Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 88 : 'gadis itu'


__ADS_3

Ciiiittttttt..


Jane menginjak rem seketika hingga mobil itu terhenti.


"Jadi kau benar benar ingin menjadi monster seperti yang aku inginkan??" Tanya Jane terengah menahan amarahnya.


"Aku bahkan tidak peduli jika harus mati atau tetap hidup.." ujar Ana lirih.


"Bahkan sudah tidak ada artinya aku mempertahankan hidupku, karena cepat atau lambat aku akan segera mati karena penyakit sial*n ini !!!" Air mata Ana jatuh tak tertahankan lagi.


"Aku benar benar sudah lelah.. lelah untuk terlihat baik baik saja.. lelah untuk menjadi baik baik saja !!!" Ungkap Ana terus berteriak.


"Aku tidak akan membiarkanmu mengacaukan hidupmu lagi Ana.." timpal Jane lirih.


"Seharusnya kau melakukan itu sejak belasan tahun yang lalu.." celetuk Ana menatap Jane dingin.


"Maafkan aku.." sahut Jane menitikkan air matanya.


"Maafkan aku Ana.." ujarnya lagi mulai menangis tersedu sedu.


"Apa kau tau?? Entah kenapa aku tidak pernah bisa memaafkanmu meski aku sudah terus berusaha untuk melakukannya.. penderitaanku.. lukaku.. dendam di hatiku.. semua rasa kebencian itu sudah terbenam hingga membusuk di dalam hatiku.. jadi.. berhentilah meminta maaf padaku.." Ana mengusap kasar air mata yang ada di pipinya.


Jane hanya bisa berusaha menahan tangisnya yang pecah, ia terdengar sesenggukan. Ana membuka pintu mobil itu, lalu segera turun.


"Aku akan jalan kaki dari sini.. aku ingin menjernihkan pikiranku.." ujar Ana segera berlalu.


Ia tidak lagi peduli dengan jarak yang sangat jauh menuju hotelnya, ditambah lagi saat itu masih larut malam, akan sulit menemukan transportasi umum untuk di tumpanginya.


Sementara tangis Jane semakin pecah, ia terus meratapi rasa sesal di hatinya. Ia benar benar merasa bersalah atas kejadian yang menimpa hidup Ana selama ini. Dialah yang memang harus bertanggung jawab atas semua perilaku jahat Ana.


****


------------------------------------


Di rumah sakit waktu itu..


Tok..tok..tok..


Seseorang mengetuk pintu, dari balik pintu tampak seorang dokter beserta dua perawat masuk ke ruang vvip rawat inap Ana.


"Selamat siang Ms.Grey.. bagaimana perasaan anda siang ini??" Sapa dokter itu ramah.


"Sangat membosankan.." gumam Ana malas.


"Tapi anda memang sangat membutuhkan istirahat yang cukup, melihat luka dan memar di tubuhmu.." jelas dokter itu sambil tersenyum ramah.


"Jadi aku sekarang sudah bisa pulang??" Tanya Ana memotong penjelasan dokter itu.


"Hmm.. itu.. anu.. ada hal yang sangat serius yang ingin saya sampaikan.." dokter itu tampak sangat ragu ragu.


"Ada apa lagi??" Tanya Ana ketus.


"Begini.. ada kabar buruk yang harus kami sampaikan.." ujar Dokter itu dengan nada hati hati.


"Ahh.. aku benci sekali harus selalu mendengar kabar buruk.." keluh Ana mendesah kesal.

__ADS_1


"Anda mengalami infeksi pada liver anda.. dan itu sangat berbahaya.. laluu.. kami menemukan bahwa saat ini anda sakit kanker hati stadium 3.. ini yang paling berbahaya Ms.Grey.."


Jane yang berada di sisi tempat tidur Ana seketika terduduk karena shock mendengar kabar buruk itu. Sementara Ana tampak sangat tenang. Ia hanya mengangguk pelan.


"Terima kasih sudah memberi tahuku.." sahut Ana tenang sambil tersenyum simpul.


"Ms.Grey.." dokter tak sanggup berkomentar setelah melihat ekspresi Ana yang sendu.


"Ada beberapa perawatan yang bisa anda lakukan Ms.Grey.."


"Tidak.. terima kasih.. aku tidak akan melakukan perawatan apapun.." geleng Ana mantap.


"Apa yang kau katakan?? Apa kau hanya akan pasrah dengan penyakit ini??" Tukas Jane masig shock.


"Aku akan menganggap ini sebagai hukuman untukku.. setiap malam aku selalu di hantui rasa takut dari masa laluku.. mungkin karena itu masih belum cukup membuatku menderita atas perbuatanku selama ini.. itu sebabnya penyakit itu hadir di tubuhku.. bukankah aku harus menerimanya??"


"Kau benar benar sudah gila???" Celetuk Jane marah.


"Ini tubuhku.. ini hidupku.. kali ini kau tidak bisa ikut campur lagi.." tukas Ana tegas.


"Aku akan memberikan beberapa resep obat untuk meredakan rasa sakitnya.. karena ini pasti akan menyakitkan untuk ke depannya Ms.Grey.." imbuh Dokter menenangkan suasana panas di ruangan Ana.


"Baiklah.. aku akan mengambil resep itu.."


"Kami akan siapkan segera Ms.Grey.."


"Terima kasih.."


"Anda bisa menghubungi saya jika anda berubah pikiran.."


