Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 85 : Menyelesaikan semuanya sendiri..


__ADS_3

Ana memandangi tubuhnya di depan cermim besar yang berlumuran darah dari luka di lengannya, juga darah dari Dominic. Tubuhnya yang di hiasi berbagai macam tato, tato itu ia buat untuk menutupi bekas bekas lukanya, tato tato itu tampak hampir menutupi hampir seluruh bagian tubuhnya.


Ia lebih baik di nilai sebagai gadis nakal karena memiliki tato, daripada sebagai gadis yang harus di kasihani karena banyak bekas luka yang ia miliki bahkan sejak ia masih kecil.


Ana menatap cermin dengan tatapan kosong.


Pikirannya kosong.


Matanya berkaca kaca.


Tiba tiba rasa sesak menderanya, matanya berkaca kaca. Mengalihkan rasa sesak itu ia segera menuju shower, menyalakan air dingin dari kepala pancuran itu, ia berdiri di bawah turunnya air dingin itu. Ia memejamkan matanya, orang orang di masa lalunya, para penjahat yang pernah ia habisi melintas satu persatu di benaknya.


Selesai mandi ia memeriksa ponselnya, mengabaikan panggilan dan pesan dari Jane dan Louis, sementara Pak Kim juga tampak ikut menghubunginya. Biasa Pak Kim tidak akan menghubunginya jika tidak mendesak. Ana segera menghubunginya balik. Tak menunggu lama Pak Kim segera menjawab panggilan itu.


"Pak Kim.."


"Ms.Grey.. hacker menemukan lokasi terakhir Nyonya Layla.. ia berada di pinggiran.. disana adalah tempat asalnya sebelum pindah kesini.. namun ia lagi lagi hilang dari pelacakan.." jelas Pak Kim dengan nada hati hati.


"Baiklah.. terima kasih atas kerja kerasmu Pak Kim.."


"Saya melakukan yang semestinya Ms.Grey.."


"Sebaiknya mulai sekarang, jangan lagi campur tangan dengan apapun diluar urusan pekerjaan di perusahaan.. aku akan mengatasi semuanya sendiri mulai sekarang.. aku harap kau hanya fokus pada perusahaan.. aku tidak ingin mengotori tanganmu karena ku.. maaf aku melibatkanmu terlalu jauh.."


"Ms.Grey.."


"Aku akan menghubungimu lagi nanti.. terima kasih banyak Pak Kim.." ujar Ana dengan nada lirih.


Pak Kim tak bisa menyela apapun kata kata Ana.


Ana memutus panggilannya dengan Pak Kim, lalu segera menyalakan televisi, ia duduk di atas sofa di kamar hotel samarannya. Ia memantau apa akan ada berita seputar kebakaran yang di alami Dominic, dan benar saja, berita itu muncul dimana mana, bahkan ada salah satu cctv di tempat kejadian menunjukkan rekaman cctv yang samar samar menunjukkan sosok wanita disana.


Ana sontak kaget melihat itu dan segera menghubungi anak buah Jane.


"**** !!! Kau bilang sudah mengatasinya?? Sial*n kalian semua !! Benar benar tidak becus.. bagaimana dengan Franz?? Baiklah.. sebaiknya kalian segera menyelesaikan masalah ini atau kalian akan tau akibatnya.." ancam Ana pada anak buah Jane.


Padahal semua jenis bukti buktiĀ  sudah di singkirkan oleh anak buah Jane, namun ternyata ada satu cctv yang tersembunyi di balik pot bunga besar Dominic, memang Ana di untungkan dengan posisinya yang selalu berdiri membelakangi kamera pengawas itu, dan di sela sela pot tampak juga sedikit bagian mobil yang di kenakan Ana, dan dengan begitu detektif pasti bisa saja segera dapat mengidientifikasi mobil sport itu lalu dapat menemukan pelakunya yaitu Ana.


Ana segera mengambil jaketnya di lemari, lalu segera pergi keluar. Ia menuju sebuah danau tua yang jauh dari pemukiman. Ia menemukan tempat itu dari internet. Disana ia membersihkan dalam mobil dari sidik jarinya lalu membakar mobil itu untuk menghilangkan bukti dan jejak.


Tak lama Tyo muncul setelah di hubungi oleh Ana saat ia tengah menuju tempat itu.


"Apa apaan ini??? Kau membakar mobil itu??" Seru Tyo segera turun dari mobil dengan wajah shock.

__ADS_1


Ana hanya berdiri diam tak bergeming.


"Apa yang terjadi Ana?" Tanya Tyo khawatir.


"Apa... jangan jangan yang ada diberita itu adalah kau??" Tebak Tyo dengan nada hati hati.


"Aku melihat identifikasi mobil pelaku dari informasi yang di ekspos polisi.." jelas Tyo lagi.


"Benar.. itu aku.."


Tyo tertegun dan menganga kaget.


