Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 64 : "Makan ramen bersamaku??"


__ADS_3

Ana mendapat 4 jahitan di dahinya, bahkan mendapat beberapa plaster kecil yang menutupi lukanya setelah berkelahi dengan Franz.


"Apa ada luka lain Ms.Grey?" Tanya dokter itu ramah.


"Tidak.." geleng Ana pelan.


Namun dokter itu melihat ada noda kotor pada longcoat abu abu Ana di bagian perut, dan menekan bagian perut Ana,  seketika Ana terpekik kesakitan.


"Kau mau mati??" Bentak Ana meringis pada dokter itu.


Dokter itu hanya tersenyum.


"Sini aku lihat perutmu, sepertinya anda juga terluka di bagian perut." Ujarnya tenang membuka kancing longcoat Ana dan mengangkat kemeja Ana ke atas, dokter terkejut melihat memar di perut Ana yang terlihat cukup parah, tadi selain sempat di sikut Franz, perut bekas operasi Ana itu sempat tertendang oleh Franz dengan keras.


"Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk perut anda Ms.Grey.."


"Tidak perlu.. berikan saja aku obat.." geleng Ana cepat memperbaiki pakaiannya.


"Memarnya tampak cukup serius Ms.Grey, ditambah itu tepat di tempat daerah bekas operasi luka anda.."


"Aku yang lebih tau tentang diriku.. jadi berikan saja aku obat.. kalian tidak perlu memeriksanya lagi.." tukas Ana sinis.


"Baiklah.." dokter itu benar benar tenang dan sabar menghadapi Ana yang sangat arogan dan kasar.


Louis hanya berdiri di dekat Ana tanpa berkomentar.


Sementara Ana masih menatap Louis sejak tadi dengan tatapan tajam. Sadar akan itu Louis benar benar tidak tahan.


"Berhenti menatapku seperti itu.. aku tau aku salah.. jadi aku mohon maafkan aku.. aku membuatmu terluka seperti ini.. kalau saja aku tidak memanggilmu pasti kau tidak akan terluka seperti ini.." Louis berusaha menghindari tatapan tajam Ana.


"Apa kau tau aku sudah lama menanti momen seperti tadi??" Imbuh Ana lirih.


"Apa kau benar benar ingin menusuk lehernya dengan pisau itu hingga mati??" Tanya Louis berbisik.


"Aku bahkan bisa menusukkan pisau itu ratusan kali ke tubuhnya tanpa ampun hingga ia mati.." tukas Ana menggeram.


Louis tertegun mendengar ucapan Ana.


"Apa kau tau kata kata jahat apa yang dia ucapkan padaku?? Aku benar benar ingin membunuhnya.." imbuh Ana mulai terisak, air matanya berlinang bersiap untuk berjatuhan dari matanya.

__ADS_1


Louis yang mendengar itu segera memeluk Ana, berusaha menenangkannya.


"Maafkan aku.. maafkan aku.. tapi kau harus tenang Ana.. jangan kotori tanganmu untuk orang jahat sepertinya.."


"Aku bahkan rela menyerahkan hidupku untuk menyingkirkan mereka dengan kedua tanganku.." geram Ana menahan air matanya yang sudah tak terbendung lagi.


"Mereka?? Siapa kau maksud? Nyonya Jane??" Tanya Louis bingung menatap Ana.


Ana menggeleng pelan.


"Bibi Layla.." jawab Ana lirih.


Louis terbelalak kaget.


***


Louis mengantar Ana kembali ke apartmentnya. Sebelumnya ia sudah menghubungi orang tuanya dan Pak Kim bahwa Ana harus segera pulang karena merasa tidak enak badan. Mereka tentu khawatir pada Ana, namun Louis berusaha menjelaskan dengan tenang bahwa Ana hanya kelelahan dan merasa sedikit pusing.


Louis kaget saat tau Ana kini tinggal di apartment yang masih kosong, bahkan kode kunci otomatisnya masih 123456, bahkan di dalamnya hanya ada beberapa perabotan saja seperti sofa, meja makan, kitchen set, kulkas, dan tempat tidur besar di kamarnya, bahkan pakaiannya masih di dalam koper, belum ia susun dalam lemari. Tidak seperti mansionnya yang sangat lengkap dan megah.


