
Louis tersentak ketika alarmnya berbunyi. Di liriknya layar ponselnya pukul 08.00 pagi. Hari ini jadwal shootingnya mulai dari siang hari, jadi dia bisa istirahat sedikit lebih lama dari biasanya. Ia memeriksa layar ponselnya berharap ada pesan ataupun panggilan dari Ana. Namun tak ada yang ia temui disana.
Ia pun segera bangkit dari tidurnya untuk bersiap siap, karena akan menemui Pak Dong pagi ini di kantornya.
Sejam kemudian ia segera keluar dari apartmentnya, namun ia terperanjat melihat ada banyak totebag di depan pintu. Ia meraih itu dan melihat kedalamnya, awalnya ia berpikir bahwa itu dari fansnya, namun ada banyak set kemeja pakaian pria dan wanita di dalamnya, bahkan terdapat sebuah tas wanita dengan merk yang sama. Ia kembali masuk kedalam an untuk meriksa cctv di depan pintunya. Ternyata ia mendapati bahwa Ana lah yang meletakkan itu di depan pintunya, ia pun tersipu malu dan terus tersenyum malu malu tanpa henti.
Ia lalu mengambil beberapa foto barang barang itu dan mengirimkan pesan pada Ana.
"Terima kasih untuk ini.. aku akan menggunakannya dengan baik.." tulis Louis sambil melampirkan foto itu, Ana melihat foto foto set kemeja yang ia kirim ke Ana.
Tak butuh waktu lama Ana membalasnya.
"Itu bukan untukmu.. itu untuk ayah, ibu dan irene.. sampaikan salamku untuk mereka.." balas Ana saat melihat foto pakaian dan tas dari Louis.
Louis berdecak kesal. Namun rasa kesal itu hilang seketika saat ia menyadari bahwa secara tidak langsung Ana memperhatikan keluarganya dengan sangat baik, meski Ana selalu bersikap dingin pada dirinya.
"Baiklah.." balas Louis singkat.
Sementara Ana yang mendapat balasan singkat Louis tertegun sesaat. Ia berpikir sesaat.
"Bukankah aku juga memberikan oleh oleh untuknya?? Kenapa dia tidak bereaksi apapun? Padahal biasanya dia sangat berlebihan menanggapi hal apapun.." batin Ana bingung.
"Apa dia tidak melihatnya?? Tapi tidak mungkin.. bungkusannya bahkan berbeda.. dia tidak mungkin tidak melihatnya.." batin Ana lagi mengabaikan pikiran itu.
Ia melirik pergelangan tangan kanannya saat tengah memegang pena di meja, ia melihat gelang berlian couple itu dengan seksama.
"Semoga saja ini tidak terlalu mencolok.." batinnya tak karuan.
****
Louis menyodorkan semua pemberian Ana pagi tadi pada Pak Dong.
"Apa ini??"
"Tolong antarkan kerumah orang tuaku.. ini oleh oleh untuk mereka.." ujar Louis malas.
"Tumben sekali kau membelikan mereka ini?? Biasanya kau memilih untuk shopping bersama mereka??" Tanya Pak Dong heran.
"Ini bukan dariku.. ini dari putri kesayangan mereka.." gumam Louis semakin kesal.
"Apa maksudmu?? Kenapa adikmu memberikannya padamu?? Kenapa tidak langsung memberikannya pada orang tuamu??" Tanya Pak Dong semakin bingung.
"Aish..kau ini.. ini semua pemberian Ana.. bisakah kau tidak terlalu berisik??? Aku benar benar kesal sekarang.. bahkan mereka kini lebih perhatian pada Ana.. mereka selalu menanyakan kabarnya.. apa dia makan dengan baik apa tidak ketika sedang meneleponku.. benar benar bikin aku kesal.." gerutu Louis mengomel kesal.
"Kenapa kau jadi kesal padaku?? Apa kau tidak diberikan apapun? Makanya kau jadi kesal begini???" Tukas Pak Dong menyindir.
__ADS_1
"Kau mau mati??" Celetuk Louis meliriknya sinis.
"Aku akan menyuruh asistenmu mengantarnya sekarang juga.." timpal Pak Dong segera pergi membawa barang barang itu mengabaikan tatapan mengerikan Louis padanya.
****
Setelah meeting Ana dan Pak Kim berencana menuju kantin perusahaan, sudah lama Ana tidak makan siang disana bersama karyawan yang lain. Baru keluar meeting Ana memeriksa ponselnya yang silent sejak tadi, ternyata ada 4 panggilan tak terjawab dari Jane dan salah satunya dari Ibu Louis. Ana segera menelepon kembali Ibu Louis karena penasaran.
"Halo Bu.. apa tadi meneleponku??"
"Ah.. iya.. maaf.. kau pasti sedang sibuk sekarang.."
"Tidak Bu.. aku baru saja selesai meeting.. apa terjadi sesuatu??" Tanya Ana khawatir.
"Tidak ada apa apa.. aku dan suamiku ingin mengucapkan terima kasih atas oleh olehnya.. ini banyak sekali.." ujarnya sungkan.
"Kebetulan kemarin aku sedang pergi keluar negeri untuk urusan bisnis.. jadi aku hanya membeli berbagai model karena aku tidak tau selera ayah dan ibu.. semoga kalian suka.."
"Kami sangat suka semuanya.. lagipula Kau tidak perlu membelikan apapun.. kami hanya berharap kau selalu panjang umur, sehat serta bahagia selalu Ana.. itu sudah membuat kami senang.." ujar Ibu Louis hangat.
