Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Bab 220 - R.I.P


__ADS_3

Ana duduk termenung di ruang duka. Foto Jane di pampang di meja persembahan. Tamu datang silih berganti untuk turut menyampaikan belasungkawa mereka. Bahkan para tamu dominan berasal dari luar negeri. Bahkan anak buah Jane dari luar negeri juga turut hadir. Lucas duduk di samping Ana, menyambut tamu yang hadir. Sementara Ana mengabaikan mereka tanpa peduli sedikitpun.


Louis, Irene dan orang tuanya membantu perjamuan para tamu yang datang. Pak Kim juga turut hadir menggunakan kursi roda. Ia duduk di ruang tunggu keluarga. Ia tak henti-henti menangis setelah mendengar kabar duka itu.


"Lou, sebaiknya bujuk Ana untuk makan sedikit roti ini... dia bahkan belum makan apapun sejak pagi..." bisik ibu Louis khawatir.


"Dia tidak akan mendengarkan aku, Bu... Sebaiknyakita biarkan saja dulu..." imbuh Louis melihat ke arah Ana yang duduk termenung dengan tatapan kosong.


Ibu Louis terisak, "Ana yang malang, kenapa dia harus menanggung kesulitan dan kesedihan seperti ini... ini pasti akan sangat menyiksanya, Lou..."


Louis pun turut menitikkan air matanya, hatinya terasa sangat sesak dan sakit menyiksa. Ia dapat merasakan kesedihan Ana yang tak terhingga.


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Setelah dokter menutup semua luka di tubuh Jane di rumah sakit. Lucas menceritakan detail kejadiannya pada Ana yang kini tampak mulai tenang.


"Layla... kabur saat sedang di interogasi... ia tau jika Jane saat itu juga sedang di periksa di ruang sebelahnya... Ia menyerang polisi yang tengah bersamanya... kemudian berlari keluar, mengambil pisau cutter di meja kerja salah satu petugas... lalu menyerang Jane di ruang interogasi... ia menyayat lehernya, menusuk perutnya berkali-kali... petugas segera berusaha menghentikan dan melumpuhkannya, namun dari arah lain Dita juga turut ikut menyerang Jane... ia meraih kedua kaki Jane dan menyayat kedua pergelangan kakinya..." jelas Lucas lirih.


Ana terisak pelan. Ia menyeka wajahnya kasar. Menyeka kedua matanya yang sembab dan bengkak. Menghela nafas panjang dengan bibir yang bergetar tertahan.


"Maaf, Ana... seharusnya aku melindunginya... maafkan aku... seharusnya aku bekerja dengan baik... seharusnya hal ini tidak menimpa Jane..." mohon Lucas merasa bersalah.


Ana diam seribu bahasa. Sejak saat itu, Ana tak lagi menangis. Ia tak lagi tampak mengeluarkan air matanya sedikitpun. Ia tampak benar-benar tegar. Entah apa yang ada di benaknya. Ia kini tampak benar-benar tenang dan justru menakutkan.


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

__ADS_1


Di rumah duka...


Perlahan tamu mulai sepi, sebagian tamu yang merupakan anak buah Jane berada di luar ruangan, mereka berjaga di sana sebagai penghormatan terakhir mereka. Lucas mendekati Ana, mengusap pundaknya lembut.


"Ana, sebaiknya kau istirahat... kau tampak sangat kelelahan..." imbuhnya lirih.


Ana lagi-lagi diam seribu bahasa. Ia terus termenunug melihat ke arah lantai. Tak mendapat jawaban apapun dari Ana, Lucas segera pergi menuju meja hidang makanan untuk mengambilkan secangkir kopi hangat untuknya.


Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat sosok bajingan itu muncul di depan pintu masuk ruang duka.


"Apa yang kau lakukan di sini?" hardik Lucas kaget melihat kedatangan Layla. Tangannya tampak di borgol, dan ia bahkan sudah mengenakan pakaian tahanan. Ia juga hadir dengan di dampingi 2 petugas kepolisian.


"Hei !!! Apa yang kalian lakukan? kenapa kalian membawanya kemari?!" hardik Lucas pada kedua petugas yang tampka kebingungan itu.


Suara gelaknya berhasil menarik perhatian Ana. Ana menoleh ke arah pintu masuk ruang duka, dimana ia berada. Amarahnya seketika meluap. Layla berjalan masuk seraya melihat Ana dengan tatapan mengejek.


Ana segera mengeluarkan pisau lipat yang entah sejak kapan ia bawa di balik saku baju dukanya. Ia segera bangkit. Lalu...


Syuuuttttttttt...


