Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 102 : Putus Asa


__ADS_3

"Saya masih cukup lama di kantor Ms.Grey.. maaf mungkin saya.." Pak Kim tidak lagi melanjutkan ucapannya. Ia awalnya ingin mengatakan bahwa ia tidak bisa ke rumah sakit malam itu karena kondisinya, namun ia mengingat jika saat itu ia sedang bersama Louis.


"Mungkin apa Pak Kim??" tanya Ana curiga.


"Mungkin saya tidak bisa berbicara lama-lama dengan anda saat ini, karena harus segera menyelesaikan pekerjaan ini.." lanjut Pak Kim berbohong.


"Apa kau sedang bersama seseorang.." tebak Ana.


"Iya.." jawab Pak Kim singkat.


"Apa itu Louis??" Tebak Ana datar.


"Benar Ms.Grey.." jawabnya singkat lagi.


"Aku ingin bicara dengannya Pak Kim.." timpal Louis tiba-tiba.


Pak Kim tertegun.


Ana yang mendengar ucapan Louis segera mematikan teleponnya.


"Aku tutup teleponnya.." Ana segera memutus panggilannya.


"Baiklah Ms.Grey.. semoga perjalanan bisnis anda lancar.. selamat bekerja.." sahut Pak Kim segera, berbicara sendiri pada panggilan yang telah diputus itu.


"Pak Kim.." seru Louis kesal.


"Aku sangat ingin bicara padanya.. kenapa tidak diberikan padaku??" Tanyanya kesal.


"Maaf Tuan, Ms.Grey bilang dia sedang ada meeting penting.." ujarnya lagi berbohong.


"Jam segini???"


"Disana masih pukul 8 malam.." seru Pak Kim menjelaskan bahwa Ana berada di luar negeri dan memiliki waktu yang berbeda.

__ADS_1


"Kalau begitu berikan aku nomornya.. aku sangat ingin bicara dengannya.." ujar Louis tegas.


"Ah.. tapi tadi dia menelepon menggunakan nomor hotel tempat ia menginap.. jadi.. anda tidak bisa menghubunginya kembali.." elak Pak Kim.


"Benarkah?? Berikan aku nama hotel itu.. aku akan mencari tahunya sendiri.." celetuk Louis tak hilang akal.


Pak Kim hanya terdiam.


"Apa anda menyembunyikan sesuatu dariku Pak Kim??" Tukas Louis dingin.


Pak Kim terbelalak kaget.


"Sudah kuduga.." gumam Louis lirih terus fokus menyetir. Sementara Pak Dong yang menemani mereka sejak tadi udah tertidur di kursi penumpang di belakang mereka.


****


Ana tertegun. Ia melihat berita eksklusif itu di tv. Penyerangan kantor polisi di tengah malam, membunuh pelaku perampokan di sebuah apartment mewah, yang menjadi perhatian Ana adalah alamat apartment tempat kejadian itu. Reporter itu menyebutkan alamat apartment tempat Ana tinggal meski tidak menyebutkan nomor apartmentnya. Namun ia tau kalau di jalan itu hanya ada 1 apartment yang mewah yaitu tempat tinggal Ana, karena gedung apartment Ana di kelilingi oleh gedung-gedung perkantoran.


"Terima kasih Dok ponselnya.." ujar Ana lirih menyodorkan ponsel dokter Nam.


"Sama-sama Ms.Grey.. panggil saja saya jika anda membutuhkan hal lainnya.." ujar Dokter itu ramah.


"Baiklah.. terima kasih banyak.."


"Istirahatlah.. besok pagi adalah hari pertama kemoterapi anda.. sampai jumpa besok pagi.."


"Baik, Dok.." angguk Ana pelan.


Ana terus melihat berita di televisi saat itu. Bahkan ia dapat melihat Albert yang berdiri di belakang kepala polisi yang sedang menjelaskan rincian singkat kejadian itu. Mereka merahasiakan nama maupun ciri-ciri korban kekerasan tersebut.. Mereka hanya mengatakan jika barang curian yang di ambil adalah berupa laptop dan sebuah cap segel pribadi milik seseorang, dan di duga untuk disalah gunakan oleh pelaku, bahkan Ana tidak terpikirkan dimana letak laptop dan cap segel miliknya, meski ia mendengar kesaksian dari saksi ia sempat mendengar percakapan pelaku yang memang berencana mencuri benda berharga tersebut dan yakin jika tempat tinggal itu sedang kosong di tinggalkan pemiliknya.


