
Kelima orang itu di buat takjub dengan sikap Ana yang tak acuh pada mereka. Bahkan ia mengabaikan pertanyaan para wanita itu. Seseorang dengan tubuh tinggi berisi mendekati Ana dengan berani. Ia berdiri tepat di depan Ana.
"Hei !! Apa kau tuli??" gumamnya menggeram.
Ana tak bergeming. Ia tetap fokus pada bukunya.
Sreeetttt..
Buku itu di rampas paksa olehnya. Membuat Ana berdecak pelan. Wanita itu tampak berkacak pinggang seraya menatap Ana dengan sombong. Ana menghela nafas pelan.
"Apa ini bagian dari rencana mereka? Menyiksaku di dalam penjara ini??" batin Ana.
"Pergilah.. Jangan ganggu aku.." tukas Ana bangkit dari duduknya. Kini ia berdiri berhadapan dengan wanita itu.
"Hahaha.. Kau bernyali juga rupanya.." tukasnya tertawa.
"Kembalikan buku itu, aku harus mengembalikannya setelah selesai membaca.." pinta Ana menengadahkan tangan kanannya.
"Hahaha.. Dasar jal*ng gila.. Kini dia bersikap sangat berani.." hardik wanita itu mencemoohnya.
"Aku tidak ingin membuat keributan apapun.. Jadi kembalikan buku itu maka aku tidak akan mempedulikan kalian.."
"Hahaha.. Hei anak baru.. Kau harusnya sadar diri posisimu.. Apa kau tidak tau?? Aku yang terkuat disini.. dan belum ada yang berani melawanku.." gumamnya mengancam.
__ADS_1
"Ah.. Jadi kau seperti bos disini?? Begitukah?? Lalu.. Memangnya kenapa?? Kau pikir aku akan peduli?" celetuk Ana dingin.
Wanita itu menyeringai kesal. Ia melihat ke arah ke empat temannya seraya memberi kode. 2 di antaranya tampak mendekat dan segera memegangi kedua tangan Ana. 2 lainnya berdiri menutipi jendela dan pintu sel. Sementara Ana melihat keduanya tanpa melawan. Kali ini ia akan mengikuti keinginan mereka. Ia masuk ke dalam penjara dan ia akan menerima semua permainan mereka, sebelum akhirnya ia membalas mereka tanpa ampun.
Bukkk..
Kepalan tinju wanita itu mendarat tepat di perut Ana. Ana mengerang pelan, pukulan itu terasa tidak terlalu buruk. Ana menyeringai tipis. Melihat ekspresi itu, wanita itu kembali memukul perut Ana lebih keras. Ana justru tertawa terbahak-bahak. Kelima orang itu tampak kebingungan.
Merasa kesal, wanita itu melayangkan kepalan tangan kanannya menghantam ragang Ana hingga mulutnya mengeluarkan sedikit darah. Ana tak bereaksi apapun maupun melawan, ia justru terus tertawa. Hingga akhirnya suara nyaring peluit menggema di lorong sel.
3 orang petugas tampak berlarian masuk ke dalam sel mereka. Petugas itu tampak segera melerai pengeroyokan itu. Mereka membantu Ana bangkit. Kelima napi itu di suruh berdiri berbaris menghadap dinding, petugas yang satunya melayangkan pukulan keras ke arah belakang kedua betis mereka masing-masing. Ana di seret kedua petugas lainnya untuk di pindahkan ke sel lainnya.
Kini Ana di masukkan ke dalam sel isolasi. Ia di asingkan disana, karena petugas yakin, jika ia akan jadi sasaran empuk jika di gabung dengan napi lainnya.
Louis duduk termangu di sebuah ruang yang dingin. Tak lama seseorang masuk ke dalam ruangan itu. Lucas tampak membawa 2 buah cangkir berisi kopi panas.
"Maaf lama menunggu.." ujarnya seraya menyodorkan secangkir kopi.
"Tidak apa-apa.." geleng Louis sungkan.
"Jadi.. Ada apa kau ingin menemuiku??" tanya Lucas basa-basi.
"Aku rasa anda sudah tau tujuanku datang kemari.." jawab Louis tegas.
__ADS_1
Louis tampak mengangguk pelan. "Aku hanya bisa bilang, jika tidak ada yang bisa aku lakukan untuknya saat ini.." jawab Lucas tertunduk.
"Apa anda menyerah padanya?" Mata Louis tampak memerah.
"Aku tidak menyerah padanya.. Tapi saat ini memang belum ada jalan keluarnya.. Ia mengakui semuanya.. Dan bahkan ia menolak untuk di dampingi pengacara manapun.." jelas Lucas membela diri.
"Apa anda sudah mencoba membujuknya?"
"Bahkan ia enggan berbicara padaku.. Dia bertingkah seolah tidak mengenalku.."
"Aku ingin bertemu dengannya.." pinta Louis terdengar memohon.
"..." Lucas menatap Louis tidak yakin.
"Aku mohon.. Aku akan bicara dengannya.." pinta Louis memohon.
"2 hari lagi aku akan berkunjung kesana dengan pengacara dari pengadilan.. Kau bisa ikut bersamaku.." saran Lucas pasrah.
"Baiklah.. Terima kasih.." angguk Louis cepat.
Perasaannya tidak karuan. Khawatir, sedih, marah, gelisah, rindu, kalut menjadi satu.
...****************...
__ADS_1
Hai aku kembali !!!!!!!!!!!! aku akan segera menyelesaikan novel ini dengan tuntas !! maafkan aku !!