Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 68 : Tidak Ada Kata Terlambat


__ADS_3

"Kau sudah selesai? Makananmu belum habis.. apa tidak cocok dengan seleramu?" Tanya Ana yang sejak tadi juga memperhatikan Louis.


"Aku sedang tidak selera.." jawabnya singkat.


"Kau sakit?" Tanya Ana dengan nada khawatir.


"Tidak.." gelengnya pelan.


"Apa kau ingin makan buah?"


"Tidak.. terima kasih.." Louis hanya menjawab singkat, wajahnya tampak sangat kecewa.


"Tapi Ana.. bagaimanapun aku rasa pemikiran seperti itu juga tidak baik untukmu.. kau tidak bisa hidup sendiri di dunia ini.. kau membutuhkan orang lain untuk kau ajak berbagi kesedihan dan kebahagiaanmu.." timpal Ibu Louis dengan nada hati hati.


"Aku tidak ingin orang lain merasakan kesedihanku.. dan aku selalu punya cara untuk membagikan kebahagiaanku bersama orang lain.. aku tidak siap untuk percaya pada orang lain lagi.. aku sudah cukup dikecewakan dengan orang yang paling aku percayai di dunia ini.." pikiran Ana terbayang dengan sosok Layla, matanya tampak berkaca kaca. Lalu ia segera menenggak habis wine nya.


"Aku hanya bisa mendoakan kebahagiaanmu Ana.. semoga apapun keputusan jalan hidup yang kau pilih.. itu adalah jalan hidup yang membawa kebahagiaan untukmu.."


Ana tersenyum simpul. "Terima kasih Bu.."


Ting..tung..


Tiba tiba terdengar suara bel dari luar. Ana segera bangkit dari duduknya. Dilihatnya ke monitor kontrol dekat pintu. Tampak disana Jane tengah berdiri di depan pintu. Ana segera menekan tombol pilihan OPEN pada layar, dan kemudian kunci pintu terbuka otomatis.


Jane tampak dari balik pintu, membawa tas jinjing kulit berwarna merah, dan sebuah paperbag berwarna coklat berisi wine mahal.


"Kau sudah tiba? Masuklah.." seru Ana ramah.


Semua mata menuju pada arah sosok Jane yang tampak sangat elegan, meski ia sudah berumur namun gayanya tidak kalah dengan model papan atas.


Louis yang melihat Jane tampak sedikit kaget.


"Nyonya Jane.. apa kabar?" Sapa Louis canggung.


"Sepertinya kau sedang ada tamu.." seru Jane kaget melihat ramai orang di apartment Ana.


"Mereka keluarga Louis.." imbuh Ana memperkenalkan keluarga Louis pada Jane.


"Ibu.. Ayah.. ini nenekku.. Grandma Jane.." tambah Ana.


"Ohh.. halo Nyonya.. senang bisa bertemu dengan anda.." sapa Ibu Louis.


"Salam kenal.. senang juga bisa bertemu dengan anda.." angguk Jane canggung.


"Kalau begitu aku pamit dulu.. akan kembali lain kali.. ini ambillah.. kau bisa menikmatinya dengan mereka.." ujar Jane basa basi menyodorkan paperbag wine itu.


Ana meraih paperbag itu. "Kau sudah makan?" Tanya Ana tiba tiba mengagetkan Jane.

__ADS_1


"A..aku belum makan.. karena aku baru saja tiba.. dari badara langsung datang kesini.."


"Kalau begitu.. makanlah dulu bersama kami.." Ana terdengar sangat ramah, Jane merasa nyaman dengan sifat Ana yang sekarang, biasanya mereka akan selalu berdebat dan saling berkata kasar.


"Ah.. aku masih ada urusan.."


"Makanlah dulu.. setelah itu kau bisa segera pergi.." ujar Ana justru terdengar setengah mengusir.


"Baiklah.." angguk Jane setuju segera bergabung di meja makan. Ia duduk di samping Ana.


"Bukankah anda tinggal di negara E?" Tanya Ibu Louis mencoba membuka pembicaraan.


"Iya.. aku baru saja tiba.. kebetulan aku ada urusan disini dan beberapa urusan dengan Ana.."


"Dimana kau akan menginap?" Tanya Ana basa basi.


"Rencananya aku mau menginap di mansion.."


"Mansion sedang dalam perawatan, menginaplah disini.." timpal Ana mengagetkan Pak Kim dan Louis yang tau hubungan asli Ana dan Jane.


"Aku lebih baik menginap di GC Hotel saja.. bisa bisa kau mencekik ku saat aku tengah pulas.." tukas Jane membuat Ibu dan Ayah Louis terbelalak kaget.


"Ah..tidak maksudku itu hanya candaan atau sindiran dariku untuknya.. sebenarnya hubungan kami tidak cukup baik.." jelas Jane dengan anda hati hati.


"Sebenarnya kami baru saja berbaikan.. sebelumnya hubungan kami tidak begitu baik.." timpal Ana menjelaskan maksud Jane.


"Hmm.." angguk Ana pelan.


"Aku sudah salah menilainya selama ini.." gumam Ana lirih dengan wajah tertunduk.


