
Hari ini Ana sudah mulai kembali bekerja seperti biasa setelah ia istirahat selama hampir 3 minggu, meski porsi makannya harus dibatasi dan masih harus selalu kontrol. Siang ini adalah jadwal sidang pertama kasus penyerangan yang Ana alami. Ia mengutus Pak Kim untuk hadir karena mengingat kondisinya belum stabil. Ditambah karena memang Ana sangat malas berhubungan dengan hukum. Baginya sebisa mungkin ia berusaha menghindar untuk terlibat dengan polisi atau sampai terjerat kasus hukum.
Ana meminta pada Pak Kim untuk segera menyelesaikan segalanya di sidang pertama ini berapapun biayanya. Dan Ana hanya meminta satu hal pada Pak Kim
"Pastikan ia di dalam penjara itu sampai dia mati membusuk.."
Karena ia tidak ingin lagi berurusan dengan perempuan gil* itu.
Saat sedang menyantap makan siangnya Ana mendapat panggilan telepon dari nomor yang tidak ia kenal.
"Halo.." jawab Ana santai.
"Ana.. ini aku Louis.." saut seseorang di sebrang telepon.
"Hmm.. darimana kau mendapat nomorku??" tanya Ana heran.
"Aku memintanya dari Bibi Layla..hehehe" jawabnya terkekeh.
"Ada apa?" Jawab Ana singkat sambil mengunyah makanan di mulutnya.
"Apa kau sedang sibuk?" tanya Louis dengan nada hati-hati.
"Tidak.. aku sedang makan siang.." tanya Ana dengan mulut penuh makanan.
"Aku sudah mendapatkan beberapa foto dari banyak orang yang menunjukkan ciri seperti kakakmu.. Tapi aku tidak yakin yang mana yang sangat mirip karena hanya kau yang tau.. Bagaimana kalau kita bertemu??"
"Benarkah?? Kapan kau luang.. aku akan ke tempatmu.." seru Ana semangat.
"Tidak perlu.. kau masih sakit.. biar aku yang ketempatmu.. malam ini aku luang setelah shooting.."
"Baiklah.. aku akan menunggumu di kantorku.."
"Baiklah.. aku akan mengabarimu jika sudah jalan kesana.."
"Hmm.. baiklah.. thank you.."
"Kau harus mentraktirku makanan enak.. thank you saja tidak cukup.." celetuk Louis terkekeh.
"Baiklah.. aku akan memesan makan malam yang sangat enak untukmu.."
"Oke.. sampai jumpa.." Louis mengakhiri panggilannya ke Ana.
__ADS_1
Jantungnya lagi-lagi berdegup kencang. Ini pertama kali ia rasakan seumur hidupnya. Ia membuka ponselnya dan mencari tau tentang idientitas Ana hingga tanggal lahir Ana. Tapi ia tidak menemukannya. Hanya ada tahun lahir. Dan ternyata tahun kelahiran mereka sama-sama di tahun 1992. Tapi karena ia berasal dari keluarga yang kaya dan berkuasa ia tampak lebih dewasa dari umurnya karena faktor tuntutan yang mengharuskan ia menjadi pekerja keras.
***
Pukul 20.45 Ana baru selesai dengan pekerjaannya. Ia menelepon Bibi Layla seperti biasa untuk memastikan wanita itu makan yang cukup dan istirahat dengan baik. Bibi Layla terkadang membawakan Ana bekal makan siang saat di kantor, agar ia tak perlu lagi jalan ke kantin untuk makan siang.
Ana memeriksa ponselnya dan mendapati pesan masuk dari Louis yang mengatakan bahwa ia akan berangkat 10menit lagi. Ana segera ingin memesan makanan istimewa untuk makan malam mereka. Namun Ana keburu mendapat panggilan telepon dari B1.
"Halo.." jawab Ana datar.
"Ms.Grey.. basecamp diserang dan habis terbakar.." ucap B1 lirih dan pelan.
"Apaaa?? Kau dimana sekarang?" Ana tercekat kaget seketika. Ia tau persis apa yang sedang terjadi.
"Aku sedang di jalan mencari tempat perlindungan.. maaf aku tidak bisa menyelamatkan yang lain.."
"Kemana kalian akan pergi?? Aku akan menyusul kalian.." seru Ana kehilangan akal.
"Aku tidak tau.. anggotaku yang lain terluka parah.. aku tidak bisa menyelamatkan yang lain Ms.Grey.. maafkan aku.." suara B1 terdengar sangat berat dan terisak.
"Kirim lokasi kau sekarang, aku akan segera kesana.." pinta Ana penuh kekhawatiran.
Mereka mengakhiri panggilan itu.
