
Ana kini sering bertemu dengan Jane selama ia di negara E, selain sambil memeriksa bisnisnya disana ia juga banyak mendengar cerita Jane, dan Jane telah mengalihkan beberapa bisnisnya atas nama Ana, meski Ana menolaknya mentah mentah wanita tua itu tidak pantang menyerah, tetap saja ia mengalihkan bisnis bisnis itu ke atas nama Ana.
"Aku hanya ingin berjaga-jaga kalau saja tiba tiba aku mati, kau tidak perlu repot repot mengurus pengalihan warisan.."
"Jadi kau sudah berencana untuk mati?" Timpal Ana dingin sambil menyeruput kopi hangat nya.
Sore itu mereka tengah bersantai di sebuah restoran di pinggir pantai. Meski di negara E musim dingin sudah mulai usai namun cuaca masih cukup dingin.
"Orang seperti kita ini harus siap mati kapan saja.. musuh ada dimana mana.." jelasnya yakin.
"Aku lebih milih mengakhiri diriku sendiri daripada membiarkan orang lain membunuhku.."
"Apa yang kau katakan??" Tukas Jane kaget dengan ucapan Ana.
"Orang orang bilang kalau kita mati dibunuh bisa jadi hantu yang gentayangan.." jawab Ana polos.
"Jadi kau pikir kalau kau bunuh diri, kau tidak bisa jadi hantu yang gentayangan??" Tanya Jane dengan wajah anehnya.
Ana termenung sesaat dengan wajah manisnya. "Benarkah?? Entahlah aku tidak peduli.. yang jelas aku hanya ingin mati dengan tenang.." jawab Ana enteng.
"Kau ini benar-benar.." geleng Jane tidak habis pikir.
"Apa kau sudah dapat kabar soal Dominic?" Tanya Ana mengerutkan keningnya.
Jane hanya menggeleng cepat. Lokasi ponsel terakhirnya ada di pinggir kota. Tidak biasanya dia menghilang, bahkan anak buahnya tidak ada yang bisa ia hubungi.
"Menurutmu dia masih hidup?" Tanya Ana curiga.
"Entahlah.. jika dia masih hidup, anggap saja dia sedang beruntung.." Jane menyeruput kopi hangatnya.
"Ah.. ada yang ingin aku tanyakan.." celetuk Ana tiba tiba
"Apa??"
"Waktu itu kau bilang Bibi Layla juga hamil.. apa dia Franz?" Tanya Ana dengan nada hati hati.
Jane hanya tersenyum. "Ternyata kau cukup lambat menangkap sesuatu.. itu sebabnya kau selalu saja bisa aku kerjai berkali kali.." timpal Jane mengejek.
Ana hanya menatap sinis Jane. "Lalu kenapa kau menjodohkanku dengannya?"
"Apa kau benar benar bodoh?? Apa berpikir sangat lambat?? Kau sangat pintar mengurus perusahaan keluarga kita.. tapi kau sangat bodoh menangkap hal hal seperti ini.." lagi lagi Jane mengejek Ana dengan nada meremehkan.
__ADS_1
"Sudahlah.. lupakan saja.." tukas Ana kesal.
"Tentu aku ingin kau tau sendiri siapa Franz dan siapa Layla..aku yakin kau akan mencari tau latar belakang Franz.. jadi aku ingin kau menangkap basah mereka sendiri.. dan sepertinya kau sudah menangkap basah mereka.."
Ana mengingat ingat kejadian waktu itu di kamar Franz, ia menangkap basah Layla dan Franz bersama.
"Lalu apa rencanamu sekarang?" Tanya Jane menangkap mood Ana mulai berubah tampak kesal.
"Bukankah kita harus menguras habis hartanya??" Ujar Ana menatap Jane tersenyum sinis.
"Bahkan saat aku sudah setua ini aku masih sangat tergila-gila dengan uang.." Jane menghela nafas lega merentangkan tangannya meregangkan ototnya lega.
"Aku akan tetap pada rencanamu.. tapi aku akan melakukannya dengan caraku.." imbuh Ana memikirkan cara yang sudah ia pikirkan.
"Baiklah.." angguk Jane mengerti.
