
Ana sekarang sudah jarang pulang ke mansion, ia baru saja membeli cash apartment mewah di tengah kota tak jauh dari perusahaannya.
Kini ia selalu pulang kesana sejak ia kembali dari negara L. Bahkan Layla tidak mengetahui itu, ia berpikir Ana menginap di hotel atau berada di kantor seperti biasanya.
Franz juga tak bosan mengirimi nya bunga ke kantor, dan tak bosan juga Ana menyingkirkan semua bunga itu.
Mr.Zhou masih memberikan perkembangan kinerja B1 dan teamnya di negara C.
Ana juga meminta Mr.Zhou mengawasi mereka dan melaporkan jika ada sesuatu yang mencurigakan.
Ana sore itu berencana pulang lebih awal karena ia ingin membeli sesuatu. Hari ini Ibu Louis sedang wberulang tahun, ia mengetahui itu dari Pak Kim, karena Pak Kim bilang Louis waktu itu menitipkan undangan padanya namun karena situasi Ana saat itu tidak memungkinkan menyebabkan ia hanya menitipkan undangan itu pada Pak Kim, acara itu pun dibuat dirumah barunya di kawasan elit tengah kota, Louis sebenarnya sudah lama membeli rumah itu, tapi ibunya enggan untuk pindah kesana, jadi kali ini acara ulang tahun ibunya ia adakan disana berharap ibunya mau pindah kesana bersama sama mereka.
Pulang dari kantor Ana memutuskan singgah ke toko perhiasan sebelum kerumah Louis, Ana memilih 1set kalung berlian beserta cincin dan gelangnya. Itu model terbaru yang limited. Tentu saja harganya sangat sangat fantastis, tapi uang bukanlah hal yang serius untuk Ana. Ana meminta pihak toko membungkus kotak perhiasan dengan apik.
Setelah dari sana Ana segera melaju menuju alamat rumah baru Louis yang ia dapat dari Pak Dong.
Ana memarkirkan mobilnya di depan rumah itu karena pagarnya masih tertutup. Ana melihat lihat kesekeliling sebelum akhirnya memutuskan masuk ke pekarangan rumah Louis.
Dari depan ia langsung di sambut hangat Pak Dong yang baru saja tiba kesana.
"Ms.Grey.. aku tidak menyangka anda akan hadir.. aku dengar anda baru saja pulang dari luar negeri.." serunya kaget segera menghampiri Ana.
Tak lama Louis keluar dari pintu kayu besar berwarna putih itu dengan wajah penasaran setelah mendengar suara Pak Dong yang terdengar heboh.
Louis terpaku melihat Ana yang tengah berdiri di pekarangan rumahnya.
"Apa aku di undang datang kemari??" Seru Ana pada Louis.
"Tentu saja.." angguk Louis cepat senyum merekah.
"Kau tampak tidak senang.." gumam Ana sambil melangkah kedalam.
"Kaulah satu satunya yang aku harapkan hadir saat ini.." celetuk Louis dengan mata berkilau.
"Benarkah?" Tanya Ana menatap Louis intens.
Louis hanya mengangguk, wajahnya memerah dan tersipu malu.
"Aku lapar.." timpal Ana memanyunkan mulutnya.
"Ah.. maaf.. silahkan masuk.. ayah dan ibu pasti sangat senang kau datang kemari.."
"Tentu saja.."
Ibu dan Ayah Louis menyambut Ana hangat. Mereka bergantian memberikan pelukan hangat pada Ana.
"Selamat ulang tahun Bibi.. semoga panjang umur dan dilimpahkan kebahagiaan seumur hidupmu.." ujar Ana hangat.
"Ah.. ini aku tidak tau harus membelikan apa untukmu.." ujar Ana canggung menyodorkan kadonya.
Ibu Louis tampak sungkan dan ragu menerima kado Ana.
"Sudah aku bilang panggil aku ibu.. lagipula kau tidak perlu memberikan apapun untukku.. kau hadir kesini sudah sangat kami nantikan.."
"Aku tidak pernah sempat memberikan kado pada orang tuaku.. setidaknya aku bisa memberikan kado padamu.." mata Ana tampak berkaca kaca.
__ADS_1
"Jadi.. terimalah.. jangan menolaknya.." ujar Ana bersungguh sungguh.
"Baiklah.. aku menerimanya.. terima kasih banyak Ana.." Ibu Louis memeluknya hangat.
"Apa kabarmu? Aku sangat merindukanmu.." Ibu Louis mengusap hangat punggung Ana.
"Kabarku baik Bu.. aku juga merindukanmu.. sudah lama aku tidak datang ke restoran.."
"Kau pasti sangat sibuk.. mari duduk.. kau pasti sangat lelah.." ibu Louis menarik pelan tangan Ana mempersilahkannya duduk di sofa besar berwarna ungu muda.
Louis yang melihat kedekatan Ana dan ibunya membuatnya sangat senang.
"Kenapa kau diam saja? Bawakan makanan itu untuk Ana kemari.." perintah Ayah Louis membuyarkan lamunannya.
"Nak.. kau pasti belum makan kan? Mari kita makan bersama.." tukas Ayah Louis menyodorkan buah buahan.
Ternyata acara itu hanya di meriahkan oleh keluarga dan kerabat dekat saja.
Yg hadir saat itu ada Pak Dong dan Ana saja. Pak Kim datang 2 jam setelahnya karena ia masih ada pekerjaan.
Kini mereka bersama sama duduk di ruang tamu sambil menyantap wine dan sajian buah buahan.