Ana hanya tertegun mendengar ucapan Ibu Louis. "Aku merasa sangat bahagia sekarang.. jangan khawatir.." imbuh Ana lirih.
"Oh iya.. kami akan makan malam bersama di apartment Louis malam ini.. apa kau mau bergabung??"
"Iya.. malam ini.. aku dengar dia pindah bersebrangan dengan apartmentmu.. bagaimana jika kita makan malam bersama.."
"Aku tidak bisa janji Bu.. sepertinya malam ini aku akan lembur.. karena aku sedang banyak sekali pekerjaan setelah keluar negeri kemarin.." tolak Ana sungkan.
"Benarkah?? Baiklah kalau begitu.. kabari aku jika kau bisa pulang lebih awal.."
"Hmm.. tentu saja.. tapi aku tidak bisa menjanjikan apapun.."
"Baiklah.. jaga kesehatanmu selalu Ana.. sampai jumpa lain waktu.."
"Sampai jumpa Bu.."
"Kami semua menyayangimu Ana.." tambah Ibu Louis sebelum menutup teleponnya.
Ana lagi lagi merasakan jantungnya berdetak kencang. Ibu dan Ayah Louis benar benar memperlakukan Ana dengan baik seperti anak mereka sendiri. Ana termenung sesaat, namun Pak Kim segera menyadarkannya.
"Ms.Grey.. anda baik baik saja??"
"Eh.. tentu.. mari kita ke kantin.." angguk Ana kembali melanjutkan jalannya.
****
__ADS_1
Ana merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku, ia segera bangkit dari duduknya dan melakukan beberapa gerakan peregangan untuk seluruh tubuh. Rasanya sudah cukup lama ia tidak berolahraga. Di liriknya jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Ana segera mengumpulkan barang barangnya dimasukkan ke dalam tas jinjing hitamnya, ia kembali mengenakan jas nya, penampilannya kini benar benar tampak kusut. Dan juga wangi tubuhnya kini telah berbeda karena aroma asap vape barunya wangi buah mix berry, Ama terus menggunakannya sehingga wangi dari asap vape itu hampir menutupi wangi parfum tubuhnya yang khas.
"Pak Kim.. ayo kita pulang.." seru Ana pada Pak Kim yang masih tampak serius mengerjakan pekerjaannya.
"Saya akan pulang sebentar lagi Ms.Grey.. saya harus menyelesaikan jadwal dan memo untuk anda besok pagi.."
"Jangan terlalu banyak bekerja Pak Kim.. kau juga harus menikmati hidupmu.. percuma kau punya banyak uang jika tidak bisa kau nikmati.."
"Bukankah kita sama Ms.Grey??" Celetuk Pak Kim mengejek Ana yang juga workaholic seperti dirinya.
"Cih.. sekarang kau sudah pandai meledekku.." celetuk Ana sinis.
"Saya belajar banyak dari anda Ms.Grey.." sahut Pak Kim tak mau kalah.
"Baiklah Pak Kim Grey.. aku pulang dulu.. cepat pulang kerumahmu.. segera nikmati hari harimu yang sudah menuju tua.." ledek Ana lagi segera pergi.
Sementara Pak Kim hanya terkekeh geli melihat tingkah Ana.
***
Setibanya di apartment sudah pukul 11.30 malam. Ana segera naik lift menuju lantai apartmentnya. Keluar dari lift Ana berjalan lesu dan teringat ajakan makan malam Ibu Louis. Saat berdiri di depan pintu ia menatap pintu apartment Louis cukup lama, hingga tiba tiba pintu apartment itu terbuka lebar, sontak membuat Ana gelagapan dan salah tingkah karena memandanginya cukup lama.
"Ana.. kau baru pulang??" Seru Ibu Louis.
"Ah.. iya Bu.. aku baru saja tiba.."
"Kau pulang larut sekali.. apa kau sudah makan??"
"Belum.. nanti aku akan.."
"Kemarilah.. makanlah dulu.. jangan sampai sakit.. aku masak sangat banyak.. dan sudah aku sisihkan banyak macam di dalam kulkas Louis untukmu.." timpal Ibu Louis memotong ucapan Ana.
"Tidak perlu repot repot Bu.. aku akan makan m..."
"Kemarilah.. makan saja dulu.. lagipula kami sudah akan pulang.. suamiku tampak sudah mulai mabuk.." lagi lagi ia memotong ucapan Ana.
Ayah Louis yang sempoyongan, lengannya segera di pegang erat oleh Irene. Sontak Ana teralihkan pada pergelangan tangan kanan Irene. Ana yang terbengong menatapnya heran. Irene yang sadar akan tatapan aneh Ana pada gelang yang ia kenakan, kini juga ikut melihat ke arah pergelangan tangan kanan Ana. Ternyata Ana memakai pasangan gelang yang ia pakai.
Sadar akan hal itu Irene menjadi salah tingkah. Pantas saja ia merasa gelang itu kebesaran untuk ukuran tangan wanita, di tambah desainnya justru tampak memang untuk pria. Menyadari itu Irene segera menyembunyikan tangannya dari Ana, takut Ana akan marah padanya, karena ia yakin gelang itu pasti untuk kakaknya Louis. Ana pun tak berani membahas hal itu karena takut akan di ledekin oleh Ibu dan Ayah Louis karena membeli gelang couple untuk dirinya dan Louis. Ia juga sempat mencuri pandang melihat pergelangan tangan Louis yang memang tidak mengenakan apa apa untuk memastikan.
--->> ilustrasi gelang couple Ana dan Louis
__ADS_1