"Ba..baiklah.." dokter dan perawat itu segera berlalu keluar dari ruangan inap Ana.


Jane yang shock hanya ternganga tak sanggup berkata kata.


"Kau benar benar ingin mengakhiri hidupmu?? Kau benar benar ingin mendahuluiku??" Gerutu Jane menggeram.


"Setidaknya kita akan bertemu lagi di neraka.." ujar Ana santai sambil terkekeh.


Jane menepuk nepuk keras kaki Ana dengan kesal, Ana hanya tertawa geli tak memperdulikan kabar buruk yang baru saja ia dengar


"Setidaknya.. mulai sekarang hiduplah dengan baik.. nikmati waktu yang kau punya dengan baik dan bahagia.. lakukan semua yang kau inginkan selama ini.. jangan lagi tahan dirimu.." ujar Jane lirih.


"Aku yang sakit, tapi kau yang terlihat putus asa.."


"Aku tau kau tidak baik baik saja saat ini Ana.. berhentilah bersikap seperti itu !!" Bentak Jane memohon.


"Inilah keahlianku.. apa kau lupa??" Celetuk Ana tenang.


Padahal dalam hatinya bercampur aduk rasa yang ia rasakan, takut, sedih, marah, namun ia tidak tau bagaimana cara melampiaskannya.


"Ahh.. aku benar benar rindu wine.." imbuh Ana menghela nafas keras.


"Dasar gadis gil*.." gerutu Jane kesal dengan sikap Ana.


****

__ADS_1


Kini Ana dan Jane berada di private jet milik mereka, mereka duduk saling berjauhan tanpa saling berbicara satu sama lain. Saat terakhir kali mereka berpisah, Jane mencari Ana sepanjang jalan namun tak melihatnya, Ana kembali ke hotelnya pukul 6 pagi. Ia langsung segera mandi dan berkemas, lalu segera menemui Jane di lobi dan bergegas ke bandara.


12 jam penerbangan tidak terdengar suara mereka satu sama lain. Ana lebih banyak tertidur atau membaca buku, sementara Jane terus berhubungan dengan anak buahnya yang sibuk mengurusi masalah yang timbulkan oleh Ana selama disana.


Sesampainya di bandara negara K, mereka sudah di jemput oleh Pak Kim. Pak Kim segera mengantar Ana ke apartment nya.


"Biar aku antar ke atas.." seru Jane turun dari mobil.


"Pergilah.. aku ingin istirahat.." tukas Ana menghentikan Jane membawa tas bawaannya.


"Biar aku bantu bawa barang2mu.."


"Itu kenapa aku selalu menutup diriku.. aku benci ketika orang orang mengasihaniku.." celetuk Ana sinis.


Jane tak sanggup berkata kata, ia segera melepas genggamannya dari tas Ana.


"Baiklah.. aku pergi.." ujar Jane segera masuk mobil.


Namun Ana tampak menyodorkan sebuah totebag putih kecil ke arahnya sebelum pintu mobil tertutup.


"Apa ini??"


"Ambillah.. ini hadiah gratisan karena aku belanja beberapa barang.." ujar Ana bohong.


"Toko berlian mana yang memberikan gratisan seperti ini.." gumam Jane dalam hati segera mengambil totebag itu.


"Terima kasih.. aku pergi dulu.." Jane segera menutup pintu mobilnya.


Ana segera masuk menuju lift ke lantai atas.


Saat lift terbuka, Ana segera berjalan menuju pintu apartmentnya. Saat akan melekatkan sidik jari jempolnya di gagang pintu, kunci pintu unit di sebrangnya terdengar, lalu pintu itu terbuka.


Ana tertegun melihat gadis muda keluar dari sana sambil tertawa geli.


"Terima kasih banyak jamuan dan bantuannya Lou.. aku akan mampir lagi lain waktu lagi.." seru gadis itu dengan nada manja.


Lalu di susul oleh Louis yang keluar dari sana, ia tampak kaget melihat Ana yang sudah berdiri di seberang depan pintu unit apartmentnya. Ana menatapnya dengan tatapan sendu dan raut wajahnya sulit di artikan.


"Ana.." gumam Louis lirih.


Gadis itu tersadar ketika tatapan Louis teralihkan darinya, ia segera menoleh ke belakangnya.


"Eh.. bukankah anda Ms.Grey??" Serunya tampak mengenali Ana.


"Apa aku mengenalmu??" Tanya Ana dingin.


"Ah.. tidak.. tapi aku cukup mengenalmu.. orang tuaku selalu membicarakan tentangmu saat makan malam.. anda benar benar idola di keluargaku.. dan anda benar benar sangat keren bisa mengelola perusahaan sebesar itu.. keluargaku benar benar mengaggumimu Ms.Grey.." puji Wendy terpesona dengan peson cantik natural Ana.


Ana hanya tersenyum simpul, lalu segera berbalik kembali membuka pintunya, mengabaikan tatapan penasaran Louis dan sapaan 'gadis' itu.


"Hmm.. ada apa dengannya?? Dia tampak pucat sekali.." gumam Wendy lirih.


"Ah.. sebaiknya kau segera pulang.. segeralah istirahat.. sampai jumpa besok di lokasi shooting.." timpal Louis mengalihkan Wendy.


"Ah.. baiklah.. aku pamit dulu.. terima kasih banyak.." Wendy tampak melambaikan tangannya pada Louis lalu segera pergi.

__ADS_1


__ADS_2