
Malam ini Ana pulang larut malam seperti biasanya, ini cara ampuh menghindar berjumpa dengan Bibi Layla saat di mansion, jam menunjukkan pukul 11.25 malam.
Saat keluar dari ruangannya ternyata Pak Kim juga baru akan bersiap pulang. Biasanya Pak Kim pulang lebih dulu dari Ana, terkadang pulang lebih lama dari Ana.
Dia memang pekerja keras dan merupakan seorang workaholic. Ditambah dia juga seorang bujangan, ia hidup hanya sebatang kara. Jadi dia memang mengakui bahwa ia mengisi waktu kosongnya yang sepi dengan bekerja dan menemani Ana.
"Anda sudah mau pulang Ms.Grey??" Tanyanya sambil berkemas saat melihat Ana baru keluar dari ruangannya.
"Hmm.. aku baru selesai.." angguk Ana cepat.
"Pak Kim.. maukah kau menemaniku minum?" Tanya Ana dengan nada sedikit ragu.
"Tentu Ms.Grey.." angguk Pak Kim cepat tanpa ragu.
"Aku tau tempat bagus yang harus kita kunjungi.. sejak lama aku ingin membawa anda kesana.." seru Pak Kim semangat ingin membawa Ana ke suatu tempat.
Mereka pergi menggunakan mobil Ana, mereka terus menyusuri jalanan kota hingga Pak Kim mulai melaju ke arah jalalan ke pinggir kota, Ana yang duduk di kursi penumpang depan memperhatikan jalanan dengan tatapan kosong, Ana saat pergi bersama Pak Kim biasanya ia akan duduk di kursi depan, ia sangat enggan duduk di kursi belakang.
Ternyata tempat tujuan mereka adalah tempat minum favorit Pak Kim dan Thommas dahulu. Tempat itu hanya merupakan kedai tua di pinggiran, tempat itu jauh dari kata mewah, namun dari luar tampak nyaman karena tidak terlalu ramai.
Pak Kim memarkirkan mobil dan segera turun diikuti Ana.
"Aku dan Tuan Thommas sering menghabiskan waktu bersama disini.." ujar Pak Kim lirih.
"Ayahku sering kesini?" Tanya Ana memperhatikan tempat itu dengan seksama.
"Tentu.. kami sering datang kemari bersama sehabis pulang kerja.." angguk Pak Kim menuntun Ana masuk kedalam. Tentu saja, pemilik kedai itu langsung menyambut hangat Pak Kim dengan akrab.
"Sudah lama anda tidak kemari?" Tanya wanita paruh baya itu girang.
__ADS_1
"Maaf Bi.. aku sangat sibuk akhir akhir ini Bibi.." Pak Kim tampak sangat sopan pada wanita tua itu.
"Ini pertama kalinya anda membawa seorang wanita kemari? Seharusnya anda membawanya ke restoran mewah, bukan kemari.." goda wanita itu.
Ana hanya tersenyum ramah tanpa membantah.
"Ah.. ini tidak seperti yang anda pikirkan Bi.. perkenalkan ini Ms.Grey, putri Tuan Thommas.." tukas Pak Kim memperkenalkan Ana. Ana tampak tersenyum ramah.
"Benarkah??" Serunya kaget. "Kau cantik sekali.. Aku turut berduka atas kepergian Tuan Thommas dan Ibumu.." wanita itu menggenggam tangan Ana hangat.
Tentu saja wanita itu tau, karena berita duka Thommas disiarkan di banyak media.
"Terima kasih Bi.." angguk Ana pelan.
"Silahkan duduk.."
"Disini biasanya Tuan Thommas akan menghilangkan jenuh dan lelahnya.. Ia akan bercerita banyak saat minum, dan setelahnya ia berkata bahwa ia sudah merasa lebih baik.." imbuh Pak Kim lirih sambil terus membayangi sosok Thommas.
"Terima kasih kau selalu ada untuk ayahku.." timpal Ana lirih.
"Dan terima kasih karena kau selalu sabar denganku.. aku tau, aku tidak seperti ayahku.. tapi aku akan selalu melakukan apapun yang terbaik untuk menjaga perusahaan ayahku.. meski aku sudah banyak melakukan hal buruk di luar sana, tapi akan aku pastikan itu tidak akan berpengaruh pada perusahaan.." tambah Ana lagi.
