
Jane membuat acara makan malam bersama di sebuah restoran. Ia mengundang Louis beserta keluarganya. Ia juga mengundang Lucas bersama keluarganya serta Pak kim dan Dita.
Ana tampak canggung dengan suasana itu. Di tambah lagi keluarga Louis turut hadir.
"Aku tidak yakin untuk melakukan hal ini.." gumam Ana malu.
"Kenapa?? Kau pikir kita tidak boleh mensyukuri hal ini??" timpal Jane mnggerutu.
Ana hanya mengehela nafas.
"Ini justru seperti acara pertemuan keluarga karena Louis hadir bersama keluarganya.." gelak Lucas terkekeh. Namun Ana, Jane dan Louis hanya terdiam. Mereka bertiga tidak ikut tertawa meski yang lain tertawa girang.
"Bukankah mereka sangat serasi?? Apa benar-benar akan ada pernikahan setelah ini??" timpal Dita tak mau kalah.
"Jika mereka berdua sudah memutuskan.. Kami tentu akan mendukung keputusan mereka berdua.." timpal Ibu Louis menggoda putranya.
"Aku tidak akan menikah.." timpal Ana tegas seraya menatap Louis yang duduk di seberangnya intens. Ucapan lugasnya membuat semua orang sontak terdiam seribu bahasa. Ana benar benar paling ahli dalam mematahkan kesenangan orang lain.
"Seperti yang kalian tau.. Hidupku sudah sangat kacau.. Aku tidak ingin membuat suamiku tersiksa karena harus hidup dalam kekacauanku.." tambah Ana lagi menenggak habis wine nya dengan cepat.
"Apa yang kau katakan.." gumam Jane menyenggol bahu Ana keras.
"Apa kau tidak menyukai putraku??" tanya Ibu Louis tiba-tiba.
Ana tertegun. Ia kemudian tersenyum hangat. "Aku bahkan sangat mencintainya.." ujar Ana tulus.
"Dia juga cinta pertamaku.. Ciuman pertamaku.. Dan malam pertamaku.."
Uhuk..uhuk..uhuk..
Louis tersedak mendengar ucapan terakhir Ana. wajahnya merah padam.
__ADS_1
"Namun, cinta saja tidak cukup untuk membahagiakannya.. Jadi.. Aku yakin jika keputusanku untuk tidak menikah sudah sangat tepat.. Dia tidak perlu merasa tersiksa karena aku, dan aku tidak perlu merasa bersalah karenanya.." jelas Ana lagi.
"Kau benar benar sangat egois !! Bahkan kau tidak memberiku kesempatan.." celetuk Louis keras.
"Aku sudah memilikimu dalam diriku.. Jadi aku tidak punya alasan untuk memilikimu seutuhnya.."
"Apa maksudmu??" tanya Jane kebingungan.
"Mari kita akhiri makan malam ini.. Aku benar-benar sedang tidak enak badan.." potong Ana menyela.
"Kau sakit?? Apa perlu periksa ke rumah sakit??" tanya Jane khawatir.
"Tidak.. Aku hanya perlu istirahat.." geleng Ana pelan.
"Baiklah.. Biar aku antar pulang.." sahut Pak Kim segera.
"Tidak perlu.. Kalian silahkan makan malam dengan tenang tanpa aku.. Bukankah akan sangat canggung jika aku terus ada di sini??"
"Lou.. Aku sangat benci jika kau terus menempel seperti ini.. jadi.. Tolong beri aku seidkit jarak.." imbuh Ana menyela. Louis tertegun. Matanya berkaca-kaca.
Ana segera pergi dari sana. Sementara semua orang satu persatu juga ikut pulang dan meninggalkan acara itu.
...****************...
Ana menatap dirinya yang hanya mengenakan underware-nya sesaat setelah mandi. Ia menoleh ke arah westafel. Di sana terdapat alat testpack yang berserakan. Dan semuanya menunjukkan tanda positif.
Ana hamil !!
ia telah mencoba segala merk tespack hingga ada 10 macam. Dan semuanya menunjukkan tanda positif. Ia sudah memeriksanya sejak pagi tadi. Ia merasa sangat mual dan lemas. Ia juga sudah telat datang bulan. Entah kenapa ia merasa penasaran. Dan ternyata rasa penasarannya telah terjawab.
Itu sebabnya ia berkata demikian.
__ADS_1
"aku telah memilikimu dalam diriku.." saat di restoran tadi.
Ia bahkan tak menyangka jika ia bisa hamil setelah operasi besarnya di swiss. Dan setelah berbagai siksaan dan kesulitan yang ia alami akhir-akhir ini. Ia tidak akan menggugurkan kandungannya. Dan ia juga tidak akan memberitahu Louis tentang kehamilannya. Ia akan menyembunyikannya dari Louis. Ia tak ingin mereka hidup bersama hanya karena kehamilannya. Ia tak ingin membuat Louis tersiksa dan terus bersedih karenanya.
...****************...
"Ayah rasa, sudah waktunya kau mengakhiri semuanya, Lou.." imbuh ayahnya saat mereka tengah duduk bersama di ruang keluarga.
"Ayah.." ujar Louis.
"Aku tau dia pasti sangat kesulitan.. Dan tentu kau juga.. Tapi.. Aku rasa memang sudah seharusnya kalian berpisah.. Apa yang di katakan Ana benar.. Dia tidak ingin kau terus tersakiti karenanya dan dia juga pasti tidak ingin merasa bersalah atas dirimu.." jelas ayahnya tegas.
"Aku akan membujuknya.." jawab Louis yakin.
"Lou.. Kapan kau akan sadar?? Dia bahkan mengatakannya dengan lantang.. Apa kau tidak punya harga diri??" bentak ayahnya. "Orang-orang akan bergunjing dan memburukkanmu jika tau hal memalukan seperti tadi.. Mereka akan mengatakan omong kosong tentangmu.. Lagipula dia sudah jauh berubah.. Lihatlah bagaimana luka pada wajahnya?? Dan bagaimana hidupnya selama ini?? Bagaimana bisa seorang wanita terus mendapati luka mengerikan seperti itu.. Bahkan kami tidak tau apa yang sebenarnya dia lakukan di luar sana.. Apa dia benar benar seorang mafia?? Mafia yang menjual narkoba dan menjual manusia demi uang??"
"Ayah !! Dia tidak seperti itu !!"
"Lalu seperti apa dia?? Aku selalu menahannya karena ia memang baik.. Dan aku akui itu.. Tapi akhir-akhir ini aku melihat dia sudah berubah.. Dia bukan Ana yang aku kenal dulu.. Dia seakan sedang menunjukkan jati dirinya.."
"Hentikan, Yah !!"
"Kenapa?? Apa kau masih tidak mengerti?? Apa kau masih akan terus mempermalukan dirimu?? Kau seorang superstar.. Bagaimana kau bisa bertingkah seperti ini??"
"Dialah yang membuatku besar seperti ini, yah !! Dialah yang memperjuangkanku !! Dialah yang membantuku !! Jika bukan karena bantuannya.. Aku juga bukan siapa siapa.. Aku tidak akan bisa menjadi seperti ini!!"
"Sudah !!! Hentikan !!!" pekik ibunya keras. "Aku mohon hentikan.."
Louis dan ayahnya terdiam satu sama lain.
"Aku tidak akan setuju jika kau terus mengejarnya !! kau pantas mendapatkan yang lebih baik.." seru ayahnya kemudian segera pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
...****************...