"Hei.. ini tidak terdengar seperti Ana yang aku kenal.." timpal Jane mencairkan suasana.


"Ana yang aku kenal orang yang sangat arogan dan keras.." celetuk Jane terkekeh meledek Ana.


"Aku setuju dengan itu Nyonya Jane.." timpal Louis tiba tiba.


"Kenapa kau memanggilku Nyonya Jane? Panggil aku Grandma Jane.. seperti bagaimana Ana memanggilku.." celetuk Jane sinis.


"Ba..baiklah Grandma.. maafkan aku.."


"Anda pasti sangat beruntung bisa memiliki cucu sesempurna Ana.." puji Ibu Louis melihat kehangatan hubungan Ana dengan Jane. Ia tenang jika Ana memang benar benar sudah berbaikan dengan orang terdekatnya.


"Tentu saja.. dia sangat membanggakan.." angguk Jane bangga.


"Lou.. bagaimana shootingmu.. kau sekarang semakin terkenal saja.." Jane benar benar mencoba mencairkan suasana.


"Pekerjaanku sangat lancar.. lalu bagaimana kabarmu.. aku melihat beritamu di tv siaran internasional waktu itu.. senang kalau anda dinyatakan tidak bersalah.. karena aku yakin anda adalah orang yang sangat baik.."

__ADS_1


Jane tertegun mendengar ucapan Louis. Selama ini orang orang memang menilainya sangat baik bak malaikat, padahal bisnisnya sangat keji di dunia gelap. Ia merasa bersalah tentang itu. namun kali ini ia benar benar ingin memperbaiki hubungannya dengan Ana. Ia akan mencoba menjadi lebih baik lagi demi Ana.


"Sebenarnya semua itu berkat Ana.. Ana sangat banyak membantuku.." jawab Jane lirih.


Ana hanya menatapnya dengan tatapan dalam.


Drrt..drrt..drrt..


Ponsel Jane bergetar, ia tertegun melihat nama di layar ponselnya, lalu ia melirik ke arah Ana dengan tatapan yang aneh. Louis yang memperhatikan itu tampak curiga. Ana dan Jane tampak saling memberi kode.


"Permisi.. aku mengangkat teleponku sebentar.." pamit Jane berdiri dan segera menghindar perkumpulan.


"Haloo.. aku sudah tiba.. benarkah??.. dimana??.. berapa banyak??.. baiklah aku akan kesana.."


Samar terdengar dari jauh, Ana sejak tadi tengah melihat ke arah Jane dengan tatapan dingin. Sesaat Jane menoleh ke arah Ana sambil mengangguk pelan, lalu Ana tampak tersenyum sinis. Louis yang memperhatikan mereka dapat menangkap sinyal seperti memberi tanda satu sama lain membuat ia semakin curiga.


"Baiklah.. aku akan membayar dua kali lipat.. tidak tidak.. aku hanya puas dengan kinerja kalian.. baiklah.. sampai nanti.." terdengar lagi Jane masih berbicara di telepon.


Lalu ia tampak segera mematikan panggilannya, lalu kembali bergabung ke meja makan.


Ana yang sedari tadi menguping tampak terus tersenyum sinis. Membuat Louis bergidik ngeri.


"Aku sepertinya harus segera pamit, karena aku sudah ada janji malam ini.." pamit Jane bersiap siap.


"Ah..benarkah? Kami ingin sekali mengundangmu makan malam bersama.. jika anda punya waktu, mari kita makan malam bersama lagi.." seru Ibu Louis.


"Baiklah.. aku akan hadir.. silahkan hubungi aku kapan saja.." angguk Jane setuju segera bangkit, lalu segera disusul Ana.


"Mari aku antar ke depan.." Ana segera memegangi tas jinjing Jane, membantu membawakannya.


Louis memperhatikan gerak gerik mereka. Di depan pintu mereka tampak saling berbisik.


"Apa sesuai rencana?" Bisik Ana pelan.


"Tentu saja.." angguk Jane sambil menghela nafas. "Kau benar benar membuatku mematikan bisnisku.." gumam Jane berat.


"Bukankah kita sudah sepakat??" Ancam Ana dengan nada dingin saat melihat Jane tampak ragu.


"Aku tau.. baiklah..sampai jumpa nanti.. kau tidak perlu mengantarku.." Jane segera membuka pintu apartment.


"Aku memang tidak berniat mengantarmu.. pergilah.." timpal Ana kembali ke sifat dinginnya.


"Kau benar benar tidak berubah.." gerutu Jane terkekeh.


"Grandma.." seru Ana tiba tiba menghentikan langkah Jane, lalu menoleh lagi ke arah Ana.


"Hati hati di jalan.."

__ADS_1


Jane benar benar merasa tersentuh, seharusnya ia memperbaiki hubungannya dengan Ana sejak lama. Namun tidak ada kata terlambat, yang penting sekarang hubungan mereka semakin membaik sejak pertemuan mereka di negara E terakhir kali, dan membuat hubungan mereka benar benar jauh membaik. Ana bahkan sering mengirim pesan sekedar basa basi menanyakan kabar. Itu sebabnya ia berniat menuruti keinginan Ana untuk menebus hubungan buruk mereka di masa lalu.


__ADS_2