Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Bab 207


__ADS_3

Keesokan paginya, Irene pulang dengan girang. Ia akan memberitahu kakaknya perihal ini. Setidaknya ia akan memberi sedikit bocoran agar kakaknya merasa lebih baik. Namun saat tiba di rumah, ia mendapati suasana rumah iu terasa tidak enak.


Louis, ibu, ayah dan pak dong duduk di ruang tamu. Mereka tampak sangat serius. Selepas menyapa, Irene memutuskan untuk segera masuk ke kamarnya. Di sana ia menguping pembicaraan mereka. Ia mendengar perihal pemutusan hubungan kerjasama antara agensi Louis dan Grey World. Irene tertegun. Ia mengurungkan niatnya untuk memberitahu Louis.


"Cih.. Kau lihatkan sekarang.. Bahkan mereka memutus hubungan kerjamu tanpa pemberitahuan apapun.. Jadi kenapa kau masih ngotot untuk mengejarnya.. Kau bisa mendapatkan wanita lebih baik dari Ana.." seru Ayahnya marah.


"Sudah cukup.. Jangan katakan apapun lagi soal Ana.. hanya aku yang mengerti dirinya.." tukas Louis malas.


"Beri aku alasan kenapa kau sangat menginginkannya?? Kau lihat bagaimana kondisinya sekarang?? Dia bahkan membunuh orang, Lou !! Bahkan dia di besarkan tanpa orang tua kandungnya.. Kau lihat bagaimana angkuhnya wanita tua itu.. Mereka memang sangat kaya raya.. Tapi bukan berarti mereka bisa merendahkan keluarga kita begini !!"


"Cukup ayah !!!" bentak Louis keras. Ia sudah tidak tahan lagi. "Bahkan dulu ayah sangat menyukai dan mengaguminya.."


"Ya.. Sebelum aku mengenalnya lebih jauh lagi.."


"Apa yang ayah lihat bukanlah yang sebenarnya !!"


"Benarkah?? Lalu siapa dia sebenarnya??"


Pranggg..


Suara berisik terdengar dari luar. Louis dan ibunya sontak segera keluar dari sana menuju arah suara.


Deggg !!


Mata Louis membelalak kaget. Ana berdiri di teras rumah mereka, dan tak sengaja memecahkan pot bunga yang tampaknya tersenggol olehnya.


"Ma.. Maaf aku memecahkan pot bunga anda.. Aku akan segera menggantinya.." ujar Ana gugup tertunduk.


"Ana.. Mari kita bicara.." ujar Louis mendekati Ana. Namun Ana menghindar. Ia mundur beberapa langkah.


"Aku harus segera pergi ke panti asuhan.. Aku harus segera kerja sosial.." tolaknya canggung.


"Ana.. Masuklah.. Mari kita bicara.." ajak Ibu Louis lembut.


"Ti.. Tidak perlu.. Aku akan datang lain waktu.." tolaknya sungkan.


Louis menarik tangan Ana keras. "Kau pasti dengar semuanya.. Ini semua salah paham.. Apa yang kau dengar tidak seperti yang kau kira.."

__ADS_1


"Lalu apa yang harus aku pikirkan??" tanya Ana lirih, air mata Ana berlinang, bahkan nyaris menetes.


Louis tak sanggup berkata apa-apa.


"Maafkan aku.. Aku membuat kalian semua kesulitan selama ini.. Seharusnya aku tidak pernah mendekati kalian sejak awal.." ujar Ana tertunduk.


"Seharusnya aku sadar diri sejak awal, jika aku tidak pernah pantas berada di sini.." imbuhnya terisak tertahan.


"Ana.. Aku mohon.." ujar Louis memohon dengan penuh rasa bersalah.


"Kau tidak pantas memohon padaku, Lou.." imbuh Ana lirih segera berlalu.


"Ana.." panggil ayah Louis menghentikan langkahnya. "Mari kita bicara.." ujar Ayahnya tegas.


Ana membalikkan tubuhnya tertunduk. Ana tiba-tiba berlutut di depan mereka.


"Apa yang kau lakukan??" seru ibu Louis kaget.


"Aku mohon maafkan aku.. Ini semua salahku.. Aku mohon maafkan aku.." isak tangis Ana pecah, bibirnya bergetar hebat.


Ibu Louis segera berlari menghampiri Ana. Ia memeluk tubuh lemah itu erat. Ia sesekali mengusap punggung Ana berusaha menenangkannya.


Louis ikut menangis haru. Ia tak tau Ana merasa sangat terluka seperti ini. Ia merasa sangat bersalah padanya.


...----------------...


