Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 87 : Sadarlah !!


__ADS_3

"Ana menghubungimu??" Tanya Jane tiba tiba yang datang entah darimana, ia mengagetkan Pak Kim yang sedang mencari cari kontak dokter pribadi di komputernya.


"Nyo..nyonya Jane.." Pak Kim tergagap.


"Apa yang dia katakan? Kenapa dia membutuhkan dokter pribadi?" Pertanyaan demi pertanyaan di lanturkan Jane, sehingga membuat Pak Kim tergagap.


"Dia hanya butuh resep obat tambahan Nyonya.." jawab Pak Kim berbohong.


"Kau benar benar sekretaris yang setia.." imbuh Jane lirih segera pergi meninggalkan Pak Kim yang khawatir dengan ucapan Jane.


Jane yang segera pergi ternyata segera mengurus tiket keberangkatan menuju negara L tanpa sepengetahuan siapapun. Ia merasa ada yang tidak beres dengan Ana.


****


Tepat pukul 2 malam Ana mendapat pesan dari anak buah Jane, bahwa salah satu polisi itu baru saja keluar dari kantornya, dan sepertinya akan segera pulang. Ana sudah mendapat informasi kedua polisi tersebut.


Polisi dingin bertubuh tegap berusia sekitar 40tahun itu bernama Fillipe, tinggal di apartment studio seorang diri karena masih bujangan, ia seorang workaholic, ialah yang menanyai Ana dengan sangat serius siang tadi.


Sementara polisi yang satunya adalah rekan Fillipe bernama Pasto yang berusia 39 tahun, ia baru saja bercerai karena istrinya berselingkuh dengan teman baiknya.


Malam itu, begitu mendapat kabar dari anak buah Jane, Ana segera melakukan penyamaran, ia segera keluar dari hotelnya.


Ana mengenakan pakaian serba hitam dengan masker dan topi.


Kini Ana berada dalam sebuah mobil yang sudah di sediakan anak buah Jane di depan hotel, sedan hitam sport itu kini terparkir di depan apartment studio milik Fillipe. Ana mengeluarkan ponselnya, menekan nomor ponsel yang sama dengan kartu nama yang kini tengah ia lihat. Ana menggunakan telepon sekali pakai yang tidak bisa dilacak.


"Halo.." sahut Fillipe di seberang.


"Ini aku.. Anavalia Grey.." seru Ana pelan.


"Oh.. Ms.Grey.. ada apa larut sekali anda meneleponku??" Tanyanya kaget.


"Aku ingin membicarakan sesuatu.. bisakah kita bertemu??"


"Sekarang?? Apa tidak apa apa jika kita bertemu sekarang? Bagaimana jika aku menemuimu besok saja di kantor.."


"Tidak.. tidak.. aku ingin bertemu sekarang.."


"Oke baiklah.."


Ana segera memutus panggilannya, Ana mengirimkan sebuah alamat, dan ternyata itu jalanan menuju mansion Dominic. Jalanan menanjak dan berbelok itu tidak mendapat pencahayaan yang cukup karena tidak ada pemukiman disana, hanya ada beberapa rumah mewah milik orang orang elit tertentu saja. Tentu rumah rumah itu lebih sering kosong, karena hanya di jadikan aset atau rumah singgah sang pemilik.


Ana mengenakan sarung tangan kulit hitam, ia melihat Fillipe yang baru saja keluar dari apartment nya, Ana seger membuntuti mobil Fillipe dari belakang. Ia mengemudi dengan perlahan agar tidak di curigai. Hingga jalanan mulai menanjak dan berbelok, serta di iringi jurang di sisi jalan.

__ADS_1


Ana melajukan kecepatan mobilnya hingga menghantam keras belakang mobil Fillipe, mobil Fillipe terdorong hingga menghantam pembatas jalan yang membatasi jalanan dengan pinggiran jurang.


Ana memundurkan mobilnya, tampak asap keluar dari kap depan mobil Fillipe, serta sisi belakang mobilnya tampak remuk. Ana kembali melaju maju menghantam keras lagi mobil Fellipe dari sisi yang sama.


Dorrr !!!


Suara tembakan mengejutkan Ana, peluru panas melesat menembus kaca depan mobil Ana. Untungnya tidak mengenai dirinya sama sekali, ternyata Fillipe berusaha menembak ke arahnya, meski Fillipe tidak tau siapa yang mengemudikan mobil hitam itu, ia hanya berusaha melumpuhkan pengemudinya.


Ana mengeluarkan senjata apinya dari laci dashboard, dan menunduk bersembunyi.


Dorrr !!


Sekali lagi suara tembakan terdengar menembus kaca depan mobil. Terdengar suara pintu mobil Fillipe terbuka, Ana bergeser perlahan, membidik Fillipe dari balik setir kemudi.


Dorrr !!!


Tembakan Ana mengenai paha Fillipe hingga ia tersungkur, pistol di tangannya pun terjatuh ke kolong mobil, ia terus mengerang kesakitan.


