
4 hari yang lalu..
Ana mengendarai mobilnya kencang setelah melacak ponsel Jane dan Lucas bersamaan. Ia segera menuju Grey World. Ia juga telah mencoba menghubungi Pak Kim untuk ia temui. Selama perjalanan ia masih berharap jika dugaannya salah. Ia berharap Jane dan Lucas tetap ada di pihaknya.
Butuh waktu cukup lama untuk tiba di Grey World. Setibanya di depan perusahaan, ia melihat wartawan mulai mengerumuni perusahaannya. Ia mengurungkan niat untuk masuk ke dalam sana. Namun tak lama seseorang mengetuk jendela mobilnya. Dengan cepat ia menoleh ke arah suara. Ternyata Pak Kim berdiri di sana. Ana segera membukakan pintu mobilnya, sehingga Pak Kim dan bergegas masuk tanpa ketahuan oleh siapapun.
"Sepertinya kita harus segera membuat klarifikasi.. Bahkan para mitra mulai meributkan hal ini.." ujar Pak Kim tanpa basa-basi.
Ana hanya terdiam, ia tampak memikirkan sesuatu.
"Ana.." seru Pak Kim lirih menyadarkan lamunannya.
"Beri aku waktu.."
"Waktu untuk apa?? Kau bahkan tidak memberitahuku soal apapun.. Aku tidak tahu harus bertindak seperti apa.." tukas Pak Kim dengan nada keras.
"Apa kau sekarang membentakku??" timpal Ana dingin.
"Setidaknya cepat putuskan.. Atau aku akan mengambil tindakan sendiri.." bantah Pak Kim.
"Apa aku juga harus mencurigaimu Pak Kim??" timpal Ana lirih.
"Apa??" Pak Kim mengerutkan dahinya.
"Apa kau bertemu Jane??" tanya Ana kemudian.
"Tidak.." gelengnya cepat.
"Baiklah.." angguk Ana cepat. "Beri aku waktu.. Aku akan segera menyerahkan diri ke polisi.."
"A.. Apa?? Kau akan mengakui semuanya?"
"Aku akan mengurus semua ini.. Sebaiknya bantu aku selesaikan urusan dengan perusahaan.." ujar Ana terdengar putus asa.
__ADS_1
"Kau tidak punya rencana apapun??" Pak Kim dapat menebak jika saat ini Ana tengah buntu.
"Percayalah padaku.."
"Aku selalu mempercayaimu, Ana.. Bahkan aku mempercayaimu melebihi siapapun.." imbuh Pak Kim penuh penekanan.
Ana menatap Pak Kim intens, tanpa ekspresi apapun. Pak Kim tampak sedikit gugup.
"Turunlah.. Aku harus segera pergi.." gumam Ana memalingkan tatappannya.
Pak Kim menghela nafas pelan. Ia segera turun dari mobil Ana. Ana tampak segera mengendarai mobilnya meninggalkan Pak Kim.
...****************...
Ana memarkirkan mobilnya cukup lama di seberang rumah Lucas. Ia menunggu tanda-tanda Lucas muncul di sana. Semua lampu rumah mewah itu masih menyala. Tak lama sebuah mobil berhenti di depan gerbang pagar rumahnya. Sosok Lucas tampak keluar tergesa-gesa dari mobilnya, ia segera membuka gerbang pagar yang masih terkunci. Ia juga tampak celingak celinguk melihat sekitarnya dengan gelisah.
Ia bahkan sempat menjatuhkan kunci pagarnya karena gugup. Butuh waktu cukup lama sampai gerbang besar itu terbuka. Ia kemudian bergegas masuk ke dalam mobilnya lalu mengunci pintu mobilnya. Saat hendak memajukan mobilnya masuk ke dalam pekarangan, ia terkejut saat mendapati Ana tengah duduk di kursi penumpang di belakangnya.
"Hah !!" ia terlonjak kaget.
"Bagaimana kau bisa ada disini?? Bukankah harusnya kau sudah keluar negeri???" tanyanya gelagapan.
"Aku tidak punya alasan untuk pergi kemanapun.." imbuh Ana santai.
Lucas segera menjalankan mobilnya masuk pekarangan. Ia segera turun dari mobilnya. Menutup rapat pagar itu lalu menguncinya. Kemudian ia kembali masuk ke dalam mobil, namun Ana sudah tak ada di dalam sana. Ternyata Ana sudah membuka pintu rumahnya yang terkunci. Lucas di buat terheran-heran bagaimana bisa Ana masuk ke dalam rumahnya yang terkunci dan berlagak seperti sosok hantu penasaran.
Lucas melangkah cepat masuk ke dalam rumahnya. Ia mendapati Ana tengah duduk di ruang keluarga dengan tenang. Lucas mengambil 2 kaleng bir dari dalam kulkasnya, kemudian menyuguhkannya untuk Ana.
"Apa kau sudah bertemu Jane???" tanyanya lagi.
"Belum.." geleng Ana pelan menenggak birnya.
"Layla sudah masuk dalam daftar pencarian orang, Jane melaporkannya sebagai buronan.. lalu seseorang melaporkannya jika mereka melihat Layla berada di stasiun tv sesaat sebelum berita tentangmu di tayangkan.." jelas Lucas. "Sepertinya wanita itu memang berusaha untuk membuat kau di penjara Ana.."
__ADS_1
"Baiklah.. kalau begitu aku akan menyerahkan diri.." timpal Ana santai.
"Kau gila?? Jika kau mengakuinya, tidak akan ada jalan untuk kembali.."
"Aku yakin Jane akan segera membebaskanku.."
"Bahkan kita kehilangan Jane !!" tukas Lucas cemas.
"Apa maksud kakak?"
"Setelah memberitahuku jika kau akan keluar negeri, dan melaporkan Layla.. Dia menghilang.." jelas Lucas.
"Dia pasti sedang merencanakan sesuatu.." gumam Ana tenang.
"Bagaimana jika sesuatu hal buruk menimpanya?" Lucas benar-benar tampak khawatir.
"Tidak akan mudah menyakiti wanita tua itu.. Dia bahkan punya nyawa cadangan lebih banyak daripada seekor kucing.." imbuh Ana mencemooh Jane.
"Apa kau yakin??"
"Tentu saja.." angguk Ana mantap.
"Lalu apa rencanamu? Kau benar-benar akan menyerahkan dirimu??"
"Hmm.. Beri aku waktu.. Aku akan segera menghubungi kakak.. Lalu aku akan segera datang ke kantor polisi untuk menyerahkan diri.. Pastikan kakak yang menangani kasusku ini.."
"Baiklah.." angguk Lucas setuju.
"Dimana kakak ipar dan anak-anakmu??" tanya Ana penasaran, karena sejak tadi rumah besar itu sangat sepi.
"Mereka pergi keluar kota.. Kerumah mertuaku.. Mereka akan aman di sana.. Mertuaku seorang pejabat publik.. disana ada cukup banyak pengawal.. Aku harap mereka benar-benar aman di sana.."
"Maaf aku membuat kakak terlibat.."
__ADS_1
"Tidak Ana.. Ini memang sudah tugasku.. Meski bukan masalah yang berkaitan denganmu.. Aku akan selalu terlibat masalah lain karena ini sudah menjadi pekerjaanku.. Lagipula kau itu adikku.. aku akan melindungimu apapun yang terjadi.."
...----------------...