
Ana jalan berdampingan dengan Louis menuju taman di perkarangan rumah Louis.
Ana merogoh longcoatnya mencari rokok dan pemantiknya.
"Kau masih merokok?" Tanya Louis tau apa yang tengah dicari Ana.
"Tentu saja.. itu membuatku berpikir dengan tenang.." angguk Ana masih memeriksa tiap kantong.
"Kau masuklah dulu, aku mau mengambil rokokku di mobil, di luar sangat dingin.."
"Biar aku temani.." ujar Louis mengikuti langkah Ana.
"Kau pikir aku anak TK?? Masuklah.. aku hanya sebentar.." celetuk Ana kesal.
"Aku akan menunggumu disini.. bahkan kau lebih dingin daripada musim dingin ini.." tukas Louis mengejek.
"Lalu kenapa kau menyukai aku yang sangat dingin ini??" Timpal Ana datar.
Louis terpaku. Lidahnya tiba tiba terasa kelu.
"Kau benar benar membuatku tidak bisa berkata kata, pergilah ambil rokokmu agar kau bisa berbicara dengan santai.." usir Louis kesal.
Ana tersenyum penuh kemenangan, ia segera berlari kecil imut seperti anak TK keluar pagar menuju mobilnya.
"Bahkan dia berlari dengan imut.." gumam Louis tersenyum, bahkan ia lagi lagi luluh dengan Ana.
Ana membuka kunci mobilnya, memeriksa dashboard mobil mencari rokoknya, namun tidak ketemu.
"Kau mencari ini???" Tanya seseorang dari arah belakangnya.
Ana segera keluar dari mobil melihat ke arah belakang, Ana terperanjat kaget.
"Kau memata-matiku??" Tukas Ana dingin pada Franz.
"Sudah berkali kali aku katakan, aku mudah cemburu Ana, tapi kau selalu saja mengabaikan aku.." celetuknya menggeram.
Benar saja, Franz akhir akhir ini menjadi tergila gila pada Ana, ia menjadi sangat posesif dan diluar kendali.
"Pergilah.. besok kita akan bicara.." usir Ana risih.
__ADS_1
"Aku tidak akan kemana mana.. kau pikir kau bisa berduaan dengan laki laki sial*n itu???" Bentaknya marah.
"Apa kau sedang mabuk??" Tanya Ana mengabaikan ucapan Franz.
"Kau lagi lagi mengabaikan aku.."
"Aku sedang ada acara disini.. pergilah.. besok kita bicara.." pinta Ana mulai kesal.
"Kau pikir kau bisa mengabaikan aku terus menerus???" Gumam Franz dengan nada mengancam.
"Lalu kau pikir aku tidak tau apa yang kau lakukan di belakangku?? Kau berharap aku tunduk patuh padamu? Sementara kau selalu mengotori seluruh tubuhmu dengan wanita murah*n di luar sana.. kau tidak berarti apa apa bagiku.. jadi jangan berharap apapun padaku.."
"Ahh.. jadi kau sudah mengetahuinya?? Lalu bagaimana dengan pernikahan kita?"
"Sebaiknya kau buang jauh jauh impian itu.. aku tidak akan melanjutkan hubungan konyol ini.." celetuk Ana kesal.
"Konyol?? Kau tau apa arti konyol?" Franz tampak mengeluarkan pisau dari sakunya.
"Huh.." Ana menghela nafas malas. "Jangan buang buang tenagamu.. kau bukan tandinganku.. sebaiknya sekarang kau pergi saja.."
"Waktu itu kau memukuliku saat aku tidak sadarkan diri.. apa kau sepengecut itu?? Membuat aku tak sadarkan diri baru memukuliku.. jadi bagaimana kalau sekarang kita berkelahi saat aku sedang sadar apa kau berani??" ujar Franz membuang pisaunya.
"Jadi apa saja yang sudah kau ketahui tentangku??" Tanyanya bergerak ke kiri dan ke kanan seakan akan tengah pemanasan.
"Everything.." jawab Ana singkat padat dan jelas.
"Sungguh?? Bahkan tentang ibuku??" Tanyanya lagi mendekat perlahan ke arah Ana yang berdiri di sampingnya.
Ana tersenyum simpul. Tiba tiba Ana langsung melakukan serangan tanpa disadari Franz, Ana melayangkan kepal tinjuan tangan kanannyanya yang langsung tepat mengenai rahang kiri Franz hingga meninggalkan memar merah.
Franz tampak kesakitan, ia memegangi rahangnya, namun ia coba tahan.
"Sudahlah.. sekarang kau pulanglah.. aku tidak ingin memukulimu lagi.." ujar Ana dengan nada malas.
"Kau sombong sekali.." gerutu Franz segera menyerang Ana, ia melayangkan tinjuannya yang berhasil di elak Ana.