Ana berpikir keras. Ia harus segera bertemu dengan Pak Kim. Dia harus menanyai Pak Kim soal berita itu.


****

__ADS_1


Louis memarkirkan mobilnya di basement. Ia mengantarkan Pak Kim yang ingin mengambil barang-barang keperluannya yang berada di dalam mobil milik Pak Kim tersebut.


"Pak Kim.. boleh aku pinjam ponselmu?? Aku ingin menelepon ibuku.. ponselku mati.." ujar Louis berbohong.


Tanpa kecurigaan apapun Pak Kim memberikan ponsel itu padanya.


Lalu Pak Kim tampak tergopoh gopoh menuju mobilnya, ia menolak saat di bantu Louis mengambilkan barang-barangnya yang ada di dalam mobil.


Lalu Louis memeriksa panggilan masuk Pak Kim. Dan anehnya disana tertera kontak dengan nama 'Dokter Nam Hyuk', hanya ada kontak itu yang melakukan panggilan masuk 15 menit yang lalu.


Louis segera mencatat nomor itu di ponselnya sambil sembunyi-sembunyi. Ia mengingat-ingat nama dokter yang terasa tidak asing itu.


Louis lalu pura-pura menelepon ibunya sebentar lalu mematikannya sebelum di angkat.


"Terima kasih Pak Kim.. tapi ibuku tidak mengangkatnya.. dia pasti sudah tidur pulas.." ujar Louis menyodorkan ponselnya.


Pak Kim segera meraih ponselnya dan mengangguk mengerti.


Louis segera membangunkan Pak Dong yang tengah tertidur pulas di belakang. Pak Kim segera masuk ke dalam mobil Pak Dong yang telah terbuka, karena Pak Dong yang akan mengantar Pak Kim kembali ke rumah sakit, sementara Louis harus segera istirahat karena besok harus bangun pagi untuk jadwal shooting nya.


****


Pukul 6.30 pagi, Ana tak kunjung tidur, ia terus berlatih duduk dan berjalan sejak malam, saat nyerinya sangat kuat, ia akan beristirahat, saat perutnya terasa lebih baik ia akan kembali berlatih. Ia tidak bisa kembali tertidur meski sudah di beri obat oleh perawat. Setelah bermimpi buruk tadi malam ia menyalakan tv karena merasa sangat bosan. Setelah itu ia terus merasa gelisah dengan berita yang tersiarkan di televisi. Hingga pagi ia terus menahan nyeri perutnya yang hilang-hilang timbul, namunĀ  itu benar-benar tidak membuatnya menyerah untuk terus berlatih duduk dan berjalan.


Kini ia tengah berada di kamar mandi seorang diri, westafel di kamar mandi di tata rapi oleh Pak Kim dengan produk kecantikan Ana dan perlengkapan mandi Ana. Ia membuka jubah bajunya, dan kini tubuh polosnya tak lagi tertutup sehelai benangpun di depan cermin kamar mandi. Ia melihat bekas operasi di bagian perutnya, lalu memperhatikan setiap detail tato yang dimilikinya. Ada beberapa bekas luka baru di tubuhnya. Ia berencana akan menambah tato baru setelah keluar dari rumah sakit, untuk menutupi bekas luka-luka barunya.


Kemudian pandangannya terhenti pada pundaknya, ia menghela nafas berat ketika melihat banyak helaian rambut panjang bergelombangnya yang gugur berjatuhan di pundaknya. Lalu dia kembali mengenakan jubah mandinya. Mood nya berubah seketika. Ia mengurungkan niatnya untuk mandi.


Tapi, ia kembali menatap dirinya di cermin, lalu mengusap rambutnya pelan, Ana melihat telapak tangannya yang mungil, banyak terdapat helaian rambut rontok disana. Lagi-lagi ia hanya bisa menghela nafasnya berat. Ini pertama kalinya ia mengalami kerontokan rambut seumur hidupnya.


Ia melihat bagian bawah cermin di depannya tampak retak, Ana menekan keras bagian retakan itu hingga ia terlepas dari pinggir bingkainya. Ana mengambil bagian terbesar dari pecahan cermin itu, lalu menggenggamnya erat. Ia benar-benar putus asa, bibir bawahnya bergetar, perasaannya campur aduk.


****

__ADS_1


__ADS_2