Irene sudah pamit untuk istirahat karena besok ia harus bekerja masuk shift pagi.
Sebelum pulang Irene sempat berbicara empat mata dengan Ana.
"Kakak.. apa kau yang mempromosikan jabatan ku?"
Ana hanya tersenyum simpul.
"Maaf.. aku tidak bermaksud seperti itu.."
"Aku tau kau bermaksud baik kak.. tapi aku merasa tidak enak.."
"Aku lihat kau cukup kompeten, jadi aku harap kau cukup menerima jabatan barumu dan buktikan padaku bahwa kau benar benar pantas mendapatkan jabatan itu, jangan keluhkan bagaimana kau bisa mencapainya.. tapi fokuslah untuk buktikan pada orang yang menindasmu itu bahwa kau pantas mendapatkannya.."
"Bagaimana kakak tau aku di tindas??" Gumam Irene lirih.
"Aku bahkan tau setiap sudut hotel itu.. jadi apa yang tidak aku tau apa saja yang terjadi disana?" Ana memegang kedua pundak Irene hangat.
"Bekerja keraslah.. lakukan yang terbaik.. aku yakin kau tidak akan mengecewakanmu.. lagipula aku lihat kualifikasi pengalamanmu.. kau sangat pintar dan kompeten, aku butuh karyawan yang pekerja keras sepertimu.. Jadi jangan kecewakan aku.. buktikan padaku, kalau aku tidak salah memilihmu.. ok??" Tukas Ana menyemangati Irene yang tampak minder.
"Oke.. baiklah.. aku akan bekerja keras dan tidak akan mengecewakanmu.." kini Irene tampak lebih percaya diri.
"Hati-hati di jalan.. istirahat yang cukup.. jika kau butuh sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungiku.."
"Tentu kak.. aku pulang dulu.. sampai jumpa.." Irene melambaikan tangannya, lalu segera pergi dengan taksi yang sudah di pesannya.
***
Sementara di ruang keluarga..
"Jadi Pak Kim anda belum menikah?" Tanya Ayah Louis.
"Belum Tuan.." geleng Pak Kim hangat.
__ADS_1
"Apa anda punya calon untuknya? Dia orang yang sangat baik, penyayang dan pekerja keras.." timpal Ana terkekeh. Pak Kim tampak tersipu malu.
"Benarkah? Berapa usiamu?" Tanya Ayah Louis serius.
"Tahun ini 38 Tuan.."
"Aishh.. jangan panggil aku Tuan.. kita bicara santai saja.. jangan terlalu kaku.." tukas Ayah Louis kesal.
"Ma..maaf Paman.." angguk Pak Kim canggung.
"Aku punya kerabat yang tengah mencari jodoh untuk putri mereka, awalnya aku ingin menjodohkannya dengan LouisĀ tapi dia selalu saja menolak.." celoteh Ayah Louis yang sebenarnya sudah mulai mabuk.
Seketika Louis, Ana, Ibu Louis dan Pak Kim terbelalak kaget dan saling pandang.
"Aku ini bukan anak kecil.. aku tidak ingin di jodoh jodohkan begitu.. kenalkan pada Pak Kim saja.." timpal Louis kesal.
"Iya.. lagipula Louis pasti sudah punya calonnya sendiri.. dia pasti sudah menyukai seseorang kan?" Sahut ibunya memancing suasana canggung itu.
Ana tampak one-shot wine nya. Louis melihat ke arah Ana dengan tatapan hangat.
"Tentu saja.. aku menyukai seseorang, jadi aku tidak ingin di jodohkan dengan siapapun lagi.."
Ana seketika menoleh ke arah Louis dengan tatapan aneh.
"Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu??" timpal Louis menyudutkan Ana.
"Memangnya ada apa dengan tatapanku??" tukas Ana heran.
"Apa jangan jangan kau menyukaiku?" Seru Louis tiba tiba membuat Ana tersedak. Ia melihat sekeliling, semua orang melihat ke arahnya sambil tertawa geli.
"Bukankah kau yang menyukaiku??" Timpal Ana tersenyum tipis, membalas guyonan Louis.
"Hmm.." angguk Louis yakin.
"Aku memang menyukaimu.. sejak lama.." tukasnya mantap.
Ana tertegun, suasana menjadi canggung, bagaimana bisa Louis mengungkapkan perasaannya di depan kedua orang tuanya dan kerabat yang lain.
Pak Dong yang duduk di samping Louis kaget mendengar itu segera menepuk pundak Louis keras.
"Argh !!" Pekik Louis kesakitan mengusap pundaknya.
"Kau gila?? Kenapa kau mengatakan itu padanya.. dia sudah bertunangan.." seru Pak Dong panik.
"Aku tau dia sudah bertunangan.. dan aku juga tau kalau dia tidak mencintai pria itu.. bukankah itu artinya aku masih punya kesempatan??" Tukas Louis tegas. Ana menatapnya tajam.
"Kau pasti sedang mabuk.." celetuk ibunya segera mencairkan suasanya yang mulai tegang.
"Tidak.. aku bersungguh sungguh.." geleng Louis meyakinkan.
Ana lagi lagi menatapnya dingin.
"Mari kita bicara.." Ana segera bangkit dari duduknya menarik keras pergelangan tangan Louis, hingga ia terseret.
"Kalian mau kemana?" Seru Pak Dong khawatir.
__ADS_1
"Biarkan saja.." timpal Pak Kim tenang. "Mereka perlu untuk saling bicara. "