Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Bab 212


__ADS_3

Saat baru tiba di apnti asuhan tempat Ana bekerja sosial. Ia langsung di serbu para reporter. Flash kamera langsung menyerangnya tanpa henti. Ana segera di hampiri para pengasuh lainnya, untuk membantunya lewat dari kerumunan itu.


"Sepertinya kau mendapat kesulitan lagi.." ujar wanita paruh waktu yang selalu baik padanya.


"Tapi ini tidak terlalu buruk.." geleng Ana tersenyum. "Terima kasih Bibi sudah membantuku.." ujar Ana sungkan.


"Bukan masalah.. Lagipula kau juga bagian dari tempat ini.. Kita harus saling melindungi satu sama lain.." ujarnya mengusap lengan Ana lemah lembut.


"Bibi sudah sarapan?? Grandma membawakan banyak makanan di bagasi mobilku.. Tapi aku tidak sempat mengambilnya.." ujar Ana lirih.


"Tidak apa-apa.. Nanti biar kami mengambilkannya.. Terima kasih banyak Ana.. Semoga kebaikanmu selalu di balas dengan kelimpahan keberkahan.." ujar wanita alim itu penuh syukur.


"Itu bukan masalah.." imbuh Ana enggan.


"Oh iya.. Kau menjatuhkan obat ini saat kau singgah kemarin.." ujar wanita itu merogoh sakunya dan menyodorkan sebuah bungkusan berisi vitamin hamilnya.


Ana tertegun. Ia teringat jika pagi tadi sebelum berangkat ia kecarian vitamin itu. "Ah.. Iya.. Terima kasih.." angguk Ana segera menyimpan vitamin miliknya.


Siang itu, mereka semua berbenah panti asuhan. Mereka akan mendekor panti asuhan itu karena musim dingin akan kembali datang tahun ini. Nuansa panti asuhan akan di buat lebih hangat dari sebelumnya. Bahkan Ana tak sungkan ikut membantu pekerja sosial lainnya mencari kayu bakar di hutan halaman belakang panti asuhan. Di sana mereka hanya bertiga. Salah satunya seorang pria muda yang tubuh dan wajahnya di penuhi tato. Ia terjerat kasus pelecehan dan terlibat kasus perkelahian dengan bandar narkoba. Ia juga sudah membayar banyak denda dengan mudah sehingga ia mendapat keringanan dengan bekerja sosial. Jika ia membuat satu kesalahan selama masa percobaan, ia akan di penjara selama 20 tahun.


Pria muda itu bertugas memotong kayu dengan kapak. Sementara Ana dan rekan wanita lainnya menyusun semua kayu itu ke dalam gerobak, lalu mendorongnya ke gedung utama, di mana terdapat basement untuk perapian penghangat gedung yang masih tradisional.


Ana berencana menyumbangkan banyak alat pemanas modern, namun mereka menolak, karena akan terkendala dengan biaya listrik dan biaya perawatannya. Meski sudah merayu dengan berbagai cara, mereka tetap menolak. Mereka beranggapan jika semua biaya itu lebih baik di gunakan untuk keperlun mereka sehari-hari. Lagipula pemanas di gedung itu juga masih sangat terawat dan sangat bagus.


"Jadi.. Kau benar benar membunuh orang-orang itu??" gumam pria muda itu memulai percakapan saat salah seorang rekan mereka sudah pergi mengantar kayu.


Ana yang tengah menyusun kayu ke dalam gerobak miliknya hanya mengabaikan pria itu.

__ADS_1


"Ah.. Jadi benar.." angguknya bergumam.


Ana masih tak memperdulikannya.


"Bantu aku menghabisi seseorang.. Maka aku akan melakukan apapun untukmu.. Aku yakin kau tidak akan butuh uang karena kau jauh lebih kaya dari aku.." ujar pria itu lagi. Ia mendekati Ana, lalu berkacak pinggang dengan kesal. saat ia sadar jika Ana telah mengabaikannya, ia menepis tangan Ana yang tengah mengutip kayu di tanah.


Ana menatapnya sinis. "Apa kau bicara denganku??" tanya Ana datar.


"Cih.. Kau bersikap dingin.. Orang orang seperti kita saling mengenal karakter masing-masing.. Jadi jangan bersikap naif.." gerutunya.


"Aku anggap kau tidak mengatakan apapun padaku.. Cepat selesaikan pekerjaanmu.. Kau bekerja cukup lamban.. Apa karena kau terlalu banyak bicara??" ledek Ana mengejek segera mendorong gerobaknya.


"****.." umpat pria itu melemparkan pisau lipat kecil ke arah kayu yang ada di sisi tangan kanan Ana sebagai peringatan.


Ana menghentikan langkahnya. Ia mencabut pisau itu lalu menoleh ke arah belakang. "Pria kecil, bermain-main dengan pisau kecil.." gumam Ana memperhatikan pisau itu.


"Cih.. Kau cari mati??" geramnya tersinggung.


Settttt..


Ana melempar balik pisau itu, dan mendarat tepat ke batang pohon yang ada di belakang pria itu. Pria itu tercekat kaget. Ia merasakan sesuatu di telinganya. Ia memegangi daun telinganya, ternyata ada sayatan di daun telinganya. Ia membelalak kaget.


"Seharusnya kau sadar dengan siapa kau bicara, bocah kecil.." celetuk Ana segera berlalu pergi membawa gerobak berisi kayu-kayu itu.


Pria tadi tak lagi berani bergeming. Ia sadar jika Ana jauh lebih kuat darinya.


...****************...

__ADS_1


Sore itu mereka masih berbenah. Ana kini tengah mengecat dan menghias lorong kamar tidur bayi. Di sana ia terus berusaha menjaga situasi di sana tetap tenang dan senyap. Ia bekerja dengan sangat hati-hati.


Saat ia tengah mengecat sisi kaca jendela. Ia mengintip ke dalam jendela, dan mendapati 5 orang bayi tengah tertidur pulas. Ana tertegun. Matanya berkaca-kaca. Perasaannya terasa tentram dan nyaman melihat bayi bayi lucu itu.


"Istirahatlah.. Kau bekerja tiada henti sejak tadi.." ujar kepala panti yang selama ini baik padanya.


"Ah.. Tidak apa-apa.. Aku belum lelah.." geleng Ana kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Tapi itu tidak baik untukmu dan kandunganmu.." ujar wanita itu setengah berbisik.


Ana terkejut mendengar ucapan wanita itu. Ia tidak menyangka jika wanita paruh baya itu tau jika ia hamil.


"Apa yang anda bicarakan??" tanya Ana berpura-pura.


"Kau lupa?? Vitamin yang aku temukan kemarin itu adalah vitamin untuk ibu hamil.." jelas wanita itu lagi. Ana tak lagi bisa berkata-kata.


"Bisakah anda tetap merahasiakannya??" pinta Ana memelas.


"Tentu saja.. Aku tidak akan memberitahu siapapun.."


"Terima kasih.." angguk Ana lega.


"Jangan khawatir.. Kau bisa mempercayaiku.."


...****************...


Jangan pernah bosan.. aku tidak akan berhenti menghasilkan yang terbaik untuk kalian semua.. saran dan masukkan dari kalian sangat berarti untukku.. (ig : tttaaa13)

__ADS_1


__ADS_2