
Hana memegang erat sepasang sepatu yang Ana incar.
"Sudah lama kita tidak bertemu.. sebelumnya kita selalu bertemu di lokasi shooting.. bagaimana kabarmu?" Tanya Hana manja.
Ana yang tampak kesal meminggalkan keduanya. Padahal ia kesal dengan sepatu yang telah di ambil Ana. Namun Louis menangkap kekesalan itu karena rasa cemburu.
"Ah.. Hana.. aku ke sebelah sana dulu ya.. aku sedang buru-buru.. aku mencari kado untuk keluargaku.."
"Benarkah?? Belikan aku sepatu ini untukku.. aku sangat menyukainya.." rengek Hana tak tau malu.
Louis memperhatikan punggung Ana yang membelakangi keduanya. "Baiklah.." angguk Louis cepat segera menghindar dari Hana.
Hana berusaha terus menempel. Namun Louis jauh lebih mahir saat menghindarinya. Ia tak ingin bertengkar dengan Ana. Mereka baru saja memiliki hubungan yang hangat. Ana tampak tengah selesai berbelanja. Ia segera menuju meja kasir. Begitu juga dengan Louis. Sementara Hana mengikuti langkah Louis tanpa malu.
Setelah barang belanjaan Ana di scan dan di kemas, Ana segera menyodorkan kartu atmnya, berbarengan dengan Louis.
"Apa yang kau lakukan??" Tanya Ana lirih.
"Biar aku membayarnya.." ujar Louis tersenyum.
Ana menepis tangan Louis.
"Tidak perlu ini hadiah untuk kakakku.. kau tidak ada alasan untuk membayarnya.. lagipula aku punya banyak uang untuk membayar semuanya.. aku bukan tipe wanita yang manja.." tukas Ana ketus sambil melirik ke arah Hana yang merasa tersindir.
Louis tertegun. Ia yakin Ana marah besar padanya.
Setelah selesai, Ana segera menuju mobilnya.
Sementara Louis yang merasa gelisah terus mendesak kasir untuk segera memproses belanjaannya.
Tiba di dalam mobil, Louis mendapati mobil Ana telah pergi. Ia segera menghubungi Ana, namun tak di respon.
"**** !!" Umpat Louis kesal. Ia segera menuju rumah Lucas sesuai alamat yang di berikan.
Louis tiba lebih cepat, ia bahkan tak menemukam mobil Ana disana. Ia yakin Ana sudah lebih dulu pergi. Ia kembali mencoba menghubungi Ana, namun tak ada jawaban.
Jane tampak telah tiba, ia segera turun dari mobil yang di kendarai supir dan pengawalnya. Louis pun segera menyusul.
"Hai Nyonya Jane.."
"Lou.. kau sudah tiba??"
"Hmm.. apa anda bersama Ana?"
"Tidak.. aku datang sendiri.. tapi tadi menelepon jika ia akan membeli cake ulang tahun untuk istri Lucas.."
"Ah.. benarkah??"
"Kau khawatir?" Ledek Jane.
"Tentu saja.." angguk Louis setuju.
Brummm..bremm..
Suara gahar knalpot racing mobil Ana terdengar disana. Ia memarkirkan mobilnya rapi, lalu segera turun, Jane memerintahkan anak buahnya membantu Ana membawakan belanjaannya.
__ADS_1
"Kenapa kalian masih di luar?" Tanya Ana heran.
"Pacar posesifmu sangat khawatir kau belum tiba.. apa kalian tidak berkomunikasi??" Ejek Jane segera masuk ke dalam rumah Lucas lebih dulu.
"Ada apa??" Tanya Ana bingung.
"Kau tidak menjawab teleponmu.." gumam Louis.
"Kau meneleponku?? Ponselku ada di tas, sepertinya tanpa nada dering.." jawab Ana santai.
"Kau marah padaku??"
"Soal apa??"
"Soal Hana.."
"Cih.. aku? Marah soal perempuan itu?? Aku bahkan lebih baik darinya.. untuk apa aku marah tentang dia?? Hahaha.." tukas Ana tertawa sambil menggendong cake ulang tahun di depannya.
"Benarkah??"
"Tentu saja.." tukas Ana tegas.
"Kau tidak cemburu??"
"Cemburu? Kenapa harus cemburu?? Dia bisa saja menyukaimu dan menggilaimu.." Ana melangkah maju semakin dekat dengan Louis. "Tapi tetap akulah pemenangnya.. karena aku memiliki dirimu dan hatimu.. semua anggota tubuhmu ini milikku.." bisik Ana nakal membuat Louis tercengang dan sulit bernafas.
"..." ia ternganga lebar. Jantungnya berdegup kencang.
Cuppp..
"Jangan buang-buang tenaga untuk berpikir yang tidak-tidak.." ujar Ana tersenyum.
