
Ana menekan bel yang ada di depannya.
Ting..nung..ting..nung..
Tak lama Mr.Lee muncul disana. Ia tampak celingukan ke sekeliling sebelum akhirnya mempersilahkan Ana masuk.
"Kenapa kau sangat ketakutan.."
"Apa Pak Kim tau anda sekarang menemuiku??" Tanyanya tak menggubris Ana.
"Tidak.." geleng Ana cepat.
"Silahkan duduk.." ujarnya mempersilahkan Ana duduk di sofa besar.
"Ada apa??" Tanya Ana penasaran.
Mr.Lee tampak mengeluarkan sebuah amplop hitam dari dalam tasnya yang ada di atas meja.
"Saya rasa anda harus melihat ini.." ujarnya hati-hati.
Ternyata amplop itu berisi berkas tentang project Pak Kim yang sudah ia baca kemarin.
"Aku sudah tau.." ujar Ana segera memasukkan kembali berkas itu ke dalam amplop setelah membacanya sekilas.
"Anda sudah tau??" Tanyanya terkejut.
"Hmm.."
"Apa ini atas persetujuan anda??"
"Tidak.."
"Lalu kenapa tidak anda hentikan??"
"Aku ingin melihat endingnya.." jawab Ana santai.
"Ms.Grey !!" Mr.Lee tampak tak setuju dengan Ana.
"Jangan khawatir.. aku akan mengurusnya.."
"Ini bisa menghancurkan perusahaan.."
"Aku tidak akan membiarkannya mengusik perusahaanku.. meski dia presdir.. bukan berarti perusahaan ini menjadi miliknya.. aku hanya sedang membiarkannya bersikap angkuh.." ujar Ana tegas. "Jadi.. ini tidak akan lama.. karena aku tidak akan membiarkan dia menghancurkannya.. biar dia merasa besar kepala sekarang.. setelah ia merasa telah menguasai semuanya.. saat itu aku akan mengancurkan mimpinya.. aku akan seret dia jatuh ke dasar titik terendah di hidupnya.."
Mr.Lee mengangguk pelan.
"Saya akan terus mengawasinya.." ujar Mr.Lee mantap. Ana mengangguk setuju, ia tampak tersenyum sinis.
__ADS_1
...****************...
Keesokan paginya, Ana telah tiba di negara C. Tentu ia segera di dampingi pengawal Jane. Jane tak mungkin membiarkan Ana pergi seorang diri. Meski Ana menolak, ia akan tetap melakukannya.
4 orang pengawal telah stand by di bandara, mereka segera mengawal Ana menuju mansion Mr.Zhou. Ia segera memeriksa 2 buah pistol yang telah di siapkan anak buah Jane. Ia memeriksa setiap inch pistol itu dan memastikan pelurunya terisi penuh.
Setibanya di mansion Mr.Zhou, Ana di hadang para pengawalnya. Namun mendengar keributan itu, Mr.Zhou segera keluar menghampirinya, dan memerintahkan pengawalnya untuk membiarkan Ana masuk.
"Berani sekali kau membuat keributan disini??" Hardiknya marah dengan angkuh.
Ana berjalan santai menghampiri Mr.Zhou.
"Diamlah.. bahkan kau yang lebih dulu membuat keributan dengan mendatangi perusahaanku.." tukas Ana sinis. Ia duduk santai di kursi taman tanpa memperdulikan Mr.Zhou.
"Aku tidak menyangka kau berani menginjakkan kaki kesini.. bahkan kau membunuh Leo anak buahku !!" serunya lagi dengan angkuh berkacak pinggang.
Dorrr !!
Ana melayangkan peluru panas tepat di tempurung kaki Mr.Zhou hingga ia tersungkur ke lantai. Entah kapan ia mengeluarkan pistolnya yang sejak tadi ia sembunyikan.
"Arrgh !!!" Pekiknya mengerang kesakitan. Para pengawalnya berusaha menghampiri keduanya, namun Ana segera menodongkan pistolnya ke kepala Mr.Zhou.
"Jangan berani mendekat.." ancam Ana dingin.
"Enyahlah.." usir Ana sontak membuat semua pengawal Mr.Zhou berlari menjauh.
"Ck.. kau pikir aku mau mengotori tanganku untuk menyingkirkan anak buah tidak kompeten seperti Leo?? Tentu saja dia mati dengan mudah.." tukas Ana santai.
"Aku pikir nyalimu cukup besar untuk menyerangku.. sampai kau berani datang mencariku dan mengancam bawahanku.. lagipula tidak ada alasan untukku takut padamu.. karena kau harus ingat jika semua yang kau punya saat ini berkat bantuanku.. kau pasti sudah lama mati jika bukan karena bantuanku.. bahkan mungkin istrimu tidak akan bisa menghias mansion ini dengan bunga seindah itu.." ketus Ana menyindir menunjuk ke arah taman indah milik Mr.Zhou yang di rawat langsung oleh istrinya.
Mr.Zhou tak sanggup membantah, tentu saja semua itu benar adanya, jika bukan karena bantuan Ana, ia dan keluarganya pasti sudah lama mati. Ia berusaha duduk bertekuk lutut dengan kondisi kaki yang terluka.
