
Di tengah perjalanan tiba-tiba ada kemacetan. Ana membuka jendelanya lalu memanggil petugas kepolisian yang tengah berjaga di sana.
"Permisi.. Ada kemacetan apa, Pak?"
"Maaf mengganggu lalu lintas anda, Nona. Di depan ada kecelakaan lalu lintas tunggal," jelasnya sopan.
Ana mengangguk mengerti. "Baiklah, terima kasih, Pak." Ia segera menutup jendela mobilnya.
"Jalanan ini biasanya sangat sepi, pengemudinya pasti mengantuk," gumam Louis lirih.
Tiba-tiba perasaan Ana menjadi tidak enak. Ia kemudian segera melepas safety-belt nya. Lalu keluar dari mobil.
"Ana, kau mau kemana?" seru Louis bingung.
Ana terus berlari menuju tkp. Ia membelalak kaget saat melihat sebuah mobil terbalik dan hancur sangat parah. Ia berusaha melihat plat mobil tersebut.
Deg !
Firasat buruknya benar. Itu mobil Pak Kim.
"Nona, menjauhlah ! Mobil ini bisa meledak kapan saja !" seru petugas mendorong tubuh Ana menghalaunya agar menjauh.
"Itu mobil keluargaku !" tukas Ana berteriak.
"Anda keluarganya?" tanya petugas itu segera.
"Iya.. Dimana dia?" tanya Zianca panik.
"Dia sudah di bawa ke rumah sakit dengan ambulance.."
"Rumah sakit mana?" tanya Ana khawatir.
"Rumah sakit Grey Hospital.. Aku dengan dia pimpinan perusahaan Grey World.." jawab petugas itu. Ana segera berlari menuju mobil. Louis telah berdiri di luar mobil menunggunya.
Dan tentu saja, grey hospital adalah rumah sakit terdekat saat itu. Ana berlari menghampiri Louis dengan mata yang berair.
"Ada apa? Kau kemana saja?" tanya Louis khawatir.
Ana tergesa-gesa. Ia hendak masuk ke kursi pengemudi, namun Louis mencegahnya.
"Hei.. Hei.. Ada apa??" tanya Louis khawatir.
"Itu Pak Kim.. Aku harus segera menyusulnya ke rumah sakit," jelas Ana terisak.
"Oke, baiklah.. Aku yang akan menyetir.. Kau tidak boleh menyetir dengan keadaan seperti ini," imbuh Louis menggiring tubuh Ana menuju kursi penumpang. Ia segera membukakan pintu, membiarkan Ana segera masuk lalu segera menuju kursi pengemudinya.
Louis mengemudi cukup kencang. Sesekali ia melihat ke arah Ana yang tengah menangis terisak.
"Pak Kim pasti baik-baik saja, dia akan baik-baik saja, Ana." Louis berusaha menenangkan Ana.
Ana kemudian segera mengeluarkan ponselnya. Ia tampak menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Halo, Jane.. Jane.." Ana terisak, tangisnya pecah.
"Ana, ada apa?" Jane tak kalah khawatir mendengar isak tangis tertahan Ana.
"Cepat datang ke rumah sakit.. Pak Kim mengalami kecelakaan.. Temui aku di sana." jelas Ana berusaha tenang.
"Apa? Di rumah sakit mana?"
"Grey hospital.."
"Baiklah, aku segera kesana.."
Ana segera memutus panggilan itu. Ia segera menyimpan ponselnya. Louis meraih tangan Ana, menggenggamnya erat seraya mengusapnya lembut.
...****************...
Ana berlari masuk ke ruang UGD. Di sana ia mencari-cari keberadaan Pak Kim, hingga akhirnya ia menemukannya.
Ana mematung. Mulutnya ternganga lebar. Matanya membelalak tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Pak Kim terbaring tak sadarkan diri dengan penuh darah di sekujur tubuhnya. Alat bantu nafas terpasang di wajah dan tubuhnya. Dokter dan perawat tampak sibuk berusaha menyelamatkannya.
"Apa anda keluarganya?" tanya seorang perawat menghampirinya.
"I--iya..." angguk Ana cepat.
"Tolong segera ke ruang informasi untuk menyetujui tindakan operasi..." ujar perawat itu tergesa-gesa.