Pisau itu menebas leher Layla. Darah segar muncrat dari sana. Dengan gerakan cepat Ana menghunuskan pisau itu berkali-kali bahkan belasan kali. Gerakan cepat bahkan sangat telat di sadari oleh Lucas. Semua orang yang menyaksikan itu berlari ketakutan keluar dari ruang duka. Louis bahkan segera membawa orang tuanya keluar dari sana, agar mereka tidak melihat kejadian itu. Sementara Louis berusaha untuk kembali ke dalam sana. Ia harus menghentikan Ana, meski ia tak ingin melihat sisi mengerikan Ana ini. Lucas yang tersadar dengan kegaduhan itu turut terkejut saat melihat darah mengucur keluar di antara keduanya. Ia segera berlari cepat menarik tubuh Ana menjauh dari Layla.


Lucas berusaha menahan tubuh Ana. Namun, Ana telah lepas kendali. Ia menyikut perut Lucas sangat keras, hingga Lucas terjengkal ke belakang. Ana kembali menerjang Layla keras hingga ia tertelentang di atas lantai. Ia menduduki tubuh yang bersimbah darah itu. Menghunuskan pisau itu berkali-kali lagi, kedua petugas tadi tengah berjaga di luar, mendengar keributan di dalam sana, mereka segera berlarian masuk ke dalam.


Mereka langsung menyentrum tubuh Ana dengan alat khusus mereka, hingga tubuh Ana tumbang ke lantai.

__ADS_1


Samar-samar Ana melihat Layla yang kejang-kejang, matanya membelalak ke atas seraya memegangi lehernya yang nyaris putus itu.


Ana tertawa puas. Ia tertawa terbahak-bahak seraya menangis. Air matanya mengalir bersamaan dengan gelak tawanya yang lepas.


Lucas segera memegangi Ana, bahkan ia membrogol ke belakang kedua tangan Ana agar ia tak lagi menyerang Layla yang sudah sekarat.


Layla tampak masih berusaha melihat ke arah Ana yang menertawainya dengan tatapan kosong.


"****** sialan..." ucap gerak bibirnya tanpa suara.


"Ternyata mudah untuk melakukan ini... seharusnya aku melakukan ini sejak lama..." geram Ana tertawa. Ia benar-benar terlihat mengerikan dan juga terlihat sangat menyedihkan di waktu yang bersamaan. Ana merasa sangat puas dengan apa yang ia lakukan pada Layla, namun itu tetap tak akan bisa menyembuhkan luka hatinya.


Louis bahkan tak sanggup melangkah maju, tubuhnya mematung, ia tak menyangka akan mematung seperti itu saat melihat Ana yang ia cintai telah berubah menjadi monster, seharusnya ia menghentikan Ana. Tapi entah kenapa tubuhnya tak bisa bergerak sedikitpun.


Layla segera di bopong keluar, untuk menuju rumah sakit. Sementara Ana di bawa paksa ke kantor polisi atas penyerangan dan pembunuhan. Ia keluar dengan tubuh bersimbah darah. Ia melewati Louis yang berdiri di depan pintu sejak tadi. Ana hanya menatap Louis dengan tatapan sedih seraya tersenyum manis pada Louis.


Di perjalanan menuju kantor polisi, Lucas menerima panggilan, jika Layla telah meninggal saat di perjalanan menuju ke rumah sakit. Lucas menyampaikan berita itu pada Ana yang tengah duduk di kursi belakang mobil Lucas. Ana bahkan tampak tak peduli. Ia hanya menatap keluar jendela tanpa ekspresi.


****


Setelah menerima putusan untuk penahanannya. Ana segera di penjara di tempat yang sama dengan sebelumnya. Ia di kurung di sana bersamaan dengan Dita. Hanya saja, ia berada di sel isolasi. Ia di pisahkan dari tahanan yang lain. Bahkan tak ada lagi yang bisa menjamin dan melindunginya di sana, karena kepala sipir dan kepala kepolisian mitra Jane telah di tangkap polisi karena di laporkan oleh Layla atas kasus suap.


Ana bahkan tak bisa menghadiri pemakaman Jane. Lucas dan Louis mewakilkan dirinya unutuk menyelesaikan pemakaman Jane. Ana duduk di selnya yang sangat sempit. Ia duduk seraya menatap langit luar dari sela kecil di sel itu. Tak ada sedikitpun rasa penyesalan di hatinya setelah membunuh Layla. Ia hanya merasa sangat menyesal karena telah melakukan kebodohan selama ini.


Selama ini ia menyayangi Layla sepenuh hati. Pada nyatanya, Jane lah yang selama ini sosok yang selalu menyayangi dan melindunginya dari pengaruh buruk Layla. Jane selalu berusaha menghentikan Ana untuk mencari-cari Layla. Namun, ia yang justru mengundang iblis itu masuk kembali ke kehidupan mereka. Dan inilah hukuman Ana, karena ia telah menutup hatinya untuk Jane dan mengabaikannya selama ini.

__ADS_1


__ADS_2