"Kenapa kau diam saja? Bukankah kau ingin menyerangku?? Aku sudah datang kemari.. bukankah kau ingin melakukan sesuatu padaku?? Ini.. tembaklah aku.." seru Ana menyodorkan pistolnya ke tangan Zhou.
"Ti..tidak.." gelengnya cepat menepis pistol itu.
"Ini semua salahku !!! Aku termakan hasutan anak buahmu !! Mereka telah menghabisi banyak anak buahku.. bahkan mereka memporak porandakan mansion bentengku.." keluhnya berseru membela diri.
"Anak buahku?? Ah.. maksudmu para bajingan pengkhianat itu?? Kenapa tidak kau habisi saja mereka?? Kenapa membuang waktu dengan mencariku??" Gerutu Ana malas.
Mr.Zhou tercengang mendengar tanggapan Ana. Kini ia benar-benar mati ketakutan. Ia tau jika sekarang Ana sangat murka padanya.
"Apa kau menunggu aku yang menghabisi mereka?? Menyingkirkan mereka sangatlah mudah.. tapi mereka tidak sadar itu.. mereka justru berani mengkhianatiku setelah aku selamatkan dan kasih makan.." geram Ana lirih.
Mr.Zhou tertunduk malu. Ia mencengkram kedua tangannya menahan sakit dan malu.
"Seharusnya kau tidak meragukanku !! Berani sekali kau meragukanku setelah apa yang aku lakukan untukmu.. aku tidak pernah punya alasan untuk menyingkirkanmu.. tapi kini kau membuatku punya banyak alasan untuk melakukannya.." geram Ana.
__ADS_1
"Ma..maafkan aku Ms.Grey.. seharusnya aku tidak meragukanmu.." imbuh Mr.Zhou bergetar.
"Kau tau seberapa kesalnya aku?? Orang-orang kepercayaanku semuanya mengkhianatiku, bahkan berusaha membunuhku.. ditambah kau yang telah meragukanku.. bukankah itu sangat memuakkan?? Ah.. aku rasa sudah waktunya aku berhenti berbuat baik pada orang lain.. ini semua salahku.. karena terlalu baik pada orang seperti kalian.." keluh Ana mendesah kesal mengusap wajahnya kasar.
Mr.Zhou bertekuk lutut dengan tegap, kepala nya tentu terus tertunduk di hadapan Ana, rasa sakit kakinya telah kalah oleh rasa malunya.
"Aku mohon maafkan aku Ms.Grey !! Aku akan melakukan semuanya untuk menebus kesalahanku !!!" Ujarnya memohon.
"Benarkah?? Haruskah aku mempercayaimu?? Bukankah kau nanti akan meragukanku lagi??" Tanya Ana meracau.
"Tidak !!! Aku berjanji dan bersumpah atas nama keluargaku.. aku tidak akan pernah meragukanmu lagi !! Tolong beri aku kesempatan terakhir Ms.Grey !!!" Mohonnya bersungguh-sungguh.
Ana tampak berpikir sejenak.
"Kau tau Layla kan?? Wanita tua itu sangat menggangguku.. dia seperti wabah yang sulit aku singkirkan.. aku dengar dia ada di negara ini.." seru Ana tanpa basa basi.
"Aku dengar dia tiba 3 hari yang lalu.." ujarnya mengingat-ingat.
"Cari dia sampai dapat.. hidup atau mati.. serahkan dia padaku.. atau aku akan membuat kau kehilangan kedua kakimu.. ah.. tidak.. bagaimana kalau kehilangan anak dan istrimu??" Ancam Ana dingin.
"Aku mohon jangan usik keluargaku Ms.Grey !! Aku akan melakukan semuanya !!! Aku pasti akan segera menemukannya.." seru Mr.Zhou lantang.
"Buktikan padaku rasa penyesalanmu.." geram Ana lirih.
"Baik Ms.Grey !!"
"Ah.. bukankah ini mudah?? Kenapa kau harus membuatku jauh-jauh datang kemari.." gerutu Ana mengeluh dengan kesal.
Mr.Zhou tertunduk takut. Ia beruntung hanya mendapat satu tembakan di kakinya. Kalau tidak, ia bisa saja langsung kehilangan nyawanya.
"Lalu apa Layla yang membunuh Leo dan adiknya??" Tanya Mr.Zhou menerka.
Ana menatapnya intens tanpa menjawab, namun tatapan itu mampu memberi jawaban pada Mr.Zhou.
"Sepertinya kita sama-sama tidak becus mengurus anak buah kita.." timpal Ana datar.
"Ah.. aku baru ingat.. aku dengar adik Leo menyimpan sesuatu untukku.. apa kau tau itu??"
Mr.Zhou tampak cemas.
"Tenang saja.. aku tidak akan memaksamu memberitahuku.." tukas Ana tertawa.
"Aku akan cari tau sendiri semuanya.. jadi sebaiknya kau bekerja dengan becus.. atau aku akan melimpahkan semua amarahku padamu.."
Ana sementara waktu akan tinggal di mansion benteng milik Mr.Zhou. Itu adalah mansion teraman di negara C. Saat itu B1 berhasil menyerang mereka karena ia menyerang langsung dari dalam mansion. Mereka benar-benar menghancurkan mansion tersebut waktu itu. Kini mansion itu telah di perbaiki dan berdiri megah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1