Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 123 : Rahasia B1


__ADS_3

Ibunya segera keluar dari kamar Louis. Ia segera mengunci dirinya di dalam kamar. Ia menangis tersedu. Ia tidak menyangka hal buruk menimpa putranya dan Ana yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri.


Ia segera mendekati meja riasnya, membuka laci disana, dan membuka kotak berwarna merah yang di timpa beberapa amplop surat. Ia membuka kotak itu, di dalamnya terdapat ponsel dan gelang milik Louis.


Ia menyalakan ponsel itu, tampilan layarnya menunjukkan foto Ana yang tampak tengah tersenyum. Ibunya memberanikan diri membuka folder di galeri ponsel putranya, ia melihat jika ponsel itu di penuhi dengan foto-foto Ana. Ia sadar jika putranya sangat mencintai Ana. Setidaknya mereka harus terus pura-pura tidak tau hingga mendapat kabar tentang kondisi Ana.


***


Jane segera mengantar Tyo ke bandara, disana ia sudah membayar dua orang pengawal untuk menemani Tyo dengan aman hingga ia tiba di negara E.


Ternyata Jane juga sudah menangani perusahaan baru Ana di negara E, ia menunjuk dewan eksekutif terpercaya di perusahaan untuk mengelola perusahaan Ana. Meski Ana masih menjabat sebagai presdir disana, tapi itu hanya sebatas pekerjaan dan hanya sebagai pemilik saham terbesar di perusahaan itu, sedangkan semua pekerjaannya di kerjakan oleh orang kepercayaan Jane.


Jane benar-benar tau bagaimana cara mengatasi semua masalah yang selalu di alami Ana. Namun selama ini ia membiarkan Ana agar Ana menjadi pribadi yang kuat dan mandiri. Meski ia melakukan banyak kesalahan dalam mengasuh Ana, namun sebenarnya ia menyayangi Ana dengan tulus.


"Aku sudah mengantarnya dengan aman.." ujar Jane dari arah belakang.


Ana tampak duduk terdiam di depan laptopnya.


"Aku akan segera kembali ke negara K.." ujarnya yakin. Ia tampak tengah berkomunikasi dengan Pak Kim.


"Apa yang mau kau lakukan.."


"Mr.Zhou mencariku ke perusahaan.." jawabnya.


"Preman tua itu? Apa yang dia inginkan?" Sahut Jane kaget.


"Dia mengira jika aku menyuruh B1 menghabisi anak buahnya.. aku rasa Layla sudah bertindak terlalu jauh.. aku harus segera menghentikannya.."


"Dengan kondisimu seperti ini?"


"Aku akan pastikan untuk segera sembuh.. dan harus segera mengakhiri ini.."


"Aku bisa melakukannya untukmu.."


"Aku ingin mengakhiri ini dengan tanganku sendiri.. sebaiknya kau jangan terlibat lagi dengan mereka.."


"Ana.."


"Kita harus segera pindah dari sini.. siapapun yang memberitahu keberadaanku dengan Tyo.. dia pasti punya niat terselubung.."


"Kenapa mereka justru melibatkan anak itu untuk mencarimu jika dia tau dimana kau berada??"


"Dia tau jika Tyo orang yang aku percaya.. dan dia pasti berusaha menghindariku.. tapi dia ingin tetap memastikan keberadaanku.."


"Apa maksudmu.."


"Siapapun dia.. dia pasti ingin melindungiku.. namun dia tidak bisa melakukannya.."


"Itu sebabnya dia mengirim anak lemah itu? Bahkan anak itu mati ketakutan hanya melihat pistol di tanganmu.. bagaimana dia bisa melindungimu.." celoteh Jane.


"Siapa yang memasang pelacak di jam tangan ayahku?"


"Aku.. aku yang memasangnya.."

__ADS_1


Ana terdiam. Matanya membesar. Mulut mungilnya ternganga.


"Dua hari sebelum kecelakaan, aku memasang alat pelacak di jam tangan putraku.. karena aku melihat dia selalu tampak ketakutan dan kalut selama beberapa hari belakangan.. aku mengkhawatirkannya.."


"Apa kau tau yang sebenarnya terjadi dengan kecelakaan ayahku?"


"Aku punya firasat soal itu, tapi aku tidak yakin.."


"Apa B1 yang melakukannya?"


"Aku sempat berpikir begitu.."


"Kenapa kau berpikir begitu?"


"Thommas pernah menangkap basah B1 ingin mencelakaiku untuk balas dendam, Thommas mengancamnya akan melaporkannya ke polisi.. aku pikir dia marah soal itu.. dia seorang pengkhianat Ana.. jadi.. aku yakin kalau dia terlibat.."


Ana terdiam. Bahkan ia selama ini sudah membantu B1 menyelamatkan nyawanya, menyelamati adiknya, memberi kehidupan yang baik dan layak untuk mereka. Bagaimana dia tega melakukan itu, membunuh ayahnya.


