Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 67 : Say No untuk Pernikahan


__ADS_3

Franz memutuskan untuk segera kembali ke negara L. Sementara Layla bersembunyi entah dimana, mansion kini terbengkalai.


Saat hendak membeli stok makanan, kartu kredit unlimited yang diberikan Ana waktu itu telah di blokir, lalu ia memeriksa beberapa kartu kredit yang lain juga sudah terblokir, lalu ia memeriksa akun bank gelap nya yang juga sudah di kosongkan Ana beserta akun gelap Franz lainnya.


"Sial*n dia benar benar menguras semua harta kami.. aku tidak akan membiarkan ini.." gerutunya menggeram.


Ana kini tengah menikmati kopi hangatnya di kantor sambil mengerjakan dokumen dokumen pekerjaannya.


"Sepertinya mood anda sedang sangat baik Ms.Grey.." ujar Pak Kim tersenyum.


"Hmm.. tentu saja.." angguk Ana tersenyum mengembang.


"Franz sudah kembali ke negara L, namun Nyonya Layla saya tidak bisa menemukannya.. gps ponselnya juga tidak terlacak, sepertinya ia mematikan ponselnya.." jelas Pak Kim.


"Biarkan saja mereka.. setidaknya kita sudah menempatkan uang itu pada tempat yang tepat.. lebih baik diberikan pada orang orang yang membutuhkan.." Ana masih fokus menanda tangani banyak dokumen berkas kerjanya.


"Oh iya, tadi saat anda meeting ibu Tuan Louis menelepon, ingin mengundang anda makan malam bersama di restorang mereka.."


"Benarkah?? Padahal aku lebih suka makan malam dirumah mereka.. sepertinya makan malam di restoran sudah biasa.."


"Baiklah, saya akan mengaturnya agar makan malam dirumahnya saja.."


"Ah.. tidak perlu.." geleng Ana cepat. "Tapi.. bagaimana jika aku saja yang mengundang mereka makan malam di apartement ku?? Kalau mengundang mereka ke mansion bukankah akan sangat canggung? Aku takut mereka tidak nyaman disana.. ditambah kondisi mansion sekarang sangat kotor.."


"Untuk itu saya sudah mengirim orang untuk mengurusnya Ms.Grey.. hari ini pembersihan dan perawatan mansion sudah dimulai.. jadi anda tidak perlu khawatir.. siang nanti saya akan ke mansion memeriksa kerjaan mereka.."


"Oke baiklah.. terima kasih Pak Kim.. kau sungguh pengertian sekali.." puji Ana tersanjung.


"Kalau begitu aku akan mengundang mereka ke apartment besok malam.. biar aku yang menelepon mereka.."


"Baik Ms.Grey.." angguk Pak Kim mengerti.


"Datanglah.. kita makan malam bersama.."


"Sa..saya??" Tanya Pak Kim kaget.


"Hmm.. tentu.. bukankah sudah aku bilang, aku menganggapmu sebagai keluargaku.. aku ingin kita harus lebih sering makan malam bersama.. sebagai keluarga.. bukan sebagai rekan kerja.."


"Baiklah.. saya akan hadir.." Pak Kim merasa senang Ana kini sudah jauh lebih nyaman dan terbuka dengannya.


"Datang lebih cepat.. bantu aku menyiapkan makan malamnya.. hahahahaha.." tukas Ana terkekeh.


"Baik Ms.Grey.." angguk Pak Kim tertawa kecil.


***


Hari itu Ana pulang lebih cepat dari kantor, meski hari libur Ana tetap datang ke kantor untuk bekerja. Ia sudah berbelanja di supermarket bersama Pak Kim, mereka bergegas untuk menyiapkan makan malam di apartment Ana.


Sebelumnya Ana sudah membereskan apartmentnya, ia hanya mengganti meja makannya yang sebelumnya minimalis menjadi lebih besar agar muat untuk banyak orang duduk disana, ia juga menambahkan beberapa furniture yang minimalis dan simple.


Kini apartment nya sudah tampak sangat sederhana namun tetap elegan, karena kombinasi cat dindingnya berwarna abu abu tua, abu abu muda dan warna putih.

__ADS_1


Hari itu Ana dan Pak Kim memasak banyak menu makanan, daging tumis, ayam goreng, ikan panggang, tumis sayur sayuran, salad sayur dan salad buah, acar, kimchi dan dessert berupa cake yang mereka beli di toko kue ternama.


Setelah selesai masak mereka mulai menata meja makan serapi mungkin.


Tak lama tepat pukul 7 malam keluarga Louis datang dan di sambut hangat Ana dan Pak Kim.


"Selamat datang.." sambut Ana hangat.


"Terima kasih atas undangannya Ana.. padahal kami yang tadinya ingin mengundangmu makan malam.." sahut Ibu Louis.


"Ah.. aku juga ingin mengundang kalian..kebetulan aku baru saja pindah kemari..tempat tinggal ku sebelumnya sedang di renovasi.."


"Ohh begitu rupanya.." Ibu Louis melihat sekeliling dan sangat salut melihat rumah Ana yang sangat rapi bersih dan wangi. "Apartment mu sangat nyaman sekali.." puji Ibu Louis kagum.


"Mungkin karena baru saja aku bersihkan setelah pindahan hahahaha.." tukas Ana tertawa sungkan.


"Bahkan mansionnya sangat menakjubkan Bu.. tak kalah rapi dan bersih.."