Ana segera keluar dari mobil tanpa ragu, ia berjalan mendekati Fillipe yang mengesot mundur sambil memegangi paha kiri nya yang terluka.


"Siapa kau !!!!" Pekiknya mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya.


Ana dengan cepat menendang keras tangan Fillipe hingga pisau itu terpental.


Ana berdiri mendekati Fillipe, menendang rahang bawahnya hingga ia terjerembab ke tanah.


Ana menginjak bekas luka tembakan di paha kiri Fillipe dengan tumit sol sepatu boot-nya yang keras. Fellipe mengerang kesakitan berusaha menyingkirkan kaki Ana dari pahanya.


"Siapa kau !!!!!" Pekiknya lagi.


Ana membuka maskernya, tatapan dingin tersirat di wajahnya.


"Ms.Grey.." ujar Fillipe terbelalak kaget. "Apa yang kau lakukan???" Tanyanya shock.


"Seharusnya kau mengerti isyarat dariku.. kau membuatku tidak punya pilihan lain.." gumam Ana lirih.


"Ms.Grey !!! Kau tidak bisa melakukan ini padaku !!! Aku ini polisi, dan kau seorang pengusaha terpandang.. kau akan hancur jika orang tau perbuatan kotormu ini !!!" Bentaknya keras.


Ana kembali menekan dengan keras paha Fillipe. Lagi lagi Fillipe teriak kesakitan. Jalanan yang gelap dan sepi tak lagi ada orang yang lalu lalang disana.


"Kau menyebalkan sekali.." gerutu Ana memanyunkan bibir mungilnya. "Aku harus membuatmu terlihat tengah mengalami kecelakaan.. namun ini pasti butuh waktu.. sebaiknya kita harus bergerak cepat.." ujar Ana menyunggingkan senyum sinisnya.


"Tidak.. hentikan Ms.Grey !!! Aku akan melakukan apapun untukmu.. tolong jangan bunuh aku.." pinta Fellipe memohon.

__ADS_1


"Kau tidak perlu memohon padaku.. lagipula kau tidak berguna sama sekali untukku.." imbuh Ana dingin.


Dorr !! Dorrr !!!


Ana melayangkan 2 peluru panas tepat di dahi Fellipe. Fellipe tewas seketika, darah mengucur dari dahinya yang berlubang. Ana berdiri terdiam beberapa detik. Saat ingin melangkah maju menuju mobil Fillipe seseorang meneriaki namanya.


"Ana !!!" Pekik seseorang keras.


Ana membatu. Ia mengenal suara itu dengan jelas. Ana menoleh kebelakang dan terkejut melihat Jane telah berdiri disana bersama anak buahnya yang lain.


Jane melangkah cepat menghampiri Ana dan menampar pipinya keras.


Plak !!!


Pipi kiri Ana merah merona dan terasa panas olehnya.


"Kau sudah gila??!! Apa yang kau lakukan !!!" Pekik Jane membentak Ana.


Ana hanya terdiam membatu. Ia seakan kehilangan kesadarannya, ia mengabaikan Jane, ia kembali melangkah mendekati mayat Fillipe, namun Jane menarik lengannya keras.


Mengguncang tubuh Ana keras.


"Ana sadarlah !!!" Pekik nya lagi.


Tatapan Ana tampak sangat mengerikan, ia terus diam tak bergeming, seperti sesuatu telah merasukinya.


Jane mencekram kerah jaket Ana erat.


"Sadarlah !!!" Pekik Jane lagi.


Ana menepis kedua tangan Jane keras. Ia tampak mulai bereaksi.


"Masuk ke mobil !! Aku akan membereskannya.." seru Jane menyorong badan Ana masuk ke dalam mobil yang ia naiki.


Jane tampak berbicara dengan anak buahnya dengan serius.


"Bereskan semuanya.. jika hal terburuk terjadi, aku minta kalian menyerahkan diri, aku akan mengurus kebebasan kalian dengan segera setelahnya.." perintah Jane tegas.


"Baik Nyonya.." angguk anak buahnya mengerti.


Jane yang menatap raut wajah sendu Ana di balik kaca mobilnya segera menyusul masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobil itu menjauhi dari kehebohan itu.


"Sudah aku duga kau pasti melakukan hal gila disini.. apa kau mau mati membusuk di penjara ha???" Jane terus memarahi Ana yang diam tak bergeming di sampingnya.

__ADS_1


"Besok kita akan kembali ke negara K.. kau harus segera menjauh dari sini.. kau semakin kehilangan akal sehatmu !!"


"Bukankah ini yang kau inginkan?? Bukankah selama ini kau selalu ingin aku menjadi sepertimu?? Membunuh siapa saja yang menghalangi ambisimu !! Menyingkirkan siapapun yang menyulitkanmu !!" Emosi Ana meledak seketika.


__ADS_2