
Louis duduk di atas tempat tidurnya, memandang sekeliling, di dinding kamar Louis terpajang beberapa lukisan, ibunya bilang itu lukisan favorit Louis, ia suka mengoleksi lukisan-lukisan unik dan yang menarik baginya. Pagi ini ia berencana pergi mengunjungi perusahaan dan apartment nya, ia perlu memancing beberapa memori ingatannya. Ia tengah bersiap-siap, dan kini tengah menunggu Pak Dong datang menjemputnya.
Tok..tok..tok..
Pak Dong muncul dari balik pintu.
"Kau sudah siap?"
"Tentu saja.." angguk Louis cepat.
"Baiklah.. ayo kita jalan.." Pak Dong menghampiri Louis meraih tas jinjingnya di pinggir tempat tidur.
"Apa tanganmu masih sakit?" tanya Pak Dong khawatir melihat tangan kiri Louis yang masih mengenakan kruk dan gendongan penopang tangannya.
"Tidak juga.. hanya terasa ngilu di waktu-waktu tertentu.."
"Aku tidak menyangka akan berakhir seburuk dan separah ini.. sudah aku bilang berkali-kali untuk berhenti mabuk-mabukan.. kau tidak pernah mendengarkan aku sekalipun !" gerutu Pak Dong kembali merasa kesal bercampur khawatir.
"Apa? Apa tadi kau bilang aku mabuk-mabukan? Apa maksudmu aku suka minum-minum?" tanya Louis kaget.
Pak Dong tertegun.
"Terkadang kau minum saat merasa stress dan tertekan.." ujarnya hati-hati menjelaskan.
"Benarkah? Apa aku orang yang seperti itu?"
"**** !!" umpat Pak Dong tidak tahan untuk tidak bercerita.
"Sebenarnya kau tidak pernah minum-minum begitu, karena kau sangat gampang sekali mabuk.."
"Lalu apa yang terjadi?"
"Pokoknya kau sangat depresi waktu itu.. hanya beberapa minggu belakangan saja kau seperti ini.. sehingga kecelakaan di lokasi shooting pun terjadi.."
"Apa yang membuatku depresi?"
"Aku tidak tau.." gelengnya cepat segera keluar dari kamar Louis beserta tasnya.
"Apa sebenarnya yang terjadi?" gumamnya membatin.
Louis pun segera keluar menyusul Pak Dong. Ternyata ibunya tengah pergi ke restaurant, dan Irene sudah berangkat kerja, hanya ada ayahnya di rumah tengah membersihkan taman rumah mereka.
"Ayah.. aku pergi dulu.." pamitnya.
"Baiklah.. kau hati-hati di jalan ya.. kalau ada apa-apa cepat kabari kami.." ujarnya masih khawatir.
__ADS_1
"Tentu ayah.." angguknya tersenyum.
"Apa kau sudah meminum obatmu?"
"Sudah.."
"Baiklah kalau begitu.. hati-hati.." ujarnya melambaikan tangan yang penuh tanah itu.
Louis segera masuk ke dalam mobil van yang biasa ia gunakan untuk bekerja, mobil itu sangat nyaman karena bisa di stel menjadi posisi santai maupun rebahan, agar Louis merasa nyaman.
"Apa aku selalu menggunakan mobil ini?" tanya Louis takjub melihat ke dalam van itu.
"Wah.. ternyata amnesia membuatmu sangat norak.." ledek Pak Dong terkekeh.
Louis hanya terkekeh dengan wajah yang terkagum-kagum.
"Apa aku punya mobil pribadi?" tanya Louis segera mengenakan safety-belt nya.
"Tentu saja.. mobil itu ada di apartment mu.."
"Apa aku sering menggunakannya?"
"Hmm.. kalau kau ingin pergi untuk urusan pribadi.. Ms.Grey sangat ketat padamu.. dia selalu melarangmu mengendarai mobil sendiri demi kemananmu.." celetuk Pak Dong keceplosan lagi.
"Ah.. di..dia bos kita yang lama.. dulu dia memimpin perusahaan yang mensponsori agensi kita.. sekarang sudah tidak lagi.." jelas Pak Dong gugup. Dia tampak memukul mulutnya yang selalu keceplosan.
"Apa yang terjadi padanya?"
"Dia sudah pindah keluar negeri.. dia punya banyak perusahaan.. jadi dia sekarang fokus dengan perusahaan lainnya yang ada di luar negeri.."
Louis hanya tampak mengangguk, ia kemudian mengingat nama pemegang saham waktu itu. "Anavalia Grey.. apa dia Ms.Grey?" batinnya penasaran.
"Pak Dong.. bisakah aku membeli ponselku yang baru hari ini?" tanya Louis lagi.