Namun kaki kirinya segera menendang pinggang kanan Ana hingga Ana tergeser ke sisi mobilnya.
Pukulan demi pukulan saling mereka layangkan, Franz menjambak keras rambut Ana, sementara tangan Ana tengah mencekik Franz keras dengan lengan kanannya. Franz tampak bergelinjang berusaha melepaskan diri, namun Ana menahan tubuhnya cukup kuat dan keras, bahkan cengkraman tangannya yang menjambak keras rambut Ana tidak melunakkan cekikan di lehernya.
__ADS_1
Dengan panik Franz berusaha menyikut perut Ana, hingga pukulan kedua dengan sikut kirinya akhirnya mengenai perut Ana bekas operasinya dulu, sontak rasa sakit mengejutkan Ana dan melepaskan cengkramannya pada Franz.
Ana memegangi perutnya. Sementara Franz terbatuk batuk memegangi lehernya, ia hampir saja pingsan karena Ana.
Ia tampak meraih pisau yang sudah ia buang ke jalan tadi.
"Kau benar-benar belum menyerah??" Ujar Ana tersenyum sinis.
"Tentu saja belum.. kau pikir aku orang yang mudah menyerah? Bukankah kita seharusnya bisa jadi pasangan yang serasi dan sempurna?? Lagipula ibuku sudah mengenal kau dengan baik?? Bukankah kau akan bisa menjadi menantu nya dengan baik??" Gumam Franz meludahkan darah dari mulutnya.
"Kau benar benar bajing*n tengik yang sok jagoan.. apa kau pikir kau bisa mempengaruhiku??" Ana melangkah pelan mendekati Franz dengan tatapan mematikan.
Franz tampak melangkah mundur sambil menodongkan pisau ke arah Ana dengan takut.
"Ibuku sudah cukup baik memperlakukan kau yang hanya seorang anak har*m dari seorang pelac*r.. bukankah kau harus bersikap lebih baik padanya???" Celoteh Franz lagi lagi membakar amarah Ana.
Mata Ana berkaca kaca, kini ia menahan pisau yang di pegang Franz dengan cengkraman kuat.
Franz berusaha menarik pisau itu namun ia gagal, bahkan ia tampak luka luka dan memar cukup parah di wajahnya setelah dipukuli oleh Ana, karena ia memang petarung yang buruk.
"Jangan lagi kau berani mengata-ngatai ibuku !!" Bentak Ana gemetaran. Ana dengan gerakan cepat memukul tangan Franz yang memegang pisau dengan tangan yang satunya hingga pisau itu terlepas dari tangannya, lalu Ana segera mengambil pisau itu, Ana lalu menarik kerah longcoat Franz mendorongnya keras ke sisi mobil dan menodongkan pisau itu ke lehernya.
"Aku akan membalas perbuatan kalian kepadaku dan keluargaku !!" Ujar Ana setengah berbisik, sambil menekan keras pisau di leher Franz hingga lehernya mulai berdarah.
Franz yang ketakutan hanya meringis kesakitan dan tetap tidak mau menyerah.
"Apa kau yakin akan hidup bersamaku?? Aku akan menyiksamu dan ibumu setiap hari dengan kejam dan dengan cara yang sangat menyakitkan.." tambah Ana setengah berbisik Ana lalu terkekeh mengejek.
Bibir Franz bergetar hebat menahan amarahnya. Ia bahkan tak lagi sanggup melawan, tenaganya sudah habis, ditambah ia sudah cukup ajab menerima pukulan demi pukulan dari Ana.
Tiba tiba..
"Ana !!" Seru seseorang memanggil Ana tak jauh dari posisi mereka. Ana dan Franz menoleh bersamaan ke arah Louis, lalu Franz yang menyadari Ana tengah lengah menarik kepala Ana dan menghantamkannya ke kaca jendela mobil Ana hingga kaca itu pecah. Franz segera kabur masuk ke mobilnya dan melarikan diri.
Sementara Louis segera berlari menghampiri Ana, kepala Ana tampak mengeluarkan darah, ternyata dahinya robek terkena kaca jendela. Darah mengalir deras ke seluruh wajah Ana, Ana masih melihat ke arah mobil Franz yang segera menghilang. Louis berusaha menutupi luka di dahi Ana dengan tangannya.
"Aku akan membawamu kerumah sakit.." Louis segera menggendong Ana masuk ke dalam mobil. Ana yang terkejut ketika di gendong Louis tiba tiba hanya terdiam sambil memegangi dahinya.
Louis yang panik tampak berusaha tenang dan segera mengendarai mobil Ana menuju rumah sakit terdekat. Sambil sesekali melihat kondisi Ana yang menatapnya dingin sepanjang jalan.
__ADS_1