Meski apartment itu sangat mahal namun tampak sangat sederhana. Karena sebenarnya lokasi apartment itu yang membuat harganya selangit.


Ana segera masuk ke kamarnya berganti pakaian, sementara Louis sedang menyiapkan air hangat agar Ana bisa meminum obatnya.


"Kau sedang apa?" Tanyanya lirih.


"Aku sedang menyiapkan obatmu.." jawabnya hangat sambil membuka satu persatu bungkus obat Ana yang beragam.


"Pulanglah..hari sudah larut.. aku akan memesankan taksi untukmu.."


"Aku akan menemanimu malam ini disini.." jawab Louis tenang. "Oya.. besok Pak Kim akan menjemput mobilmu pagi pagi sekali untuk diperbaiki.."


"Tunggu.. apa kau barusan mengatakan akan menginap?? Kita sedang tidak di mansion.. perabotanku belum banyak.. kau mau tidur dimana?"


Louis melihat sekeliling dan menunjuk ke arah sofa dengan memanyunkan mulutnya.


"Pulanglah.." ujar Ana pelan, sambil menghela nafas malas.


"Lagipula ini bukan pertama kalinya kita bermalam bersama jadi santai saja.."

__ADS_1


"Wah.. bahkan gaya bicaramu sekarang seperti seorang bajing*n mesum.." gerutu Ana sinis.


"Mulutmu.. benar benar.." gumam Louis tak sanggup berkata kata.


Ana hanya mengejek Louis yang terdiam karena ucapan sinisnya.


"Ana.. mau makan ramen bersamaku??" Goda Louis tersenyum genit.


"**** !!" Umpat Ana sinis.


"Pulanglah.. aku ingin sendiri.." Ana menuju pintu keluar apartmentnya.


"Tidak.. aku tidak ingin kau melakukan hal gila lagi.." geleng Louis segera berlari ke arah sofa dan berbaring disana.


"Kau benar benar menyebalkan.." gerutu Ana segera menghampiri Louis.


"Apa kau tau betapa takut dan kagetnya aku ketika kau bersikap seperti tadi?? Bahkan aku seperti tidak bisa bernafas.." ujar Louis membayangkan kejadian tadi.


"Itu sebabnya aku selalu menolakmu agar terus berada jauh dariku.." jawab Ana lirih.


Louis mendengar jawaban Ana segera duduk, menatap Ana intens.


"Berhenti menolakku.." seru Louis dengan nada memohon.


"Aku tidak ingin kau terus mengkhawatirkan aku.."


"Lalu siapa yang akan mengkhawatirkanmu kalau bukan aku?? Bukankah aku sudah berjanji padamu, aku akan selalu percaya padamu, akan selalu berada di sisimu dan akan menjagamu.. jadi berhentilah menolakku.." Louis menatap Ana hangat.


"Jadi kapan kau akan pulang? Hari sudah larut.." timpal Ana mengabaikan perkataan tulus Louis.


"Wah.. kau benar benar menyebalkan.." celetuk Louis kesal segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar.


"Terima kasih.. kau selalu ada disisiku.." seru Ana tiba tiba menghentikan langkah Louis. Louis membalikkan tubuhnya menoleh ke arah Ana.


"Jangan lupa tutup pintunya.." tambah Ana segera berlalu masuk ke kamarnya dan membuat Louis kembali kesal.


"Hei.. dasar kau.." Louis menggeleng kesal dan segera pergi lalu membanting pintu Ana keras, berharap Ana tau bahwa ia telah menutup pintu apartment Ana.


Namun di dalam hatinya ia merasa tenang dan deg degan meski hanya mendengar ucapan singkat Ana tadi.

__ADS_1


Ia kini yakin Ana mulai luluh padanya, ia hanya perlu lebih bersabar mendekati Ana dan meluluhkan hatinya yang keras dan sikapnya yang kadang sinis dan kasar, namun kadang hangat dan lembut.


Di tambah ia sempat mendengan percakapan antara Irene adiknya dengan Ana tadi sore di rumahnya. Ana membantu Irene membuatnya jadi pribadi yang lebih percaya diri lagi, karena sebelumnya ia minder karena kepopuleran kakaknya membuat ia hanya di dekati karena kakaknya bukan karena bakat dirinya sendiri.


__ADS_2