Ana, Louis, Ibu dan ayah Louis duduk di ruang keluarga. Pak dong segera pulang setelah melihat situasi yang sulit itu.


"Maaf aku berkata tidak pantas tentangmu, Ana.." ujar ayah Louis tulus merasa bersalah.


Ana tertunduk terdiam. Ia meremas kedua tangannya dengan gugup. Louis yang melihat itu segera menangkup tangan Ana dengan lembut, berusaha menenangkannya.


"Maaf aku berkata kurang ajar tentangmu.." tambahnya lagi.


"Aku di adopsi saat umur 8 tahun.. Sejak aku lahir hingga saat itu aku tinggal di panti asuhan.. Namun, itu bukan hidup yang menyenangkan.." imbuh Ana mulai meimberanikan diri menceritakan tentang dirinya. Ana juga membuka jaket kulit yang tengah ia kenakan. Ia hanya membiarkan dalaman tangtop menutupi tubuhnya yang penuh tato.


Tentu hal itu membuat orang tua Louis shock, mereka tak menyangka jika tato itu memenuhi sekujur tubuh Ana, selama ini mereka hanya berpikir tato itu hanya ada di tangannya saja.

__ADS_1


"Aku melakukan ini untuk menutupi semua lukaku.." ujar Ana menyodorkan lengannya, di sana tampak permukaan kulit yang kasar, menandakan bekas luka tersembunyi di balik warna tato itu. Ayah dan ibu Louis memperhatikan kulit tubuh Ana dengan seksama. Mata mereka tampak berkaca-kaca. Raut wajah mereka tampak sangat sedih dan prihatin.


"Aku hanya mendengar cerita tentang orang tua kandungku dari cerita orang-orang di luar sana.. Ibuku adalah wanita simpanan seorang pria beristri.. wanita itu bernama Layla, ia yang membuat kedua orang tuaku meninggal, namun ia juga yang menyelamatkanku dari neraka di panti asuhan waktu itu.. Ia yang membawaku ke keluarga Grey.. Saat berusia 20-an aku bergabung dengan sindikat mafia.. Aku melakukan banyak masalah dan kesalahan.. Tapi sekarang.. Aku sedang berusaha untuk hidup lebih baik lagi.. Aku sedang berusaha memperbaiki jalan hidupku.." ujar Ana berlinang air mata bersungguh-sungguh.


"Aku tidak akan meminta siapapun untuk mengerti atau memahami diriku.. Karena semua yang aku lakukan memang salah dan tidak patut untuk di benarkan.. Tapi aku hanya ingin kalian tau, jika apapun yang aku lakukan selama ini, semua itu karena aku punya alasan tersendiri.." tambah Ana lagi.


"Kau ingin membalas dendam?" celetuk Ibu Louis hati-hati.


Ana terdiam. Namun ekspresinya sudah menjawab pertanyaan itu.


"Aku turut sedih dengan semua kesulitan dan penderitaanmu selama ini Ana.." ujar Ayah Louis iba.


"Maaf aku sudah mengatakan dan bersikap tidak baik pada keluarga anda.." timpal Ana penuh penyesalan.


"Tidak.. Ini semua salahku.. Seharusnya aku tidak memikirkan hal buruk tentangmu, seharusnya aku bertanya padamu lebih dulu tentang semua ini.." gelengnya menyesal. "Aku salah sudah meragukanmu, Ana.."


Mereka terisak tertahan satu sama lain. Louis tak henti-henti mengusap lembut punggung Ana berusaha menghiburnya.


Irene yang sejak tadi menguping di dalam kamar ikut menangis haru. Ia segera keluar dari dalam kamar. Menghampiri semuanya.


"Jadi.. Kau akan menikahi kakakku??" timpal Irene tersenyum lebar. Semua orang melihat Irene dengan kebingungan.


"Apa yang kau katakan??" tanya Ibu Louis bingung.


"Hmm.." angguk Ana cepat. "Aku akan menikahi Louis.." imbuh Ana yakin.


Louis menarik tubuh Ana pelan. "Apa yang kau katakan?? Kau akan menikahi siapa??" tanyanya tak yakin.


"Bagaimana kalau kita menikah??" seru Ana tersenyum lebar.


"Aku tidak mimpikan??" ujarnya tak percaya.


"Apa aku perlu menamparmu?" tanya Ana terkekeh.


Louis reflek memeluk Ana erat. "Berjanjilah kau tidak akan menarik ucapanmu !!" seru Louis bersemangat.


"Aku janji.." angguk Ana terkekeh.

__ADS_1


ibu dan ayah Louis tampak sangat bahagia. Mereka tertawa dengan sangat lega.


...****************...


__ADS_2