"Ayo, kita urus persetujuannya," imbuh Louis lembut.
Ana mengangguk pelan. Mereka segera menyetujui semua tindakan yang akan di lakukan. Pak Kim mengalami pendarahan otak yang parah, bahkan mengalami kebocoran jantung akibat patah 4 tulang rusuk bagian kirinya.
Tak lama, Jane hadir di sana. Ia bahkan tampak berpakaian seadanya. Ia segera memeluk Ana erat, hingga tangisnya sontak pecah seketika.
"Dia akan baik-baik saja, Ana." Jane mengusap kepala Ana hangat, berusaha menenangkannya.
"..." Ana terus terisak tersedu-sedu.
"Aku akan segera menemui polisi, aku akan mengurusnya..."
Ana mengangguk cepat seraya mengusap air matanya.
...****************...
Ana dan Louis menunggu di ruang tunggu operasi. Sudah 3 jam operasi berlalu, masih ada sisa 3 jam lagi waktu operasi Pak Kim di dalam sana.
"Sebaiknya kau segera pulang," imbuh Ana lirih.
"Tidak, aku akan disini menemanimu, jangan hiraukan aku," ujar Louis pelan.
"Bukankah besok kau ada jadwal shooting? Pergilah... Aku akan mengabarimu nanti," ujar Ana lagi.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, aku tidak akan kemana-mana tanpamu," tukas Louis menegaskan.
"Sayang !!!" pekik seseorang berlari menuju ruang UGD dengan histeris.
Dita berlari dengan sebelah sendalnya. Ia tampak cukup histeris. Ia bahkan menghampiri Ana dengan mata sembabnya. Sementara Ana menatapnya dengan tatapan dingin dan sinis.
"A--Ana... Apa yang terjadi?? Kenapa dia ada di sana???" tanyanya terbata.
"Bukankah kau sudah tau? Kenapa kau menanyakannya padaku?" timpal Ana ketus.
"Apa maksudmu?" tanya Dita kebingungan.
"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau mendekati kami?!!" bentak Ana keras pada Dita.
"Apa maksudmu? Apa yang kau katakan?" ia tampak kebingungan.
"Sebaiknya kau pergi dari sini... Jangan pernah temui Pak Kim lagi !" usir Ana murka.
"Cih... Kau berlagak seakan kau peduli padanya ! Padahal selama ini, kau lah orang yang selalu menyulitkannya... Apa kau sedang membicarakan dirimu sendiri?? Kau selalu membuat masalah dan dia harus selalu membereskannya, sekarang kau menuduhku melakukan hal buruk padanya? Sebaiknya kau berkaca diri !" sangkal Dita membela diri.
"Apa?" Ana ternganga tak percaya dengan perlawanan Dita padanya.
"Kau bersikap seolah..."
"Hentikan !!!" pekik Jane berseru keras. Jane tampak telah tiba dan segera menghampiri mereka.
"Menjauhlah dari keluargaku !!" serunya lagi berdiri di hadapan Dita dengan tatapan mematikan.
"Nyonya jane??"
"Apa kau tuli?? Menjauhlah... Dari... Keluargaku !" ulang Jane penuh penekanan pada Dita.
"Kau akan menyesal melakukan ini padaku !" gumam Dita menggeram.
"Kau yang akan menyesal karena telah mengganggu cucuku !" celetuk jane menimpali dengan sinis.
Dita segera pergi dengan kesal. Sementara Jane segera merangkul kedua lengan Ana lembut.
"Kau baik-baik saja? Apa aku perlu memesankan kamar untukmu disini??" tanya Jane penuh perhatian.
"Ah... Tidak perlu..." geleng Ana cepat.
"Apa kau sakit?" tanya Louis menimpali.
"Tidak... Aku baik-baik saja..." geleng Ana cepat.
"Aku hanya takut dia kelelahan..." timpal Jane salah tingkah. "Kenapa kau masih disini, Lou? Pulanglah... Aku akan menemani Ana di sini,"
"Aku akan terus di sini menemani Ana..." geleng Louis keras kepala.
"Hmm... Baiklah," angguk Jane mengerti.
__ADS_1