
Siang ini Ana pergi bertemu anak buahnya di rumah sakit. Sejak tersangka penyerang Ana sudah di tangkap, Ana kembali berpergian seorang diri tanpa pengawal. Ditambah sekarang kondisi anak buahnya dalam keadaan buruk di rumah sakit. Akhirnya ia tau apa yang akan ia lakukan untuk menghentikan Dominic.
Malam yang dinanti tiba. Ana mengenakan stelan serba hitam seperti biasa, mengenakan longcoat kulit hitam. Cuaca mulai dingin karena sebentar lagi akan memasuki musim dingin. Sebelum ke pelabuhan In Ana menyempatkan diri pergi ke kantor untuk mengambil beberapa berkas penting di brankas kantornya.
Saat keluar dari gedung menuju parkiran mobil di depan lobi, langkahnya terhenti ketika ia melihat Louis di depannya. Mata mereka saling bertatapan. Ana hanya mencoba tenang.
"Kau tampak baik-baik saja.." ujar Louis lirih.
"Tentu saja.. apa yang kau lakukan disini??" tanya Ana dingin berusaha membuat Louis menjauhinya.
"Aku ingin bertemu denganmu.. aku tidak nyaman dan merasa buruk dengan pertemuan kita terakhir kalinya.. Aku ingin meluruskan situasi ini.." jelas Louis tampak gelisah.
Drrtt..drrttt...
Ana melirik layar ponsel di genggaman tangannya.
"Haloo.. iya.. aku segera kesana.." Ana segera memutus panggilan itu dan menyimpan ponsel itu di saku longcoatnya.
"Aku harus segera pergi.. kita bicara lain kali.." Ana hendak berlalu mengabaikan Louis. Namun tanpa ragu Louis mencegat Ana dengan berdiri tepat di depan Ana, sehingga Ana menghentikan langkahnya seketika.
Ana terbelalak kaget. Jantungnya berdetak cepat.
"Aku akan keluar kota beberapa hari ke depan.. aku ingin tidak ada lagi yang mengganjal di hatiku.. aku minta maaf jika aku melakukan atau mengatakan hal buruk yang menyinggungmu atau pun sampai menyakiti perasaanmu.." seru Louis gugup.
"Apa yang kau bicarakan?? Aku mengatakan hal itu tempo lalu karena aku memang ingin kau menjauh dariku.. aku tidak ingin kau salah sangka dengan kebaikanku dan membuatmu nyaman lalu merasakan hal yang tidak-tidak padaku.." jelas Ana menatapnya sinis.
"Jadi aku mohon.. berhenti bersikap seperti ini.. kau membuatku tidak nyaman.. antara kau dan aku hanya sebatas partner kerja.. tidak lebih.. dan jangan berharap lebih.." lanjut Ana mengatakan setiap kata-katanya dengan tegas dan penuh penekanan.
__ADS_1
Louis terdiam terpaku berdiri menatap Ana dengan mata yang berkaca-kaca. Ana menatapnya intens. Lalu segera pergi berlalu meninggalkan Louis yang terdiam tak lagi bergeming. Pak Dong yang menunggunya di van segera menghampiri Louis dan membujuknya untuk segera berangkat keluar kota.
***
Ana memarkirkan mobilnya di sebalik pagar yang di tutupi semak belukar dibelakang pintu masuk pelabuhan yang lama. Disana Ana dapat melihat di kejauhan Dominic sudah berada disana bersama anak buahnya yang bersenjatakan lengkap.
Sebenarnya pelabuhan In sudah lama tidak beroperasi, tetapi terkadang pelabuhan ini masih digunakan untuk pemberhentian kapal yang membawa barang ilegal. Dan tentunya atas izin penjaga yang korup. Kali ini sangat beresiko untuk Ana melakukan perlawanan di area ini. Karena tempat ini di lindungi banyak pejabat dan polisi yang korupsi.
Mereka menerima banyak uang suap dari para mafia. Ana selama di negara S baru sekali bertransaksi senjata api keluar negeri. Dan itu di selundupkan dengan pesawat pribadi. Tapi sehari sebelum hari ini tiba ia sudah mendatangi pelabuhan ini, memasang beberapa cctv di tempat tersembunyi dan mencoba mengenali setiap celah dan titik area itu.
Tempat itu kurang mendapat penerangan karena banyak lampu-lampu yang sudah mati dan rusak, masyarakat sekitar juga sudah menganggap pelabuhan ini mati sejak lama. Jadi wajar kalau pelabuhan ini sudah sangat tidak terurus, ditambah sekelilingnya sengaja di tutupi dengan susunan kontainer tua yang sudah tidak digunakan lagi, membuat pinggiran laut tempat kapal kapal berlabuh tak lagi tampak dari luar area pelabuhan. Sehingga tidak ada yang tau kalau disana masih sering adanya kapal ilegal yang keluar masuk.