"Aku tidak peduli apa kau akan merekam pembicaraan kita saat ini atau melaporkan aku ke polisi, tapi aku tidak akan mengelak.. karena memang akulah pelakunya.." tukas Ana mengakui perbuatannya.


"Ana.. apa yang sudah kau lakukan???"


"Aku tidak punya pilihan.. namun aku masih belum bisa berhenti sekarang.."


"Ba..baiklah.. kalau begitu aku juga harus berpikir keras saat ini.. po..polisi pasti akan menemui para pengusaha pemilik bisnis mobil sport.. mereka pasti akan menginterogasi aku.. ayo kita pergi sekarang.. aku harus melenyapkan bukti transaksi darimu.. bahkan menghapus cctv di showroom.." Tyo tampak panik dan terus berpikir keras.


"Maaf aku melibatkanmu.."


"Hei !! Jangan katakan apapun.. ayo kita pergi sekarang.." tukas Tyo segera sadar lalu mengambil alat pemadam di mobilnya yang selalu ia sediakan. Ia tampak memadamkan bagian depan dan ekor mobil. Lalu ia berusaha membuka pintu mobil itu.


"Apa yang kau lakukan??!!" Pekik Ana kaget dengan ulahnya.


Dengan sigap Ana segera menuju pintu pengemudi dan segera menurunkan tuas rem tangan, lalu mereka berdua mendorong keras mobil itu hingga meluncur ke dalam danau yang posisinya menurun di bawah mereka.


"Ayo kita harus segera pergi dari sini.." ajak Tyo berusaha tenang.


Mereka segera pergi meninggalkan mobil Ana yang tengah tenggelam di danau tua itu.


Sepanjang jalan Ana hanya berdiam diri, ponselnya yang bergetar di dalam saku, terus ia abaikan.


"Setidaknya kau jawab telepon itu.. getar ponselmu membuatku semakin gugup.." gerutu Tyo terengah.


Ana segera merogoh sakunya, memperhatikan layar ponselnya, nama Louis tertera disana. Ana segera menolak panggilan itu lalu mematikan ponselnya.


"Pacarmu pasti sangat mengkhawatirkanmu.." timpal Tyo melihat tingkah dingin Ana.


"Aku akan membereskan ini, lalu akan segera kembali ke negara K.." gumam Ana lirih.


"Apa yang bisa aku lakukan untukmu??" Sahut Tyo peka.

__ADS_1


Ana menatapnya datar.


****


Ting..Nung.. Ting.. Nung..


Louis membuka pintu apartment nya, Jane sudah berdiri disana dengan wajah penuh amarah.


"Dia ada menghubungimu??" Tanyanya tanpa basa basi.


"Ponselnya mati.." jawab Louis khawatir.


Jane segera masuk ke apartment Louis sebelum di persilahkan.


"Apa sesuatu terjadi dengannya?" Tanya Louis cemas.


"Aku rasa dia melakukan hal bodoh.." ujar Jane yakin.


"Apa yang harus kita lakukan??" Tanya Louis semakin khawatir.


"Kita tunggu hingga besok, jika tidak ada kabar apapun.. aku akan segera menyusulnya.."


"Apa dia akan baik baik saja??"


"Apa kau masih belum mengenalnya?? Bahkan dia bisa mengalahkan puluhan penjahat.. dia pasti akan baik baik saja.." seru Jane menenangkan Louis yang tampak gelisah.


"Tentu saja aku sangat mengenalnya.. justru itu yang membuatku semakin khawatir.." celetuk Louis membuat Jane tertegun.


"Percayalah padaku.." ujarnya lagi.


Jane melihat sekeliling, melihat banyak tumpukan kardus dan box barang, bahkan apartment Louis masih tampak kosong.


"Kau belum menyusun barang barangmu??"


"Aku sangat sibuk akhir akhir ini.. aku selalu pulang larut malam, bahkan baru pulang 2 samapi 3 hari sekali hanya untuk tidur.."


"Pilihan yang tepat bukan, kau tinggal disini?? Kau akan bisa lebih sering menemuinya sekarang.." goda Jane membuat wajah Louis memerah.


"Bukankah kau juga yang menyuruhku untuk pindah kesini..." elak Louis.


"Tentu.. karena aku tau kau sangat menyukainya, dan juga sangat tersiksa dengan sikap dingin cucuku kan.." imbuh Jane terkekeh.


Louis hanya bergidik ngeri melihat gelak tawa mengejek wanita tua itu.

__ADS_1


"Dia pasti sangat menyukaimu.. aku bisa lihat bagaimana dia sangat berusaha melindungimu waktu itu.. bukankah dia sangat keren?? Saat menahan pisau penjahat itu dengan tangan kosongnya?? Wahhh dia benar benar sekeren aku.."


Louis kembali di ingatkan kejadian malam itu, bagaimana Ana melindunginya, bahkan membuat tangan Ana terluka demi melindunginya.


__ADS_2