
"Aku tidak tau kau akhirnya memutuskan untuk memiliki pacar.. aku pikir kau tidak memikirkannya.." sindir Louis menenggak kopi hangat nya.
"Hmm.. aku hanya sedang mencobanya.." ujar Ana berbohong.
"Kau pikir hubungan itu hanya untuk coba-coba?? Bagaimanapun jangan sakiti pria manapun.."
"Jangan pedulikan aku.. aku sudah cukup dewasa untuk hal ini.." timpal Ana enteng.
"Umur kita ini sebaya.. kau selalu berbicara seakan-akan kau lebih tua dariku.." celetuk Louis sinis.
Ana tersenyum simpul.
"Apa pekerjaannya?" Tanya Louis penasaran.
"Siapa?" Tanya Ana pura-pura tidak mengerti.
Louis hanya memanyunkan bibirnya menunjuk ke arah ponsel Ana.
"Ahh..Albert?? Dia seorang detektif.."
"Cihh..bahkan dia seorang polisi.. menyebalkan sekali.." gumam Louis menyindir.
"Kenapa kau kesal tentang itu??"
"Lupakan saja.. kau yang pernah mengatakan tidak ingin terlibat dengan polisi..ternyata kau malah berkencan dengan salah satunya.."
"Kali ini berbeda.." jawab Ana singkat.
"Apanya yang beda??"
"Dia berbeda.. aku sangat.. sangat menyukainya.." kali ini Ana memang benar benar menguji Louis.
"Lalu bagaimana denganku? Apa aku tidak berbeda??" Sahut Louis lirih.
"Kau?? Kenapa memangnya? Kau sama saja dengan yang lainnya.." jawab Ana menenggak coffee nya merasa tidak berdosa atas ucapannya.
"Kau memang menyebalkan sekali.." gerutu Louis ketus.
"Lalu bagaimana denganku?? Apa aku istimewa di matamu?" Tanya Ana tiba-tiba membuat Louis terdiam. Matanya terbelalak kaget. Wajahnya lagi-lagi memerah.
"Kau.. hmm.. kau sangat menyebalkan.. apanya yang istimewa.." tukas Louis kesal.
"Benarkah?? Kalau begitu apa sebaiknya aku menikah saja dengan Albert??" Lagi-lagi Ana menggoda Louis yang terlihat kesal sejak tadi.
"Kau sudah gila?? Kau baru saja mengenalnya.. dia juga pasti tidak tau kau wanita seperti apa.. aku yakin dia akan lari setelah 1 minggu menikah denganmu.." seru Louis semakin terbakar api cemburu.
"Benarkah? Apa sebaiknya kau saja yang menikahiku?? Kau tau semua rahasia gelapku.. tau sifat burukku.. kita pasti akan langgeng jika bersama.." tukas Ana lagi lagi menggoda Louis.
Louis hanya ternganga. Ia tak percaya dengan yang Ana lontarkan barusan.
"Bagaimana?" Ana mengedipkan sebelah matanya genit. "Kau kan tau..aku sangat kaya.. aku harus menikah dan punya keturunan untuk mewarisi kekayaanku.. jika aku gagal dalam pernikahan bersama Albert bagaimana aku bisa punya keturunan.."
"Dasar wanita gil*.. kau menyebalkan sekali.." gumam Louis menggeram kesal.
"Hahaha.. lihatlah wajahmu itu.. kau benar-benar menggemaskan.." tawa Ana meledak. Ia tertawa lepas hingga matanya berair.
"Albert adalah kakakku Lucas.." tambah Ana lagi.
"A..apa?"
"Dia adalah kakakku.. Lucas.." jelas Ana lagi.
Louis seperti kehilangan akal. Ia tak menyangka jika orang yang ia cemburui itu ternyata orang yang juga ia cari selama ini untuk membantu Ana menemukan kakaknya.
"Bagaimana kau bisa menemukannya??"
"Mungkin takdir sudah kasihan terhadapku.." jawab Ana santai.
"Kau yakin dia kakakmu??" Tanya Louis lagi meyakinkan.
"Hmm..tentu saja.." angguk Ana menyeruput lemonade nya.
"Lalu kenapa kau menipuku.. dan berpura-pura kalau dia pacarmu??" tanya Louis menyelidiki.
__ADS_1
Ana hanya tersenyum. Ekspresi wajahnya sulit untuk di artikan.
"Disini kau rupanya.." seru seseorang dari arah belakang Ana.
Ana menoleh kebelakang setelah ia meyakini siapa pemilik suara itu. "Sedang apa grandma disini??" Tanya Ana balik.