"Lalu.. apa yang akan kau lakukan pada Layla??" Tanya Jane lagi.
"Entahlah.. aku belum memikirkannya.." geleng Ana pelan.
"Aku tau itu pasti berat untukmu.. tapi kau sudah bersandar pada orang yang salah Ana.."
Ana membakar sebatang rokok lagi.
"Cih.. kini kau benar benar seperti nenek tua yang sangat menyebalkan.." gumam Ana kesal.
"Setidaknya aku nenek tua yang tidak akan mengkhianatimu.."
"Benar.. " timpal Ana tegas.
"Setelah aku pikir pikir.. kau memang tidak pernah mengkhianatiku.. meski kau sudah berkali kali membuatku hampir gila dengan apa yang kau lakukan padaku.. setidaknya sekarang aku tau kalau itu untuk membuatku sadar.."
"Itu karena aku ingin melindungimu.." seru Jane tegas.
"Kau memang punya cara yang gila untuk melindungiku.." seru Ana sinis.
Ana bangkit dari duduknya.
"Kau mau kemana?" Tanya Jane bingung.
"Pulang.. pekerjaanku sudah menumpuk.."
__ADS_1
"Tunggu.. apa Louis sudah memberitahumu kenapa dia menemuiku malam itu??" Timpal Jane yang di abaikan Ana, meski ia mendengarnya.
Ana terus berlalu pergi.
Ia segera kembali ke hotel mengemas barang barangnya lalu segera ke bandara.
***
Sudah 5 hari ia berada di negara L. Kini ia kembali ke negara K untuk menuntaskan semua pekerjaannya.
Bahkan ia sempat menyinggahi tempat penampungan untuk orang orang terlantar yang ia danai selama ini, ada banyak tempat penampungan yang ia dirikan. Disanalah ia menghidupi anak anak dan wanita yang ia selamati dari perdagangan manusia, sebagian juga ada orang orang terlantar di jalanan, bahkan ia sudah membangun beberapa pedesaan kumuh menjadi pedesaan yang layak tinggal dan lebih sehat serta menjadi sejahtera.
Jane berencana untuk ikut bersama Ana namun ia masih harus tetap di negara L setelah persidangannya.
Ana tiba di negara K pukul 7 pagi, siapa sangka ia telah ditunggu sosok yang mengagetkannya.
Disana tengah berdiri Layla tampak menunggunya dengan gusar.
Ana meremas tali tasnya geram. Matanya berkaca kaca.
"Ana.." serunya lirih.
Ana menatapnya dingin, melangkah pelan ke arah Layla. Ia bahkan tidak memberitahukan siapapun jika ia akan pulang, lalu bagaimana ia tau Ana akan ada di bandara pagi itu.
"Bagaimana Bibi tau aku ada disini?" Tanya Ana dingin.
"Aku..hanya menebaknya saja.." jawabnya ragu.
"Ohh.. baiklah.." angguk Ana mengiyakan tipuan Layla.
"Kau pasti lelah.. sini aku bawakan tasmu.." tawar Layla mencoba meraih tas jinjing Ana, namun Ana mengelak dan menjauhkan tas itu dari Layla.
"Tidak perlu.. aku tidak lelah kok.. Bibi pulanglah.. aku akan segera ke kantor.." tolak Ana lembut, ia masih saja berusaha menjaga perasaan Layla meski ia sudah tau yang sebenarnya, dan yang jelas dokumen dokumen dari Jane semua ada di tas jinjing LV hitam itu.
"Kau baru saja sampai Ana, apa kau tidak ingin pulang ke mansion dulu?" Tanya nya lagi.
"Tidak Bi, aku ada meeting penting pagi ini.." Ana segera berlalu pergi meninggalkan Layla yang masih berdiri disana.
Ana melangkah pergi dan melihat kilasan wajah Layla dari pantulan kaca yang ada dinding pembatas gate keluar masuk penumpang.
Ana terkejut ketika Layla tampak tersenyum sinis dan terkesan mematikan.
__ADS_1
Ana menghela nafas berat, itu pertama kalinya ia melihat Layla tersenyum seperti iblis mengerikan.
Itulah wajah asli Layla yang pertama kali terlihat oleh Ana.