"Ayo masuk ke dalam.." ujar Ana menyadarkan.
"Tu..tunggu aku.." sahut Louis berlari kecil menyusul Ana yang melangkah cepat.
*****
Kedatangan mereka di sambut hangat keluarga Lucas, bahkan Ana sempat membeli mainan untuk kedua keponakannya yang kini sudah mulai besar. Mereka tampak terpesona oleh Louis.
"Kalian ingin berfoto dengannya??" Tanya Ana lirih.
Mereka mengangguk cepat dengan sangat senang. Louis tampak senang meladeni keduanya. Mereka mengambil banyak foto selfie. Sementara Ana, Jane, Lucas dan istrinya tengah berbincang di meja makan.
"Louis kemarilah.. kau akan kelelahan meladeni mereka berdua.." seru Lucas tertawa.
Louis tampak segera menghampiri meja makam setelah banyak berpose.
"Mereka lucu-lucu sekali.." puji Louis dengan mata berbinar.
"Menikahlah.. maka nanti kau juga punya anak-anak yang lucu.." seru Lucas menggoda.
"Hahahaha.." Louis hanya tertawa sambil menyikut lengan Ana men-kodenya.
"Apa??" Tanya Ana pura-pura tidak dengar ucapan Lucas.
__ADS_1
"Kau selalu mengabaikan hal penting.." gerutu Louis lirih.
Ana hanya tersenyum simpul.
Mereka menikmati makan malam dengan berbagai hidangan. Mereka juga bersenda gurau dengan santai. Anak-anak Lucas juga tampak tengah asyik bermain dengan mainan baru dari Bibi mereka di ruang tv.
Drrrttt...
Drrrttt..
Ponsel Jane dan Lucas berdering bersamaan. Lalu siaran di televisi yang menyala sejak tadi menampilkan sebuah breaking news.
"Breaking News !! Siang ini telah ditemukan mayat tanpa idientitas di pelabuhan lama. Mayat berjenis kelamin laki-laki tampak mengalami luka memar di sekujur tubuhnya serta luka tusukan tepat di lehernya yang mungkin menjadi penyebab kematiannya.. anggota tubuh lainnya seperti jari telunjuk tangan kanannya di duga telah di amputasi sang pelaku.. saat ini polisi setempat segera mengamankan tkp dan membawa mayat untuk di autopsi.."
Jane dan Ana saling bertatapan dengan penuh rasa cemas. Louis yang merasa ganjal dengan kondisi mayat tersebut mengalami luka pada lehernya seperti yang Ana sebutkan sebelumnya.
Lucas segera menerima telepon dari anggotanya. Sementara Jane menerima telepon dari anak buahnya. Ana tertegun. Ia sebelumnya telah menerima sebuah paket misterius yang di berikan Irene, paket itu berisi sebuah jari telunjuk tangan seseorang.
Jane tampak tengah menelepon dengan cemas dan bahkan terlihat sangat marah. Pintu kaca pembatas tembus pandang di ruang makan memperlihatkan situasi itu dengan jelas. Ana menghampiri Jane yang berada di taman samping halaman Lucas.
"Apa itu pria tadi malam??" Tanya Ana lirih.
"Aku akan membereskan semuanya.. kau jangan khawatir.." ujar Jane menenangkan Ana.
"Aku tidak khawatir.. aku hanya merasa.. jika mereka sedang berusaha membuatku di tahan dan di penjara.."
"Anak buahku sudah mencari Layla di Grey Hospital.. tapi sudah berapa hari ini dia tidak ada disana.."
"Aku yakin mereka pasti sudah sadar jika kita mengetahui tentang mereka.."
"Ada seseorang yang mencurigakan di apartment ku.. dia seorang pekerja paruh waktu di ruang kendali keamanan.. carikan informasi tentangnya untukku.."
"Apa kau tau namanya?"
"Tidak.."
"Baiklah.. aku akan segera mencarinya.."
Louis menatap ke arah Ana yang tampak gusar. Lucas menghampiri keduanya.
"Aku harus segera ke kantor polisi.. kalian lihatkan berita tadi.."
"Aku menerima paket berisi jari tangan.. aku yakin itu milik pria yang di berita itu.." gumam Ana lirih.
"Ana.." seru Jane menghentikannya.
"Kau yakin??" Tanya Lucas kaget.
"Hmm.." angguk Ana cepat.
"Bisakah kau memberikannya padaku?? Aku akan memusnahkannya agar kau tidak terlibat.."
"Sepertinya aku harus terlibat.. karena itu yang mereka inginkan.. mereka ingin aku di tahan.." imbuh Ana menggeram.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Jangan pernah bosan.. aku tidak akan berhenti menghasilkan yang terbaik untuk kalian semua.. saran dan masukkan dari kalian sangat berarti untukku.. (ig : tttaaa13)