Ana bersembunyi di sebalik ilalang yang sangat tinggi. Ia sudah mengantongi senjata api dan mengalungkan sebuah senapan mesin m-16 yang di bawanya dari mansion. Ia tak kenal gentar dan takut.
Fokus utamanya adalah menangkap dan menyingkirkan Dominic sesegera mungkin.
"Siapa kau??" tanya pria itu dengan nada sangarnya.
Ana hendak meraih senjatanya, namun pria yang satunya dengan sigap menarik kedua tangan Ana ke belakang. Ana sadar ada 2 orang yang menangkapnya.
Dengan gerakan cepat Ana berputar dan menungkai kedua kaki pria itu dengan sangat keras, hingga mereka tersungkur. Ana segera melayangkan pijakan yang keras ke batang leher lawannya, sementara yang satu nya dapat bogem mentah dari Ana dengan tangan kirinya hingga pria itu terkapar di tanah, lalu ia patahkan batang lehernya.
Ana merogoh setiap saku 2 pria itu, mengambil ponsel mereka dan mengambil earphon yang ada di telinga salah satu di antaranya. Ana segera melangkah maju masuk ke dalam pelabuhan. Mengendap-endap dengan sangat hati-hati. Earphone yang terpasang di telinga kanannya mendengarkan suara anak buah Dominic yang saling berkoordinasi satu sama lain. Hingga terdengar suara Dominic memerintahkan sesuatu.
"Ingattt.. segera habisi Grey jika kalian melihatnya.. atau dia yang akan menghabisi kalian.." Ana menghentikan langkahnya. Pria tua itu benar-benar akan menyingkirkannya kali ini.
"Aku yakin dia akan datang malam ini.. kalian selalu siaga.. habisi siapapun yang mencurigakan.." perintahnya lagi.
__ADS_1
Ana mengintip di sebalik kontainer tua itu. Ia sudah menyetel senjata m-16 nya dengan menambahkan peredam suara agar tidak mengeluarkan suara saat menembakkan peluru. Tak jauh dari tempatnya berdiri ia melihat 2 orang penjaga lainnya tengah berjaga. Ana membidik mereka tepat di kepalanya masing-masing dan melayangkan 2 peluru panas secara bergantian yang tepat mengenai kepala kedua pria itu.
Ana kembali mendekati kedua penjaga itu merogoh kantongnya dan mengambil ponsel mereka. Ana membuka longcoatnya dan meninggalkannya bersama 4 orang ponsel penjaga tadi di sebalik rerumputan yang cukup tinggi itu. Ia terus mengendap hingga mendapat titik pas untuk mengintai dan membidik Dominic.
Saat tengah membidik Dominic, Ana tiba-tiba teringat sosok Louis dan pesan dari detektif yang ia temui tempo hari.
"Jangan kau kotori tanganmu untuk menghabisi para iblis itu.. aku yang akan melakukannya untukmu.." itu pesan terakhir yang Albert sampaikan saat mereka merencanakan penangkapan Dominic.
Sementara ingatannya tentang Louis waktu itu, Ia tampak bersungguh-sungguh untuk meminta Ana berhenti dari dunia mafia.
Yapp !!
Ana akhirnya memutuskan bekerja sama dengan Albert. Ia tidak punya pilihan lain. Saat tengah membidik Dominic ia yakin peluru itu akan langsung bersarang ke kepalanya, tapi Ana sudah membuat kesepakatan dengan Albert. Ana hanya bertugas memberi informasi dan polisi yang akan mengambil tindakan. Awalnya Albert juga sempat di kagetkan dengan aktivitas yang ada di pelabuhan In. Itu salah satu hal pertama yang sudah menjadi bukti bahwa ada transaksi ilegal disana yang melibatkan banyak orang korup.
Karena akses pelabuhan itu sangat sulit dan membutuhkan banyak koordinasi untuk izin masuknya. Ana sudah mengatakannya pada Albert bahwa ini adalah tangkapan yang sangat besar dalam sejarah, selain karena Dominic mafia dari negara lain, ini juga akan mengungkap kasus pejabat yang korup terhadap aktivitas di pelabuhan itu, Dan keberhasilan malam itu juga akan merubah hidup dan karir Albert jika ia berhasil meringkus Dominic dan antek-anteknya.
Namun tentu saja dengan resiko sangat besar, nyawa sebagai taruhannya.
-----> picture
Dominic 👆
Detektif Albert 👆
__ADS_1