
Louis dan Ana menyantap makanan mereka lahap. Semua lauk habis tak tersisa. Mata Ana tampak berkaca-kaca.
"Kau menangis??" Tanya Ibu Louis memperhatikan.
"Ah.. aku hanya terharu.. aku sudah sangat lama tidak makan masakan rumah seperti ini.. aku tidak ingat kapan terakhir aku makan selahap ini.. terima kasih ibu makanannya.."
"Aku senang kau menyukainya.. silahkan datang ke rumah kapanpun kau mau.. aku akan memasakkan makanan enak untukmu.."
"Baiklah.." angguk Ana menyeka matanya yang basah.
"Aku juga akan mengantar lauk mingguan untuk Louis.. aku akan mengantarkannya untukmu.."
"Ah.. itu tidak perlu.." geleng Ana sungkan.
"Iya tidak perlu.. dia bisa makan disini bersamaku.. lebihkan saja porsinya.. aku akan pastikan dia makan dengan lahap.." timpal Louis santai.
Ana hanya melototi Louis malu.
"Apa kau akan tinggal disini??" Tanya ibu Louis terang-terangan.
"Tentu.."
"Tidak.." Ana dan Louis menjawab berbarengan.
"Kenapa aku harus tinggal disini?? Rumahku ada di depan sana.." bantah Ana tak setuju.
"Apa sebaiknya aku jual apartment ini?? Lalu aku tinggal denganmu?? Uangnya bisa di tabung.."
"Jangan.. jika kita bertengkar nanti apa kau akan pulang ke rumah orang tuamu??" Tanya Ana polos.
"Kau sendiri akan pulang kemana kalau kita bertengkar??"
"Aku tidak akan kemana-mana.. itu apartment ku.. kau yang akan aku usir.." jawab Ana tegas dengan santai.
Sontak ibu Louis tertawa terbahak-bahak mendengar perdebatan mereka yang lugu.
Ana dan Louis menatap ibunya malu. Mereka tidak sadar jika ibu Louis masih ada disana.
"Sepertinya aku harus meninggalkan kalian berdua.. aku tidak di anggap disini.." ujar ibunya meledek.
"Ah.. jangan Bu, aku saja yang pergi.. aku mau permisi dulu.."
"Kenapa kau yang pulang??" Tanya Louis menarik tangan Ana.
"Cih.. jadi kau benar-benar berharap ibu yang pulang kan?? Dasar kau ini.." tukas ibunya merasa.
"Ah.. bukan begitu maksudku.."
"Ibu tau.. ibu mengerti.. ibu juga pernah muda.. aku berharap kalian tidak bertengkar lagi.." nasehat ibunya segera beranjak pergi.
Sementara Ana tampak berkemas.
__ADS_1
"Kau mau kemana?" Tanya Louis heran.
"Aku mau pulang.."
"Temani aku.. hari ini aku libur.."
"Aku sibuk.." ujar Ana lirih.
"Sibuk apa?? Bukankah kau sudah jadi pengangguran sekarang??"
"Pengangguran bukan berarti aku tidak punya bisnis lain.." tukas Ana ketus.
"Bisnis gelapmu??" Tebak Louis lirih membuat Ana terdiam.
"Berjanjilah jangan sampai terluka.. apalagi melukai orang lain.. kau tau kan aku sangat mengkahawatirkanmu.." imbuh Louis lirih berjalan mengikuti Ana.
"Kau mau kemana?" Tanyanyq pada Louis yang mengikutinya keluar.
"Mau mengantarmu pulang.."
"Hahaha.. aku tinggal di depan apartmentmu.. kau tidak perlu mengantarku.." gelak Ana geli.
"Tentu saja perlu.. bagaimana jika ada yang menculikmu saat baru keluar dari sini??" Gumamnya berlebihan.
"Khawatirkan saja nasib mereka jika macam-macam denganku.." seru Ana percaya diri.
"Ah.. benar juga.. mereka yang harus aku khawatirkan.." angguk Louis setuju.
****
Ana segera berkemas karena berencana akan menemui Jane. Ia ingin mencari informasi terkait Layla, Neo dan pria yang ia bunuh tadi malam.