"Karena ada pelayan yang membersihkannya.." timpal Ana terkekeh.


"Aku tidak heran..melihat kepribadianmu yang mandiri, tegas dan bertanggung jawab pasti kau memiliki tempat tinggal yang sangat nyaman.." puji Ibu Louis lembut.


Setelah melihat lihat sekeliling Ana segera mempersilahkan semuanya menuju meja makan.


"Mari kita makan malam dulu.." ajak Ana ramah.


"Kau sudah membeli beberapa barang?" Tanya Louis setengah berbisik mendampingi langkah Ana.


"Hmm.." angguk Ana cepat.


"Tentu saja.."


"Wah.. kau memang luar biasa.." puji Louis kagum.


"Itu kenapa aku sangat limited edition, aku ini paket lengkap, cantik, pintar, sangat kaya, dan mandiri.." tukas Ana menyombongkan dirinya.


"Masih ada yang kurang.." timpal Louis dengan tatapan mengejek.


"Apa?"


"Tidak bisa kumiliki.." jawab Louis singkat.


Ana terbelalak dan menatap Louis datar.


"Kau selalu saja meledekku.." celetuk Ana ketus.


"Kau saja yang selalu berpikir aku meledekmu.."


Louis dan Ana tidak sadar sedang di perhatikan oleh yang lain karena masih berdiri sambil berdebat satu sama lain.


"Apa kalian tidak lapar??" Timpal Ayah Louis menyadarkan mereka berdua lalu segera duduk bersebrangan di meja makan.

__ADS_1


"Silahkan di nikmati.. Pak Kim sangat jago memasak.."


"Ah..tidak.. saya hanya membantu Ms.Grey seadanya.."


"Cihh.. sudah aku bilang ini makan malam keluarga, kenapa masih saja bicara formal.." tukas Ana kesal.


Mendengar kata keluarga dari mulut Ana, Louis merasa perasaannya adem.


"Maaf Ms.Grey.. saya belum biasa.."


"Masih bicara formal lagi?"


"Maaf Ana.." imbuhnya lagi canggung.


"Irene.. bagaimana pekerjaanmu?" Seru Ana membuka obrolan setelah beberapa menit mereka saling diam menikmati makan malam.


"Pekerjaanku sangat lancar kak.. sekarang aku sudah belajar sangat banyak.. terima kasih sudah banyak membantu.."


"Aku tidak melakukan apapun.. itu pencapaian yang kau lakukan sendiri.. semuanya berkat kerja keras dirimu sendiri.."


Irene menatap Ana dengan senyuman manisnya. "Kau sangat membantu Irene membangkitkan rasa percaya dirinya Ana.. dia biasanya sangat merasa tidak percaya diri.." imbuh Ayah Louis berterima kasih.


"Aku hanya ingin dia tidak menyia-nyiakan kemampuan luar biasanya.."


Louis sejak tadi hanya memandangi Ana dengan tatapan hangat. Dia sebenarnya merasa rindu, namun ia enggan mengatakannya karena Ana akan meledeknya atau mengabaikannya.


"Ngomong-ngomong apa kau berencana akan menikah?" Tanya Ibu Louis tiba tiba.


Sontak Ana dan Louis tersedak dan terbatuk bersamaan.


"Ibu.." seru Louis kaget. "Jangan menanyakan hal pribadi seperti itu.." tukas Louis merasa tidak enak pada Ana.


"Ma..maaf kalau aku lancang.." gumam Ibunya merasa bersalah.


"Ah.. tidak apa apa Bu.. kau boleh menanyakan apapun padaku.." geleng Ana santai.


"Jadi? Kau punya rencana untuk menikah? Kau sudah cukup dewasa dan rasanya tidak ada salahnya sudah memikirkan soal pernikahan.."


"Aku tau.. tapi.." Ana tertegun sejenak. "Tapi aku tidak pernah berencana untuk menikah.." sambung Ana dengan tenang.


Sontak semua orang kaget mendengar jawaban Ana yang tenang dan santai. Ia masih tampak menikmati makanannya.


"Ah.. kau pasti punya selera ala ala barat ya?? Tinggal bersama dengan pasanganmu tanpa ikatan pernikahan??" Tebak Ibu Louis menduga duga.


Ana tampak tertawa kecil.


"Tentu saja bukan begitu.. aku sangat sangat sangat kolot Bu.. aku tidak pernah punya pikiran seperti itu.. hanya saja.. aku memang tidak pernah ingin menjalin hubungan apapun.. apalagi sampai harus menikah.." jelas Ana dengan penegasan yang cukup jelas.


Ibu dan Ayah Louis saling menatap satu sama lain, sementara Irene hanya diam tanpa berkomentar, Louis menatap Ana dengan rasa kecewa di hatinya, sedangkan Pak Kim hanya menjadi pendengar yang elegan.


"Sayang sekali.." gumam Ibu Louis lirih.

__ADS_1


"Bagiku.. pernikahan bukan hal yang mudah.. bahkan untuk menjalin hubungan saja bagiku itu hal yang sangat rumit dan pasti akan menyusahkan.. apalagi aku harus fokus setiap saat pada pekerjaanku.. jadi aku tidak mau membebani diriku dengan hal hal lain lagi.." jelas Ana lagi.


Louis yang semakin kecewa menghentikan aktivitas makannya.


__ADS_2