"Selalu mendengar cerita tentangmu dari Tuan Thommas, membuat aku jadi merasa seperti begitu mengenalmu.. namun tentu saja apa yang aku pikirkan sangat berbeda dengan dirimu yang sesungguhnya.." jelas Pak Kim tanpa ragu.
"Benarkah? Aku memang selalu diluar ekspektasi banyak orang.. kau pasti kecewa karna harus bekerja bersamaku.." tukas Ana tersenyum.
"Tidak.. bukan begitu maksudku Ms.Grey.. aku tau anda sangat tegas dan keras tidak seperti Tuan Thommas yang lemah lembut dan sabar.. itulah yang aku pikirkan.." jelas Pak Kim ingin meluruskan maksudnya.
"Tapi anda memiliki hati yang sangat baik, anda selalu menyembunyikan kebaikan yang anda lakukan di luar sana, namun membiarkan orang lain menilai keburukan anda.. aku tau berapa banyak anak anak panti yang anda asuh dan biayai kehidupannya, juga melakukan banyak kegiatan amal lainnya yang tidak disorot media.."
__ADS_1
"Untuk apa aku menunjukkan ketulusanku pada orang buta? Aku hanya menunjukkan ketulusanku pada mereka yang melihatku dengan hatinya.." celetuk Ana terkekeh.
"Aku setuju.." angguk Pak Kim ikut tertawa. "Kini anda terlihat sama seperti Tuan Thommas, kalian seperti malaikat yang sudah menyelamatkan banyak orang.." puji Pak Kim tulus.
"Aku memang menyelamatkan banyak orang, namun aku juga sudah menghabisi banyak orang juga.." gumam Ana dalam hati.
Mereka menikmati makan malam bersama, saling bertukar cerita satu sama lain. Ana meminum beberapa gelas alkohol saja, sedangkan Pak Kim tidak minum sama sekali karena besok mereka memiliki agenda pekerjaan yang padat, terlebih Pak Kim masih harus mengendarai mobil.
Di perjalanan pulang Ana kembali duduk diam tanpa bergeming, padahal mereka baru saja bercerita banyak hal satu sama lain, Pak Kim tak terlihat seperti sekretarisnya, melainkan seperti Ayah baginya. Pak Kim sangat dewasa dan bijaksana, terkadang ia mampu membuat Ana tenang dan mengontrol emosinya, terkadang ia membantu Ana membuat keputusan dalam bekerja dengan bijaksana ketika ia dalam mood yang buruk, tanpa harus marah marah seperti kebiasaan Ana.
"Apa kalian berdua sudah berbaikan?" Tanya Pak Kim memecahkan kesunyian di dalam mobil.
"Siapa? Aku dan Louis?" Imbuh Ana bingung.
"Anda pasti sedang memikirkannya.. bagaimana bisa anda berpikir bahwa itu tentang anda dan Tuan Louis.." goda Pak Kim tertawa.
"Ternyata kau sudah mulai berani mempermainkan aku.." celetuk Ana dengan nada mengancam.
Pak Kim hanya tertawa tanpa menggubris ancaman Ana. "Dia tampak sangat baik dan perhatian pada anda Ms.Grey.. aku bisa melihatnya.."
"Bukankah aku justru harus berhati hati pada pria baik? Terkadang pria baiklah yang justru akan membuat ku patah hati dengan cara yang sangat menyakitkan.." timpal Ana lirih.
"Dia berbeda Ms.Grey.. dia sangat tulus.." tambah Pak Kim lagi.
"Berapa banyak dia membayarmu untuk mengatakan ini?? Aku akan membayarmu 3x lipat untuk membuatmu diam Pak Kim.." celetuk Ana dingin.
Pak Kim tak lagi bergeming, ia sadar Ana benar benar tidak ingin membahas tentang Louis, padahal ia sangat berharap Ana akan bersama Louis dan bukan dengan Franz yang jelas jelas sudah mempermainkannya.
Pak Kim melihat beberapa foto Franz di club malam di atas meja Ana, saat ia meletakkan beberapa file pekerjaan dan merapikan meja Ana waktu itu. Ia masih belum tau pasti apa rencana Ana kali ini. Tapi yang jelas ia akan sangat setuju jika Ana memutuskan hubungan dengan Franz yang brengs*k itu.
__ADS_1