Setengah jam sebelum berangkat ia mendapat pesan singkat dari Lucas. Jika ia hendak mengundang Ana makan malam keluarga. Hari itu adalah hari ulang tahun istrinya (kakak iparnya). Kemudian Ana menghubungi Jane agar bertemu lebih awal. Namun Jane mengatakan untuk berjumpa disana saja. Ternyata Jane juga turut di undang.
Siang itu Ana berencana pergi mencari kado untuk kakak iparnya, serta membeli beberapa mainan untuk keponakannya. Baru saja keluar dari apartment, ia di kejutkan dengan keberadaan Louis. Ia telah berdiri di depan pintu.
"Kau mau kemana??" Tanya Ana kaget.
"Aku ingin mencari kado untuk kakak ipar.." jawabnya senang.
"Kakak ipar??"
"Bukankah kau di undang acara makan malam di rumah kak Lucas malam ini?? Aku juga di undang.."
"Cih.. lagipula kita tidak bisa pergi bersama.. aku sedang tak ingin terlibat skandal apapun.."
Louis tertegun. Itu bukan jawaban yang ia harapkan. Padahal tadinya ia akan mengekspos hubungan asmaranya ke publik. Ia yakin Ana punya alasan sendiri.
"Baiklah.."
Ana heran. Ia tak lagi merengek. Awalnya Ana berpikir jika Louis akan merengek padanya.
__ADS_1
"Aku pergi duluan.. sampai jumpa.." ujar Ana lirih, namun Louis menarik tangannya. Memeluknya erat.
"Setidaknya berpisahlah dengan hangat seperti ini.." gumamnya mengecup hangat dahi Ana.
"Kau tau cctv ada dimana-mana.." gerutu Ana melepas pelukan itu.
"Bukankah kita bisa membungkam mereka.."
"Cih.. kau ingin menggunakan kekuasaanku untuk menutup mulut mereka.."
"Bukankah kau akan melakukannya agar kita tidak terekspos??" Goda Louis.
"Tentu saja.." seru Ana setuju tertawa kecil.
"Aku pergi sekarang.." lambai Ana berlari kecil menuju lift. Louis memandangi Ana dari kejauhan dengan tatapan hangat.
Louis berdiri menatap arah lift yang ternyata menuju ke lantai 14 gedung. Itu adalah ruang kontrol di apartment itu.
"Dia benar-benar akan menghapus semua rekaman cctv.." gumam Louis terkekeh.
Keluar dari lift Ana di sapa baik para petugas yang berjaga.
"Selamat siang Ms.Grey.." sapa mereka ramah. Ana tersenyum ramah.
Tak sengaja, ia menabrak seseorang di sana. Pria itu tampak acuh tak acuh terus saja pergi masuk ke dalam lift. Ana melihat pria itu curiga. Bahkan ia tak menoleh sedikitpun.
"Ms.Grey.. A..ada apa anda sampai datang kemari??" seru kepala keamanan.
"Aku ingin meminta bantuanmu.." ujar Ana lirih.
"Tentu saja.." angguknya cepat. Ana menyodorkan sebuah amplop tebal padanya. "Berikan aku semua salinan cctv 1 tahun terakhir.."
"Satu tahun terakhir??" tanyanya meyakinkan.
"Hmm.. Bisakan??"
"Tentu saja bisa !! Aku akan segera memberikannya pada anda.." angguk pria itu menerima amplop tebal berisi uang itu, lalu menyembunyikannya ke dalam saku jaketnya.
"Siapa pria yang baru keluar tadi??"
"Ah.. Dia pegawai paruh waktu.. Dia anak yang baik.. dia sangat penurut dan pekerja keras.." puji kepala menjelaskan.
Ana masih merasa curiga dan penasaran padanya.
"Baiklah.. Segera hubungi aku jika sudah menyalin semuanya.." ujar Ana menyodorkan secarik kertas berisi nomor teleponnya.
"Baik Ms.Grey.."
...****************...
Jangan pernah bosan.. aku tidak akan berhenti menghasilkan yang terbaik untuk kalian semua.. saran dan masukkan dari kalian sangat berarti untukku.. (ig : tttaaa13)
__ADS_1