
Pak Kim kini di pindahkan ke ruang ICU. Ia masih memerlukan penangan intensif lainnya. Ia masih belum sadarkan diri meski operasinya telah berhasil. Ana dan Louis masih menunggu di rumah sakit. Pagi itu pukul 6.00 am, Jane tampak membawakan keduanya kopi panas.
"Ana, sebaiknya kau pulang dan istirahat... Kau juga, Lou.. Sebaiknya kalian pulang, biar aku yang berjaga di sini..." ujar Jane lirih.
Ana yang tampak pucat dan lesu hanya terdiam. Louis mengusap lengan Ana hangat.
"Ayo, kau harus istirahat, wajahmu pucat sekali..." imbuh Louis lirih.
Mata Ana kembali berkaca-kaca. Bibirnya bergetar menahan isak tangisnya, sebelum akhirnya ia mengangguk pelan.
"Aku akan mengabarimu... Kau juga kabari aku jika butuh sesuatu..." ujar Jane hangat.
"Aku akan mengurusnya dengan baik, Nyonya..." ujar Louis menimpali.
"Baiklah, terima kasih..." angguk Jane mengerti.
Louis dan Ana akhirnya memutuskan untuk pulang. Louis membawa Ana ke apartmentnya. Louis segera mendudukkan Ana di sisi tempat tidurnya. Ia juga segera membawakan segelas air hangat untuk Ana.
"Minumlah.." ujarnya menyuguhkan.
Ana menenggak air hangat itu perlahan hingga habis. Louis menyeka bibir Ana lembut.
"Semua akan baik-baik saja..." imbuhnya menyemangati Ana.
Ana tertunduk. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menangis tertahan. Louis memeluk Ana erat. Mengusap punggung Ana yang terasa hangat. Badannya terasa lebih hangat dari biasanya.
"Badanmu hangat... Berhentilah menangis.. Kau bisa sakit..." ujar Louis khawatir ikut merasa sedih.
Setelah cukup lama larut dalam tangisan. Akhirnya Ana tertidur dalam pelukan Louis. Louis segera membaringkan Ana. Ia segera menyelimuti tubuh itu hingga ke bawah dagunya. Ia mengusap rambut Ana beberapa kali sebelum akhirnya ia tinggal keluar.
__ADS_1
Ia segera menelepon ibunya untuk meminta bantuan ibunya. Ia memesan beberapa makanan untuk lauk mereka karena stok bahan masaknya tengah habis. Ia tak bisa meninggalkan Ana sekarang. Bahkan managernya sudah berkali-kali menghubunginya, namun ia abaikan. Ia ingin fokus merawat dan menjaga Ana untuk hari ini saja.
Ting.. Nung.. Ting.. Nung..
Bel apartment Louis berbunyi. Ia segera memeriksa ke depan, ternyata managernya. Louis segera membuka pintunya, lalu segera keluar dan berbicara di luar.
"Ada apa? Kenapa kau langsung menutup pintumu?" tanya pak dong curiga.
"Kita bicara di sini saja..." ujar Louis lesu.
"Kenapa kau tidak mengangkat teleponmu? Bahkan kau sedang memegang ponselmu?" ujar Pak Dong melihat Louis tengah menggenggam ponselnya.
"Aku izin hari ini saja ya..." imbuhnya memelas.
"Ada apa? Meeting hari ini sangat penting, Lou... Bahkan kau tidak bisa di wakilkan..."
"Aku sedang tidak enak badan..."
"Pak Dong, hanya hari ini saja.. Biarkan aku tidak kemana-mana... Hari ini saja..." pinta Louis dengan putus asa.
"Ada apa, Lou? Kau menyembunyikan sesuatu dariku?? Bahkan kau terlihat baik-baik saja sekarang... Apa yang kau sembunyikan di dalam? Tumben sekali kau langsung menutup pintumu seperti ini?" Pak dong tampak sangat curiga.
"Aku mohon..."
"Maaf, Lou... Kali ini aku juga tidak bisa membantumu... Ceo Simon yang memintaku langsung menjemputmu ke sini... Meeting kali ini benar-benar sangat penting..." Pak dong pun tak bisa berbuat banyak. Hari ini mereka akan bertemu klien dari luar negeri yang ingin menandatangi kontrak ekslusif yang bernilai sangat besar.
Di tambah lagi, mereka akan menjadi agensi tunggal, jadi mereka akan membutuhkan banyak uang masuk untuk mengembangkan agensi mereka dengan baik.
Louis tertegun.
__ADS_1
"Begini saja, mari kita datang hanya sebentar saja... Hanya untuk menunjukkan wajahmu pada mereka, setelah itu aku akan beralasan untuk mengantarkanmu pulang secepatnya..." usul Pak dong.
Louis masih tertegun. "Baiklah..." angguknya kemudian.
"Bantu aku, pastikan meeting ini hanya sebentar saja..."
"Baiklah, aku akan berusaha semaksimal mungkin..." angguknya meyakinkan.
"Aku bersiap dulu... Tunggu aku di bawah..." Louis segera masuk ke dalam. Ia pun segera bergegas.
Sebelum berangkat ia sempat memeriksa kondisi Ana, mengecup dahinya lembut sebelum akhirnya berangkat pergi.
...****************...
Drrttt... Drrrttt...
Suara getar ponsel Ana di atas meja membangunkannya. Ia berusaha membuka matanya. Ia segera meraih ponselnya di atas meja tepat di sisi tempat tidur.
"Halooo.." jawab Ana parau.
"Ms. Grey... Tolong aku..." suara Mr. Lee wakil presdir Grey World terdengar terisak.
"Mr. Lee? Ada apa?" tanya Ana berusaha menyadarkan dirinya.
"Aku mohon selamatkan aku... Seseorang menerobos masuk perusahaan... Mereka bilang, mereka sudah mengambil alih perusahaan ini... Mereka memukuli semua karyawan di sini..." jelasnya lagi terdengar merengek.
Ana segera memutus panggilannya. Ia segera bergegas pergi. Ia tak menemukan Louis di manapun, akhirnya ia memutuskan untuk segera pergi. Ia segera mengehentikan taksi di depan lobi. Bergegas menuju hotel tempat ia menginap untuk mengambil mobilnya. Ia juga segera memeriksa pistolnya yang ia sembunyikan di kursi jok mobilnya. Masih utuh beserta amunisinya.
Ia segera menyembunyikannya di balik pinggang belakangnya. Ia segera mengendarai mobilnya menuju grey world.
__ADS_1
...****************...