Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Bab 206


__ADS_3

Setelah selesai di panti asuhan. Ana bergegas pulang. Ia berniat menemui dokter klinik tersebut. Setibanya di sana. Ana segera memberikan wanita itu sebuah amplop berisikan uang tunaik sebesar 20 juta.


"Terima kasih anda menyelamatkan bayiku.." ujar Ana tulus seraya menyodorkan amplop tersebut.


"Aku hanya melakukan yang seharusnya.. aku tidak mau kau menyesalinya suatu hari nanti.." ujarnya.


"Terimalah ini.. Ini tidak sebanding dengan rasa terima kasih dan syukurku.. Maka dari itu.. Anda bisa meminta berapapun yang anda butuhkan sebagai balasannya.."


"Tidak perlu Nona.. Ini memang sudah tugasku.. Anda tidak perlu memberikanku ini.." tolaknya sopan.


"Terimalah.. Jangan tolak pemberianku.." imbuh Ana mendorong amplop itu.


"Baiklah.. tapi aku akan menyumbangkannya.." angguk wanita itu pelan.


"Terima kasih.. jangan lupa untuk memberitahu aku jika anda butuh sesuatu atau apapun itu.."


...****************...


Louis, Simon CEO agensi, Pak Dong sang manager dan Pak Kim, saat ini tengah berada dalam meeting room Grey World. Mereka hendak membicarakan hal penting.


"Jadi.. Ada apa Pak Kim?? Anda tampak sangat serius.." ujar Simon hati-hati.


"Aku ingin membahas tentang kontrak kerja sama kita.." jelas Pak Kim gugup.


"Kontrak kita?? Ada apa Pak Kim?? apa ada masalah? Atau anda sudah sangat tidak sabar untuk memperpanjangnya??" goda Simon bercanda.


"Tidak.. Aku ingin mengakhirinya.." ujar Pak Kim lugas.


"A.. Apa??" simon terbata-bata. Louis tampak sangat terkejut.


"Perusahaan sedang mengalami sedikit kesulitan.. Kami akan menjual saham kami di agensi kalian.." jelas Pak Kim lagi.


"Apa Ana yang menyuruhnya??" timpal Louis dengan mata berkaca-kaca.


"Apa Ms. Grey tau soal ini??" tanya Simon bingung.


"Tidak.. Bahkan dia sudah tidak terlibat dengan perusahaan ini.. Dia memang pemilik perusahaan ini, tapi ia sudah tidak terlibat dalam hal apapun yang menyangkut Grey World.."


"Bagaimana bisa?? Bukankah itu aneh?? Dia memiliki perusahaan ini, tapi kalian tidak mendengar pendapatnya??"


"Karena kini akulah Pimpinan perusahaan ini.. Aku yang menentukan segalanya.." jelas Pak Kim tegas.


Ketiganya terdiam. Pak Kim kemudian menyodorkan sebuah map berisi pembatalan kontrak serta pembayaran loyalti 2 kali lipat dari biaya ganti rugi seharusnya.

__ADS_1


"Cih.. Bahkan kalian berusaha sangat keras untuk menghentikan kami dengan tawaran uang ganti rugi ini.." celetuk Simon kesal.


"Aku tidak setuju.." seru Louis keras.


"Aku tidak butuh persetujuan kalian untuk menyetujui keputusan kami.." timpal Pak Kim dingin.


"Pak Kim.. Apa ini karena makan malam kemarin??" tebak Louis.


"Maaf Tuan Louis.. Aku bukan tipikal orang yang mencampur aduk urusan pribadi dengan pekerjaan.. Lagipula aku tidak terlibat dengan kehidupan pribadi anda.. Jadi jangan memberi spekilasi yang tidak-tidak.. Semua keputusan ini murni karena perusahaan kami sedang dalam pembenahan.." jelas Pak Kim lagi.


"Ana tidak akan setuju soal ini.. Dia akan marah jika tau anda melakukan ini pada kami.." gumam Louis sedih.


"Bahkan aku berani yakin jika ia akan sependapat denganku.." imbuh Pak Kim menyodorkan map itu lebih dekat ke arah mereka bertiga.


Simon berdecak kesal. Ia tak puas dengan jawaban dan keputusan Pak Kim selaku perwakilan perusahaan.