"Aku menginap disini sudah beberapa hari belakang.."
"Aku dengar suami terkasihmu sudah kembali.. tapi kenapa kau masih disini??" Tanya Ana sinis, membuat Louis canggung dengan situasi itu.
"Dia bebas melakukan apa saja Ana.. begitulah cara kami bisa tetap hidup bersama.. kami tidak saling ketergantungan satu sama lain.." Jane mendekat pada Ana dan membelai hangat rambut Ana. "Lagipula bukankah kita masih punya urusan penting??" Dengan nada setengah mengancam.
Ana menepis tangan wanita itu. "Pergilah.. mood ku sedang bagus saat ini, jangan merusaknya.. lagipula aku sedang tidak ingin bicara denganmu.." tukas Ana sinis.
"Kau lihatkan.. dia gadis yang sangat menggemaskan.. itu kenapa aku sangat menyayangi cucuku satu satunya ini.. tapi terkadang dia juga bisa sangat menyeramkan.." seru Jane kepada Louis sambil tersenyum puas karena berhasil membuat Ana terpancing emosi.
Louis hanya tampak canggung dan mencoba tersenyum ramah.
"Kalau begitu..aku pergi dulu.. kalian selamat berkencan.." Jane segera berlalu melambaikan tangannya yang tak di acuhkan oleh Ana maupun Louis.
"Kau tidak apa-apa??" Tanya Louis khawatir saat melihat ekspresi wajah Ana yang jadi dingin.
"Mari kita pulang.. aku sangat lelah sekali.." sahut Ana lirih mengelap mulutnya dengan serbet di atas meja lalu segera bangkit dari duduknya di ikuti Louis.
Louis hanya berjalan mengikuti Ana tanpa bergeming. Saat tengah menanti mobil mereka di depan lobi, Louis lalu membuka dan mengenakan longcoat di pundaknya ke pundak Ana.
"Hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu.." ujar Louis menatap Ana tulus.
Ana hanya menatapnya dengan tatapan hangat.
"Mau minum bersamaku??" Tanya Ana lirih dengan mata berkaca-kaca. Tatapan wajah Ana tampak sendu dan kalut.
Louis segera menarik kedua lengan Ana kedalam pelukannya. Ia mengusap hangat punggung Ana.
"Aku akan selalu ada disini untukmu Ana.." ujarnya pelan. "Aku akan selalu ada kapanpun kau membutuhkanku.."
***
Di mansion Ana dan Louis duduk bersama di mini bar mansion dekat taman belakang. Ana membuka sebotol wine tua yang sangat mahal koleksi ayahnya.
"Tidak ada yang murah disini.." timpal Ana menyombongkan diri.
"Kau tak perlu mengatakannya, aku sudah tau itu"
Ana mengeluarkan rokok dan pemantiknya ke atas meja, saat hendak membakar sebatang rokoknya, Louis menahan tangan Ana lembut.
"Bisakah kau tidak merokok? aku tidak tahan dengan asapnya.."
Ana menatapnya sendu. "Baiklah.." angguk Ana kembali menyimpan rokok itu.
Ana kembali menenggak habis wine nya. Louis hanya memperhatikan Ana dengan seksama.
"Apa yang terjadi?"
"Aku akan menepati janjiku padamu.."
"Janji?"
"Hmm.. aku sudah bertemu Lucas, aku akan meninggalkan dunia mafia.." angguk Ana pelan.
"Benarkah?"
"Apa kau sesenang itu?" tanya Ana heran melihat ekspresi senang Louis.
"Tentu saja.. aku merasa sedikit lega sekarang.."
"Grandma akan mengambil alih semuanya dariku.."
"Apa Nyonya Jane juga??"
"Hmm.. dia bahkan lebih parah dariku.. dia lebih gil* dariku.." jelas Ana setengah berbisik.
"Pantas saja tatapannya tampak mengerikan.." gumam Louis pelan.
__ADS_1
"Apa aku harus benar benar menyerah sekarang??" tanya Ana dengan suara parau.
"Hmm.. aku rasa sudah waktunya.." angguk Louis yakin.
"Kau tau alasan sebenarnya aku terjebak disini??" Ana menatap Louis lekat lekat.
Louis hanya membalas tatapan itu dengan wajah bingung.
Ana membelakangi tubuh Louis, ia mengangkat kaos dalamnya tinggi, membuat Louis kaget dan berpaling dari Ana.
"Hei apa yang kau lakukan??" tukasnya keras.
"Lihatlah.." pinta Ana.