"Ponsel baru? memangnya ada apa dengan ponselmu?" tanya Pak Dong balik, ia lupa jika ibu Louis pernah mengatakan jika mereka harus merahasiakan tentang Ana dan akan menyembunyikan ponselnya karena banyak kenangan Ana disana.
"Bukankah kau bilang ponselku rusak parah? Ibu yang memberitahunya padaku.."
"Ah.. iya..iya..iya.. aku lupa soal itu.. baiklah.. mari kita beli ponsel baru setelah ini.. oke?" sahutnya gelagapan.
Dia memang sangat tidak bisa menjaga rahasia apapun.
***
Tiba di perusahaan agensinya ia di sambut meriah oleh para staff disana, ia diberikan banyak bunga, buah dan coklat, bahkan kartu ucapan doa kesembuhan untuknya.
__ADS_1
Pak Dong mengajaknya berkeliling, lalu mengunjungi ruang istirahatnya di kantor. Disana tampak sangat rapi dan bersih. Louis melihat ke sekeliling, disana ada lemari kaca yang besar, berisi piala atas dirinya yang memenangkan beberapa penghargaan di acara award.
Ia juga melihat poster-poster di dinding, dimana semua film dan drama yang ia perankan dari yang lama, hingga yang terbaru, serta photoshoot nya menjadi bintang iklan ataupun brand ambassador, ada juga poster single album miliknya. Ia mencoba mengingat-ingat tapi belum ada yang tampak di benaknya.
Kemudian Louis menuju komputer di meja kerjanya. Ia membuka komputer itu namun terkunci. Ia mencoba memasukkan angka namun masih tetap terkunci. Lalu ia memanggil Pak Dong, Pak Dong pun segera memasukkan password nya AG130693.
"Angka apa itu?"
"Entahlah.. kau yang menggantinya.." ujar Pak Dong segera kembali keluar.
"Tanggal apa ini? terlihat seperti tanggal lahir.." gumamnya dalam hati.
Ia segera melihat file-file di dalam komputer itu, ia menemukan folder albumnya, lagu menyetel lagu itu. Ia mendengar lagu itu dengan seksama. Entah kenapa lagu itu tiba-tiba membuatnya merasa sangat sedih. Lalu ia menggantinya dengan lagu lain, kini lagu itu tentang betapa ia sangat mengagumi seorang wanita yang sangat berbeda dari wanita lainnya. Wanita yang sulit di luluhkan, namun selalu bisa membuatnya berdebar dan jatuh cinta berulang kali.
Merasa aneh Louis segera mematikan lagunya. Ia merasa sedih mendengar lagu-lagu itu, bahkan lagu yang ceria dan semangat sekalipun. Lalu, ia membuka-buka folder lain. Ia menemukan folder dengan nama "AG", tetapi saat dibuka folder itu ternyata di kunci, ia kembali mencoba memasukkan password awal komputernya namun gagal.
"Apa ini? kenapa passwordnya tidak berhasil.." gumamnya mencoba berkali-kali.
Hingga ia akhirnya menyerah, ia berpikir apa yang ada di dalam folder terkunci itu. Apa itu bisa membantunya mengingat?
***
Kini Louis singgah untuk makan siang di GC Hotel, karena Pak Kim ingin memberikan dokumen kontrak yang telah di perbaharui, terkait keamanan dan perawatan kesehatan untuk Louis. Saat menuju restaurant, ia bertemu Irene yang tengah berkeliling memantau kinerja karyawannya. Sontak Louis yang melihat Irene segera memanggilnya dengan santai.
"Irene !" serunya tersenyum.
Sontak semua menoleh pada Irene dan Louis. Kini semua staff pun saling berbisik, membenarkan rumor dari wanita tua waktu itu.
Irene kaget melihat Louis yang memanggilnya, ia lupa memberitahu Louis yang tengah amnesia untuk tidak menyapanya saat berada di luar, karena ia tidak ingin di kenal sebagai adiknya. Irene segera menghampiri.
"Kau bekerja disini?" tanyanya.
"Tentu saja.." bisiknya celingak-celinguk.
"Kakak harus pura-pura tidak kenal denganku saat di luar.. aku tidak nyaman jika orang lain tau kalau aku adikmu.."
"Memangnya kenapa kalau kau adikku? apa kau malu?" gerutunya tidak setuju.
"Ssttt.. aku tidak suka orang-orang berubah dan menjadi sangat baik padaku karena ingin kenal dekat denganmu.." bisiknya lagi kesal.
"Oh.. maaf.. aku tidak ingat.."
"Tentu saja kau tidak ingat ! Sebaiknya jaga sikapmu saat bertemu aku di luar.. oke?"
"Oke..oke.." angguknya setuju.
__ADS_1