaget melihat kondisi apartment Ana yang porak poranda, ia berlari masuk ke dalam kamar mencari cari Ana dan memanggil manggil namanya. Hingga langkahnya terhenti saat melihat Ana telah terbaring di sudut ruangan dengan posisi meringkuk.
"Ana !!!" Pekiknya panik segera menghampiri Ana, mengguncang bahunya beberapa kali, hingga akhirnya memutuskan untuk langsung menggendong Ana dengan lengan kekarnya, ia segera berlari keluar menuju lift, segera membawa Ana ke rumah sakit.
Pak Kim benar benar hilang akal melihat kondisi Ana saat itu. Ia tidak tau harus berbuat apa. Ia hanya terus menunggu dokter keluar dari ruang ICU. Butuh waktu sangat lama. Ia terus saja gelisah. Hingga akhirnya salah seorang dokter yang biasa menangani Ana keluar darisana, ia bahkan datang kerumah sakit setelah mendapat telepon dari asisten perawatnya jika Ana dalam kondisi kritis.
"Bagaimana dokter??" Tanya Pak Kim segera menghampiri dokter itu dengan panik.
"Ini benar benar buruk.. dia harus menjalani pengobatan ekstra.." geleng dokter dengan raut wajah penuh kecemasan.
"Apa yang terjadi??" Tanya Pak Kim bingung dengan kondisi Ana.
"Infeksi dari luka diperutnya semakin memburuk, ditambah kanker hati yang dia miliki itu semakin parah.. bahkan operasi tidak bisa banyak membantu.. dia benar benar harus menjalani pengobatan ekstra.. kemoterapi dan lainnya.."
__ADS_1
"Apa?? Kanker??" Pak Kim tercengang mendengar perkataan dokter itu.
"Ms.Grey meminta saya untuk merahasiakan ini dari siapapun.. bahkan saat anda meminta resep untuk obat beberapa waktu lalu, saya terpaksa berbohong mengatakan bahwa itu hanya obat untuk infeksi lukanya.. namun itu semua adalah obat untuk penyakit kanker.." jelas dokter itu lagi.