Ana segera berkemas dan berlari menuju parkiran mobil. Ia segera menghubungi rumah sakit Cheong-dong milik ayahnya, tempat kemarin ia dirawat. Ia sudah meminta pengawalan dan penjagaan super ketat disana untuk keamanan pengawalnya yang sedang terluka.
Tak lupa juga Ana segera menghubungi Louis.
"Lou.. maaf.. kita tidak bisa bertemu malam ini.." seru Ana tergesa-gesa.
"Apa kau baik-baik saja??" Tanya Louis khawatir.
"Aku baik-baik saja.. ada yang harus aku urus.." jawab Ana singkat.
"Kau mau bertemu 'mereka'?"
"Hmm.. mereka sedang membutuhkan aku sekarang.."
"..." Louis tertegun dan terdiam beberapa saat. "Baiklah kalau begitu.. hati-hati dijalan.. utamakan keselamatanmu.."
"Hmm.. terima kasih.."
__ADS_1
Tutt..tutt..tutt..
Ana segera mengakhiri panggilan teleponnya. Ia segera melaju menuju gps lokasi yang dikirim B1, ternyata mereka berada di tengah tengah hutan tak jauh dari basecamp.
Louis yang sudah berada dekat dengan kantor Ana menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Muncul sedikit rasa kecewa di hatinya, namun rasa khawatir lebih besar menyelimutinya. Ia semakin bertekad membantu Ana menemukan kakak laki-lakinya agar ia segera berhenti dari dunia mafia ini dan tidak lagi berada dalam bahaya.
***
Disana ia melihat B1 dan 6 rekan lainnya terluka parah, dan langit tampak berwarna merah akibat kepulan asap kebakaran, Ana segera membawa anak buahnya ke rumah sakit agar mereka segera mendapat penanganan khusus dari dokter dan perawat. Ana sengaja menempatkan mereka dalam 1 ruangan besar agar mudah untuk di jaga dan di awasi. B1 tampak mengalami luka yang paling parah karena ia melindungi rekannya yang lain.
"Apa yang terjadi??" Tanya Ana lirih saat semua dokter dan perawat sudah selesai mengobati mereka, Ana duduk di samping tempat tidur B1 dengan tatapan iba.
Bagaimana tidak, ia barusaja akan sembuh, kini anak buahnya yang mengalami hal buruk.
"Kejadiannya tiba-tiba sekali Ms.Grey.. mereka melemparkan gas beracun dan melemparkan beberapa bom.. mereka menembaki rekan lain yang berada di luar.. mereka menghancurkan basecamp sampai benar-benar hancur.." jelas B1 lirih dan sedih.
"Hanya mereka ini yang selamat?" tanya Ana lirih.
"Maafkan aku tidak bisa menyelamatkan mereka semua.." ujar B1 kembali terisak merasa bersalah.
"Tidak.. ini bukan salahmu.. aku akan membalas mereka semua yang menyakiti kalian.." Ana memegang punggung tangan B1 yang di perban karena tangannya remuk.
"Aku sudah mengatakan dari sebelumnya untuk segera cari tempat persembunyian.. kenapa kalian keras kepala sekali.." sesal Ana kesal.
"Ada banyak barang bukti disana yang membahayakanmu nantinya Ms.Grey, kami tidak bisa meninggalkannya begitu saja.. akan memakan waktu sangat lama untuk menyingkirkan semuanya.."
Barang bukti yang di maksud B1 adalah alat-alat yang mereka gunakan untuk menyiksa dan membunuh musuh, lalu senjata api yang mereka selundupkan untuk di pasok ke berbagai negara. Serta banyak jejak darah disana, belum lagi mayat korban mereka yang di kuburkan menyebar disana. Mereka tidak mau tempat itu justru jadi senjata untuk menghancurkan Ana.
"Keselamatan kalian yang paling penting untukku.." jawab Ana pelan. "Aku akan mengirim orang baru kesana untuk memeriksa kondisi disana.. kalian semua istirahatlah disini sampai benar-benar pulih.. aku sudah meminta bantuan dari geng Xiao Bing untuk menjaga dan mengawal kalian selama dirawat disini.." tambah Ana menjelaskan dengan penuh rasa bersalah pada kondisi anak buahnya.
Drrrttt...
Ana merasakan getar pada ponselnya. Ia membuka pesan masuk di ponselnya. Pesan dari nomor yang tak dikenal.
"Ramyeon Ahjussi building" hanya berisi 3 kata dalam pesan itu. Ana segera menyimpan ponselnya di saku longcoat-nya.
Ia tau persis dimana gedung itu. Itu adalah gedung tua yang akan ia beli. Dimana ia mengalami penyerangan beberapa waktu lalu.
--->>
__ADS_1