"Kita harus fokus pada masalah yang ada satu persatu Ana.. kita harus mengatur strategi.."


"Aku akan menghabisi mereka semua jika itu benar adanya.." geram Ana lirih.


***


"Apa kau masih belum menemukan semua surat warisan dan berkas aset milik Ana?" Seru Layla menyeruput ramyeon nya.


"Belum Nyonya.." geleng B1 pelan.


Byurrr !!


"Apa kau sengaja mempermainkan aku?"


"Ti..tidak Nyonya.." gelengnya mengusap wajahnya dengan lengan bajunya.


"Jika kau tidak bisa menemukannya.. aku pastikan adikmu tidak akan lagi bisa bernafas.. bahkan aku akan menjual semua organ tubuhnya untuk menghasilkan banyak uang.. kau camkan itu !!" Ancam Layla sadis.


"Ba..baik nyonya.. aku akan melakukan yang terbaik.. aku mohon bebaskan adikku.." B1 segera berlutut di hadapan Layla.


"Aku tidak bisa kau bodohi.. setelah aku membebaskan adikmu.. apa kau akan mengkhianatiku? Aku tau kau masih berusaha melindungi Ana kan? Kau ternyata seekor anjing yang sangat setia.." ujar Layla menghampiri B1 dan mengelus kepalanya.


B1 terus tertunduk lesu. Ia sangat mengkhawatirkan kondisi adiknya. Ia tidak bisa terus tunduk dan patuh dengan wanita sial*n itu. Namun, tidak ada yang bisa dia lakukan.


"Sebaiknya kau bekerja dengan becus jika kau ingin adikmu baik-baik saja !!"


"Baik nyonya.." angguknya cepat.


"Cepat pergi dari sini !" Usir Layla membuat B1 kalang kabut.


"Sial*n !! Kemana dia menyembunyikan semuanya? Aku sangat yakin pernah melihat berkas dan data-data itu di laptopnya.." gerutu Layla kesal.


***


B1 kini tiba di tempat persembunyiannya dengan anggotanya yang lain. Tempat kumuh itu di sediakan oleh Layla. Tentu saja, mereka di perlakukan seperti binatang tanpa belas kasihan. Sangat berbeda dengan Ana yang selalu memanusiakan mereka meski pekerjaan mereka sangat mengerikan. Namun, Ana tidak pernah mengabaikan mereka.

__ADS_1


B1 masuk ke ruang istirahatnya yang sangat bau dan kotor, ia merogoh kolong sofa usang yang tengah di dudukinya.


Ia mendapati sebuah ponsel sekali pakai. Ia segera membuka sebuah aplikasi pelacak di ponselnya.


Ia tertegun. Alat pelacak itu telah di matikan, dan lokasi terakhirnya berada di sebuah kota di negara Swiss. Bahkan ponsel yang ia kirim untuk Tyo sudah tidak aktif lagi. Ia sadar jika ia telah ketahuan.


***


Louis mengurung dirinya di dalam kamar. Irene tampak masuk menghampirinya sebelum berangkat kerja.


"Kakak tidak sarapan?" Tanyanya hangat.


"Aku tidak nafsu makan.." gelengnya pelan.


"Apa mau aku potongkan buah?"


"Aku tidak ingin makan apapun.."


"Kakak harus makan agar bisa minum obat.."


"Aku baik-baik saja.."


"Apa kau ingin sesuatu?"


"Aku memimpikan seorang wanita.. bahkan hanya dia yang selalu muncul di benakku berkali-kali.." timpal Louis tiba-tiba.


"Benarkah? Apa dia sangat cantik?"


"Hmmm.." angguknya cepat.


"Bagaimana kau bisa tau?" Tanyanya sadar.


"Aku hanya menebak saja.. kau pasti punya selera yang sangat baik.."


"Aku penasaran siapa wanita ini.. apa aku benar-benar tidak punya pacar? Atau mantan pacar??"


"Kakak bahkan tidak pernah pacaran sekalipun.. mungkin dia tipe wanita ideal dan pacar khayalanmu.." ledek Irene.


"Kau ini.." tukas Louis kesal.


"Semoga kakak segera bertemu wanita idamanmu itu.. aku pergi kerja dulu.. sampai nanti.." pamit Irene segera keluar dari kamar Louis.


"Hati-hati di jalan.."


Irene menutup rapat pintu kamar kakaknya. Ia bernafas lega. Ia hampir saja keceplosan mengatakan jika wanita itu adalah Ana kekasihnya yang telah meninggalkannya karena tengah kritis.


"Selamat pagi Nona.." sapa Pak Dong ramah.


"Eh.. Pak Dong.. selamat pagi.." sahut Irene ramah.


"Mau berangkat kerja?"


"Iya nih Pak Dong.."

__ADS_1


"Louis sudah bangun?"


__ADS_2