...----------------...


"Apa dia memang semenyebalkan itu??" seru Simon di dalam mobil dengan kesal.


"Maaf, ini pasti karena aku.." gumam Louis lirih.


"Kenapa kau bicara seperti itu.. Lagipula kita tidak akan rugi apapun.. Kau sangat terkenal sekarang, akan banyak perusahaan besar yang akan mensponsori agensi kita.. mereka yang akan rugi karena membuang kita seperti ini.." umpat Simon benar-benar kesal.


Louis dan Pak Dong hanya saling berdiam diri.


...----------------...


Pak Kim segera menghubungi Jane.


"Aku sudah membereskan agensi Louis.." ujar Pak Kim lirih.


"Baiklah.. Mari lekas kita bereskan.." ujar Jane hati-hati.


"Apa yang ingin kau bereskan??" seru Ana tiba-tiba muncul dari arah belakang. Jane tengah menunggu Ana di lobi hotel. Ana memintanya datang untuk menemuinya.


"Ah.. Bukan apa-apa.." geleng Jane segera mengakhiri panggilannya.


"Ada apa kau memanggilku??" tanya Jane segera menyimpan ponselnya.


"Mari kita bicara sambil makan malam.." ajak Ana menuju resto hotel.


Mereka memesan 2 paket menu steak dan sebotol wine mahal. Sementara Ana memesan orange juice untuknya.

__ADS_1


"Kenapa kau tiba-tiba memesan orange juice?" tanya Jane heran.


"Pencernaanku sedang terganggu.." jawab Ana pelan.


"Jadi.. Ada apa??"


"Apa kau yakin semua akan baik-baik saja jika aku menikah??"


"Kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran?? Apa kau sakit??" tanya jane khawatir.


"Tidak.." geleng ana cepat.


"Mari kita lupakan soal Layla.. Aku akan mencoba sekuat tenaga untuk melupakan wanita sialan itu.. Aku akan berusaha.."


"Ana.. Ada apa??" Jane benar benar sangat khawatir.


"Aku sangat ingin hidup normal dan hidup dengan baik.." sontak isak tangis Ana pecah. Ia menangis terisak. Hormonnya benar benar kacau balau. Ia kini menjadi sangat cengeng.


"Ana.." Janr turut iba melihat Ana saat ini.


"Aku bahkan tidak tau apa yang aku inginkam sebenarnya.. Aku benar benar kehilangan akalku.." isaknya lagi.


"Aku akan membantumu.. Mari kita pindah dari negara ini.. Aku akan mencarikan tempat baru yang lebih baik dan nyaman untukmu.. Kau bisa tinggal di sana dengan tenang.. Aku sudah berjanji padamu.. Aku akan membuat kau hidup dengan baik.. Aku akan menebus semua dosaku padamu.. Aku akan pastikan kau hidup bahagia Ana.." ucap Jane tulus.


"Aku akan menikahi Louis.." ujar Ana tiba-tiba.


"Louis?? Kau yakin?? Setelah kau berkata seperti kemarin di depan orang tuanya?? Bukankah mereka sekarang pasti akan sangat membencimu??"


"Benarkah?? Lalu siapa yang harus aku nikahi??" tanya ana polos.


"Kau benar benar ingin menikah??" tanya Jane masih tak percaya.


"Hmm.. Dan aku hanya mau dengan Louis.."


"Aku bisa menjodohkanmu dengan yang lebih baik dari Louis.."


"Tidak.. Aku hanya akan menikahinya.." tukas Ana tegas penuh penekanan.


Jane ternganga. Ia tak mengerti dengan tingkah Ana yang sangat aneh ini. ia bahkan tak sanggup berkata-kata lagi.


Irene tersipu malu saat mendengar obrolan Ana dan Jane. Ia tak sengaja mendengar obrolan itu saat ia sedang berkeliling mengontrol dan memantau kondisi dan situasi di hotel malam itu.


Ia merasa sangat senang dengan ucapan Ana. Setidaknya kini kakak laki-lakinya akan segera menikah dengan orang yang sangat ia cintai. Irene tak sabar ingin segera pulang untuk menemui sang kakak dan memberitahunya perihal ini.

__ADS_1


...****************...


... mohon doanya selalu ya 🙏🏼❤...


__ADS_2