"Kau gila? kenapa kau membuka bajumu???" pekiknya tak berani menoleh pada punggung Ana.
"Lihatlah punggungku !!" seru Ana dengan nada tinggi.
Louis memberanikan diri melihat perlahan punggung Ana yang di penuhi tato dengan berbagai gambar, dari gambar kepala singa dengan kombinasi bunga mawar berduri hingga tengkorak. Gambar itu memang tampak luar biasa menghiasi punggung Ana.
"Kau ingin memamerkan tatomu padaku?" tanya Louis bingung.
"Lihatlah dengan baik.." pinta Ana lagi.
Louis memberanikan diri menatap punggung Ana lekat lekat, ia tertegun melihat permukaan punggung Ana tampak tidak rata, ia memberanikan diri menyentuhnya. Betapa kagetnya ia sebenarnya ada banyak bekas luka di punggungnya yang telah di tutupi dengan penuh tato. Saat Ana tau Louis sudah sadar dengan bekas luka itu ia segera menutup kembali punggungnya.
"Kau sudah melihatnya?" tanya Ana lagi menatap Louis dengan seksama.
"Bekas luka apa itu?" tanya nya dengan mata berkaca kaca.
"Itu penderitaan yang aku tanggung saat aku masih kecil di panti asuhan Lou.. Mereka menyiksa kami terus menerus tiada henti.."
Louis menarik lengan baju Ana ke atas. Ia dapat melihat tato lain di bagian lengan tangan Ana kiri dan kanan.
"Apa ini juga menutupi bekas luka yang lainnya?" tanya Louis menunjuk ke arah tato tersebut.
Ana hanya tersenyum simpul.
"Sebagian juga karena perkelahianku dengan banyak musuh.." tambahnya lagi.
"Itu sebabnya kau selalu mengenakan pakaian tertutup? menutupi bekas luka lukamu?"
"Aku tidak keberatan jika orang memandangku buruk karena badanku yang penuh tato, daripada membiarkan orang mengasihani ku karena bekas luka di tubuhku.." jawab Ana menurunkan lagi lengan bajunya yang tergulung.
"Ana.."
"Tolong jangan melihatku seperti itu.." tukas Ana membuat Louis segera mengalihkan pandangannya dari Ana. "Aku tidak ingin kau mengasihani aku.."
"Kau akan membalas dendam pada pelakunya?" tanya Louis menebak.
"Tidak.. karena Bibi Layla sudah melakukannya.. pelakunya tewas saat panti asuhan itu terbakar.. Aku hanya ingin menghentikan hal buruk yang aku alami menimpa orang lain.." Ana menenggak wine nya. "Aku harus menyelamatkan banyak nyawa Lou, aku harus membebaskan banyak orang yang terjebak diluar sana.."
Louis menggenggam tangan Ana erat. Ana melihat tangannya di genggam Louis erat.
"Grandma dan suaminya adalah mafia besar, mereka memperdagangkan perempuan dan anak anak.. itu sebabnya aku harus terus melawannya Lou.."
"Apa?" celetuk Louis kaget.
"Aku tidak bisa diam saja bukan?"
Louis lagi lagi hanya terdiam, tak tau ingin berkata apa.
"Jika aku berhenti sekarang, mereka akan semakin membabi buta.. mereka akan semakin berkuasa.. aku tidak bisa tinggal diam sekarang jika mereka masih hidup.."
"Apa maksudmu? Apa kau ingin menghabisi mereka?" tanya Louis kaget dengan ucapan mereka.
Ana lagi lagi hanya tersenyum tanpa menjawabny.
"Kau bilang akan selalu ada untukku kan?? Maka dukunglah aku.. agar aku selalu merasa lebih baik lagi.." tukas Ana lirih.
"Aku sudah lelah untuk terus diam dan mengalah pada keadaan Lou.." suara Ana terdengar bergetar tiba-tiba.
"Aku tidak bisa kehilangan siapapun lagi.. aku sudah terlalu angkuh karena sudah meremehkan Grandma Jane.. namun sekarang dia mulai mengambil satu persatu yang aku punya.. aku rasa aku akan mengikuti semua permainannya.. aku rasa itu yang terbaik.. dan aku akan membuat dia terjebak dan terkalahkan oleh permainannya sendiri.." Mata Ana berkaca kaca, ia berusaha keras menahan air matanya.
__ADS_1
Louis menatap lurus ke depan. Pemandangan dari balik jendela memperlihatkan laut di malam hari yang disinari bulan tampak seperti lukisan. Ia tidak sanggup melihat Ana yang kalut dalam kesedihannya.